ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
MENEMUKAN


Ayah dan Pak Antok berjalan cepat mengikuti langkah kakiku yang yang lincah. Setibanya di kamar, aku menunjuk ke arah ranjang ku. "Aku yakin, Tania ada disana Ayah .... "


"Dimana ....? " tanya Ayah sambil menatap ke dinding kamarku. Sepertinya, trauma kejadian suster Isabela masih membayangi Ayah dan Ayah berfikir, Tania ada ditembak kamarku. Sementara Pak Antok hanya terdiam, sepertinya Iya tau akan apa yang segera Iya saksikan.


"Bukan yah, tapi di sana .... " ujarku sambil mengarahkan jari telunjuk dari tangan kananku ke arah ranjang.


Ayah tampak tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Ayah mundur beberapa langkah sambil menggeleng-gelenhkan kepalanya. Tubuh tua Ayah yang kurus tampak gemetaran tidak beraturan.


Ayah tau ini mustahil. Tapi sekali lagi, Ayah menelpon kantor polisi dan meminta bantuan kepada mereka. Sekitar 60 menit berlalu, rumah kami menjadi ramai dengan kehadiran beberapa polisi berseragam dan beberapa fotografer.


"Selamat pagi Pak .... " sapa salah seorang polisi yang wajahnya tak asing bagiku.


"Pagi .... " sahut Ayahku.


"Kita tunggu komandan sebentar. Beliau dalam perjalanan. " ujar sang polisi tanpa basa basi.


"Baik."


Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, komandan pasukan pun tiba dan sekali lagi ... matanya lirih menatap ku. "Saya punya seorang putri seumuran kamu. Saya tidak tau apa yang akan terjadi padanya jika Dia menjadi kamu Sarah. Kamu anak yang kuat. " ujarnya sambil memegang kepalaku seperti biasanya.


"Di sana .... " ucapku sambil berjalan menuju kamarku.


Para polisi mengangguk-anggukkan kepalanya dan mulai bekerja. Mereka menyayat ujung-ujung ranjang ku. Pandanganku tidak lepas dari ranjang itu. Saat mereka menemukan dan mengangkat kotak segi empat berbalut plastik hitam, Ayah segera mendekatiku dan memegang tubuhku erat.


"Ayah ... kali ini, sepertinya aku tidak kuat lagi. " Ujarku dengan suara dan tubuh yang bergetar.


Kali ini semua mata tertuju padaku. Aku yang tidak punya rasa lagi, kembali menatap orang-orang yang ada di dalam kamar ku satu per satu. Aku seperti orang yang linglung saat ini dan rasanya aku tidak tau membedakan antara mimpi dan nyata, semuanya hampir sama bagiku.


Puas menatap semua yang ada, aku kembali menatap kotak tersebut. "Tania ... apa mungkin Tania ku ada di sana? " tanyaku mengarah kepada komandan yang berdiri tepat di sisi kotak tersebut.


"Kami akan membawanya dari sini dan memeriksanya. " sahut komandan pasukan tersebut seolah tidak mengizinkan kan aku melihat apa yang terjadi di dalam kotak tersebut.


"Tapi aku ingin melihatnya ...! "


"Selama ini aku hanya melihatnya. Aku tidak pernah menyentuhnya. Aku mohon, untuk yang terakhir kalinya ... biarkan jari tanganku ini menyentuh jari-jari tangan kakak ku. Aku mohon .... " ucap ku sembari berlutut.


Dengan berat hati dan menelan liur yang berat. Sang komandan pun mengizinkan aku untuk ikut ke rumah sakit. Sementara ayah, hanya terdiam tak berbicara sedikitpun.


Aku berjalan dengan langkah yang menyeret. Rasanya dadaku sangat berat dan sesak. Pak Antok berusaha memapah ku tapi aku menolaknya. Aku ingin memperlihatkankan pada semuanya kalau aku ini sangat kuat dan sanggup untuk melihat kenyataan pahit yang sebentar lagi akan terbuka.


Kami tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar mayat. Di atas ranjang berlapis plastik coklat. Kotak itu mulai dibuka. Aku tidak dapat membayangkan bagaimana isinya, yang aku tau ... aku harus melihatnya agar hatiku terpuaskan.


Seorang ahli forensik dan petugas dari rumah sakit mulai menyayat setiap ujung kardus ukuran kecil tersebut. Dengan berat hati sambil menatapku, mereka membuka kotak tersebut secara perlahan.


Seperti berdiri di kutup utara tanpa pakaian. Seluruh tubuhku bergetar hebat tapi aku terus melihat isi kotak tersebut. Sementara yang lainnya banyak yang meneteskan air mata melihat tumpukan tulang belakang yang sudah lepas dari ruas sendinya.


"Korban mutilasi. " ujar ahli forensik.


Saat mendengarkan perkataan tersebut, aku baru sadar atas apa yang aku lihat. Seketika air mataku menetes. Dengan tangan yang bergetar, aku menyentuh tengkorak kepala yang masih terdapat beberapa helai rambut Tania. Aku mengangkat dan membelai rambutnya.


Saat ini aku terbayang wajah Tania yang penuh senyum dan tawa walaupun Iya sedang terluka. "Tania ... dimana aku akan mendapatkan saudara seperti dirimu kak? " ucapku memancing tangis semua orang yang ada di sekelilingku. Ini pertama kalinya aku memanggil Tania dengan sebutan kakak.


"Sudah Sarah ... cukup! Letakkan nak ....! " ujar ayah dengan air matanya yang tak terbendung.


Ayah menarik perut ku agar aku mundur ke belakang tapi pada saat yang bersamaan, aku menarik jari-jari Tania dan menggenggamnya. Aku kembali membayangkan jari-jari ini menintin tanganku kemanapun Iya pergi. Kenapa semua ini harus terjadi di dalam hidupku? Dengan hati yang penuh, aku berteriak memanggil nama Tania.


"Taniaaaaaaaaa .... "


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘