
Mama menundukkan kepalanya dan melihat ke arah ranjang di kamarnya karena ingin tau siapa yang sudah melakukan kejahatan padanya? siapa yang sudah menariknya?
tapi pada saat Mama melihatnya, Mama tidak menemukan apapun.
Mama sangat merasa aneh dan heran, tapi tetap tampak tidak ingin ambil pusing. Lalu Mama keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dan mengobati lukanya sambil menutup pintu kamarnya.
Setelah beliau mengambil segelas air dan meletakkannya di atas meja di samping dispenser, Mama langsung mencari kotak P3K dan langsung mengabati lukanya, tapi pada saat yang bersamaan Mama merasakan seperti ada seseorang sedang melintas di belakangnya.
Walaupun sudah merasakan berbagai kejanggalan, tapi Mama hanya berdiri kaku dan tidak melihat ke arah belakang.
Mama hanya meliriknya dan menarik nafas panjang
Sepertinya Mama benar-benar sudah merasakan bahwa keadaan sudah tidak beres lagi dan berniat untuk menuju kamar Rido setelah selesai mengobati lukanya. Dengan gerakan yang sigap, Mama terus mengobati lukanya, namun gangguan kembali muncul.
KREEEEEAAAK ....
(Suara pintu kamar Mama yang terbuka)
"Bukannya pintu itu tadi sudah aku tutup?" tanya Mama di dalam hati dan mulai gelisah.
Perasaan mama semakin tidak karuan, tangannya mulai bergetar, keringat dingin mulai mengucur di wajahnya bersamaan dengan tetesan darah yang mengalir dari dahinya.
Mama mencoba menghilangkan rasa cemasnya dan mengambil air minum di atas meja lalu meminumnya, tidak lama kemudian Mama menyemburkan air minum itu kembali. "Amis ...." ucap Mama kemudian ia melihat ke arah gelas yang sudah beliau isi dengan air mineral. "Astaga, ini ... bukan air melainkan darah."
Mama sudah tidak tahan lagi, lalu berteriak memanggil-manggil nama Rido dengan keras, tapi setelah beberapa kali Mama memanggil Rido tanpa jawaban yang cepat. Tiba-tiba mulut Mama tertutup dan terbungkus helaian rambut panjang dalam jumlah yang banyak dan ukuran yang tebal sehingga Mama tidak lagi bisa berteriak.
Jeratan rambut itu semakin kuat dan menyakiti wajah Mama, sangking kuat dan sakitnya, kedua mata Mama sampai melotot seperti ingin keluar dan air mata pun mulai menetes dari mata Mama yang terlihat cantik.
Saat ini Mama melihat dengan jelas wanita misterius yang sudah menyakitinya bahkan yang meneror putran dan teman-temannya. Dia, apakah dia yang di maksukan oleh Rido? tapi siapa dia? sepertinya aku tidak mengenali raut wajah tersebut. Ucap Mama di dalam hati dan aku seperti dapat mendengar ucapan batin beliau dengan baik dan jelas.
Wanita misteri tersebut melihat Mama dengan tatapan kejam, sepertinya dia tidak akan melepaskan Mama. Mama terus menarik rambut yang menyiksanya dengan
kedua tangannya, tapi Mama tidak bisa dan wanita itu dengan mudah melemparkan tubuh Mama.
Mama terjatuh dan tampak kesakitan pada bagian kepala, sementara wajahnya sudah banyak luka kecil-kecil yang tipis dan halus seperti tersayat pisau silet. Tidak putus asa, Mama merangkak bergerak menuju kamar Rido dengan langkah besar dan cepat.
Baru beberapa langkah kakinya bergerak, kaki Mama di tarik kembali oleh rambut - rambut wanita yang sudah melukai wajahnya yang cantik, bersih, putih dan sangat terurus tersebut sehingga Mama kembali berada di posisi semula. "Ri- Rido .... " teriaknya dan saat itu, air mata Mama tampak mengalir deras.
Wanita misterius itu terus memandangi Mama dengan tatapan kebencian ketika Mama sudah berdiri sejajar dan berhadapan dengannya. Saat ini Mama berdiri tegak dihadapannya, bukan karena ingin melainkan sekujur tubuh Mama sudah terikat dengan rambut panjang wanita misterius dan Mama seakan terjerat dan tidak bisa bergerak (seperti sedang dipeluk erat oleh phyton ukuran besar).
Seakan tidak perduli dengan perkataan dan pertanyaan dari mulut Mama, wanita itu terlihat ingin terus menyiksanya, dia mengangkat tubuh Mama dan melemparkannya berkali - kali hingga Mama melemah.
"Kenapa kamu sangat jahat? kamu wanita iblis yang sangat jahat!" kata Mama sambil merangkak dan meratap. "Kamu menyakiti orang yang tidak bersalah, kamu membunuh orang yang tidak tau apa-apa. Wajar saja jika bumi dan langit tidak menerima kamu."
Ucapan Mama yang panjang tersebut, tampaknya mampu memancing wanita misterius dan ia mengatakan sesuatu yang tidak jelas aku dengar. Ia tampak sangat marah saat ini dan itu menjadikan suara yang ia keluarkan terdengar tidak jelas, seperti seorang anak yang berbicara sambil menangis.
Setelah berkata-kata, wanita itu kembali melempar tubuh Mamanya Rido yang sudah tidak mampu bergerak lagi. Ia tampak sengaja ingin menyakiti sebelum mengakhiri permainannya.
Lemparannya tersebut mengenai susunan piring di rak piring kecil sehingga menghasilkan suara gaduh yang sangat berisik dan membangunkan Rido. Tak lama, Rido pun segera berlari keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, tapi tampaknya pintu kamar Rido seperti terkunci dari luar.
Rido berusaha membuka pintu kamarnya tersebut. Bahkan aku dapat mendengarkan usahanya dari bawah sini. "Mama ... Mama .... " teriak Rido yang tampaknya sudah menyadari sesuatu terjadi pada Mamanya.
Sementara di dapur, Mama sudah mengalami luka - luka yang serius sehingga beliau sudah tidak dapat lagi menggerakkan kedua kakinya untuk berlari. Tapi Mama masih berusaha melawan wanita itu dengan melemparkan pecahan kaca ke arahnya.
Hal itu membuat wanita misterius itu tertawa lebar. "Ha haha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Ibliiis," teriak Mama sekencang-kencangnya.
Sungguh usaha yang tidak ada arti, seharusnya Mama memohon pertolongan dari Allah, ucapku di dalam hati sambil menahan tangisanku.
Mendengarkan perkataan Mama, wanita itu langsung menghentikan tawanya dan dia terlihat sangat marah. Dari arah jendela, wanita itu menarik kain horden dan mengikatnya pada lampu hias ukuran besar yang berada di langit-langit dapur, kemudian melilitkannya di leher Mama.
"Tidak ... tidaaaaakkk .... " teriakku entah dari dunia bagian mana, aku tidak mengerti posisiku saat ini.
Kain horden tersebut terus-menerus menarik tubuh Mama yang sudah lemah ke atas, hingga Mama semakin tidak berdaya dan menghembuskan nafas terakhirnya
dalam keadaan tergantung.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘