ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEMBALINYA MBAH SIJI


Aku sama sekali tidak ingin berdebat dengan Mbah Pecek maupun Wiro. Walau aku sangat yakin bahwa tadi sore aku bertemu dan saling menyapa dengan Mbah Siji.


"Jangan menunggu lagi!" ucap Wiro. "Apa ada yang mau ditanyakan lagi? Mumpung otakku masih encer."


"Eeemh, sebenarnya aku sangat penasaran dengan ilmu pesugihan jika dilihat dari sisi ilmu hitam."


"Apa yang buat penasaran?"


"Aku pernah mendengar istilah jual musuh. Kalau dipikir-pikir, enak sekali karena kita bisa membunuh musuh kita tanpa harus masuk penjara. Kemudian kita akan mendapat timbal balik berupa harta yang berlimpah. Berarti satu kali jalan kita bisa mendapatkan dua keuntungan."


"Lah iya, tapi pikiran yang seperti itulah yang akhirnya menyesatkan orang-orang. Iya to?"


"I - iya sih, Wiro."


"Kita bahas secara umum dan bodoh saja ya. Ini cuma untuk kamu sebatas tahu karena kalau cuma ingin kaya, kamu ngak butuh cara seperti itu, Sarah. Cukup kirim Siwil saja, dia kan keturunan Gunung Kawi dan dia lebih hebat dibandingkan tuyul atau **** ngepet."


"Mbah Siwil itu yang lehernya panjang, Bukan?"


"Iya, Sarah."


"Hus, ngomong opo, Wiro?" tanya Mbah Pecek dengan matanya yang melotot. "Ingat pesan putri Nawang Wulan! Dia masih kecil, jangan sampai terpengaruh dengan hal-hal yang buruk dari kita."


"Njeh, Mbah," sahut Wiro dengan kepalanya yang tertunduk.


"Begini, Ndok. Pesugihan seperti ini artinya kita menjual musuh dengan cara menukarkan umur musuh kita kepada gaib. Biasanya orang-orang yang melakukan hal ini punya beberapa alasan. Misalnya, sering diejek atau dihina musuh kita atau orang lain, hidup kita penuh penderitaan dan kalau mau numbalin keturunan sendiri ada terasa sayang dan tidak sampai hati."


"Bener juga ya Mbah. Dari pada numbalin keluarga dan anak keturunan. Pasti orang-orang lebih suka menumbalkan musuhnya yang jelas-jelas sudah menyakiti hati mereka."


"Arti pesugihan jual musuh? (pesugihan) artinya kekayaan (jual) berarti menjual sedangkan (musuh) dapat kita artikan dengan kata benci atau kebencian. Intinya adalah jika kita ingin melakukan pesugihan ini, maka itu sama halnya anda menginginkan orang yang kita benci supaya di serahkan kepada alam gaib untuk di jadikan tumbal sebagai jaminan kita untuk mendapatkan sebuah kekayaan yang berlimpah ruah. Kedengarannya eunak to?" tanya Mbah Pecek, tapi aku malah terdiam.


"Jual musuh adalah sarana ilmu hitam dengan menumbalkan atau menjual nyawa atau musuh kita kepada gaib dengan di tukarkan sejumlah uang atau emas dari gaib. Naaah ... musuh yang di maksud adalah orang yang sudah menyakiti atau menyengsarakan kita serta menyakiti keluarga kita, misalnya memp*rkosa anak kita, sehingga yang tersisa hanyalah dendam api membara di dalam benak kita," jelas Wiro yang menambahkan pemahaman ku tentang pesugihan jenis ini karena pesugihan macam ini bisa saja menimpa ku.


"Zaman dulu, memang banyak orang yang lebih memilih pesugihan jual musuh dari pada memilih santet yang hanya meminta bayaran tinggi dan ujungnya hanyalah sebuah hasil kematian seseorang tanpa mendapatkan ke untungan sepersenpun. Akan tetapi hanya mendapatkan sebuah dosa. Jika ingin dibandingkan jual musuh lebih baik di lakukan dari pada santet. Kira-kira begitu menurut mereka."


"Apakah ada pantangan di dalam melakukan pesugihan jual musuh?"


"Hebatnya, tidak ada pantangan, Sarah. Namun perlu diketahui, bahwa menjual musuh dengan cara menyerahkanya kepada gaib merupakan suatu sarana pesugihan yang di kerjakan yang cukup sulit, sebab pesugihan jual musuh dapat di lakukan melalui ritual selama tiga hari tiga malam. Selain itu? langkah langkah dalam melakukan proses meditasi ritual dengan alam gaib memerlukan biaya yang cukup tinggi sebagai biaya perlengkapan ritual seperti, ayam cemani, telur, pisang, kembang tujuh rupah, kemenyam dan lain lain," jelas Mbah Pecek.


"Lalu bagaimana cara melakukan pesugihan jual musuh, Mbah?"


"Kalau kita ingin melakukan pesugihan ini yang paling pertama adalah kita harus mempersiapkan biaya, menguatkan hati artinya ya ndak boleh ragu-ragu to? Dan yang paling penting kita siap menanggung dosa-dosanya."


"Pesugihan ini ada namanya, Sarah. Misalnya pesugihan jual musuh kanjeng ratu kidul, nyi blorong, dewi ayu alas roban, dewi langjar sari, mbah mintorejo, ratu pantai selatan. Nek zaman bengen gitu, tapi ndak tau kalau sekarang ada nama lainnya," ungkap Wiro yang tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Kok rata-rata perempuan semua, Mbah?"


"Iya karena mereka adalah penguasa alam gaib dari sudut utara, timur, selatan, barat. dengan jalan pesugihan ini maka kita akan menerima upah jenis uang serta emas dari gaib sebelum musuh tersebut meninggal."


"Apa musuhnya langsung meniggalkan seperti terkena banaspati?"


"Tidak, bukan begitu. Musuh akan meninggal dalam kurung waktu 3 hari jumat atau 3 minggu dan kematianya tidak akan meninggalkan adanya titik kecurigaan yang dapat membahayakan kita nantiya, sebab cara kematian yang akan menimpah musuh kita akan seperti kematian yang wajar.


"Jadi cuma dikira sakit aja gitu ya, Mbah?"


"Iya."


"Aku rasa dosanya sama dengan kita membunuh orang di mata Allah. Itu salah satu dosa besar yang sulit untuk diampuni."


"Berarti berat dosa membunuh itu? Lah bagaimana dengan makhluk seperti kami yang sering dikirim untuk membunuh?"


"Membunuh satu orang manusia ditamsilkan dengan membunuh semua manusia. Karena setiap manusia pasti memiliki keluarga, keturunan, dan ia merupakan anggota dari masyarakat. Membunuh satu orang, secara tidak langsung akan menyakiti keluarga, keturunan, dan masyarakat yang hidup di sekelilingnya. Maka dari itu, Islam menggolongkan pembunuhan sebagai dosa besar kedua setelah syirik (HR: al-Bukhari dan Muslim). Kelak pelaku pembunuhan akan mendapatkan balasan berupa neraka jahannam (QS: al-Nisa’: 93)."


"Namun perlu digaris bawahi, membunuh diperbolehkan ketika kedua belah pihak sudah sepakat untuk berperang. Bila salah satunya sudah mengalah, maka menyerang lawan tidak boleh dilakukan. Dan perlu diketahui pula, yang diperbolehkan untuk dibunuh hanyalah pasukan perang saja. Sementara anak, istri, dan keluarganya yang tidak ikut berperang tidak boleh dibunuh. Itu baturan membunuh di dalam islam, Mbah."


"Berarti penjahat ndak boleh dibunuh?" tanya Wiro.


"Penjahat boleh dibunuh asalkan dilakukan ketika menghukum pelaku kriminal itu. Maksudnya, membunuh dalam rangka menghukum. Hal ini tentu hanya berlaku bagi negara yang menerapkan hukuman mati. Dalam Islam,  hukum mati boleh dilakukan ketika pelaku telah membunuh orang lain, melakukan pemberontakan, dan melakukan kejahatan yang menganggu kenyaman hidup orang banyak. Hukuman mati boleh dilakukan ketika di sebuah negara sepakat untuk menerapkannya dan orang yang diperbolehkan untuk melakukannya hanyalah pejabat yang sudah ditunjuk oleh hakim ataupun presiden."


"Kayak hukum pancung?"


"Iya, gitu. Jadi jika seorang melakukan pembunuhan misalnya, hukuman tersebut bisa diterapkan bila keluarga korban menuntut untuk membalasnya dengan bentuk hukuman yang setimpal (nyawa dibayar nyawa). Akan tetapi, hukuman qishash  terbatalkan bila pelaku mendapatkan ampunan dan maaf dari keluarga korban. Begitu pula dengan pelaku makar dan perusak hidup orang banyak, mereka baru bisa dihukum mati bila hakim dan pembuat kebijakan negara memutuskan hukuman mati untuk mereka."


"Kalau jual musuh, tentu saja musuh itu penjahat kan?"


"Belum tentu, bisa saja orang tersebut tidak sengaja melakukannya. Contoh sedang bercanda tapi ternyata temannya sakit hati, padahal tidak sengaja. Apa orang seperti itu dianggap penjahat? Nggak kan?"


"Sulit juga dalam menjalani hidup ternyata ya?"


"Iya, begitulah Wiro."


"Punten," teriak seseorang yang tidak asing bagi Mbah Pecek, itu makanya ia tidak menyerang seseorang yang baru datang tersebut.


"Sudah pulang, gimana keadaannya?"


"Aku disuruh pulang untuk berjaga-jaga dan dia diurus sama Mekar Sari."


"Bocah itu berbakat."


"Iya," sahut Mbah Siji. Tak lama, Mbah siji berjalan ke arah mu dan ia mengatakan, "Aku sudah pulang, Ndok."


"Iya, Mbah."


Aku yang bingung dan merasa yakin dengan pandanganku, langsung terdiam. Rasa tidak mungkin aku salah, tapi mereka semua tampak baru saja bertemu.


Semakin tidak mengerti, tapi aku tidak ingin membahas tentang apa yang aku temui sore ini karena tidak ingin ditertawakan lagi terutama oleh Wiro.


Bagiku Wiro adalah teman yang bisa untuk diajak berbagi cerita dengan cara yang sederhana maupun modern. Sementara yang lain, walau bagaimana pun, aku tetap was-was dalam berbicara karena mereka berusia ratusan bahkan ribuan tahun.


Saat melihat ketiganya tengah asyik berbagi cerita, aku mengatakan kepada mereka bahwa aku sangat lelah dan ingin tidur. Saat itu, Wiro berjalan dan mengantarkan aku hingga ke depan pintu kamar.


"Apa harus seperti ini, Wiro?"


"Tergantung, Sarah."


"Maksudnya?"


"Jika kamu masih tidak tenang, aku akan terus mengikutimu. Kecuali kalau kamu akan kemane tidur ataupun kamar mandi."


"Ha ha ha ha ha, makasih ya Wiro. Aku harap kamu cepat sembuh karena aku sangat penasaran ingin melihat wajahmu. Aku yakin kamu sangat tampan. Selamat malam, Wiro."


"Selamat malam, Sarah."


Bersambung.


Oh iya, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca.