ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TRAGEDI


Nuansa malam menyambut ku sendiri di dalam kamar yang biasa aku tempati sedari kecil. Tidak ada apapun dan tidak ada siapapun di sekeliling ku saat ini, kecuali Ayah. Ini persis sama seperti beberapa tahun yang lalu, disaat aku tidak memiliki Feli dan juga keluarga Pak Anto serta para penjaga gaib.


Aku mengintip jam dinding dan melihat angka-angka yang ditunjuk oleh jarum jam nya. ternyata ini sudah pukul 02.25 WIB. Pantas saja aku sangat mengantuk, sementara besok pagi masih ada jam perkuliahan yang penting. Seandainya Besok adalah hari Minggu, mungkin aku akan tertidur lelap setelah melaksanakan shalat subuh.


Aku benar-benar kelelahan, mataku rasanya tidak lagi bisa dibuka dengan baik, tapi aku masih mampu mendengarkan dan merasakan gerakan apapun yang ada di sekelilingku. Entah berapa lama aku menghabiskan waktu di atas ranjang, sampai tiba-tiba aku mendengarkan suara gerak sesuatu mendekat ke arah ku.


Suaranya berisik, tapi sepertinya ia tidak berniat untuk menyakitiku. Ia hanya datang ke arahku dan seperti hendak memperhatikan diriku. Namun sekali lagi, aku tidak dapat melihat rupanya karena mataku tidak bisa dibuka, seperti terkena lem yang sangat pekat.


"Kak Tania, apa itu kamu?" Namun aku tidak mendapat jawabannya.


Merasa tidak terancam, aku langsung melanjutkan tidur sembari berzikir. Aku yakin, hal ini akan menjaga ku hingga aku membuka kedua mata ketika matahari menjelang.


*****


Suara azan shalat subuh mulai berkumandang dan suaranya sangat jelas di telingaku. Tanpa ingin menunda-nunda waktu, di dalam rasa kantuk yang terlalu, aku terus berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah berwudhu, aku langsung berjalan ke arah kamar shalat yang sudah disediakan Ayah. Ternyata Ayah sudah berada di sana dan sedang mengaji. Tidak ingin mengganggu Ayah, aku duduk di belakangnya tapi aku yakin ayah dapat merasakan kehadiran ku.


Tak lama, Ayah langsung mengumandangkan komat dan aku pun segera berdiri untuk menunaikan shalat subuh bersama Ayah. "Ayah, mau di buatkan sarapan apa?"


"Teh panas dan roti tawar saja, Sarah."


"Siang ini, Ayah mau makan apa?"


"Bagaimana dengan dendeng?"


"Hmmm, terdengar nyami Ayah."


"Tidak usah dipikirkan! Kita beli saja lauk jadi. Toh Pak Antok baru pulang besok."


"Begitu ya, Yah?"


"Kalau begini, rasanya sama seperti dulu lagi ya Yah, Ketika rumah ini hanya ada aku dan Ayah saja. Oh iya, hari ini aku akan ke kampus. Apa Ayah tidak apa-apa aku tinggal sendiri di rumah?"


"Sarah, Kamu jangan terlalu mengkhawatirkan Ayah! Lagipula kamu tidak akan ke kampus hingga larut malam kan?"


"Tentu saja tidak, Yah. Lagian, ini kan hari Sabtu. Paling-paling pukul 15.00 WIB, aku sudah berada di rumah."


"Ya sudah kalau begitu, makan siangnya setelah kamu pulang saja Sarah karena kemungkinan Ayah tidak akan selera juga jika harus makan sendiri."


"Baiklah, kalau begitu Yah. Apa ada yang lainnya lagi?"


"Ada, tapi nanti saja setelah kamu tiba di rumah. Ayah ingin kamu melakukan sesuatu karena Ayah sangat lelah untuk melanjutkan pekerjaan Ayah itu. Jadi Ayah minta kamu untuk melanjutkannya."


"Baik, Yah."


*****


Setelah sarapan pagi bersama Ayah, aku langsung berangkat ke kampus. Sekali lagi, rasanya hari ini sangat berbeda. Tidak ada mereka di sini.


Setibanya di kampus, aku bertemu dengan Feli dan Rian. Mereka bilang, malam ini akan menginap di rumah Ayah dan aku sangat merasa senang.


"Yes yes yes," terdengar suara Kenzi yang terdengar bahagia sambil berlari ke arah ruang kelas. "Pagi ini Pak Gatot nggak masuk, itu apa artinya teman-teman?" tanya anak nakal itu saat tiba di depan pintu.


"Bebaaas," jawab yang mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya sambil bersorak dan tertawa.


"Dasar kalian ini ya, anak nakal," kata Feli yang hanya duduk saja karena tidak ingin kandungannya terluka.


"Fel, kapan kamu mau stop kuliahnya?"


"Setelah ujian semester ini, Sarah. Soalnya tanggung banget, semoga ngak terlalu gede perutnya."


"Iya, sudah. Kemarin aku dan Feli menghadap ke kampus, sambil menunjukkan buku nikah," sahut Rian.


"Syukur alhamdulillah kalau begitu."


Lagi sedang asik mengobrol bersama Feli, Rian dan teman-teman yang lainnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan histeris dari arah kamar mandi kampus yang berada di samping kanan belakang menuju ke arah kantin.


"Aaaaaak." Lalu tiba-tiba suaranya menghilang.


Semua mata tertuju pada sumber suara, termasuk rekan-rekan sekelas ku. Pertanyaan mulai terdengar dari mulut teman-teman yang masih memperhatikan dari jarak yang cukup jauh, sementara si nakal Kenzi langsung berlari menuju pusat masalah.


"Ya Allaaah," teriak Kenzi dengan tubuhnya yang terlempar ke belakang cukup jauh. "Aaagh, sial. Tolooong," teriaknya sekali lagi dan aku sangat yakin bahwa ini bukan masalah yang ringan.


Aku berlari ke arah Kenzi, sementara teman-teman lain yang sudah memahami dan mengenali aku, langsung memberikan jalan. Saat itu aku langsung menatap ke arah tatapan Kenzi yang tampak gemetaran.


Ternyata di dalam kamar mandi, ada seorang mahasiswi yang mengakhiri hidupnya dengan memotong nadinya. Darah segar berserakan di lantai kamar mandi bersama air yang sudah memenuhi bak mandi karena kran tidak ditutup.


Gadis cantik berambut panjang, dengan baju putih yang telah memerah tampak sudah tidak bernyawa. Matanya terbuka lebar dengan kedua kaki yang tertekuk. Sepertinya ia berusaha menahan rasa sakit akibat lukanya.


"Sarah, ada apa?" tanya Feli dalam jarak yang cukup dekat.


"Jangan ke sini!" ucap ku tanpa menatap Feli. "Kenzi, panggil satpam dan Dosen piket!"


"I - iya, Sarah."


"Yang lainnya, tolong bawa mahasiswi yang pingsan ini!"


"Iya," sahut yang lainnya. Sementara aku masih terdiam sambil menatap gadis tersebut.


Apa yang membuat kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Masalah apa yang tidak bisa diselesaikan? Tanya ku tanpa suara.


"Ada apa, Mbak?" tanya Kang Slamet yang sudah bergegas datang bersama Kenzi.


"Apa tidak ada satpam yang lainnya?"


"Nggak ada, Sarah. Pada keluar semua karena diperintah Dosen lain. Emangnya kenapa kalau aku? Nggak ada masalah kok, aku mesti bisa mengatasinya." Kang Slamet berusaha untuk meyakinkan aku agar dapat membantu.


"Yakin?"


"Yakin to."


"Silahkan!?" Lalu aku menggeser tubuhku dan membiarkan Kang Slamet masuk ke dalam kamar mandi tersebut.


"Astaghfirullah hal azim ... putos urat putos mak mak. Nasib perjaka kok koyo ngene banget yo?" kata Kang Slamet sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Jangan pingsan, Kang! Malu sama seragam mu itu," kata Kenzi dengan lutut kakinya yang bergetar hebat.


"Mbak, piye iki? Mesti ngantu (jadi hantu)."


"Huuus, jangan didoain begitu, Kang!"


Tak lama beberapa Dosen datang dan aku memilih mundur, agar mereka lebih leluasa di dalam mengevakuasi korban bunuh diri tersebut.


Bersambung.


Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.