ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TAWA


"Hai Fel, " sapaku dengan senyum yang lebar dan Feli ikut tersenyum melihat ke arahku dan Kak Rio.


"Ada yang lebar tuh senyumnya."


"Jangan mengolok ku! "


"Apa kabar kamu Feli?"


"Aku berantakan Kak. Ha ha ha ha ha ha ha, tapi aku bahagia karena bisa berguna."


"Gila apa ngomong kayak gitu? " ucapku sambil menarik punggung Feli dan mengajaknya untuk duduk.


"Makasih ya Fel karena kamu sudah menjaga Sarah."


"Tidak masalah Kak."


"Hemh ... seandainya aku ada disini, aku juga pasti akan membantu kalian semua," ucap Kak Rio kesal dengan keadaan.


"Sudah sudah, itu bukan kesalahan Kak."


"Iya. Oh iya, lupa. Aku ada coklat buat kalian berdua," ujar Kak Rio sambil mengeluarkan dua buah bungkus coklat dari dalam tasnya kemudian di berikan kepadaku dan Feli.


"Makasih ya Kak," ucapku dan Feli berbarengan.


"Ya sudah, di makan dulu! "


"Gimana Kak, lokasinya sudah dapat?" tanya Feli sambil mengunyah coklat batangan bercampur kacang mete tersebut.


"Sudah, ngak jauh dari sini Kok. Do'ain ya, semoga prakteknya lancar-lancar saja dan aman-aman saja."


"Amin, Iya Kak. Yang penting ikuti adat istiadat masyarakat di lokasi praktek Kak. Larang pantang itu mesti ada alasannya. Betul ngak Sarah? "


"Iya ... betul banget Fel. Sopan santun itu penting Kak," tambah ku yang cukup khawatir.


"Dua minggu lagi kami berangkat ke lokasi. Sekali lagi ya Fel, titip Sarah."


"Aku mengerti Kak."


Tak lama, terdengar suara yang cukup ramai dari luar pintu kamar perawatan Feli. Ternyata teman-teman satu kelas datang untuk mengunjungi Feli dan ini adalah kali kedua mereka datang, tapi yang pertama Feli sama sekali tidak menyadarinya karena dalam kondisi koma di ruang ICU.


"Halo Feli ... syukurlah kamu sudah baik-baik saja. Kemarin kita juga sempat datang berkunjung loh tapi kamu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri," ujar Mia sambil merapikan rambut Feli.


"Iyakah? Makasih ya teman-teman," ujar Feli dengan matanya yang berkaca-kaca.


Aku sangat mengerti mengapa reaksi Feli seperti ini saat teman-teman satu kelas datang untuk menjenguknya. Mungkin ini adalah pertama kalinya di dalam hidup Feli memiliki banyak teman yang tampak peduli kepadanya. Kalau dipikir-pikir ruangan ini sama sekali tidak muat jika diisi sekitar 30 orang mahasiswa. Tapi saat aku ingin mengajak sebagian dari teman-teman keluar dari dalam ruangan, Kak Rio melarangku.


"Jangan, coba lihat! Mata Feli tampak bahagia di tengah-tengah teman-temannya. Sebaiknya kita saja yang menepi dan memberikan ruang kepada teman-teman yang lain untuk berada dekat di sisi Feli," ucap Kak Rio sambil berbisik pelan di telinga kanan ku.


"Baiklah Kak."


Aku dan Kak Rio memutuskan untuk keluar dari ruang perawatan Feli dan duduk di kursi tunggu di depan ruangan tersebut. Kak Rio bertanya kepadaku tentang bagaimana kelanjutan urusan bersama Kak Linda lalu aku menjelaskan bahwa keluarga Kak Linda sudah pernah datang dan menawarkan sejumlah uang untuk melepaskan Kak Linda dari tuduhan atas kecelakaan yang menimpa Feli.


Kak Rio terdiam dan tampak kesal dengan apa yang aku katakan barusan dan Kak Rio menyebutkan bahwa, "Jika orang-orang seperti Linda tidak diberi pelajaran, maka ia akan terus berlaku semena-mena dan seenaknya sendiri."


"Aku dan Feli setuju dengan pikiran Kakak itu, makannya Feli menyerahkan seluruh kekuasaan kasus ini di tangan pihak yang berwajib."


"Bagus kalau begitu."


"Selain itu Kak, Ayah mengatakan padaku bahwa rally akan tinggal bersama kami jadi aku tidak sendiri dan kesepian lagi.


"Itu pemikiran yang bagus Sarah. Dengan seperti itu, kalian bisa saling menjaga dan belajar bersama."


"Iya Kak."


Sekitar satu jam kami mengobrol di luar, beberapa orang teman keluar dari ruangan Feli dan meminta izin pamit terlebih dahulu kepada kami, kemudian disusul oleh beberapa teman yang lainnya hingga di dalam ruangan hanya tinggal tersisa 1 orang yaitu Rian.


Rian adalah salah satu teman sekelas yang cukup perhatian kepada Feli. Aku melihat Rian dari kejauhan, tampaknya ia benar-benar menyukai Feli. Apa ini artinya Feli akan segera memiliki kekasih? Entahlah. Tapi yang jelas, aku berharap Feli bisa merasakan hatinya yang penuh dengan banyak bunga dan berbagai macam warna kupu-kupu seperti yang aku rasakan saat sedang bersama Kak Rio.


"Kenapa belum masuk? " tanya Kak Rio sambil memegang punggung hingga pinggang kiri ku.


"Sarah .... "


"I-iya Kak, Iya .... "


"Kenapa?" tanya Kak Rio yang tampaknya tidak mengerti dengan apa yang sedang aku rasakan. Ya ampun beginikah rasanya jika sedang jatuh cinta, bahkan semua bulu-bulu halus di tubuh ku berdiri seperti sedang bersentuhan dengan roh halus. Ucapku tanpa suara.


"Katakan! "


"No."


"Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan Sarah, bahkan mungkin aku lebih tersiksa daripada dirimu."


"Benarkah? "


Aku belum bisa menunjukkan dan membuktikannya kepadamu saat ini. Tapi setelah kita menikah nanti, kamu akan bisa melihat sendiri. Bagaimana reaksi diriku yang sebenarnya terhadap kamu Sarah. Aku benar-benar mencintai kamu," ucap Kak Rio setengah berbisik tepat di telinga kiri ku dan itu membuat bulu-bulu halus di sekitar telinga ku berdiri sekali lagi.


Rasa yang sangat menyiksa namun tetap menyenangkan. Ternyata hal seperti inilah yang membuat cinta begitu berbeda dengan perasaan yang lainnya, bahkan orang sanggup berbuat jahat dan keji hanya untuk merasakan cinta bersama orang yang dia inginkan seperti yang Tante Rima lakukan.


"Kak, aku pamit ke dalam sebentar ya."


"Jangan mengganggu mereka, Sarah! "


"Siapa juga yang mau ganggu Kakak. Aku mau pipis tau."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, Iya Iya ... maaf sayang."


"Apa Kak? " tanyaku sekali lagi.


"Iya sayang, kamu itu kesayanganku Sarah."


"Eeeemm .... "


"Kenapa coba? " tanya Kak Rio dengan wajah yang cemas sambil menyipitkan kedua matanya dan menatapku.


"Jadi tambah pengen pipis," sahut ku dengan suara yang manja.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, Iya Iya. Ternyata cewek itu lucu ya kalau sedang jatuh cinta."


"Apa'an sih Kak," Lalu aku meninggalkan Kak Rio menuju kamar mandi di ruang perawatan Feli.


Aku berada di dalam kamar mandi sekitar 10 menit. Bagiku waktu itu cukup untuk menenangkan degup jantungku yang terlanjur ingin melompat akibat ulah sederhana Kak Rio terhadapku. Cukup tenang, aku segera keluar dari kamar mandi dan ternyata kak Rio sudah ada di dalam ruangan dan mengobrol bersama Feli serta Rian.


"Lama banget di dalam? Kirain pingsan."


"Jangan mengolok ku Feli! Itu sama sekali tidak lucu."


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... tenang! " ujar Feli berusaha menggodaku sekali lagi dan akibat ucapannya itu Kak Rio dan Rian pun ikut menertawakanku.


"Kalian semua menyebalkan."


"Feli ya ... aku ngak kan sayang?"


"Sama aja."


"Cie cie ... yang belajar ngambek," celetuk Feli yang tanpa henti menggodaku.


Awas kamu ya Feli! Nanti ada saatnya, aku yang akan membuatmu tertunduk malu seperti ini titik ucapku di dalam hati sambil terus menatap ke arah Feli, Kak Rio, dan Rian.


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘