
"Baiklah, Sarah. Jika kamu sudah siap, maka aku juga akan siap. Ambillah air wudhu dan aku akan menyatukan diriku, padamu."
Aku langsung mensucikan diri sebelum melakukan penyatuan bersama Mbah Wisnu. Aku harap, Allah mempermudah semua niat baik ku. Aku ini hanya manusia lemah yang menginginkan makhluk-makhluk di sekelilingku bisa mendapatkan jalan yang benar.
"Sudah, Mbah."
"Silahkan duduk yang nyaman karena aku membutuhkan waktu yang cukup panjang. Soalnya kamu itu perempuan, sementara aku laki-laki."
"Iya, Mbah."
Lebih dari tiga jam aku duduk tanpa bergerak dan berusaha untuk fokus. Aku tidak ingin gagal, aku harus kuat dan ini adalah kali pertama aku melakukan hal seperti ini. Ternyata rasanya melelahkan, lalu bagaiamana dengan orang-orang yang melakukan tapa brata atau semedi selama 40 hari 40 malam?
"Sudah. Alhamdulillah," kata Mbah Wisnu sembari mengusap wajahnya, lalu ia tertunduk.
Tak lama, ia memejamkan kedua mata sambil meletakkan tangannya di atas kepalaku, tanpa menyentuh. 20 menit berlalu, tiba-tiba Mbah Wisnu mengucap kata ibu dengan suaranya yang bergetar. 15 menit berikutnya, Mbah Wisnu menyebutkan nama Tania sambil meneteskan air mata.
Ternyata ia sedang melihat masa lalu ku. Saat itu untuk pertama kalinya aku melihat bulir-bulir air mata yang begitu bening. Saat Mbah Wisnu menyebutkan kedua nama itu, aku pun ikut menangis seolah rasa sakit kembali menumpuk di dalam dadaku, lalu setelah beberapa menit, tiba-tiba rasa itu menghilang entah kemana.
Dadaku yang semula sesak menjadi sangat ringan, bahkan aku lupa untuk meneteskan air mata selanjutnya karena alasan ibu dan juga Kak Tania.
Masih dalam posisi tangan yang sama, Mbah Wisnu sepertinya tersenyum dan aku tidak tahu apa yang ia lihat. Saat itu aku berharap, dia tidak melihat kenakalanku bersama Kak Rio waktu aku belum begitu paham mengenai hukum dan juga dosa berpacaran.
Kemudian Mbah Wisnu menarik tangannya tepat ke arah wajah ku dan saat itu senyum nya mereda. Bahkan yang ada di raut wajahnya adalah ketegangan, sampai-sampai ia mengeluarkan keringat dingin. Entah apa yang ia lihat? Aku harus bertanya.
Mbah Wisnu menurunkan tangannya sambil membuka kedua matanya. Dan ia mengucap istighfar beberapa kali hingga keringat di wajahnya menghilang.
"Sarah, seperti yang aku katakan padamu bahwa aku bukanlah tipe petarung, namun aku adalah sosok yang dapat melihat masa lalu dan masa depan dengan cukup baik. Semua itu sering digunakan oleh tuanku untuk mengatur negerinya agar tetap aman dan tentram dan untuk memilih jalan mana yang terbaik diantara jalan yang baik. Dan saat ini, kamu juga berhak untuk itu, Sarah."
"Ada apa, Mbah?" tanya ku seakan menyadari sesuatu yang berat.
"Allah akan mengujimu kembali, Sarah. Tapi kali ini bukan dalam waktu dekat. Namun kamu harus mempersiapkan diri dengan baik, begitu pun juga kami agar bisa membantu mu."
Untuk sejenak aku sempat terdiam mendengarkan perkataan Mbah Wisnu tersebut. Aku tahu dia bukan tidak ingin mengatakan semua yang ia lihat, hanya saja dia tidak ingin salah dan ia hanya mengingatkan aku untuk selalu berhati-hati.
Apa yang dikatakan oleh Mbah Wisnu membuat pikiran kembali kepada Mbah Radjiman saat di mesjid itu. Apalagi arah pembicaraan antara mereka berdua adalah sama yaitu akan ada cobaan yang begitu besar menghampiri hidupku setelah ini.
"Terkadang kita sudah berbuat baik, tapi masih saja ada manusia yang merasa sakit hati terhadap kita. Maaf contohnya saja ibumu yang baik dan penyayang, tapi saudaranya masih bersikap iri hati kepadanya. Bahkan tega menghancurkan kehidupan ibumu, lebih dari debu," ucap Mbah Wisnu yang tampaknya sudah mengetahui tentang semua masa lalu ku, tanpa harus diceritakan terlebih dahulu.
"Iya Mbah, aku juga menyadari akan hal itu karena sikap iri hati manusia benar-benar tidak bisa disembuhkan jika tidak ia lakukan sendiri. Orangang lain hanya bisa membantu."
"Tapi kamu tenang saja karena kamu tidak sendiri, Sarah. Mamu punya banyak sahabat yang sangat menyayangi kamu dan bersedia menghalangi apapun untuk menyakiti kamu."
"Iya Mbah, aku sudah membuktikannya. Apalagi Feli, dia bahkan sudah pernah bertarung nyawa untukku," ujar ku sambil menghisap air hidungku.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Lebih lega, Mbah." Entah apa yang terjadi? Namun yang jelas aku merasa bahwa dadaku yang tadinya penuh sekarang lebih lapang dan luas.
"Syukurlah jika aku bermanfaat untukmu, Sarah. Hemh, ternyata aku salah menilaimu. Awalnya aku pikir kamu sama saja dengan gadis-gadis lainnya, tapi ternyata tidak. Bahkan kamu sudah menjalani masa-masa tersulit dalam hidupmu dengan baik, tanpa kamu menyalahkan takdir dari Allah."
"Terima kasih, Mbah. Sekarang aku hanya punya Ayah dan aku tidak tahu bagaimana jika Ayahku tiada nanti? Apakah aku masih bisa bertahan seperti ini atau tidak? Seandainya aku bisa tahu, kapan malaikat pencabut nyawa akan datang?"
"Istighfar, Sarah. Kamu harus tahu bahwa sesungguhnya malaikat pencabut nyawa itu rajin menemui manusia? Hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa, atau sedang melakukan perbuatan dzolim, sedang berzina dan lain-lain sebagainya."
"Begitu ya, Mbah?"
"Makanya manusia tidak pernah tahu kapan ia mati, bisa saja saat sedang enak-enak makan, sedang nyenyak nyenyak nya tidur, sedang asyik-asyiknya menghina orang lain atau membicarakan keburukan orang lain, atau saat kita sedang beribadah dan menyebut nama Allah."
Setelah perbincangan lebar tersebut, Sarah pun memanggil semua prewangan yang dititipkan nenek Emang Wulan kepada dirinya melalui Mbah siji karena selama ini Sarah sama sekali tidak pernah memanggil mereka secara keseluruhan.
tak perlu waktu lama, para-para Wangan pemilik dana nawangwulan berkumpul dan saat itu Sarah sangat terkejut melihat jumlahnya bahkan rumah hingga bagian halaman tidak muat untuk menampung para Parahyangan tersebut.
Astaghfirullahaladzim banyak ini tanya Sarah yang tampak bingung.
iya Sarah dan ini sudah semuanya. Mbah siji merasa sangat yakin bahwa semua prewangan itu sudah berkumpul di hadapanku dan disaat yang bersamaan Aku hanya mencari sosok wajah yang aku kenali seperti Kakek Singgih dan Datuk Belang.
"Mbah, dimana Kakek Singgih dan Datuk Belang?" Tanyaku karena tidak melihat sosok keduanya di dalam kerumunan makhluk-makhluk dengan wujud dan wajah yang beraneka ragam.
Melihat kondisi keduanya, aku sangat tidak tega dan aku juga merasa pesimis bahwa mereka akan bisa terus berjuang dan bertahan untuk hidup. Namun yang dikatakan oleh Mbah Wisnu juga tidak salah, maka aku akan berikan kesempatan kepada mereka semua untuk memilih jalan hidup masing-masing.
Malam sudah semakin larut dan aku yang hanya tinggal menunggu keputusan dari mereka semua duduk terdiam sambil memikirkan semua kejadian yang menerpa hidupku. Apapun keputusan mereka semu, maka aku harus menerimanya. Ucapku di dalam hati sambil terus menatap para parewangan yang sedang bercakap-cakap.
Mereka seperti membuat kelompok berdasarkan keahliannya masing-masing. Lalu salah satu dari kelompok tersebut mengatakan bahwa, "Kami memilih untuk pergi karena jiwa kami memang hitam dan kami tetap ingin memilih jalan kami yang pertama."
Setelah mendengarkan ucapan itu aku langsung mengizinkan kelompok pertama untuk pergi dan aku berusaha dengan ikhlas melepaskan mereka semua. "Pergilah jaga diri kalian dengan baik dan maafkan semua kekuranganku."
Tiba-tiba kelompok pertama menghilang seperti terbawa angin, tapi aku bisa mengingat wajah mereka dengan jelas walaupun aku tidak mengetahui namanya.
Kelompok kedua terdiri dari makhluk ukuran kecil seperti katak dan mereka terlihat berlendir serta mengkilat dan berbau amis. Salah satu dari mereka juga maju dan mengatakan bahwa, "Kami masih ingin bersenang-senang di atas muka bumi ini, jadi kami tidak akan menyia-nyiakan waktu kami hanya untuk hancur dan binasa."
"Pergilah dan maafkan semua kekurangan ku," ucap ku sambil berdiri dan melihat mereka melompat menyeret dan menghilang entah kemana.
Kelompok ketiga juga mengatakan hal yang sama dan hanya satu di antara mereka yang bersedia tinggal dengan wujud seperti pohon beringin besar dan dia mengatakan bahwa dia akan terus disini bersamaku untuk mengikuti keinginanku.
Tapi sebelumnya ia ingin aku memberikannya nama dan saat itu aku memberikannya sebutan beringin karena memang bentuknya seperti pohon beringin yang sangat rimbun, hijau, besar dan juga kokoh.
Terakhir adalah kelompok Mbah Siji dan yang lainnya. Mereka mengatakan bahwa mereka akan tetap bersamaku dan mengikuti arah yang aku tunjuk.
Setelah itu aku mengatakan kepada Mbah Wisnu untuk segera membawa yang lainnya pergi ke tempat yang sudah direncanakan. Tapi sebelumnya Mbah Wisnu ingin aku menjadi saksi bahwa mereka sudah menjadi muslim dengan mengucap dua kalimat syahadat bersama-sama di hadapanku dan aku mengikuti keinginan Mbah Wisnu tersebut.
Langit, bulan, bintang, angin dingin, semua jadi saksi bisu bertambahnya hamba Allah dan saat itu air mataku menetes. Aku sangat bahagia dan berharap smua akan baik-baik saja.
"Sarah, apa kamu yakin tidak membutuhkan aku disini?" tanya Mbah Pecek.
"Aku sangat membutuhkan semuanya, tapi itu tidak sekarang. Pergilah Mbah dan jangan lupa kembali dalam keadaan yang lebih baik!"
"Perintah mu adalah kekuatan kami, Ndok," ucap mereka secara bersamaan.
"Terimakasih," sahut ku sambil membuang air mataku.
"Sarah, aku akan membawa mereka semua pergi. Jaga dirimu baik-baik dan teruslah melakukan hal yang benar karena jika tidak, maka kami juga akan menanggung akibatnya," ucap Mbah Wisnu terhadap ku dan saat aku menganggukan kepala, mereka semua menghilang.
Tiba-tiba aku merasa suasana menjadi sangat sepi dan sunyi. Ini sama seperti diriku setahun yang lalu, ternyata aku benar-benar sudah menganggap mereka bagian dari diriku sendiri dan saat mereka pergi, aku merasa bagian dari diriku menghilang.
*****
Disisi dan tempat yang lain, Mbah Wisnu mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa ini adalah rumah kita untuk sementara waktu yaitu masjid megah yang sangat bersih dengan lampu yang banyak dan berkilauan.
"Aku tahu, awalnya ini memang akan sangat menyakitkan. Tapi aku yakin, Insya Allah dengan keteguhan hati, kita semua akan bisa melewatinya."
"Semoga saja," sahut yang lainnya.
"Iya, InsyaAllah. Amiiin."
"Satu hal yang ingin aku sampaikan terutama tentang Sarah."
"Apa?" tanya Datuk Belang.
"Se penglihatanku, ia akan menghadapi masalah yang begitu besar. Bahkan ia akan mempertaruhkan nyawanya dalam sebuah peperangan yang sama sekali tidak tahu kapan akan dimulai. Aku berharap saat itu kita semua sudah benar-benar siap untuk menolong Sarah," kata Mbah Wisnu sambil menatap yang lainnya.
"Jika boleh tahu, apa yang kamu lihat Wisnu?" tanya Mbah Siji kepada adik kesayangannya tersebut.
"Kalian semua mendekatlah, aku akan memperlihatkan nya,' kata Mbah Wisnu sambil mengulurkan tangannya kepada para parewangan milik Sarah.
Sekitar 10 menit Mbah Wisnu mentransfer energi dan penglihatannya, mereka bisa mengetahui pandangan kedepan tentang Sarah yang akan menghadapi sebuah peperangan dengan nuansa hijau dan penuh kuda serta kereta kencana.
Bersambung.
Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.