
Aku berusaha untuk menenangkan diri dari macam-macam pikiran hitamku. "Pisau ... parang .... " ucapku dengan suara samar-samar. Dua senjata itu adalah alat yang akan digunakan untuk menghabisiku, aku harus segera menyembunyikannya. Ucapku di dalam hati.
Dengan langkah cepat aku mengarahkan tubuhku ke dapur. Aku sangat ingat dengan jelas di mana aku menata pisau dapur yang persis dengan gambar yang dituangkan Feli di dalam bukunya. Begitu juga dengan parang panjang tersebut. Aku yakin, aku bisa mendapatkan kedua benda tajam itu walaupun tanpa cahaya.
"Aaaaaaah .... " teriakku karena terkejut bahwa tubuhku bergerak sendiri. Ada sesuatu yang mendorong ku sehingga menjauhi dapur yang menjadi tempat tujuanku. Tidak, aku harus kembali kesana untuk menyimpan pisau dan parangnya. Ucapku di dalam hati sambil mengepal kedua tanganku.
Aku kembali melangkah dengan sangat berhati-hati tapi sesuatu menekel kaki kananku dan membuat aku terjatuh bahkan tersungkur. Aku melihat ke arah kaki kananku yang terasa sakit seperti dicengkram kuat oleh kuku-kuku yang tajam dan panjang.
Saat aku melihat ke arah kaki, dibantu oleh cahaya kilat. Tiba-tiba aku melihat sosok Tania berada tepat di sana dan ia menarik ku sangat kuat, bahkan hingga aku terseret menjauhi dapur dan terkurung di dalam kamarku sendiri. "Tania ... Tania ... ada apa? Jangan menyiksaku seperti ini! " ucapku sambil mencari-cari Tania yang telah melepaskan kaki kananku.
Sepertinya Tania melarang ku untuk ke dapur. Berarti ada sesuatu yang buruk disana. Aku segera bangun dan berdiri lalu mengunci pintu kamarku dari dalam. Berarti apa yang aku rasakan tadi benar, ada seseorang yang masuk ke dalam rumahku sebelum aku menyadarinya.
Aku memeriksa semua saku celana dan aku baru menyadari bahwa HP ku tertinggal di luar dekat ruang TV. "Sial .... " kataku sambil memukul tembok kamarku. "Bagaimana kalau dia memang Tante Rima dan dia menjebak Ayah dengan menggunakan hpku? "
"Tania ... kamu harus membantu dan menjaga Ayah!! " ucapku tanpa melihat sosok Tania di dalam kamarku.
Tar ....
Tampaknya Tante Rima bergerak menuju ke arah kamarku. Suara pecahan vas bunga itu sangat dekat di telingaku. Sepertinya itu vas bunga besar yang dipajang Ayah di samping lemari kaca, tidak jauh dari kamarku.
Apa yang harua aku lakukan saat ini? Aku tidak punya senjata apapun. Aku sangat tertekan dan merasa depresi, tapi tiba-tiba Tania memanggil namaku berulang kali seperti dulu. Aku tau dia tidak berniat untuk menakuti aku, melainkan mengingatkan aku bahwa ia selalu ada disisiku, bersamaku.
"Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ...." Itu adalah suara yang aku rindukan.
"Tania ... Tania ...."
Ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ceklek ....
Gagang pintuku bergerak sendiri. Aku mundur beberapa langkah dan menarik pulpen dari dalam tas kuliahku. Aku membuka, lalu memasang tutupnya terbalik. Aku rasa, mata pulpen ini cukup untuk membela diri, apalagi jika aku menancapkannya tepat di dada Tante Rima.
Aku berjalan mendekati pintu kamarku dan berniat untuk segera menyerang jika Tante Rima berhasil masuk ke dalam kamarku. Tapi rencana ku terpecah-belah setelah aku mendengar suara Ayah yang memanggil namaku.
"Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah ... Sarah. Kamu dimana, Nak? Ayah sudah pulang. Kenapa tidak mengunci pintu dan menghidupkan lilinnya? " ucap Ayah bertanya tanpa henti dan aku mulai khawatir padanya.
Lalu setelah beberapa menit, aku tidak lagi dapat mendengarkan suara Ayah. Jangan-jangan Ayahku ... tidak, aku harus melihatnya! Ucapku tanpa suara.
Di dalam kebingungan, seolah selalu ada bantuan alam untukku. Tiba-tiba, listrik yang tadinya padam, hidup dan menerangi gelap. Kegelisahan ku berkurang tapi aku tetap khawatir sebelum mengetahui kondisi Ayahku yang sebenarnya.
Aku memberanikan diri dan segera keluar dari dalam kamar dengan menyembunyikan pulpen di tangan kanan ku. "Ayah ... Ayah ... Ayah .... " ucapku setengah berbisik sambil melirik kesana kemari untuk melihat Ayah.
Bug
*****
"Aaagh ... sakit sekali, " ujarku sambil mengangkat dan memutar sedikit kepalaku untuk merenggangkan tulang leher yang rasanya padat.
"Sudah sadar? " Dengan mata yang berkunang-kunang, aku berusaha melihat Tante Rima yang tampaknya sudah berada di hadapanku. Walaupun aku belum dapat melihatnya dengan jelas tapi aku sangat familiar dengan suara bahkan intonasi kejamnya.
Aku menatap tajam ke arah wanita yang sudah berhasil menghabisi orang-orang yang aku sayangi. "Sudah cukup lama tidak jumpa. Kaget ya? Ternyata jeruji besi tidak mampu menahan diriku. "
Aku menggenggam kedua tanganku yang sudah ia ikat ke belakang dan dikaitkan dengan kursi kayu meja makan. Nafasku mulai tidak beraturan. Rasa takut dan benci bercampur di dalam hatiku. Kali ini, aku akan membunuhnya, ucapku tanpa suara.
"Kenapa? Ayahmu? Tenang saja. Aku tidak akan mungkin menyakiti suamiku, " ucapnya penuh rasa percaya diri, padahal Ayahku bukanlah suaminya. Dasar wanita gila, tapi aku tidak mengucapkan apapun secara langsung karena aku tau resikonya.
"Atau Tania? Aku sudah mengunci roh nakal itu, " ucap Tante Rima sambil menunjukkan kota kecil dilapisi kain hitam. "Aku tau dia akan menjagamu, makanya aku menangkapnya terlebih dahulu. Aku bukan Rima yang dulu kamu kenal. Kali ini, persiapan ku cukup. Bahkan Ibu dan si Mbok, juga tidak akan mampu menghentikan keinginanku. "
Sepertinya di dalam penjara wanita ini bertambah gila dan kejam, bukan sadar. Bahkan dia berani melarikan diri sebelum masa tahanannya usai. Sarah, kamu sedang menghadapi iblis keturunan dajal. Ucapku di dalam hati.
"Sebenarnya saat ini aku sangat ingin menyiksamu Sarah. Aku ingin menyayat kecil-kecil kulitmu. Tapi aku rasa, ada yang lebih menyenangkan dari pada itu." Tante Rima menggantung ucapannya. "Bagaimana jika aku terlebih dahulu menyiksa Tania kecil yang selalu saja menggagalkan rencanaku? Aku sangat membencinya. "
"Tidak. Aku sangat menyesal sudah menahan Ayah saat ingin membunuhmu. Ternyata kamu pantas untuk mati. " ucapku dengan suara yang dingin dan berteriak.
"Suuuut ... jangan berisik! Suaramu itu bisa membangunkan tetangga kita sayang! " ucap Tante Rima sambil memasang lakban hitam di mulutku. "Ini lebih baik kan Sarah? "
"E ... e ... e ... e .... " sahut ku tanpa bisa berbicara dengan leluasa.
"Lihat ini! Tante Rima mulai membuka kotak yang ternyata berisi kaca kecil segi empat. Di dalam kaca tersebut, aku melihat Tania sedang berusaha untuk keluar. Pantas saja tadi Tania tiba-tiba menghilang, ternyata ia terperangkap di dalam sana.
Tante Rima memegang mancis gas di tangan kanannya dan kaca kecil berisi roh Tania di tangan kirinya. Dengan ekspresi wajah yang kejam, ia mulai membakar ujung kaca tersebut.
Dari sini, aku melihat tubuh dan gaun putih Tania kecil terbakar dan ia tampak menangis sambil berteriak. Aku sangat marah dan berusaha untuk melepaskan diriku agar bisa menyelamatkan Tania. Tapi aku tidak mampu, ikatan tali ini terlalu kuat bagiku.
Aku terus menangis mendegar Tania kecil meraung kesakitan, sementara tante Rima tertawa seperti orang yang tidak waras. Dia tampak bahagia dan puas saat mendengar teriakan Tania dan air mataku. "Ha ha ha ha ha ha ha ha ... ini terasa seperti dulu saat aku mencincang tubuhnya kecil-kecil, " ucap Tante Rima sangat puas.
Aku sangat marah kali ini, jika aku mendapatkannya, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Ucapku di dalam hati sambil terus memberontak agar bisa bebas dari perangkap ini. Aku bergerak ke belakang dengan perlahan agar bisa membenturkan kursi kayu dengan tembok tuang TV, tapi aku belum berhasil.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘