
Aku berusaha membuang rasa sedih, sakit, dan kehilangan di dalam hatiku. Seperti yang selalu Tania katakan kepadaku bahwa aku harus terus tersenyum. Selama satu bulan terakhir ini, aku dan Ayah sudah melakukan sesuatu yang hebat.
Kami merenovasi rumah kami sehingga tampak lebih segar dan cerah. Ayah juga sudah mengatur jadwal kerjanya sehingga Ayah saat ini lebih banyak di rumah bersamaku.
Selain itu, Pak Antok dan keluarganya berencana akan tinggal di rumah kami bulan depan. Tepatnya di kamar si Mbok jadi ada istri Pak Antok yang menemani aku saat Ayah berangkat kerja keluar kota. Istri Pak Antok juga akan kerja disini untuk membantuku membereskan rumah yang cukup luas ini.
Selama sebulan ini suasana di rumah sangat berbeda. Aku sudah tidak lagi mendengar suara-suara yang memanggil namaku. Aku juga sudah tidak lagi merasa desiran-desiran yang misterius. Semua tampak aman dan terkendali.
Aku terkadang berfikir, apakah ini benar-benar karena kondisi yang normal atau karena aku yang sudah bersih. Aku berfikir seperti itu karena setelah kejadian penemuan Tania, Ayah dan Pak Antok langsung membawaku untuk menutup diri ke orang pintar.
Minggu depan adalah hari pertamaku di kampus. Seperti calon mahasiswa lainnya, aku juga mengikuti masa pengenalan akademik. Itu terdengar menyenangkan dan menegangkan. Tapi aku tidak tau bagaimana kenyataannya.
Banyak hal-hal yang aku khawatirkan. Aku sangat khawatir tentang suasana baru tanpa teman, aku sangat khawatir tentang kejahilan para senior yang sering terjadi, aku juga sangat khawatir dengan kondisi belajarnya.
Lelah membersihkan rumah, aku kembali merebahkan tubuh di atas ranjang dimana Tania ditemukan. Tanpa rasa takut, Aku tetap memilih ranjang ini sebagai tempat istirahat favorit ku.
Sebenarnya ... Ayah sudah membujuk ku untuk mengganti ranjang ini tapi aku menolaknya dengan alasan, aku bahagia dan merasa selalu bersama Tania. Demi menjaga senyumku, Ayah bersedia menuruti permintaanku yang satu ini.
Pukul 23.00 wib. Ayah menyapaku dan mengatakan bahwa aku tidak boleh lagi bergadang mulai malam ini. Aku harus membiasakan diri untuk tidur tidak terlalu malam agar pola tidurku terjaga. Ini demi kebaikanku, jangan sampai aku kelelahan saat kuliah nanti.
Aku mulai memejamkan mataku. Beberapa kali secara spontan, mataku menutup dan membuka perlahan. Saat pandanganku mulai memudar, antara sadar dan tidak, aku melihat Tania berdiri di sudut kamarku sambil menangis dan mengucek kedua matanya dengan ujung lengan bajunya yang berwarna putih.
"Kak Tania ... ada apa? " ucapku tapi tidak mampu membuka kedua mataku untuk melihat Tania sekali lagi.
Mataku memang sudah tertutup, tapi telingaku masih bisa mendengarkan suara isak tangis Tania yang terdengar sangat tipis namun tajam sehingga sangat menusuk di dalam gendang telingaku.
Ada 3 hal yang terlintas di dalam pikiranku. Pertama, Ayah dalam bahaya. Dua, aku dalam bahaya. dan Tiga, masih ada urusan Tania yang belum terselesaikan. Tapi apa?
Aku berusaha untuk berkomunikasi dengan Tania. Aku memanggil-manggil namanya berulang kali dan menanyakan ada apa? Tapi Tania tidak menjawab dan hanya menangis tersedu-sedu.
Sikap Tania membuat aku bingung dan Khawatir. Di sisi lain, aku juga yakin bahwa kelebihan sensitif ku sudah di tutup beberapa waktu yang lalu.
Aku ingat, saat orang pintar itu mengatakan bahwa jika ditutup akan sulit untuk ku membukanya kembali karena apa yang aku miliki bukanlah kemampuan asli milikku melainkan ada campur tangan dari makhluk asing.
Jadi bila sudah ditutup maka akan sulit untuk dibuka. Tapi mengapa saat ini aku masih bisa melihat Tania bahkan sangat jelas dan dalam kondisi belum tidur pulas seperti biasanya. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Atau apa yang sebenarnya terjadi pada Tania? Kenapa Dia belum juga tenang seperti Ibu? Tanyaku di dalam hati.
Tiba-tiba, aku mendengar suara foto di dalam kamar ku yang tertancap pada dinding terjatuh lalu retak. Dengan sekuat tenaga aku membuka kedua mataku dan langsung berjalan menghampiri sebuah foto keluarga kami yang memamg sudah tergeletak di bawah lantai dalam keadaan retak.
"Ini pertanda buruk. " ucapku dengan suara lirih sembari menekuk kedua ujung alis mataku.
Aku mengangkat foto tersebut dan memandangi sekeliling kamar. Tania sudah pergi. Tapi aku yakin ini bukanlah khayalanku semata, melainkan pertanda dan isyarat. Apakah ada seseorang yang ingin mencelakai Ayah ku? Seperti teman kantornya atau siapalah orang yang iri hati padanya?.
Atau ini tentang aku dan kampus dimana aku akan menuntut ilmu. Apakah ada sesuatu di sana yang akan membahayakan jiwaku? Sebaiknya, sejak saat ini aku harus sangat berhati-hati dengan apapun, dengan siapapun.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘