ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERANG


"Feli, bangun ...!" ucap Rian sambil mengetuk pintu kamar yang sudah terbuka lebar.


"Sarah ... Sarah ... bangun! Rian .... "


"Kenapa dengan Rian?" tanya ku yang masihn belum bangun sepenuhnya.


"Sayang, masuk!!" ucap Feli pada Rian.


"Iya, makasih."


"Mia, dimana Mia?"


"Itulah yang mau aku kabar kan. Senior bilang, tadi dia mendengar suara teriakan Mia dari luar. Tapi saat disusul tadi, Mia sudah tidak ada, entah kemana?"


Aku dan Feli bergegas merapikan diri, lalu kami langsung ke kampus sesuai petunjuk yang diberikan oleh Feli. Tapi sebelumnya, aku terlebih dahulu membangunkan Pak Antok dan memberitahunya tentang kepentingan kami malam ini dan aku menitipkan Ayah kepadanya.


"Saya akan bantu dengan membacakan yasin dari sini, Non. Semoga Allah selalu melindungi kita semua."


"Amin. Kami pamit, Pak Antok."


"Hati-hati, Non Sarah."


Kami memulai perjalanan kami dengan membaca bismillah dan do'a keluar rumah seperti biasanya karena hanya dengan cara seperti ini kami dapat yakin dalam memulai langkah awal, agar terhindar dari jin maupun syetan yang terkutuk.


"Teman-teman, dengar! Ada yang harus aku katakan."


"Apa, Sarah?"


"Aku pernah melihat kondisi di dalam gedung itu. Menurut ku, ini adalah keadaan yang berbeda dari biasanya. Ditambah lagi dengan ruangannya yang banyak dan kita juga tidak tau dimana letak pastinya pusat dari kejahatan yang sebenarnya."


"Jadi?"


"Kira harus berpencar."


"Apa?"


"Kita harus memisahkan diri sesuai dengan 4 penjuru agar kita bisa cepat menemukan Mia ataupun yang lainnya sebelum pukul 00.00 WIB."


"Tapi ini juga akan sulit, Sarah. Bukannya hanya mata kamu saja yang mampu melihat dengan jelas (tembus pandangan)."


"Aku akan membuka mata batin kalian bertiga. Maaf, tapi hanya itu jalan satu-satunya," ucap ku sambil berpikir apakah jalan yang aku ambil ini sudah benar atau tidak? atau malah akan menjerumuskan teman-teman ku.


"Aku siap," ucap Kak Rio.


"Aku juga siap," ujar Feli dan Rian bersamaan.


"Bagaimana rencananya?"


"Sebenarnya akan lebih baik lagi jika kita menambah jumlah anggota."


"Ya ampun Sarah, siapa juga yang mau?"


"Mana tau Kak Rio bisa membujuk satpam kampus kita," ucap ku tidak ragu. "Soalnya yang aku lihat, mereka juga punya pegangan."


"Jadi bagaimana?"


"Usahakan mereka dulu, Kak Rio."


"Baik, Sarah."


Kami tiba di kampus dan langsung dicegat oleh 3 orang satpam yang memang sudah ditugaskan malam ini. Biasanya mereka hanya sendiri atau berdua. Tapi karena kasus siang tadi, mereka bertiga bersatu dan saling membantu.


"Apa yang kalian lakukan disini? tengah malam seperti ini?" tanya salah seorang satpam bertubuh tinggi besar, tubuhnya kira-kira 2 kali lebih besar dari pada tubuhku.


"Begini Pak ...." Lalu Kak Rio menceritakan tentang apa yang kami ketahui, sekaligus meminta bantuan kepada mereka semua.


"Kalian yakin? sementara kami disini sejak tadi sama sekali tidak melihat adanya tanda-tanda manusia masuk ke dalam gedung utama. Kalian jangan asal bicara! Bisa-bisa kalian terkena masalah," sambung satpam yang lainnya.


"Tapi kami juga tidak main-main, Pak," tukas Kak Rio dengan suara yang agak keras. "Lagipula ngapain kami repot-repot ke sini jika hanya untuk bermain-main? lebih baik kami tidur di dalam rumah, di atas kasur yang empuk."


Mendengar perkataan dari Kak Rio, para satpam saling pandang dan saat mereka tengah berpikir untuk mengambil keputusan dalam memberikan kami akses untuk masuk ke dalam gedung utama, kami semua mendengar suara jeritan yang sangat mengerikan dari orang banyak di dalam kampus tersebut.


Sontak, kami semua melihat ke arah gedung tertinggi dan saat suara tersebut menghilang, kami saling pandang. "Baik, bagaimana rencana kalian?" tanya satpam berbadan paling besar.


"Kita akan membagi diri menjadi 4 kelompok. Feli dengan Rian ke arah barat, Pak satpam berdua ke arah selatan, Kak Rio dan Pak Handoyo ke arah timur. Sedangkan aku akan ke arah utara."


"Sayang, kamu sendirian?" Lalu aku menganggukkan kepala. "Tidak, jangan begitu!!" ucap Kak Rio tampak sangat cemas.


"Dengar, Kak! Setidaknya aku sudah biasa melihat mereka. Sedangkan kalian semua tidak. Kalian butuh dada maupun bahu untuk menyembunyikan penglihatan-penglihatan kalian, sementara aku tidak. Dan satu lagi, aku tidak sendirian."


"Baiklah aku mengerti."


"Lalu sekarang apa?" tanya Pak Handoyo kepadaku.


"Aku akan membuka mata batin kalian semua, kemudian kita harus melewati para dedemit di dalam, jangan sampai tertangkap! lewat lah di belakang mereka, usahakan tidak saling bersentuhan dengan mereka. Setelah itu, cari beberapa orang yang kemungkinan ada di dalam gedung, yang akan dijadikan santapan mereka malam ini dan terakhir, bawa mereka keluar."


"Ya Allah ... mimpi apa aku kemarin malam?" tanya Kang Selamet yang sudah terlebih dahulu bergetar kedua bagian kakinya.


"Udah, Met. Aku juga takut ini," kata satpam yang satunya lagi.


"Siap? pejamkan mata kalian semua!!"


"Siap."


"Aku mulai membacakan ayat pembuka mata batin (maaf, tidak bisa disebutkan karena tidak semua pembaca di novel ini sudah dewasa dan dapat berpikir logis jadi lebih baik tidak tau dari saya).


Siap membuka mata batin seluruhnya, tiba-tiba Kang selamet pipis di celana karena melihat wujud wanita berambut panjang hampir selutut, dengan mengenakan pakaian putih, tengah duduk santai di atas dahan yang cukup rendah pada pohon beringin raksasa yang memang sudah ada sejak dulu.


"Ya ampun, Mak. Tolong," ucapnya dengan kaki yang semakin bergetar.


"Kang Selamet, Akang tetap mau tinggal di sini atau ikut ke dalam?" tanya Kak Rio dengan ekspresi yang bercampur aduk, antara lucu, geli hati dan juga kesal.


"Ikut, aku ikut wae ... wis lah .... " katanya pasrah dengan keadaan.


*****


"Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum .... " ucap Kak Rio dan Rian secara bersamaan ketika pintu utama gedung sudah dibuka.


Indonesia bukan negara salju, tapi setelah pintu ini terbuka lebar, tiba-tiba angin dingin seperti campuran air dan batu es menerpa wajah dan tubuh kami hingga rasanya sangat amat dingin sekali.


"Ya Allah Gustiii ... opo iki?" tanya Kang Selamet yang sepertinya masih gusar dan gelisah.


"Ayo, sekarang."


"Iya."


"Feli, dengar! Jika ada apa-apa, cepat beritahu aku!"


Kami mulai berpencar, aku berlari sangat cepat meniti anak tangga yang semakin terasa mencekam dan tinggi. Ini tidak seperti biasanya, apakah aku yang semakin melemah? atau mungkin memang tangganya yang semakin tinggi? aku bertanya di dalam hati sembari terus melangkah.


*****


Sisi Kang Selamet dan Mas Yuga.


"Ga, kita pulang aja yuk ...! Lagian kita nggak digaji buat ini," hasut Kang Selamet sambil terus melangkah bersama Mas Yuga yang usianya jauh lebih muda ketimbang dirinya.


"Kenapa tadi disanggupin, Kang?"


"Lah, wong tadi di luar ada kunti kok."


"Ya sudah, ikuti saja! Kita susuri wilayah ini hingga ke ujung sana. Kalau nggak ada apa-apa ya kita keluar."


"Emang kamu nggak takut, Ga?"


"Antara takut sama penasaran, Kang. Anggap aja uji nyali."


"Gila kamu, Ga."


"Aaak .... "


"Lah lah lah ... suarane sopo iku? banter banget, Ga."


"Ayok kita ke sana, Kang. Dari sana sumber suaranya."


"Iya ... iya. Kamu duluan, Ga."


"Awas Kang, jangan peluk-peluk!"


Kang Selamet dan Mas Yuga menyusuri jalan ke arah laboratorium di ruangan ujung. Tapi baru saja melewati dua kelas, langkah mereka terhenti karena sesuatu yang keluar dari dalam kelas lantai bawah dengan wajah yang pucat, berambut pendek, dan berwajah jelita.


"Ngapain kamu disini? siapa kamu?" tanya keduanya secara bergantian seolah lupa bahwa di gedung ini hanya ada beberapa orang saja yang wajahnya sangat mereka kenali.


Wanita muda tersebut meneleng kan kepalanya (seperti patah) ke arah Kang Selamet dan Mas Yuga. Sementara matanya melotot menatap keduanya yang sudah punya rasa takut yang tinggi sebelum masuk ke dalam gedung kampus.


Dengan wajah sang gadis yang masih dalam keadaan teleng, terlihat darah hitam keluar dari dalam mulutnya. Seperti mengeluarkan air kunyahan sisa cincau, tapi ini lendir nya sangat pekat dan berbau sangat tajam hingga menimbulkan rasa mual bagi kedua satpam yang berada tepat di hadapannya.


"Ya Allah Gustiii .... " teriak Kang Selamet sambil menarik tangan Mas Yuga yang terdiam tak bergerak seolah lupa caranya untuk berlari.


Mereka berlari tunggang langgang seperti sedang dikejar binatang anj*ng gila, hingga mereka tidak tau lagi kemana harusnya arah yang mereka tuju. "Ampun Gusti ... ampuuun .... " teriak Kang Selamet yang sesekali menabrak tiang-tiang tinggi dan besar sebagai penyangga gedung, hingga ia terjatuh lalu bangkit, jatuh lagi, lalu bangkit lagi.


"Kang Selamet, Kang?" teriak Mas Yuga sambil memperhatikan sekitaran dan mencari wajah yang ia kenali.


Braaak ....


Tubuh Mas Yuga terjatuh saat menabrak tubuh Kang Selamet yang jauh lebih kecil dari pada tubuhnya. "Ya ampun, Kang. Dari mana aja sih?" aku dari tadi teriak-teriak manggil sampean lho, Kang. Ayo kita pergi dari sini!" ucap Mas Yuga sembari menarik tangan Kang Selamat.


"Pasti kamu takut banget ya, Kang? sampe dingin gini tanganmu. Aku juga takut, makanya kita harus cepat supaya bisa keluar dari sini. Aku ogah lagi urusan sama dedemit, Kang. Selama ini memang aku penasaran, tapi sekarang nggak lagi, Kang," ucapnya saat berdiri di luar ruangan kelas.


Gluduk gluduk gluduk


Tak lama terdengar suara berisik di asbes tidak jauh dari tempat Mas Yuga berdiri. Hal itu membuat perasaannya semakin tidak enak. "Mana ada tikus yang kakinya segede gajah," ucap Mas Yuga dengan suara berbisik.


Tidak ingin buang air kecil di dalam celana seperti Kang Selamet, Mas Yuga langsung menarik tangan Kang Selamet untuk meninggalkan tempat tersebut, tapi pada saat ia tengah berlari dengan kecepatan tinggi, Mas Yuga kembali menabrak sesuatu dari arah samping


"Aduh .... " ucap Kang Selamat yang terdorong ke samping kiri saat menabrak bagian kiri tubuh Mas Yuga yang lebih berotot dan besar.


Mas Yuga yang mendengar jelas suara keluhan dari arah samping bawah, langsung menatap tajam ke arah bawah (lantai). "Ka-Kang Selamet ...?" tanya Mas Yuga sambil menatap ke arah Kang selamet yang sudah berusaha berdiri dari lantai. Sementara ia sangat yakin bahwa yang bersamanya adalah Kang Selamet.


"Ga ... Ga ... iku loh .... " ujar Kang Selamet sambil menunjuk ke arah belakang Mas Yuga.


"Kamu siapa?" tanya Mas Yuga dengan bibirnya yang menari ular sambil menatap Kang Selamet.


"Aku Selamet, konco mu. Kui sing demit, Ga. Ya Allah." Mendengar ucapan Kang Selamet, Mas Yuga langsung melihat kebelakang dan mereka kembali berteriak saat Mas Yuga melihat gadis misterius yang sebelumnya, sedang menjalin tangan dengan dirinya.


"Cepet, Kang ...!! Ayo lari!!"


Seperti jalan hanya ada satu arah, Mereka berdua berada tepat di ujung bagian kelas yang sempat mereka rencanakan sebelumnya. Sambil mengatur nafas, mereka berdua saling melihat dan hampir menangis.


"Ga, lihat! Ini ruangan yang kita cari sejak tadi."


"Iya, Kang. Ayo masuk dan cari tau, ada apa di dalam."


Mas Yuga dan Kang Selamet masuk ke dalam ruangan gelap, tempat dimana suara pertama muncul. Mereka menyalakan senter yang biasa mereka bawa sebagai perlengkapan keamanan yang memang dimiliki oleh rata-rata satpam pada umumnya.


Di sudut meja, Mas Yuga melihat seseorang dalam keadaan tidak sadarkan diri tengah tergeletak di bawah lantai. Tapi ketika diperiksa (Mas Yuga meletakkan jari-jari tangannya sambat dekat dengan hidung korban), Mas Yuga merasa senang karena mahasiswa tersebut masih bernafas.


"Hei, bangun kamu ...!" kata Mas Yuga sambil menggoyang-menggoyangkan tubuh mahasiswa yang tidak diketahui identitasnya tersebut.


"Masih hidup, Ga?"


"Masih, Kang."


"Bopong wae yuk, Ga!"


"Setuju, Kang. Ayo!"


Mas Yuga dan Kang Selamet berhasil menemukan korban yang ternyata masih selamat. Awalnya mereka merasa cukup tenang dan senang karena berarti tugas mereka sudah berhasil dan selesai, sehingga mereka bisa meninggalkan gedung tersebut.


Mereka bersusah payah membawa korban tersebut, tapi pada saat berada di depan pintu ruangan, Mas Yuga dan Kang Selamat melihat banyak makhluk halus yang berdiri seperti menyusun pola dan menghadap ke arah mereka.


"Kang ... ****** kita kali ini, Kang."


"Tenang, Ga ...!! Jangan tambah buat jantung ku mau mencolot ke luar," ujar Kang Selamet yang sudah belepotan (tidak dapat dikontrol), sambil memperhatikan jalan keluar. "Lewat kono, Ga. Depan kamu .... "


"Apa nggak sebaiknya kita tetap di dalam dan mengunci ruangannya, Kang?"


"Jangan! Bisa-bisa kita malah di kepung. Mungkin dedemit tadi memang mau menjadikan kita umpan, makanya kita diarahkan kesini."


"Kita lewat situ ya, Kang?"


"Iya, pelan-pelan! Jangan sampai terpisah! Jangan bersentuhan dengan mereka dan lewat saja di belakang punggung mereka! Itu kata gadis aneh tadi."


"Iya, aku juga ingat itu, Kang."


"Ya Allah Gusti ... mereka malah melihat ke arah kita Ga ... Ya Allah .... ampun.... "


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.


Â