
Aku bangun lebih awal, kemudian aku menyiapkan sarapan untuk Ibu dan membereskan rumah. Pak Antok datang lebih awal juga hari ini. "Sedang bersih-bersih Non?"
"Iya Pak."
"Apa hari ini kita jadi ketempat Mbah Anwar lagi Non?" ucap Pak Antok sambil berbisik-bisik.
"Jadi dong pak, sebentar ya .... "
"Iya Non, saya juga mau manasin mobil ya Non."
"Iya Pak."
"Ooo iya Non, gimana tadi malam?"
"Aman, semuanya baik-baik saja pak dan kami bisa beristirahat dengan tenang." ucapku sambil tersenyum lebar.
"Syukurlah Non, asal jangan di lepas aja kalungnya! "
"Iya Pak." sahutku sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Semua sudah beres Pak, aku pamit sama Ibu dulu ya. Pak Antok langsung naik ke mobil saja ya Pak biar cepat! Aku masuk ke dalam kamar dan meminta izin ke pada Ibu untuk pergi ke luar rumah dan Ibu pun tidak masalah.
Kami mulai meninggalkan rumah, selama di perjalanan aku merasa kurang tenang, tubuh ku terasa dingin seperti bersentuhan dengan sesuatu yang tidak dapat aku lihat tapi aku bisa merasakannya. Dalam diam, aku mencoba untuk berfikir positif.
Mulai masuk ke lorong rumah Mbah Anwar, kami melihat banyak orang datang berdesak-desakan. Kami pikir ada apa? Tapi di kiri dan kanan jalan tertancap bendera kuning.
"Pak Antok, kenapa ya tiba-tiba perasaanku tidak enak sekali Pak?"
"Saya juga Non, aduh ada apa ya?" sahut Pak Antok dengan wajah kaku dan tampak panik.
Kami masuk ke dalam rumah Mbah Anwar, di ruang tamu tampak Mbah Anwar sudah terbujur kaku.
Tubuh ku seketika merasa lemah, rasa tidak percaya dan sedih menyelimuti ku begitu juga dengan pak Antok. Aku melihat pak Antok menangis sangat sedih, aku merasa patah arang, tidak ada lagi yang bisa membantuku dan menyelamatkan ibuku.
Aku belum mendapatkan petunjuk apapun. aku berusaha memberanikan diri dan mendekati mayat Mbah Anwar, aku mengelus-elus kepalanya.
"Mbah, Mbah ... kenapa meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini? Kemana aku harus mengadu?" ujarku sambil menangis.
"Non ...." ucap Pak Antok sambil memegang pundak ku. "Non, sabar Non ... saya janji akan membantu Non Sarah sekuat tenaga saya Non." ucap Pak Antok. Kemudian tangisan ku semakin pecah mendengarnya ucapan darinya.
Kami pulang ke rumah dengan hati yang bersedih. Sekali lagi, aku merasakan ada sesuatu yang sedang menyentuhku tapi energinya berbeda dengan saat aku di dekat makhluk astral lainnya.
Kami tiba di rumah, Pak Antok memutuskan untuk kembali ke rumah Mbah Anwar untuk membantu urusan si Mbah di pemakaman.
Aku masuk ke dalam rumah, di ruang tamu ada ibu yang duduk santai sambil menonton TV, Ibu tampak bahagia seperti sudah memenangkan lotre.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanya ku penuh kasih sayang
"Iya Nak, tapi kenapa kamu tampak bersedih?" tanya Ibu sambil memperhatikan wajahku dengan seksama.
"Tidak Bu, aku tidak apa-apa. Apa aku boleh ke kamar ku?"
"Tentu saja sarah. "
Aku kembali ke kamar ku, air mataku mulai menetes kembli. Aku bingung harus apa dan bagaimana?
Cukup lama merenung, rasanya aku ngantuk sekali. Aku merebahkan kepala dan badan ku di ranjang. Kali ini aku sangat mengantuk dan ingin tidur yang lama dan panjang.
Braaaack
Aku menunduk untuk mengambil lampu tersebut dan aku melihat ada telapak kaki di hadapan ku sedang bergoyang-goyang seperti orang yang sedang menikmati suasana, tapi aku sadar betul bahwa di kamar ini aku hanya sendirian.
Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuh ku, bulu kuduk ku berdiri dan tubuhku merinding. Aku mutuskan untuk keluar dari kamar ku dan menemui Ibu.
"Bu, apa aku boleh beristirahat di dekat Ibu?"
"Boleh nak tentu saja ...." jawab Ibu dan tangan Ibu memegang rambutku serta membelainya perlahan. "Selama beberapa hari ini kami juga selalu menjaga Ibu, tidur dan beristirahat lah."
Aku melihat Ibu sangat bahagia saat ini, bahkan Ibu juga menulis puisi sambil menonton TV. "Apa puisi ini untuk ayah Bu?" tanyaku penasaran.
"Tidak juga, ini puisi untuk orang-orang yang telah hilang. "
"Hilang ?"
"Iya, hilang ... lenyap ...." Dengan nada bicara Ibu yang terdengar datar sepertinya Ibu menyimpan sesuatu dari ku.
Aku membaca puisi tersebut perlahan, seperti gambaran kehidupan tentang kebahagian yang tidak sesuai dengan harapan, di dalamnya terasa seperti banyak pengorbanan dan kesakitan karena cinta.
Aku melihat Ibu begitu antusias menulis puisi tersebut. Aku hanya memandangi tulisan tangan Ibu yang miring seperti tegak bersambung.
"Bu, apa memang begini tulisan Ibu?"
"Iya Nak ... dari dulu memang begini, dari Ibu kecil. Kenapa Sarah? Jelek ya?"
"Tulisan Ibu unik." ucapku mencoba memuji Ibu.
"Makasih ya Nak .... " Dan kami menutup perbincangan dengan senyuman.
Kami melewati siang dengan penuh kegembiraan. Ibu lebih terbuka dan mulai berbicara tentang banyak hal bukan hanya tentang Ayah.
"Bu, aku merindukan Ayah Bu, aku ingin ke ruang kerja Ayah sebentaaaaar saja. "
"Iya Sarah, pergilah Nak .... "
Aku pergi ke ruang kerja Ayah dan duduk di kursi tempat Ayah biasa bekerja. Aku membuka kembali lemari bagian bawah meja kerja ayah. Di sana ada map berwarna merah muda, map itu mencuri perhatianku lalu aku membukanya perlahan, sepertinya sesuatu yang berharga buat Ayah.
Aku membuka lembaran pertama, di sana tertulis seperti surat cinta. Surat cinta Ayah untuk Ibu, tapi banyak sekali coretannya, sepertinya ini Surat cinta yang gagal kirim. "Ha ha ha ha ha .... " Tawaku agak besar.
Si sebelahnya, ada surat cinta balasan sepertinya dari Ibu. Aku iseng untuk membuka dan membacanya perlahan, tapi ada yang mengganggu pikiran ku.
Tulisannya, tulisan Ibu di surat ini lurus, bulat, dan rapi, berbeda jauh dengan tulisan yang baru saja aku lihat saat Ibu membuat puisi barusan tadi. Penasaran, ku membuka setiap lembar surat yang dikirim Ibu untuk Ayah. Hasilnya, semua tulisan tersebut tegak, bulat dan rapi.
Aku sedikit heran, bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi? Tulisan tangan seseorang tidak mungkin bisa berubah-ubah. Tiba-tiba Ibu masuk ke ruang kerja Ayah, ibu memperhatikan aku dengan tatapan yang dingin.
Kemudian Ibu mengajakku untuk ke kamarnya. Ibu menyuruh ku untuk tidur di sampingnya, Ibu lebih banyak bicara dan bercerita, tapi kali ini entah mengapa hatiku terasa cemas? Aku bingung dengan apa yang baru saja aku lihat.
Sarah, itu hanya tulisan. Aku berusaha menenangkan hati dan pikiran ku. Aku berusaha menghargai setiap perkataan dan candaan ibu. Sekali lagi Ibu bilang bahwa Iya sangat mencintai Ayah. Ayah adalah satu-satunya alasan Ibu untuk hidup hingga saat ini.
Ibu juga selalu bilang kalau Ibu sanggup melakukan apapun untuk mendapatkan cinta ayah. Menurut Ibu, ibu lah yang pertama jatuh cinta kepada Ayah tapi jika aku perhatikan dan mengingat surat yang ayah kirim ke ibu, sepertinya Ayah lah yang tergila-gila kepada Ibu.
Mataku tertuju kepada Ibu, aku mendengarkan cerita Ibu, aku tersenyum, aku tertawa saat Ibu tertawa tapi hatiku bertanya-tanya dan berkata-kata sendiri, apa aku yang bodoh? Atau memang situasinya yang salah? Aku tidak mengerti.
Bersambung ....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘