
Ruang ini tampak memerah dan memanas. Teriakan terakhir iblis bertanduk pun terdengar. Rasanya puas sekali, tidak ada penyesalan jika harus mati. Mungkin saja, apa yang aku lakukan saat ini bisa membantu orang lain. Karena setahuku, selalu saja akan ada korban setiap tahunnya untuk penumbalan dan itu adalah gadis spesial.
Seperti daging bakar di dalam sebuah oven yang terbuat dari tanah liat. Panas sekali, hingga kucuran antara darah dan peluh, sama sekali tidak aku ketahui, mana yang lebih banyak.
Aku terus menempelkan tubuhku pada Kak Rio, seandainya terbakar, pasti tubuhku dulu yang hangus baru tubuhnya. Aku menempelkan kepalaku di pundak kirinya dan saat itu, aku bisa mendengar suara isak tangis dari bibirnya.
"Sarah, tolong pindah ke belakang tubuhku! peluk aku dari belakang!" ucap Kak Rio ingin aku segera bertukar tempat dengan dirinya agar api itu melahap tubuhnya dulu baru tubuhku. Namun aku tidak menghiraukan nya karena aku tidak sanggup kehilangan dia.
"Kak, seandainya umur kita panjang, tapi punggungku ini hancur terbakar, apakah Kakak akan tetap menyukai aku?"
"Dengar! aku mungkin akan selalu bersedih saat melihat punggungmu itu, Sarah. Kalau soal cinta, tidak perlu kamu tanyakan lagi."
"Aku senang bisa punya pacar seperti kamu Kak. Kamu selalu bersedia menemani aku walaupun resiko perjalanan ku sangat berat, kamu juga selalu bersedia menerima aku apa adanya, padahal aku sendiri sulit menerimanya."
"You are spesial, Sarah ... sangat spesial."
"Eeeemh ...." keluhku karena menahan rasa sakit akibat api yang sudah menyambar punggungku.
"Sarah ... Sarah ... Sayang ... buka bajunya! baju kamu sudah terbakar. Cepat!
"Sama saja, Kak."
"Jangan membantah!!" teriak Kak Rio sangat keras, aku pun segera mengikuti ucapannya.
Semakin terbakar, aku semakin erat memeluk tubuh Kak Rio dan Kak Rio pun semakin keras menangis sambil memanggil-manggil namaku. Terlihat sekali ia sangat kesal dan marah terhadap situasi ini.
Aku sangat kesakitan hingga hampir tak sadarkan diri, tiba-tiba aku mendengarkan suara yang sangat familiar di telingaku. "Disana!" ucapnya.
"Sarah .... " ucap Ayah yang langsung masuk dan mengurus ku.
"Ayah ... Ayah ... Ayah disini?"
"Tentu saja," ucap Ayah sembari menyelimuti tubuhku yang hampir tanpa penutup dengan jas miliknya. Saat itu, aku mendengar suara rintihan tangis dari Ayah. Sementara Feli dan yang lainnya membantu memadamkan api.
Aku membalik tubuhku dan melihat sangat banyak orang disini, terutama para polisi. Ayah kesini membawa bantuan. Tak lama, 3 orang lainnya membantu Kak Rio dan membawa kami keluar dari ruang bawah tanah ini.
Sebelum keluar, aku sudah mengatakan kepada mereka tentang jasad Sinta di ruang sebelah, jasad Bu Puji di bawah tangga, seorang laki-laki kaki tangan iblis dan empat jasad lainnya yang tidak aku kenali. Dengan sigap, jasad tersebut diangkat, sementara jasad Pamannya Sinta tidak dapat diselamatkan, hangus terbakar.
Ayah menggendong ku sekuat tenaganya, sementara Kak Rio dibantu Feli dan Rian. Tak lama, ambulan dan para petugas pemadam kebakaran datang untuk memberikan pertolongan.
"Aku selamat, Ayah .... " ucapku sambil menangis dan membenamkan wajahku di dada Ayah.
"Iya Sarah."
*****
Aku tiba di rumah sakit dan ditangani dengan baik. Aku tidak tau harus mengucapkan syukur seperti apa kepada Tuhan. Semuanya terlalu hebat. Ini pengalaman yang luar biasa. Aku sangat lelah, ingin rehat dan tidur sejenak.
*****
Flasback
Di dalam kamar, Feli berputar-putar karena merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Feli tau apa yang diperintah oleh Sarah pasti sangat penting, tapi dia juga tidak ingin mengabaikan perasaan Rian.
Sebelum Feli melancarkan rencana yang sudah disusun oleh Sarah, Feli terlebih dahulu mencari tau apa yang terjadi pada Sarah. Dengan kondisi kesehatan yang masih belum sempurna, Feli mulai menggambar untuk melihat dimana dan bagaimana kondisi Sarah serta apa hubungannya dengan tas pemberian Rian ini.
Gambar pertama dimulai, setelah 5 menit. Feli melanjutkan gambar berikutnya, begitu seterusnya. Tak lama, Rian menelpon dan mengatakan bahwa dirinya sudah berada di luar rumah.
Feli bergegas berlari keluar dan meminta Rian untuk ke rumah yang Feli tidak tau dimana letaknya. Saat itu, Rian mengatakan, "Aku tau dimana rumah itu."
"Kita tidak punya waktu banyak, Rian. Dengar! Sarah dan Kak Rio terjebak di dalamnya, kamu harus kesana untuk mengalihkan perhatian mereka yang tidak aku kenali, tapi tetaplah berhati-hati. Maksud ku ... jangan sampai terjadi apapun juga padamu!"
"Baik aku mengerti, lalu bagaimana dengan kamu?"
"Sebentar lagi Ayah pulang, aku akan kesana membawa bantuan dan pada saat yang tepat, aku harus membakar tas ini."
"Apa kamu tau waktunya? sebenarnya apa yang terjadi dan apa hubungannya dengan tas ini?"
"Nanti aku ceritakan ya, Rian. Yang penting sekarang, kita jalankan dulu rencananya."
"Baik, aku pergi sekarang."
Tak lama, sebelum Rian meninggalkan rumah menuju rumah putih, Ayah pulang dan langsung menyapa keduanya. Tanpa basa basi, Feli menceritakan kondisi Sarah saat ini tanpa menjelaskan sebab akibatnya.
Ayah sepertinya tau bahwa kondisi ini tidak mudah, jadi Ayah langsung menelpon polisi dan mereka bergegas menuju ke rumah putih tersebut.
Selama di perjalanan, Feli terus menggambar keadaan Sarah dan situasinya. Pada saat iblis itu mulai muncul, Feli meminta kepada Rian untuk menghebtikan laju kendaraannya dan ia berhenti di pinggir jalan untuk membakar tas tersebut.
Rian dan Ayah juga membantu agar apinya cepat menyala dalam kobaran yang besar. Sementara Feli terus menggambar dan ia dapat melihat Sarah dalam kondisi terdesak dan terkepung oleh api yang besar.
"Ayah, tolong telpon pemadam kebakaran juga! kita sangat membutuhkan mereka karena disana situasinya juga sama dengan tas ini."
"I-iya .... " ucap Ayah terbata-bata.
"Ayo kita pergi sekarang!" kata Rian.
Sesampainya di perempatan lampu merah, mobil Ayah berpapasan dengan 2 unit mobil polisi dan mereka langsung menuju rumah putih berdasarkan petunjuk arah yang diberikan oleh Rian.
Saat mereka tiba, mereka sangat bingung dengan situasi rumah yang tampak sangat tenang dan nyaman tanpa hiruk pikuk kesibukan manusia. Sementara Feli yang sangat yakin dengan penglihatannya, segera menggambar kembali dan menjadi petunjuk jalan bagi semua orang.
"Kesana!" ucap Feli memberikan arah dengan sangat yakin.
"Disana!" sambungnya lagi.
"Buka lapisan seperti dinding itu!" arah Feli kembali. Lalu mereka mendapati tangga menuju arah ruang bawah tanah dan melihat Bu Puji sudah tergeletak berlumuran darah.
Mereka melanjutkan pekerjaannya dengan memasuki ruang ritual dan membantuku melewati masa dan waktu yang sulit sehingga aku selamat dan masih bisa bernafas hingga saat ini. Semua ini, atas izin Allah.
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘