
Ceklek
Terdengar suara pintu yang terbuka.
Aku merasa senang saat mengetahui pintu yang berusaha Aku buka sejak tadi akhirnya terbuka dengan sendirinya. Tapi ternyata tidak, ada seseorang yang berdiri di luar sana dan seakan memecah pikiranku.
Masih dalam posisi di dalam kamar mandi. Aku menatap penuh ketakutan pada seorang mahasiswi yang sejak tadi aku anggap misterius. Matanya begitu bulat besar dan tajam menatap ke arahku dengan wajahnya yang tertunduk seakan dia malu atau takut. Entahlah aku tidak tahu
Melihat ekspresinya, Aku tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa? Tapi karena dia telah menyelamatkan aku, aku tidak peduli. Apakah dia manusia atau bukan, yang jelas aku ingin mengatakan kepadanya terima kasih karena sudah membantuku kali ini.
Jika tidak mendapat bantuan darinya, mungkin aku akan mati dalam ketakutanku atau memang mati dalam cengkraman makhluk misterius yang sangat menyeramkan tersebut.
Perlahan aku melangkahkan kaki kiriku ke depan, tubuhku hampir menyentuh mahasiswi misterius tersebut. "Terima kasih." ucapku dengan suara yang kaku setengah merasa takut.
"Sama-sama." sahutnya dengan suara yang jelas namun samar-samar terdengar.
Ya Tuhan, dia menjawab ucapan terima kasihku. Apakah itu berarti bahwa dia adalah manusia sama sepertiku? Aku menatap mahasiswi tersebut dengan heran sambil terus bertanya dan berkata didalam hatiku tanpa tahu jawabannya.
Aku berjalan di belakang mahasiswi misterius tersebut tapi dia tidak menolehkan wajahnya kepadaku sedikitpun. Karena penasaran, aku menyodorkan tangan kananku dan berniat untuk berkenalan dengannya. Aku yakin siapapun dia, apapun dia, dia bukanlah makhluk yang jahat. Aku dapat menilai dari sorot matanya yang tampak tulus.
"Namaku Sarah. Kamu? "
"Aku Feli. " jawabnya singkat masih dalam wajah yang tertunduk dengan rambut hitam yang tergerai setengah kusut.
"Oke." ucapku dan kami saling berjabat tangan.
Saat tangan kanan kami saling menyentuh dan menjalin, aku dapat merasakan kehangatan aura dari tangan Feli. Aku sangat yakin sekali bahwa Feli adalah manusia yang sama sepertiku bukan makhluk astral.
"Apa sedang kamu lakukan di sini? " tanyaku kepada Feli.
"Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu berada di sini Sarah? " sahut Feli dengan tenang namun kaku.
"Aku cuman ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. "
"Coba kamu lihat sekali lagi! Apa itu yang kamu maksud dengan kamar mandi?"
Aku menuruti perkataan Feli dan melihat asal ruangan yang aku kira kamar mandi sejak tadi. Tidak, ternyata ruangan itu adalah gudang tua yang tampaknya sudah tidak layak pakai lagi. Aku dapat mengetahuinya dari ujung jendela yang kain hordeng nya sedikit terbuka sehingga memperlihatkan sedikit isi dalamnya.
Aku menyentuh pintu gudang tua tersebut dan rasanya ini sangat aneh karena pintu tersebut dikunci dengan sangat baik tapi bagaimana mungkin aku bisa dengan mudah membukanya lalu masuk ke dalamnya dan terperangkap beberapa waktu disana?
"Setiap gedung besar, apalagi yang tinggi menjulang, selalu saja ada ruangan misterius yang tidak boleh kita masuki dan ruangan tersebut hanya bisa diketahui dan dirasakan oleh orang-orang tertentu. Jadi lain kali, berhati-hatilah karena kamu termasuk salah satu dari orang tertentu itu. " ujar Feli yang tampak lebih banyak bicara saat ini daripada sebelumnya.
Dengan penuh rasa heran, aku masih melihat ke arah Feli dan ruangan tersebut. Tapi Feli mengajakku untuk kembali bergabung dengan teman-teman kelasku yang lainnya. Aku tidak ingin sendirian dan ketakutan lagi oleh karena itu aku mengikuti perkataan Feli.
"Kamu dari mana aja Sarah?" tanya Lia yang tampak heran saat melihatku masuk ke dalam kelas bersama Feli.
"Hanya dari kamar mandi untuk pipis. Kenapa? "
"Pipis Kok lama banget sih Sarah? Hampir 3 jam. Kamu ngeluarin apa coba? " tanya Lia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"3 jam, masa sih ? Tapi aku merasa sangat sebentar dan aku memang hanya pipis aja nggak ngelakuin hal yang lainnya. " jawabku ringan tanpa beban.
"Huuuuh ... ternyata di kelas ini banyak banget orang aneh ya." celetuk Putra sambil menatapku dan Feli secara bergantian.
"Maksud kamu? " tanyaku heran.
"Ya setidaknya ada 2 orang aneh. Yang pertama, mahasiswi yang disana. Sejak awal dia nggak pernah bicara sama sekali dan hanya peduli pada dirinya sendiri. Lalu yang kedua, kamu. Tiba-tiba kamu datang tiba-tiba kamu pergi sesuka hatimu. Ingat ya Sarah! Disini aku ketuanya. Jadi kalau kamu mau pergi dalam waktu yang lama seperti tadi, please izin sama aku. Paham? "
"Paham dan Sorry banget soal tadi. "
"It's oke. Tapi ingat jangan diulangi lagi! Dan sekarang silahkan istirahat yang mau istirahat karena setelah ini kita akan memutar gedung ini kembali, baru pulang. "
Para mahasiswa dan mahasiswi lainnya langsung bergegas meninggalkan ruang kelas tapi tidak denganku dan Feli. Aku pikir lebih baik aku mengajak Feli untuk berbincang agar lebih bisa mengenalnya.
Untuk itu aku berjalan lamban ke arahnya tapi ketika aku hampir sampai di dekat Feli, ia malah berdiri dan meninggalkan aku entah kemana.
Seakan mulutku terkunci, Aku tidak berani menyapa dan bertanya kepada Feli tentang kemana ia akan pergi. Tapi bagian diriku yang lain seolah mengajak diriku untuk melakukan sesuatu ketika Feli tidak ditempat.
Tiba-tiba hatiku mengarahkan pandangan ku pada tas Feli yang kancingnya terbuka. Disana, Aku melihat sebuah buku gambar besar dan mungkin buku inilah yang sejak tadi pagi Feli sentuh, sehingga dia tidak memperdulikan orang-orang disekitarnya.
Aku mengintip Feli agar dia tidak tahu jika aku berniat untuk membuka buku gambar tersebut guna mengetahui rahasia Feli. Ketika aku melihat dia sudah jauh dan tidak mungkin bergerak cepat kembali ke dalam kelas, aku langsung mendekati tas Feli dan menarik buku gambar besar tersebut.
Dengan cepat aku membuka halaman depan buku gambar Feli dan ternyata isinya adalah sebuah gambar dengan sosok yang tidak jelas bentuk ataupun wujudnya, dan aku tidak mengerti apa arti gambar pertama tersebut.
Aku kembali membuka halaman kedua dan disana aku melihat sosok wanita dan itu tampak seperti Feli yang tengah berdiri di dalam sebuah ruangan yang tampak kotor. Dindingnya tampak suram dan lantainya dipenuhi banyak debu serta potongan kertas yang sudah tidak berbentuk lahi. Kemudian di belakang Feli aku bisa melihat seseorang berdiri dengan posisi menempelkan punggungnya kepada Feli.
Ini memang hanya gambar kasar tapi aku dapat melihat bentuknya dengan jelas. Ternyata Feli sangat pandai menggambar, dia sangat berbakat, dan sepertinya ia sangat nyaman dengan aktivitasnya ini.
Aku masih merasa belum puas dengan apa yang aku lihat. Aku membuka kembali halaman selanjutnya dan disana aku melihat gambaran wajahku dan diriku yang tengah menangis sambil tertunduk dengan wajah berjuta rasa takut.
Bagaimana mungkin Feli bisa menggambar wajahku? Padahal kami baru saja bertemu. Apa yang sebenarnya Feli lakukan atau Feli ketahui tentang diriku? Tanyaku di dalam hati sembari terus menatap gambar tersebut.
Seperti melihat dan membaca komik tanpa tulisan. Aku terus membuka halaman berikutnya dan di halaman ini aku melihat diriku tengah berada di dalam ruangan asing dan ini tampak seperti kamar mandi yang tadi aku kunjungi.
Aku sangat yakin sekali karena melihat susunan dari kaca, besi yang tertancap antara lantai dan langit-langit kamar mandi, serta logo kampus yang tampak suram di bagian kanan ruangan.
Aku semakin penasaran, jantungku semakin berdebar kencang. "Next ...." ucapku dengan suara yang tidak terkendali.
Aku kembali membuka halaman berikutnya dan aku melihat diriku pada kertas putih ini dengan wajah yang ketakutan dan menangis. Aku merasa ini benar-benar ekspresi wajahku saat di kamar mandi misterius tadi.
Tidak puas, aku melanjutkan membuka halaman berikutnya dan di sana aku melihat diriku yang tengah terjebak dalam suasana yang tidak aku inginkan, dengan kaki yang terikat oleh sesuatu yang tidak terlalu terlihat. Dan ini juga sesuai dengan apa yang terjadi padaku di dalam kamar mandi tersebut.
Melihat gambaran-gambaran ini, hatiku semakin tidak menentu. Aku terbayang bagaimana Feli menulis dengan tubuh yang gemetaran sesaat setelah aku memperkenalkan diriku di dalam kelas ketika aku baru saja tiba. Ternyata Feli sudah mengetahui apa yang akan terjadi padaku sebelum aku mengalaminya.
"Apa yang kamu lakukan Sarah?" tanya Feli dengan suara yang dingin dan kaku.
"Feli kamu sudah kembali? Sorry banget aku ngelakuin ini tanpa seizin kamu. Aku memang lancang tapi bukan karena aku ingin berbuat jahat, aku hanya ingin tahu tentang kamu dan menjadi temanmu."
Mendengar perkataanku, Feli langsung terdiam dengan mata yang tenang. "Baru kali ini aku mendengar perkataan dari seseorang yang ingin menjadikan aku temannya. Selama ini orang-orang takut bila berada dekat denganku, padahal aku tidak pernah menyakiti mereka. Bahkan Aku berusaha untuk melindungi mereka, hanya saja mungkin aku belum mampu."
"Apa benar yang aku pikirkan tentang gambar-gambar ini? Kamu mengetahui apa yang akan terjadi padaku sebelum hal itu benar-benar terjadi?" Lalu Feli mengangguk-anggukan kepalanya sambil menatapku untuk memastikan Ekspresiku.
"Sebenarnya aku tidak menginginkan hal seperti ini Sarah. Aku ingin hidup normal seperti yang lainnya, sehingga aku bisa tertawa, bermain bersama teman-teman, dan makan bersama mereka. Tapi aku tidak pernah bisa melakukannya karena setiap orang yang baru saja menjadi temanku dan akhirnya mereka mengetahui tentang diriku, tiba-tiba mereka lari menjauh karena alasan takut atau memang mereka merasa bahwa aku adalah gadis yang tidak normal."
"Aku mengerti maksudmu Feli dan aku hampir merasakan hal yang sama denganmu."
"Ini tidak mudah Sarah, awalnya aku juga tidak bisa menerima segala yang terjadi padaku. Ditambah lagi seluruh anggota keluargaku menjauhiku dan saat ini aku hanya hidup bersama kakek dan nenek yang begitu baik dan sangat menyayangiku. Seperti pasien penyakit menular, aku dijauhi, aku di bentak, aku dimaki, aku dihina, bahkan aku sempat ditelantarkan."
"Feli .... " ucapku lirih karena pada bagian ini aku sama sekali tidak pernah merasakannya. Walau bagaimanapun, Ayah ku sangat menyayangi aku dan selalu bisa menerima setiap keluhan ku. Ayah juga selalu berusaha mencari jalan keluarnya. Terima Kasih Ayah ucapku di dalam hati.
"Tapi kakek dan nenekku mengatakan, jika aku bisa mengendalikan diriku maka aku juga akan bisa mengendalikan kemampuanku. Dan saat itu terjadi, maka aku akan dapat melindungi orang-orang di sekitarku dengan baik. Karena kematian yang baik hanya berasal dari Tuhan bukan karena kejahilan makhluk astral maupun manusia yang berniat buruk. "
"Aku sangat mengerti maksudmu Feli dan aku pernah merasakan bahwa tidak semua makhluk astral itu berniat untuk menyakiti kita. Bahkan banyak diantara mereka yang berusaha melindungi kita. Hanya saja cara mereka sangat kasar dan terbilang tidak manusiawi sehingga kita merasa bahwa mereka ingin menyakiti kita bahkan membunuh kita."
"Tepat sekali dan aku pun merasa apa yang kamu rasakan Sarah. Tapi kamu belum terlambat, kamu masih bisa dan punya kesempatan untuk menutup dirimu. Berbeda denganku karena aku memang sudah ditakdirkan seperti ini sejak lahir."
"Jadi sebenarnya apa yang kamu miliki Feli? Itupun jika kamu tidak berkeberatan untuk menceritakannya kepadaku. "
"Huuuuh ...." Tampak Feli membuang nafasnya panjang secara perlahan. Mungkin dia ingin menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaan dari ku.
"Sebenarnya aku tidak dapat melihat makhluk astral secara langsung. Aku hanya dapat merasakan kehadiran mereka dan hal itu seolah mampu aku gambarkan dengan baik melalui sketsa dan garis seperti yang kamu lihat saat ini."
"Tapi aku yakin bukan hanya itu kemampuanmu yang sebenarnya. Apa aku salah menilai?" Tanyaku sambil menatapnya dengan pandangan seorang teman.
"Kamu benar Sarah, mungkin lebih tepatnya aku mampu melihat gambaran tentang waktu kedepan sebelum kita melewatinya."
"Seorang cenayang ya?"
"Mungkin itu sebutan yang lebih tepat. " ujar Feli sambil menghela napasnya cukup panjang.
"Baiklah Feli, sebaiknya mulai sekarang kita lebih terbuka dan lebih sering banyak bicara karena kita berdua sangat membutuhkan itu." ucapku berusaha membuka diri
"Baiklah, kita akan memulainya dalam waktu dekat." sahut Feli dengan senyum yang sangat manis.
"Feli, ternyata kamu gadis yang sangat manis. Ditambah lagi dengan senyummu yang memperlihatkan gigi gingsul itu. Aku berharap kamu lebih banyak tersenyum sejak saat ini."
"Sebaiknya sebelum kamu mengatakan hal seperti itu kepadaku, kamu mengatakannya terlebih dahulu untuk dirimu sendiri Sarah! Lihatlah kamu. Kamu juga tidak tampak bahagia."
"Kamu benar Feli dan bagaimana jika kita saling mengisi dan mengoreksi satu sama lainnya. Aku ingin menjadi sahabatmu. Apa boleh? "
"Sepertinya itu tawaran yang menarik dan kita bisa saling menjaga satu dengan yang lainnya."
Aku dan Feli saling mendekatkan diri dan kami saling tersenyum kemudian berpelukan seperti seseorang yang telah mengenal sangat lama kemudian berpisah dan saat ini bertemu kembali. Ada ketenangan dan kenyamanan saat aku bersentuhan dengan Feli.
Mungkin Feli adalah sahabat yang diberikan Tuhan untukku agar hidupku tidak kesepian lagi dan lebih berarti. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku kedepannya. Tapi yang jelas, sepertinya bersama sahabatku, hidupku akan lebih berwarna.
"Sarah, sebaiknya kamu sangat berhati-hati selama 5 hari kedepan karena aku merasa banyak gangguan yang akan menyapamu, baik itu dari makhluk kasar maupun makhluk halus."
"Iya Fel, karena saat ini aku dalam kondisi kotor. Setelah ini, aku berencana untuk menutup mata batin ku sekali lagi agar aku mencapai titik tenang dan nyaman di dalam hidupku."
"Semoga Tuhan mempermudah urusanmu ya Sarah. Karena lebih baik menjadi normal dan tidak mengetahui segalanya nya."
"Dan aku berjanji, walaupun aku dalam kondisi normal. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Feli." Lalu aku dan Feli kembali berpelukan erat dan kami sama-sama membuang nafas yang terasa sesak untuk melegakan hati kami.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘