ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TERKUNCI


"Tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong ... tolong .... "


Suaraku seakan menggema dan memantul sangat kuat di dalam kamar mandi ini, sehingga aku merasa suaraku memenuhi lubang telinga ku sendiri dan itu membuat aku sangat tersiksa. Untuk itu, aku memutuskan untuk menghentikan teriakanku tersebut.


Aku berusaha memahami situasinya sembari mengatur nafasku agar lebih stabil. Apa yang terjadi padaku? Siapa yang ingin menyakitiku. Aku harus melihat ke belakang untuk segera mengetahuinya. Sebenarnya aku sangat khawatir untuk menghadap ke belakang tapi seakan tidak punya pilihan lain dan Aku memberanikan diri untuk melakukannya.


"Satu, dua, tiga. " ucapku dengan nada suara yang samar-samar terdengar.


Aku menghitung di dalam hati dan nyata sembari mengumpulkan keberanianku sebelum benar-benar melihat sesuatu yang mungkin sangat menyeramkan yang tengah mengerjai aku saat ini.


Tapi semua di luar ekspektasi ku. Ketika aku menghadap ke belakang, aku tidak melihat apapun, aku tidak mendapatkan siapapun, dan bagiku semua tampak normal seperti saat aku pertama kali masuk ke dalam kamar mandi ini. Aku menatap sekelilingku dengan sangat teliti dan jeli. Saat ini aku merasa situasinya benar-benar sangat normal dan terkendali.


Tidak ingin mencari masalah, aku berpikir untuk segera keluar dari tempat ini karena sudah sangat tidak enak dengan berbagai aroma yang tajam hingga menusuk ke dalam hidupku, ditambah lagi dengan perasaan yang tidak nyaman dan ketakutan yang luar biasa hebat.


Tapi saat aku mencapai pintu dan tanganku menyentuh gagangnya, aku kembali merasa sesuatu bergelantungan tidak jauh dari kepalaku. Penasaran, dengan cepat Aku menoleh arah kepadanya.


"Aaaak ... aaaakkk ... aaaak ... aaaak ... aaaak ... aaaak ... aaaakkk ... aaaak .... "


Teriakku spontan tanpa rencana.


Ternyata makhluk itu ada di tepat belakangku dan saat aku membalik tubuh, terasa sekali wajahku sangat dekat dengan wajahnya dan aku dapat mencium aroma air lendir berwarna putih berbau amis yang keluar dari mulutnya dalam jumlah yang tidak sedikit.


Sambil bergerak mundur ke belakang beberapa langkah, aku berteriak dan membuka mataku lebar-lebar untuk memastikan bahwa makhluk itu dalam jarak jauh dan tidak terlalu dekat denganku. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu apakah hal ini berguna atau tidak untuk ku.


Saat matanya terbuka lebar dan menatap tajam ke arahku, aku kembali berteriak histeris. Aku membuka mulutku lebar-lebar dan menekan perutku sangat kencang, agar aku dapat mengeluarkan suara terkuat milik ku demi sebuah tujuan, yaitu ada seseorang di luar sana yang mendengarkan teriakan ketakutan dari ku dan segera menolongku.


Namun tidak ku sangka, pada saat yang bersamaan aku melihat dan merasa ada sesuatu yang panjang berwarna putih masuk ke dalam mulutku. Benda tersebut seakan memenuhi/menyumbat seluruh bagian dari mulut ku hingga tenggorokan.


Pada saat hal itu terjadi, aku dapat merasakan sesuatu, yaitu ada serat yang tercipta di dalam mulutku dan aku sangat yakin sekali bahwa ini adalah sebuah kain.


Selain itu, tercium juga aromanya yang sangat khas dan itu membuat aku semakin ketakutan. Air mataku menetes tanpa aku sadari dan suara teriakan ku pun lenyap seketika, ketika kain tersebut memenuhi mulutku dan menyumbatnya dengan rapi, sehingga tidak ada lagi celah bagiku untuk bersuara apalagi berteriak.


Pada saat yang bersamaan aku merasakan sakit yang luar biasa pada tenggorokanku. Seperti dipaksa menelan sesuatu yang sangat besar, berat, berserat, dan keras. Hal ini membuat aku sangat tersiksa bahkan aku merasa jika aku hampir mati.


Bukan hanya itu, saat kain tersebut berada di dalam genggaman tanganku, aku baru bisa merasa yakin bahwa kain ini adalah kain kafan dengan aroma khas kematian yang biasa aku cium pada mayat-mayat yang akan dikuburkan.


Kain kafan sudah terlepas sempurna dari mulutku. Dengan segera, aku kembali mengatur nafas hingga hampir terduduk lemas. Tidak ada waktu untuk mengeluh! ataupun menangis. Dengan sigap, aku berlari ke arah pintu luar.


Tapi pada saat yang bersamaan, segumpal rambut panjang berwarna hitam kecoklatan dan berdebu, seperti rambut gimbal melilit kaki kanan ku dengan kuat. Lalu dengan cepat rambut itu menariknya kaki hingga tubuh ku terhempas ke belakang.


Aku kembali berteriak sambil berusaha bertahan pada beberapa besi yang tertancap di sisi kamar mandi yang aku anggap kuat. Sekitar 5 menit berlalu, antara pertahananku dan tarikan rambut tersebut, aku merasa tanganku semakin melemah dan tidak berdaya.


Aku melihat kearah kakiku dan tampak muara rambut yang dengan sangat kuat menarik kaki kanan ku. Aku sangat terkejut saat melihat bahwa asal dari rambut tersebut adalah lobang kloset tempat di mana Aku membuang kotoran kecilku sebelumnya. Bagaimana mungkin? Tanyaku di dalam hati sambil terus memperkuat genggaman tanganku pada besi yang ada di sekitarku.


Tak lama kemudian, melihat sebuah tangan dengan jari-jarinya yang berwarna putih, lentik, panjang, namun banyak luka dan darah kelurahan dati lubang kloset tersebut dan aku yakin itu adalah tangan seorang wanita.


"Tidak, jangan menyakiti aku! Aku tidak bersalah dan aku bukan musuhmu. " ucapku mulai ketakutan tapi makhluk misterius yang berada disana tampaknya semakin senang, terlihat dari jari-jari tangan yang menyeramkan tersebut menari dan bermain dengan lincahnya.


Tangan itu seakan ikut membantu rambut gimbal menarik tubuhku agar segera masuk ke dalam lubang kloset tersebut. Aku tidak ingin mati dalam keadaan seperti ini! Aku harus bertahan! Ucap sisi hatiku yang lain, di lubang jiwaku yang paling dalam demi memompa semangat di dalam diriku agar lebih kuat lagi kali ini.


"Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dan aku tidak takut padamu. " ucapku berteriak dengan emosi yang kuat sambil terus menatap sumber rambut tersebut dan aku terus berpegangan dengan erat.


"Kalian hanya iblis yang berani bersembunyi di balik kegelapan. Keluarlah dan hadapi aku! Maka dengan kekuatan cahaya, aku akan membinasahkanmu. " Teriakku penuh percaya diri tanpa tau arti dari setiap ucapanku.


Tiba-tiba rambut dan tangan tersebut menghilang seperti tidak terjadi apapun dan itu membuat aku sedikit lega walaupun aku masih dalam keadaan yang diselimuti oleh ketakutan yang luar biasa hebat.


Tanpa membuang waktu dan berfikir panjang, aku segera berjalan untuk keluar dari ruang kamar mandi ini. Tapi pada saat aku menurunkan gagang pintu, pintunya tidak dapat dibuka. Seakan lengket oleh sesuatu atau memang terkunci dari luar.


"Tidak .... " teriakku sembari terus memukul-mukul pintu dari dalam.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘