
Aku menyembunyikan wajahku dengan kedua tangan yang aku buka lebar dan aku gunakan untuk menutup kedua mataku sambil bergerak mundur ke belakang dan berteriak histeris di dalam kegelapan. Rasanya saat ini aku hanya sendirian di tempat yang asing.
"Tidak ... tidak ... tidak ...." ucapku tanpa henti.
Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang menarik ujung bajuku hingga aku terjatuh dan terseret. Takut, bingung, aku pun berteriak tanpa henti. Tapi semakin aku berteriak kencang dan histeris aku merasa tubuhku semakin jauh terseret.
Rasanya ujung belakang bajuku ditarik dengan sangat kuat sehingga aku tidak bisa mengontrol tubuhku dan aku mengikuti arah tarikan dari seseorang yang misterius dan tidak aku ketahui asalnya.
Teriakan demi teriakan aku lakukan tapi sama sekali tidak membantu ku bahkan di saat aku hendak melakukan perlawanan aku malah merasakan tubuhku berada di tengah jalan besar beraspal panas dan mengeluarkan asap seperti api yang baru saja disiram air.
"Di mana aku?" tanyaku dengan penuh ketakutan dan kebingungan.
Aku hanya sendiri disini tanpa Ayah, tanpa karyawan toko sepatu, dan tanpa seseorang yang baru saja aku kenali yaitu Rio. Aku memandang sekelilingku yang mana kiri kanan jalan penuh dengan semak sementara aku berdiri di tengah aspal yang alurnya tidak aku ketahui.
Jantungku mulai tidak stabil, aku memutuskan untuk melanjutkan langkah cepat ku, terkadang aku berlari agar segera tiba di ujung jalan dan berharap mendapatkan pertolongan. Jauh berlari, aku merasa lelah untuk itu aku berjalan sambil menyeimbangkan irama jantungku.
Di dalam pikiranku hanya ingin cepat pulang atau cepat kembali ke toko sepatu untuk bertemu Ayah. Tapi semakin aku kuat berlari dan berjalan, semakin aku lelah dan aku tidak pernah bisa keluar dari jalan besar beralaskan aspal yang penuh asap ini.
Crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat crat ....
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terdengar suara seseorang, sepertinya Iya sedang membersihkan sesuatu menggunakan alat yang keras. Aku bergegas untuk mencari sumber suara dan mendekatinya demi meminta pertolongan darinya.
Sekitar 200 meter, aku melihat seorang lelaki tua sedang mencangkul di atas tanah berumput (tepi jalan besar/aspal) dengan tenang dan santai. Syukurlah ada orang selain aku disini. Ucapku di dalam hati sambil menempelkan tangan kanan di dadaku yang naik turun dengan sangat cepat.
Aku melangkah dengan pasti ke arah Kakek tersebut. Dengan nafas yang tersengal-sengal aku menyapanya. "Permisi, maaf Kakek ... apa aku boleh bergabung di sini bersama Kakek sebentar saja? Aku sendirian dan merasa tidak nyaman."
Tanpa mendapat jawaban dari Kakek yang tidak aku kenali itu, aku memutuskan untuk berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seakan-akan tidak menghiraukan aku, Kakek tersebut terus saja membersihkan dan mencangkul tanah yang berada di hadapannya.
Sekitar 5 menit aku berada di belakang Kakek misterius ini. Tiba-tiba aku merasa angin malam yang dingin menerpa wajahku dan menusuk hingga ke tulang. Ada rasa canggung di dalam hatiku dan hal itu membuat bulu kuduk ku berdiri. Bukan hanya itu, bahkan bulu tangan dan kaki ku juga bereaksi.
Aku terus memandangi Si Kakek, berharap mendapatkan ucapan yang ingin aku dengarkan namun orang tua satu ini tetap tidak perduli padaku.
Karena merasa tidak ada pilihan, aku mendekati Kakek yang tengah asik bekerja. Namun sesaat setelah aku berdiri sejajar dengannya, alangkah terkejutnya aku karena melihat beberapa lubang besar ukuran makam berjejer di hadapanku. Bukan hanya satu, dua, ataupun tiga, tapi ada banyak.
Ketenangan yang semula aku dapatkan berubah menjadi tanda tanya dan perasaan yang was - was. Salah satu makan tersebut seperti nya sudah terisi karena berbentuk gundukan dan sudah ada batu nisan di atasnya. Aku membaca nama yang tertulis di sana dengan seksama, "Maharani." ucapku setengah berbisik.
Aku ingin kembali bertanya, untuk itu aku melihat ke arah wajah Kakek angkuh tersebut. Namun saat aku menoleh ke arah Si Kakek dan berkata, "Kakek .... " Tiba-tiba mulutku terhenti dan lidahku seakan kaku hampir terkunci.
Ini tidak benar, ucap batinku dan aku mundur perlahan karena berniat ingin meninggalkan Kakek tersebut. Saat aku merasa cukup jauh, aku kembali berhenti untuk mengatur kembali nafasku.
Aku sangat lelah dan lemah tapi saat aku terbayang wajah Kakek yang hancur dan biji matanya yang hampir keluar, Rasanya aku tidak ingin lama - lama berhenti disini walaupun aku sangat lelah.
"Aku harus pergi dari sini, segera ...." ucapku terus memotivasi diriku yang hanya mampu melangkah kecil dan lamban.
Kali ini, aku berusaha kembali untuk berlari, tapi kakiku tidak kuat lagi. "Tidak ... aku harus terus bergerak walaupun perlahan!" ucapku sambil menghapus bulir-bulir keringat yang bersarang di dahiku.
Pandanganku mulai berkunang, tapi aku masih belum melihat titik terang dari arah perjalananku kali ini. Dari arah kiri, aku melihat seorang wanita misterius berambut panjang, tengah menatapku tajam.
Dengan yakin aku berfikir bahwa Dia bukan manusia biasa seperti ku. Bagaimana mungkin ada wanita ditempat seperti ini, jam segini, aku pura - pura tidak melihatnya dan
Memacu langkah kakiku agar lebih cepat. Tapi yang aku rasakan wanita itu terus mengikuti ku.
Sekitar 10 menit berlalu. Detak jantung ku sudah tidak beraturan, mulutku terasa sangat kering hingga ke kerongkonganku. Sepertinya wanita itu sudah tidak lagi mengikuti ku. Gumamku.
Aku memutuskan untuk melihat ke belakang dan ternyata benar, Dia sudah tidak lagi mengikutiku. Saat ini, aku memutuskan berhenti dan menyandarkan tubuhku yang sangat lemah di sebuah pohon besar.
"Lumayan untuk menghilangkan lelahku." berkata sambil membuang nafas berulang kali dari mulutku.
Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku tidak tau dimana aku, aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku, aku juga bingung dengan semua situasi ku. "Ayah .... " keluh ku sambil melihat ke arah jalan aspal besar yang berasap.
Sepertinya aku harus berjalan di atas aspal saja. Iya benar ... mungkin itu jalan yang tepat dan aku akan segera menemukan jalan ku untuk pulang. "Ayah ... aku sangat haus ... aku sangat lapar ... tolong aku ...!" ucapku karena sangat lelah dan merasa perutku sangat kosong.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘