
"Takdir setiap orang memang sudah ditentukan sejak dilahirkan, namun nasibnya akan di tentukan dengan usaha dan juga pengorbanan yang dilakukan!"
Situasi, sisi Feli:
Setelah jam perkuliahan berakhir, aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah untuk berdamai dengan diri dan hatiku guna membantu Sarah dan ayahnya terbebas dari masalah yang akan menimpa keluarga kecil mereka.
Bagiku Sarah adalah satu-satunya sahabat dan saudaraku yang sangat peduli dan bersedia menerima aku apa adanya tanpa rasa takut. Makanya aku harus menolong Sarah walaupun aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku?
Aku memang belum pernah mengatakan kepada Sarah tentang larang pantang diriku di dalam urusan yang bersinggungan dengan makhluk astral. Aku tidak pernah mengatakan kepadanya jika aku dalam kondisi kotor (Datang bulan), maka aku dilarang keras untuk membuka mata batinku dan melihat kejadian-kejadian dimasa yang akan datang.
Jika Aku memberanikan diri untuk membuka mata batin, ketika aku sedang dalam keadaan kotor, maka sesuatu yang buruk akan terjadi padaku bahkan bisa berdampak pada kematian.
Sebenarnya aku sangat bingung harus bagaimana? Tapi seperti tidak ada pilihan, aku memutuskan untuk mengorbankan diriku demi menyelamatkan satu-satunya sahabatku yang sudah berhasil membawa aku dari lubang gelap di dalam hidupku.
Setidaknya, jika aku mati, maka aku sudah pernah tertawa dan berbahagia bersama seseorang dan aku juga pernah merasakan pelukan hangat dari seorang sahabat yang begitu ikhlas dan tulus menyayangi aku.
Tanpa pikir panjang aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih nyaman agar aku lebih bebas untuk bergerak. Aku menyiapkan buku gambar yang biasa aku gunakan dan pensil peninggalan kakekku yang tidak pernah habis walaupun aku gunakannya seumur hidupku.
Aku mencuci wajahku agar lebih segar dan tenang untuk melakukan ritual membaca masa depan, yang aku tahu sendiri besar resikonya untukku. Merasa siap dan kuat, tanpa makan dan minum, aku segera duduk di atas kursi meja belajarku dan berkonsentrasi untuk membuka mata batin.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan beberapa kali untuk membukanya, setelah terbuka, seketika aku dapat merasakan banyak aura hitam dan jahat disekelilingku yang sangat ingin menguasai diriku, tapi di sisi lain aku juga merasakan aura hangat dari kakek dan nenekku yang tampaknya berusaha melindungiku dan itu membuat aku menangis tanpa air mata.
Dengan sigap, aku memasuki lorong waktu dari pikiran seperti biasanya. Aku melihat dengan jelas namun tidak mengerti keadaan yang akan menimpa Sarah dan ayahnya. Yang aku tahu, aku harus teliti dan jeli, bukan hanya menggambarkan wujud tapi juga waktu agar Sarah bisa mengerti maksud dari gambar-gambar yang aku tuliskan untuknya.
Aku mulai menorehkan gambar pertama. Ini adalah wajah seorang perempuan dengan mata yang penuh kebencian dan aku yakin bahwa perempuan ini adalah manusia/ bukan roh. Aku memberikan keterangan pada gambar ini yang berbunyi, "Dia adalah manusia."
Siap dengan gambar pertama, aku segera melanjutkan gambar berikutnya dengan lebih teliti dan rinci. Dengan tubuh yang gemetaran dan keringat yang bercucuran aku terus menggambar hingga 2 halaman dan aku yakin semua ini dapat membantu Sarah. Tapi, tiba-tiba angin yang besar bersama debu mendorong tubuhku hingga aku terjatuh dari kursi dan kepalaku membentur lantai.
"Tutup! Cukuuuuuuup ....!!" Terdengar suara teriak Nenekku yang sangat kuat hingga aku bangun dan menutup mata batin ku dengan sisa tenaga yang masih aku miliki.
"Hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah ... hah .... " Aku terus mengatur nafasku agar aku mendapatkan ketenangan tapi pada saat yang bersamaan darah segar mengucur dari kedua lubang hidungku. Sakit, perih, itulah gambaran yang dapat aku berikan saat ini, bahkan rasanya kepalaku sangat besar seperti habis disengat lebah dalam jumlah yang banyak.
Aku merangkak, berusaha kembali ke dekat meja dan meraih buku gambar serta pensilku. Perlahan, aku menarik gambar tersebut dan memutuskan untuk mengambil foto dari gambar tersebut kemudian aku kirimkan kepada Sarah.
"Sarah ... apa kamu mengenali wajah yang ada di gambar ini? " Aku mengirimkan pesan chat kepada Sarah beserta gambar yang telah aku foto.
Pink
"Itu ibuku, Feli. Berarti hal buruk benar-benar akan terjadi padaku atau ayah.
"Tapi, kamu bilang ibumu sudah tiada? Aku yakin sosok ini adalah manusia, bukan roh. "
Pink
"Iya ... ibuku memang sudah tiada. Berarti itu adalah Tante Rima karena mereka sangat mirip. "
"Sarah, aku belum bisa memberikan kepastian, beri aku waktu sampai tengah malam. Aku janji akan membantumu sekuat tenaga ku.
Pink
"Kamu dimana Feli? Aku akan membantumu."
"Lebih baik aku sendiri karena aku tidak mampu menjaga diriku sekaligus dirimu. "
Pink
"Feli .... "
"Selama belum ada kabar dariku, jangan sembarangan membuka pintu rumah kecuali jika yang mengetuk adalah Ayahmu dan Kak Rio. Paham? "
Pink
"Aku pamit Sarah .... "
Pukul 17.45 WIB. Aku meletakkan HP milikku di atas lantai hitam yang dingin di rumahku. Rasanya sangat lemah sekali, seperti tidak makan dan minum selama 3 hari dan aku merengkuhkan tubuhku untuk mengumpulkan tenaga ku.
Hari hampir memasuki magrib, tiba-tiba bisikan gaib mengarahkan ku untuk segera ke masjid, di mana banyak orang berkumpul untuk melaksanakan yasinan bersama. Aku baru teringat jika saat ini adalah malam jumat dan aku aku berpikir untuk menyelesaikan penglihatanku di dalam masjid saja.
"Mungkin akan lebih mudah jika dibantu dengan ayat-ayat suci Al Quran agar aku mendapat perlindungan dari langit. "
Aku segera berdiri dan membawa peralatan menggambar dan menutupi auratku dengan jilbab panjang kemudian aku mengenakan pakaian yang panjang. Setibanya di mesjid, aku langsung duduk di teras mesjid dan saat itu, aku disapa oleh seorang ustadz.
"Mari shalat bersama Nak? " sapanya dengan senyum yang lembut dan sopan.
"Maaf Pak ... saya sedang kotor. Tapi apakah saya masih boleh beristirahat di teras ini? " tanyaku setengah khawatir.
"Silahkan saja. Asalkan kamu dapat menjaga kebersihan selama kamu berada disini. "
"Saya sudah melapisi tempat duduk saya dengan jaket dan juga beberapa buku kuliah saya Pak. "
"Baiklah kalau begitu, silahkan istirahat .... "
"Terimakasih Pak .... "
Saat azan berkumandang, aku duduk tenang dan berdoa di dalam hati agar Tuhan bersedia membantuku kali ini. Bukan tanpa alasan, ini adalah kali pertama aku menginjakkan kakiku ke dalam masjid setelah Ibuku meninggal dunia.
Acara yasinan dimulai, aku pun memulai pekerjaanku. Aku kembali membuka mata batin dan mulai menggambar tentang apapun yang aku lihat. Sekitar hampir satu jam berlalu, aku dapat memahami situasi yang sebenarnya.
Pada gambar akhir, aku melihat ada titik terang untuk Sarah jika bantuan datang tepat pada waktunya. Untuk itu, aku segera menghubunginya. Aku membuka HP milikku, sayangnya hpku dalam mode non aktif, mungkin karena tidak diisi saya sejak pagi, jadi aku memutuskan untuk ke rumah Sarah saja. Semakin cepat, semakin baik. Ucapku di dalam hati.
Ketika aku hendak berdiri, tubuhku terasa lunglai seakan tidak memiliki tulang. Ya Tuhan ... tolonglah aku. Ustadz yang tadi menyapaku langsung menghampiriku dan memberikan aku minuman serta makanan. "Ini jatah milik Bapak, ayo dimakan! Ini sisa doa, semoga dapat membantumu. "
"Terimakasih Pak. " ucapku sambil menerima kotak putih kecil yang berisi 3 buah kue dan 1 gelas air mineral.
Tanpa malu, aku segera membuka kotak itu dan memakannya perlahan. Ya Tuhan ... jika memang ini adalah doa, maka aku berharap agar Engkau memberikan aku kekuatan agar aku bisa tiba di rumah Sarah tepat pada waktunya, dengan cara apapun, amin.
Siap dengan makananku, aku segera membereskan buku gambar dan pensil milikku ke dalam tas. Sedangkan hp selalu aku pegang dengan tangan kananku. Selesai membuang kotak makanan di tempat sampah, aku langsung berjalan keluar dari masjid menuju jalan besar.
Perasaanku tidak enak ketika berniat untuk menyebrang jalan. Tapi mungkin ini juga karena keadaanku yang lemah, jadi aku berusaha untuk positif thinking seperti yang sering Sarah ucapkan disaat aku sedang gelisah.
Tapi saat aku hendak menyebrang jalan, tiba-tiba dari arah samping kiri ku, ada kendaraan yang melaju dengan sangat cepat dan aku tidak punya kesempatan untuk menghindarinya. Braaak....
"Sarah ...." ucapku dengan suara yang sangat kecil sambil menyemburkan darah segar dari dalam mulutku.
Sisi Sarah:
Ketika Feli menyebut nama Sarah, Sarah langsung dapat mendengarnya dengan baik. Seketika Sarah berdiri dan membuka pintu rumahnya seakan-akan Feli sudah berada di depan pintu padahal tidak, Feli tidak sampai.
Sisi Feli:
Feli tergeletak dijalan aspal besar dengan wajah dan tubuh berlumuran darah. Seketika, para warga yang baru selesai melaksanakan yasinan di masjid membantu Feli untuk dibawa ke rumah sakit. Sedangkan mobil yang menabrak Feli juga mengalami kecelakaan karena hilang keseimbangan dan menabrak mobil lainnya.
"Pengorbanan seseorang yang melindungi kedamaian dari dalam bayangan itulah pahlawan sebenarnya. Semetara pengorbanan adalah meninggalkan kebaikan kecil untuk mencapai kebaikan yang lebih besar."
Apakah Feli selamat? Ikuti cerita selanjutnya ya ....
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘