
Angin dingin menusuk tubuh kami hingga ke tulang-tulang. Bagaimana cara mereka menghalau makhluk itu? sementara kami hanya cover kosong yang tidak berisi. Tapi nampaknya kedua laki-laki itu siap dengan segala resikonya. Ya Allah, kami berlindung hanya kepadamu. Ucapku tanpa suara.
"Feli, lanjutkan kerjamu! Aku akan membantu mereka berdua. Setidaknya aku bisa melihat saat makhluk itu mendekat."
"Tunggu! Jika sudah mendesak, hantam kepalanya," ucap Feli yang sedang melukis di lantai dengan posisi jongkok. Entah apa yang terjadi padanya, tapi aku baru kali ini melihat ekspresi Feli seperti ini.
Berdasarkan mata gaib ku, aku melihat urat-urat berwarna hitam menjalar di seluruh tubuh hingga wajah Feli. "Kita tidak hanya melawan iblis, tapi juga manusia iblis. Aku bisa menyelesaikan ini semua sekaligus!" ucap Feli dengan nada dan intonasi suaranya yang berubah-ubah, seperti ada dua atau tiga orang yang berbicara menggunakan satu bibir.
Satu hal yang aku sadari kali ini, yaitu apa yang kami hadapi bukan masalah ringan dan sederhana. Aku membawa teman-temanku di dalam masalah yang besar tanpa tahu resiko dan jalan keluarnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang Tania? aku hanya ingin berbuat baik. Ucapku tanpa suara.
Aku melangkah keluar dari kamar untuk membantu Kak Rio dan Rian. Aku menatap iblis itu dari jarak yang cukup jauh.
Dari bentuknya, dia tidak jauh berbeda dengan iblis yang sempat aku temui sebelumnya. Hanya saja, dia lebih percaya diri dan tidak terlalu busuk, mungkin karena dia memiliki tuan yang mengurusnya. Selain itu, tubuhnya tidak terlalu besar, bertanduk, dan berekor.
"Manusia angkuh, tidak punya apapun tapi berani-beraninya mengganggu tidurku," ucap iblis tersebut dengan suaranya yang besar tapi serak dan tatapannya yang penuh kebencian.
"Dimana kamu tidur? ini tempat kami, bukan tempatmu," jawabku sambil menatap matanya yang merah. Tania, sepertinya dia kebanyakan tidur, sampai-sampai matanya merah menyala. Ucapku di dalam hati untuk menghilangkan rasa takut yang menyelimuti hatiku.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ... kelihatannya, kamu sudah siap mati anak muda," ucapnya dengan suara yang kusut. "Enak sekali pekerjaan ku kali ini, bukan hanya dapat satu tapi lima. Ha ha ha ha ha ha ha ha."
Tiba-tiba kaca meja di ruang tamu Bu Marisa pecah saat iblis tersebut tertawa terbahak-bahak, lalu kaca dengan bagian ujungnya yang runcing terbang ke arah mataku seakan ingin menancap dan memecahkan kedua bola mataku. Tapi potongan kaca tersebut berhasil ditepis oleh Kak Rio dengan tangan kirinya hingga merobek bagian bawah tangannya.
"Sayang, kamu ngak papa?" tanya ku sambil menatap khawatir karena melihat darah yang mengucur deras keluar dari tangannya.
"Aku ngak papa, Sayang. Fokus Sarah, dia mengincar kamu!" ucap Kak Rio sambil menahan tangan kirinya yang terluka.
"Senior, anda masih kuat?" tanya Rian sambil menatap Kak Rio.
"Iya ... lanjutkan!"
"Sarah, Paman sudah siap membantu dari kejauhan," ucap Rian yang samar-samar terdengar olehku karena aku terlalu fokus memperhatikan iblis tersebut dengan sesuatu yang belum terlihat, yang ia hasilkan dari kedua telapak tangannya.
"Apa yang harus kita katakan?" tanya ku dan Kak Rio lirih, serta tanpa sadar pada siapa kami bertanya.
"Yang pastinya bukan ucapan selamat datang, senior. Mundurlah kalian berdua!" kata Rian sambil maju ke depan seperti hendak menghadapi iblis tersebut sendirian. "Bantu aku dengan ayat apapun, yang kalian berdua bisa! Asal jangan ayat-ayat cinta."
"Dasar Rian gila!" ucapku hampir tertawa.
Kak Rio mulai membaca ayat-ayat pendek sambil membuang nafasnya dengan cepat. Lalu aku bisa melihat cahaya putih keluar dari tubuhnya. Ini seperti aura murni, apakah ini yang biasa disebut Nur? aku terus bertanya-tanya di dalam hati sembari menyadari kekuasaan Allah. Lalu ia mengucapkan:
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir."
"Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu," sambung Kak Rio dengan tatapan matanya yang penuh keyakinan sambil mengucap dengan keras.
"Astagfirullah ... astagfirullah hal azim .... " ucapku hampir gemetaran.
"Eeeeegrr ... eeeegggr ...." ucap iblis tersebut mulai merasakan perlawanan dari kami. Dari sini aku melihat, dia tidak bisa bergerak, aneh bukan? tapi dia melakukan sesuatu ... dan itu membuat aku mundur beberapa langkah.
"Apa yang kami lihat, Sarah?" tanya Kak Rio sambil memegang tangan kanan ku.
“Apa yang harus kita lakukan, Rian?” tanya Kak Rio. Tak lama, Rian maju tiga langkah ke depan dan mulai mengucapkan:"
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِى لاَ يُجَاوزُهُنَّ بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِى الأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقاً يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ
“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak akan dilewati oleh orang baik dan orang durhaka, dari kejahatan apa yang diciptakan dan dijadikan-Nya, dari kejahatan apa yang turun dari langit dan yang naik ke dalamnya, dari kejahatan yang tumbuh di bumi dan yang keluar darinya, dari kejahatan fitnah-fitnah malam dan siang, serta dari kejahatan-kejahatan yang datang (di waktu malam) kecuali dengan tujuan baik, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Seketika itu, api yang dibuat setan tersebut di telapak tangannya langsung padam dan aku sangat terkejut akan hal tersebut. "MasyaAllah ... apinya padam," ucapku dengan suara yang bergetar.
Ini adalah pertama kalinya aku melihat kekuasaan Allah dari ayat-ayat suci yang diturunkan melalui Nabi Muhammad untuk semua umatnya. Ternyata sungguh kuat perlindungan yang diberikan Allah dan hal itu sama sekali tidak aku sadari sebelumnya. Ampuni aku ya Allah, ucapku tanpa suara.
Ternyata semua benar, setiap ayat memiliki arti dan makna. Apapun maslahat yang kita hadapi, Al-Qur'an sudah memberikan jawabannya. Air mataku menetes sembari melihat reaksi setan tersebut terhadap ayat-ayat yang dibacakan dengan khusuk dan penuh keyakinan.
"Dia tidak bisa bergerak, seperti terperangkap dalam sangkar yang tidak mampu aku lihat," ucapku dengan suara yang kecil. Tak lama, aku melihat iblis tersebut melakukan perlawanan dan ia sedang berancang-ancang untuk menerkam kami. "Dia seperti ingin melompat dan menerkam kita."
"Ayo kita baca ayat Kursi dan berpasrah kepada Allah!!"
"Iya .... " sahut ku dan Kak Rio bersamaan.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
"Allaaaaaah, tidak ada Tuhan (yang berhak atau boleh disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Yang tidak mengantuk dan tidak juga tertidur. Kepunyaan-Nya adalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya."
Kami mengulang bacaan tersebut dengan suara yang semakin lama semakin kuat dan nyaring. Saat itu aku melihat langkah makhluk itu, semakin lama semakin mundur.
Tak lama, aku mendengar suara yang menggema seperti takbir yang saling menyahut. Entah dari mana asal suara itu sehingga mampu mengguncang tubuh iblis tersebut, lalu si iblis terbakar bersama kalung emas tempat iblis itu bersemayam selama ini.
"Aaagg ... aaaagggrhhh ... aaaaaagggggrrh," jeritnya sambil menggulung-gulung diri di lantai. Saat kalung emas itu terbakar hangus, saat itu jugalah tubuh iblis tersebut binasa.
"Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar ... Allah Hu Akbar ... iblis itu binasa .... " ucapku sambil terduduk dan aku segera menempelkan dahiku di lantai sebagai tanda sujud syukur atas perlindungan dan pertolongan Allah kepada kami semua.
"Apa semuanya sudah berakhir?" tanya Rian yang baru gemetar setelah merasakan tiupan angin dingin yang tipis namun sangat menyayat.
"Sudah," jawabku sambil menangis hebat.
"Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha tinggi lagi maha besar.”
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘