ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KOMPAK


Suasana menjadi riuh akibat air mataku, tapi tak ada satupun yang berani mendekati aku termasuk Ayah. Aku sama sekali tidak tau apa yang harus aku lakukan? Tapi aku tidak berhenti minum teh manis di atas meja yang masih tersisa.


Melihat aku aneh seperti itu, Feli langsung ke dapur dan membuatkan aku teh manis lagi dalam jumlah yang banyak. Seakan hati kami terhubung, aku pun tau apa yang Feli lakukan dan segera meminum teh yang sudah ia siapkan.


Mataku tidak berhenti menatap Nenek Ratih. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku dapat melihat Nenek sudah mulai melemah. Tau dari mana? Hisapan asap hitam dari dada Paman mulai berkurang dan melambat.


Lambat laun, bagian tubuh bawah Nenek Ratih mulai menghilang. Saat ini, batas lutut ke bawah sudah tidak terlihat lagi olehku. Itu pasti sakit, tapi Nenek tidak mengeluh. Ia terus berusaha menyembuhkan Paman yang juga berusaha fokus menerima energi dan pengobatan dari Nenek Ratih.


"Hah ...." ucap Paman yang tampaknya mulai sesak seraya mengatur nafasnya.


Tangan Nenek Ratih mulai terangkat tinggi ke atas. Pada saat yang bersamaan, aku melihat asap hitam yang sama, keluar dari ujung-ujung kuku kaki dan tangan Paman. Seketika wajah Paman dipenuhi peluh dingin sebesar biji jagung.


Asap putih dari ujung-ujung kuku kaki dan tangan tersebut mulai tampak bersih. Namun Nenek Ratih sudah kehilangan perut, pinggang hingga kakinya. Aku semakin menangis hebat karena merasa ini akan berakhir. Ini akan usai dan aku menyaksikan secara langsung. Sungguh pemandangan yang menyakitkan.


Sementara suara histeris dari bocah perempuan di kejauhan semakin terdengar hingga terasa menusuk di setiap sendi tubuhku. Aku menyambut suara isak tangis tersebut dengan air mataku. Aku sungguh-sungguh tidak berguna dan merasa bodoh.


"Terakhir," kata Nenek Ratih dengan suaranya yang sangat lemah seperti sudah tidak bertenaga. "Aaa ...." teriaknya dan saat itu, ia kehilangan tubuh hingga batas dadanya.


"Aaaung ...." Terdengar suara aungan yang sangat tipis namun seperti menyayat telinga ku.


Dengan mata yang basah, aku melihat dan terus mengikuti arah putaran Kakek Singgih. Kakek Singgih terus mengaung seakan ingin berteriak pada dunia dan mengatakan, "Inilah kami, demi tuan kami, kami bersedia menjadi asap, kami rela menjadi abu, kami sanggup menjadi debu."


Tak lama, bocah kecil itu berlari ke arah Nenek Ratih dan ia mengeluarkan sesuatu seperti cahaya kuning kemerahan dari seluruh tubuhnya dan ia mengarahkan pada Nenek Ratih.


Awalnya Nenek sudah tampak sangat lemah dan tidak berdaya, tapi putrinya membuat mata yang telah kuyu tersebut kembali terbuka lebar. Saat itu, aku dapat merasakan bahwa Nenek Ratih mendapat keinginan hidupnya kembali.


Bukan hanya bocah tersebut dan Kakek Singgih, tapi juga Mbah Siji dan juga beberapa makhluk lainnya yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.


Ada yang berwujud seperti katak, ada yang seperti manusia tapi berekor panjang hingga mampu membelit dirinya sendiri, ada yang seperti kera dan masih banyak yang lainnya.


Mereka semua tampak menyatukan energi mereka yang masih tersisa. Raungan dan teriakan terdengar memenuhi ruangan. Mereka semua tampak setengah mati memperjuangkan sesuatu yang berharga untukku yaitu Paman dan ilmunya yang bermanfaat.


Bersambung.


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘