
Wajah dan tangan Ayah mulai berkeringat, aku tau ini sesuatu yang baik. Tidak ingin jauh, aku memutuskan untuk berbaring di bawah kaki Ayah (lututnya). Saat aku melihat bagian patahan kaki Ayah, aku kembali teringat akan peperangan ku bersama Ayah.
Di dalam hati aku kembali meratap, dengan jelas benakku berkata, Ayah cacat karena kamu, Sarah. Dan saat itu, air mataku menetes. Ada rasa bersalah yang teramat dalam, rasanya aku ingin cepat-cepat bekerja dan sukses agar bisa mengatakan kepada Ayah agar beliau tidak lagi perlu mencari uang untuk menghidupi aku.
"Sarah," sapa Feli dari luar dengan senyumnya yang khas.
Aku menatap Feli dan menyembunyikan air mataku agar dia tidak cemas. Tak lama, Feli memberikan aku isyarat dengan kedua tangannya tanpa bersuara. Artinya, ayo makan! Semua sudah matang dan jangan mengganggu Ayah, ia baru saja terlelap.
Aku cukup lambat untuk bangkit karena sebenarnya memang tidak ingin jauh dari Ayah. Tapi gaya Feli bak penjagal itu membuat aku takut. Sepertinya kali ini dia tidak ingin ditawar apalagi di tentang.
Aku berdiri dan berjalan dengan langkah yang lambat. Ketika sampai di depan pintu kamar Ayah, Feli langsung menyambut tanganku dan memapah ku ke meja makan.
"Ayo Kak Sarah, makan yang banyak!" ucap adik-adik sambil menuangkan sayur bening ke dalam sebuah mangkuk putih untuk ku.
"Terimakasih."
"Habis ini, kamu mandi dengan air hangat, kemudian kembali berbaring. Nanti sore, kita akan duduk-duduk di taman," ujar Feli yang sedang mengatur jadwal ku yang sebenarnya tidak perlu.
"Iya, biar segar," tambah Rian.
"Aku ingin bermain ayunan di pekarangan rumah kita saja," sahut ku karena sangat rindu pada sosok Tania.
"Baik, Non. Nanti saya bersihkan."
"Makasih, Pak Antok."
"Sama-sama, Non."
"Iya, baiklah ...."
"Ha ha ha ha ha." Feli tertawa geli saat melihat aku malu. Mungkin bagi Feli, aku tidak pantas malu pada dirinya.
"Ya sudah, sekarang baring. Sudah segar kan? Ini bajunya jadi longgar banget. itu tandanya kamu sudah sangat kurus sekarang, Sarah."
Feli terdengar sangat bawel hari ini, tapi aku malah merasa dia lucu dan keibuan. Aku berharap Feli akan akan terus menyayangi dan memperhatikan aku seperti ini, hingga kami sama-sama menua dan mati nanti.
30 menit berlalu, aku belum juga dapat tertidur. Rasanya, banyak sekali yang ingin aku dengarkan dan ceritakan tentang Nenek Nawang Wulan. Tapi aku tidak tau kepada siapa aku harus berbicara dan bagaimana cara memulainya.
Aku berusaha memejamkan kedua mataku rapat-rapat. Tapi suara tapak kaki berat terdengar di telinga kanan ku dengan sangat jelas.
"Kamu ingin tau bagaimana dia hidup dan berjuang?" tanya seseorang dengan suara yang berat, namun sangat bersahabat.
Aku segera membuka mata dan melihat ke arah kanan (ke sumber suara). "Datuk," sahut ku yang berusaha duduk dan bersandar pada ujung ranjang tempat tidur ku.
"Aku akan menceritakan segalanya."
Bersambung...
Halo, aku kembali up tapi ngak bisa seperti biasanya. Apalagi ngetik naskahnya di hp, jadi sering hilang sendiri. Seperti kemarin, sudah ngetik hampir 1000 kata malah hilang, aku jadi nangis. Jadi sekarang, sedapatnya aja langsung tak up, makanya kalau perbabnya tidak banyak, harap maklum ya.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.