
Aku merasakan tangan menyentuh pundakku dan hatiku mengatakan bahwa sosok ini adah gadis misterius yang aku cari. Keringat dingin menetes dari dahi hingga pipi kananku. Bulu kuduk ku berdiri, tubuhku setengah gemetaran.
Tidak ada pilihan, aku juga menginginkan pertemuan dengannya. Aku harus melakukan sesuatu untuk Feli, seperti Feli yang menahan rasa sakit dan melawan ketakutannya untuk menyelamatkan nyawaku.
1 2 3, ucapku di dalam hati sambil membalik tubuhku. Benar saja, Gadis itu menatapku dengan matanya yang putih sempurna tanpa bagian hitam sedikitpun. Pada saat mataku menatap matanya, tiba-tiba aku merasa bahwa diriku berada di tempat yang lain (Bukan di dalam kelas).
Aku memperhatikan sekitar, gadis misterius pun tidak lagi berada tepat di hadapanku. Tiba-tiba, dari jauh aku mendengar suara gelak tawa dari suara asing yang sama sekali tidak aku kenali.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... dasar nakal. Jangan mengejarku lagi!" ucap seorang gadis berambut ikal dan panjang berwarna pirang. Suaranya sangat lembut terdengar di telingaku. Seperti udara dingin yang menyegarkan, suaranya bahkan dapat menentramkan hatiku yang sedang gelisah.
Dia berlari cukup jauh dari sebuah rumah sederhana berwarna putih. Dia benar-benar gadis yang manis dan ceria. Saat aku suara tawanya dan melihat ia begitu lincah bergerak berlari menjauhi rumah tersebut rasanya aku pun ikut tersenyum dan merasakan bahagia.
Dengan bibir yang terbuka lebar, mataku terus mengikuti arah langkah kakinya sampai akhirnya ia terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Dari kejauhan, aku melihat seseorang yang wajahnya cukup familiar untukku. Hanya saja, ia terlihat jauh lebih muda.
Laki-laki itu adalah Rian. Iya ... aku yakin dia adalah Rian. Tapi aku tidak boleh salah melihat, untuk itu aku melangkah dengan cepat menuju ke arah keduanya untuk memastikan wajah-waja yang sedang berada hadapanku saat ini.
"Makanya jangan terlalu lincah. lagipula Apa salahnya kamu menelan obat mu tanpa syarat? " tanya Rian sambil duduk jongkok dan meniup lutut gadis itu dengan lembut berulang kali.
"Itu sama sekali tidak enak, rasanya pahit dan ketika aku menelannya rasa pahit itu bertahan di dalam rongga tenggorokan ku lebih dari 1 hari. Semua itu membuat aku sangat tersiksa dan aku tidak bisa merasakan nikmatnya es krim kesukaan ku," ucapnya dengan ekspresi murung.
"Jadi, apakah aku harus terus-menerus mengejarmu seperti ini hingga akhirnya kamu terjatuh atau tertangkap oleh ku?"
"He he he he he he he he he he he, kamu sangat baik." ucapnya sambil memegang pipi Rian dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. "Kamu tau, aku sangat menyayangimu."
"Aku juga sangat menyayangimu. Oleh karena itu, makan obat mu sekarang juga! Nggak pakai menolak apalagi berlari lebih kencang lagi. Coba lihat lututmu sampai terluka seperti ini! "
"Sekarang, bagaimana aku akan memakan obat ku, jika aku saja sangat kesulitan untuk berjalan ke dalam rumah?"
"Alasan yang bagus," ucap Rian sambil menatap gadis itu dengan cukup kesal.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... aku sangat senang hari ini."
"Baiklah kalau begitu hanya ada satu cara untuk membuatmu menelan obat-obatanmu. Sekarang juga aku akan membawamu masuk," ucap Rian sambil mengangkat tubuh mungil gadis tersebut dan membawanya masuk kedalam rumah.
Aku sangat penasaran dengan apa yang aku lihat tapi aku tidak mungkin bisa mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua jika aku tetap disini. Untuk itu aku harus mengikuti mereka dan masuk ke dalam rumah berwarna putih sederhana tersebut.
Baru lima langkah aku berjalan dengan cepat, tiba-tiba seseorang memegangi pundakku dari belakang dan mengejutkanku sehingga aku menghilangkan seluruh pandangan gaibku terhadap Rian dan Gadis Misterius tersebut.
Tanpa pikir panjang, aku langsung menghadap ke belakang dengan perasaan yang sangat kesal karena gara-gara orang tersebut aku tidak dapat menguak misteri tentang gadis misterius yang hampir saja mencelakaiku kemarin siang. Tapi setelah aku melihat sosok yang memegangi pundakku, aku menjadi terdiam. Ternyata dia adalah Kak Rio.
"Sarah, kamu enggak istirahat? " tanya Kak Rio yang membawa sebuah buku berkulit plastik berwarna biru
"Tidak Kak, aku sedang tidak selera makan," ucapku sambil menatap Kak Rio dan melihat ke arah buku yang ia bawa. "Kak, itu buku apa?" tanyaku cukup penasaran.
"Ini buku tentang Rian, Nama lengkap Ayah dan Ibunya serta alamat rumahnya hanya ini yang baru aku dapatkan dari ruang administrasi tadi.
"Biar aku catat alamatnya Kak."
"Kapan kita ke rumah itu Kak?"
"Secepatnya, semakin cepat semakin baik bukan?" tanya Kak Rio sambil memegang tangan kanan ku.
"Bagaiamana kalau pang kuliah?"
"Maksud ku, kalau bisa kita jangan bertemu dengan Rian Kak."
"Tenang saja, aku akan memberikannya tugas. Dia kan bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dengan cara itu kita bisa menahannya lebih lama di kampus."
"Makasih ya kak. Untung ada Kakak yang bisa ku ajak tukar pikiran dan aku andalkan."
"Sama-sama Sarah," ucap Kak Rio sambil menggosok-gosok bagian lengan kanan ku.
"Kalau gitu, aku mencari Rio dulu ya."
"Iya Kak, sekali lagi. Makasih ya."
"Sama-sama," jawab Kak Rio lalu ia memberikan kecupan kecil di dahiku, sebelum ia benar-benar pergi mencari Rian.
*****
Jam perkuliahan sudah berakhir, aku sengaja membiarkan Feli untuk lengket dengan Rian saat ini karena aku harus bergerak menuju alamat yang sudah Kak Rio catat untuk ku. Saat Ryan mengajak Feli untuk ke sekretariat BEM, Kak Rio sudah siap untuk mengantarkanku ke alamat yang kami cari.
"Sudah siap? " tanya Kak Rio sambil menggandeng tangan kananku.
"Siap Kak. Apapun itu aku harus siap."
"Bagus, begitulah seorang teman."
"Makasih sudah mendukungku Kak."
"Kembali kasih Sarah. Aku sangat bangga padamu, kamu adalah orang yang baik dan perduli dengan sahabatmu."
"Benarkah? "
"Tentu saja, hal itulah yang membuat aku semakin jatuh cinta kepadamu Sarah."
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘