ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERJALANAN MALAM


Semua urusan di rumah si Mbok sudah di laksanakan, Ayah juga ikut menggendong dan menguburkan si Mbok. Di dalam hati aku mengucapkan terimakasih kepada si Mbok untuk semua kasih sayang dan perhatiannya, aku berharap si Mbok bisa tenang di alam sana.


Kami kembali ke rumah si Mbok, Ayah duduk bersama anak-anak si mbok. Ayah menyampaikan rasa dukanya atas insiden ini, Ayah juga berterima kasih kepada keluarga ini karena tidak memperpanjang urusannya hingga ke polisi.


Selain itu, Ayah juga menyampaikan akan tetap memberikan keluarga ini santunan setiap bulannya sejumlah gaji si Mbok walaupun si Mbok sudah tidak ada bekerja lagi di keluarga kami.


Hari mulai melewati magrib, Ayah mengajakku untuk berpamitan. Salaman, pelukan, semua terjadi dengan kasih sayang. Tidak ada kebencian, tidak ada amarah yang aku lihat hadir di mata anak-anak si Mbok, hanya air mata dan kata saling menguatkan satu sama lainnya.


Tak ingin terlalu malam melakukan perjalanan, aku dan Ayah pun berpamitan. Jarak antara rumah kami dan si mbok sebenarnya tidaklah jauh, hanya saja rumah si Mbok ada di ujung desa. Diantara jalannya banyak terdapat pepohonan besar dan rindang, jarang rumah penduduk, dan jika sudah memasuki malam jarang sekali ada aktivitas warga.


Mas Jepri (anak si mbok nomor 4) menawarkan diri untuk mengantarkan kami pulang. "Sejam perjalanan lumayan jauh pak, apalagi kalau di jalanan sepi takutnya ada apa-apa."


Tapi Ayah tidak enak untuk menyusahkan keluarga si Mbok yang tengah berduka. Oleh karena itu, Ayah pun menolak tawaran Mas Jepri.


Aku duduk di kursi depan agar bisa menemani Ayah sambil mengobrol. Ayah pun mengizinkanku untuk duduk berdampingan dengannya. Lalu kami bergegas meninggalkan rumah si Mbok.


"Kamu tampak capek nak?"


"Iya yah ... banget. " sahutku sambil bersandar di kursi.


"Sabar ya, kita harus segera tiba di rumah, takutnya Ibumu sendirian."


"Baik yah, aku mengerti tapi jangan terlalu ngebut ya yah."


"Di sini kalau sudah masuk malam, warganya jarang sekali beraktivitas."


"Kenapa yah? Menurutku kalau baru jam segini sampai jam 22.00 wib itu masih wajar beraktivitas yah." ujarku bertanya karena penasaran.


"Entahlah, mungkin itu adat atau peraturan warga kampung sini. Ayah juga kan bukan orang sini jadi ya nggak terlalu paham juga nak."


"Iya yah."


"Sudahlah, sekarang pejamkan saja matamu, kamu lelah kan."


"Tidak yah, aku menemani ayah saja."


"Kamu memang anak yang baik Sarah, persis seperti Ibu mu." ujar Ayah dan aku tersenyum memandang Ayah.


Sekitar 15 menit melakukan perjalanan, tiba-tiba aku melihat sesuatu berdiri di depan mobil kami yang tengah melaju cukup kencang. "Ayah awaaaaaas!!"


Braaack....


Ayah langsung menghentikan mobilnya dan di dalam mobil kami saling melihat satu sama yang lainnya.


"Sarah, apa Ayah menabrak seseorang?"


"Ayah, jujur ... aku tidak melihatnya dengan jelas."


"Kamu tetap di sini ya nak! Ayah turun sebentar saja."


"Tidak yah, kita turun bersama-sama. "


"Baiklah ...."


Kami turun bersama-sama, tapi aku dan Ayah merasa bingung karena tidak ada siapa-siapa di sini padahal kami yakin sekali kalau tadi menabrak sesuatu yang besar, suaranya pun terdengar kuat saat Ayah menabraknya.


Aku dan Ayah berdiri, sambil menatap sekitar.


"Sarah, sebaiknya kita segera pergi dari sini nak!" ucap Ayah dangan wajah yang cemas.


"Iya yah, aku rasa itu lebih baik." ucapku karena merasakan hal yang sama dengan Ayah.


Aku dan Ayah pun segera masuk ke dalam mobil dan saat Ayah menyalakan mobilnya, dari arah tepi jalan tepatnya di pohon besar sebelah kanan ada sesuatu yang berdiri di sana dan melihat ke arah kami tapi kurang jelas perawakannya karena gelap dan lampu jalan yang redup.


Aku mengatakan kepada Ayah tentang makhluk itu, aku menunjuk ke arahnya tapi Ayah bilang tidak ada apa-apa disana, tidak ada siapa-siapa.


Kamipun segera beranjak dari tempat itu, aku meluruskan tubuhku dan melihat ke arah kaca depan, tiba-tiba ada seseorang berdiri menyamping tepat di tempat mobil kami berhenti tadi.


"Mana Sarah?" ujar Ayah bingung.


"Lihat dari kaca yah! Lalu Ayah pun melihat dari kaca yang aku tunjukkan.


"Iya benar Sarah, ayo kita turun! Semoga Dia baik-baik saja." ucap Ayah cemas.


Kamipun turun berniat menghampiri orang tersebut. Tapi saat kami turun dan ke arah belakang mobil, orang itu sudah tidak ada lagi berdiri disana.


Aku dan Ayah saling melihat dan kebingungan. "Tadi perempuan itu disini kan nak?" ucap Ayah dan aku mengangguk yakin sambil menatap Ayah.


Perasaanku menjadi sangat tidak enak sekali. "Ayah, sebaiknya kita segera masuk ke dalam mobil yah, perasaanku sungguh tidak enak." Dengan cept Ayah menganggukan kepalanya.


Namun pada saat kami berjalan ke arah mobil, kami melihat sosok perempuan berada di atas mobil kami dengan rupa yang tidak jelas dan tampak menyeramkan.


Wanita itu merayap dan memandang kami dengan tajam seakan ingin menerkam aku dan Ayah. Kamipun bergegas lari memutar lalu masuk ke dalam mobil.


Aku melihat tangan Ayah gemetaran saat memasukkan kunci mobilnya. " Ayah, tenanglah yah ...!" ucapku.


Dengan sigap, akupun segera membantu Ayah untuk memasukkan kunci mobil dan Ayah menghidupkannya dengan cepat. Perasaanku sangat kacau. "Ayah, tenanglah yah ...." ujarku terus mengingatkan Ayah.


Saat aku lihat Ayah mulai tenang, tiba-tiba sosok itu muncul lagi di depan kaca mobil. Kali ini Iya memperlihatkan wajahnya yang sangat menyeramkan.


Ayah sangat terkejut dan membuat laju mobilnya tidak bergerak lurus/berkelok-kelok.


Mobil kami hilang kendali namun ayah berusaha sekuat tenaganya untuk menenangkan diri.


"Aayaaaah ...." ujarku sambil membantu Ayah memegang dan mempertahankan setir mobilnya. Pada saat yang bersamaan makhluk itu tiba-tiba menghilang entah kemana dan Ayah pun dapat mengontrol mobilnya kembali.


"Sarah, kamu tidak apa-apa nak?"


"Iya yah, kemana makhluk itu yah?" tanyaku sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


"Ayah tidak tau nak, jangan hiraukan Dia lagi, ayo kita melaju dengan cepat!" ujar Ayah sambil terus menginjak gas mobilnya.


Jantungku masih berpacu dengan cepat. Bahkan Ayah terlihat sangat pucat. Sesekali Ayah memegang dadanya dan menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan.


Kami tiba di penghujung jalan memasuki daerah tempat tinggal kami. Ayah tampak sedikit lebih tenang. Sejak perbatasan ini, kami bisa melihat beberapa kendaraan lalu lalang di hadapan kami.


Kami tiba di rumah tepat pukul 21.00 wib. ayah membuka kunci pintu rumah, di rumah tidak ada keramaian lagi. Kami langsung menuju kamar Ayah, ternyata Ibu ada di sana sedang berbaring. Ayah memegang dan membelai kepala Ibu.


Ayah melihat ke arahku sambil mengangguk, seperti memberi isyarat bahwa aku harus segera beristirahat di kamarku. Akupun segera membersihkan diriku dan merebahkan tubuhku di ranjang kamarku.


Kali ini aku tidak ingin memikirkan apapun, tidak ingin memikirkan siapapun, aku sangat lelah sekali.


Tapi saat aku hendak memejamkan kedua mataku, tiba-tiba aku mendengarkan suara yang membuat aku kembali terusik. Suara itu sangat dekat denganku.


Kreeek, kreeek, kreeek, kreeeeak.


Seperti ada seseorang yang menggerak-


gerakkan ranjangku. Tapi kali ini aku pura-pura tidak tau dan tidak perduli. Aku benar-benar merasa lelah dan lemah.


"Tolong, aku hanya ingin tidur dan jangan menggangguku." ucapku dengan suara yang terawang-awang.


Suara berisik dari ranjangkupun tiba-tiba berhenti. Sepertinya Dia bersedia berdamai dengan ku malam ini, atau Dia takut aku depresi lalu gantung diri sehingga Dia tidak lagi memiliki mainan hidup seperti aku.


Air mata ku mengalir dengan perlahan seolah menjadi teman tidurku, mataku yang mulai perih membuatku memejamkannya, aku memiringkan tubuhku agar lebih santai. Aku mengantuk dan aku benar-benar lelah.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Makasih 😘