
βCinta itu dibawa oleh Adam dan hawa. Kemudian diteruskan oleh Rama dan Sinta. Lalu dibawa mati oleh Romet dan Juliet. Semoga saja dihidupkan kembali sama kamu dan aku," ucapku dengan suara yang kecil dan ringan.
Aku membaca kertas kecil segi empat dengan Tinta Emas yang diletakkan tidak jauh dari bunga mawar merah di atas meja, di sebelah ranjang di mana aku tergeletak dengan posisi punggung berada di atas. "Rio," ucapku sambil menyebutkan nama pengirimnya.
"Eeeemh ... romantisnya," ucapku dengan suara yang samar-samar terdengar.
"Masak sih?" tanya Kak Rio yang sudah berada di bawah ranjang perawatan ku. Kedua lututnya menyentuh lantai dan matanya menatap mataku.
"Ha ha ha ha ha ... sejak kapan Kakak jadi laki-laki romantis seperti itu?"
"Sebenarnya aku memang pria yang romantis, hanya saja selama ini aku takut salah sikap padamu, Sarah. Kita baru mengenal satu sama lain jadi aku pikir, jika aku romantis, kamu malah bilang sok manis nantinya. Padahal aku memang manis."
"Waaah ... aku baru tau kalau Kakak sangat percaya diri. Wajar saja jadi pimpinan BEM," ucapku memuji.
"Sarah," ucapnya sambil menyentuh pipi kiri ku dengan jari-jari tangannya. "Aku memang pernah memiliki pacar, tapi aku rasa itu bukan karena cinta melainkan rasa suka atau simpatik. Tapi sama kamu, aku yakin sekali kalau aku sudah jatuh cinta."
"Kenapa bisa seyakin itu, Kak?"
"Karena aku sangat takut kehilangan kamu dan rasanya, saat melihat kamu terluka, aku lebih terluka lagi."
"Soal itu, aku juga merasakannya.''
"Tapi apa yang kamu lakukan itu bodoh sekali, Sarah. Harusnya aku yang melindungi kamu, bukan sebaliknya."
"Sama saja Kak Rio, kalau Kakak jadi aku gimana?"
"Aku juga akan melakukan hal yang sama, menghadapi api itu bersama-sama," ucap Kak Rio yang tampak mengingat dengan baik ucapan dariku saat ruangan tersebut sudah penuh dengan kobaran api.
"Iya Kak, aku percaya itu." Lalu Kak Rio mencium dahiku.
"Dimana Ayah dan Feli, Kak?"
"Mereka sedang mengurus Sinta dan Ibunya. Kamu tau Sayang, ternyata empat mayat lainnya juga sama spesialnya seperti kamu. Tadi waktu orang tua dan keluarga mereka datang, rasanya sedih sekali. Ada yang anak semata wayang di dalam keluarganya. Kejam sekali manusia seperti laki-laki yang terbakar tersebut," ucap Kak Rio yang belum tau bahwa laki-laki tersebut adalah Pamannya Sinta.
"Iya, Kak. Sebenarnya apa yang terjadi sama kakak malam itu?"
"Aku kembali duduk di ruang tamu dan tiba-tiba, aku seperti dipukul dari belakang. Ngak tau apa yang terjadi, yang jelas aku bangun sudah terikat di atas ranjang yang banyak sekali lilin mengelilingi tubuhku. Perasaanku jadi sangat tidak enak, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisi mulut tertutup lak ban dan tubuh yang terikat kuat," jelasnya.
"Pengalaman yang sangat mengerikan ya, Kak?"
"Tadinya aku pikir semuanya akan berakhir. Tapi ternyata aku salah, gadis misterius yang satunya lagi datang. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Ngak tau aku kalau ngak ada kalian berdua."
"Kak Rio! ketawanya gitu banget."
"Bersama kalian, aku benar-benar menjadi lebih hidup. Jujur, aku suka terjebak dalam kehidupan kalian yang misterius, asal jangan dalam cinta yang misterius."
"Ngak lah, Kak. Cintaku cuma satu dan itu sangat jelas sekali."
"Heemh ... pintarnya."
"Jangan buat aku malu ah ... Kakak jangan usil."
"Sayang, boleh lihat punggungnya?"
"Itukan sedang diperban, Kak. Gimana mau lihat coba?"
"Lihat aja!"
Kak Rio berdiri dan membuka selimut putih dengan motif gratis lurus berwarna hitam dan biru. Cukup lama ia berdiri, lalu akhirnya kembali lagi duduk si bawah dan ia mengatakan, " Ternyata kamu sangat kuat, Sarah. Punggungmu habis terbakar, tapi kamu sama sekali tidak berteriak. Aku ingat, kamu hanya menangis kecil seolah itu hanya sakit perut biasa."
"Haaaaai ...." sapa Feli dan Rian, kemudian disusul Ayah yang masuk ke dalam kamar perawatan ku secara bersama-sama.
"Hai juga."
"Sarah, gimana kabar kamu siang ini?" tanya Feli sembari menyodorkan ujung es cream vanila di dekat mulutku. "Ayo makan!" ucapnya dan aku segera memakan es cream yang tampak nikmat tersebut. "Bagaiamana? enak?"
"Sebenarnya enak sekali, Fel. Hanya saja ... aku belum terbiasa makan dengan posisi seperti ini."
"Iya ... sabar ya. Aku sudah mendengar cerita dari Kak Rio semalam. Makasih ya karena kamu sudah sangat perduli padaku."
"Kembali kasih ... tapi tetap saja kamu yang menyelamatkan aku."
"Hebat ya. Kalian itu bukan saudara kandung, tapi bisa saling menjaga dengan baik satu dengan yang lainnya. Ayah kagum pada kalian berdua dan Ayah sangaaaat yakin, bila Ayah sudah tiada nanti, kalian berdua akan selalu seperti ini," ucap Ayah yang duduk di kursi dan aku hanya bisa melirik kearahnya. Sedangkan Feli dan Rian mengikuti jejak Kak Rio untuk duduk di bawah.
"Aku juga minta maaf pada semuanya, ini semua gara-gara aku. Sebenarnya sejak awal tas itu diberikan kepadaku, aku sudah sering mimpi buruk, tapi saat itu aku hanya berpikir mungkin karena aku masih merasa bersalah dan belum iklas dengan kepergian Sinta," ungkap Rian.
"Aku ingat, waktu itu Sinta bilang, jika aku sudah menemukan cintaku maka, aku harus memberikan ini padanya supaya Sinta tenang. Tapi hal itu malah dimanfaatkan oleh Ibunya."
"Aku tidak menyangka, manusia lembut seperti Bu Puji bisa melakukan hal semengerikan ini," tambah Rian.
"Yang jelas, mulai sekarang kita harus sangat hati-hati dan jangan melepaskan gadis-gadis unik ini berjalan sendiri," sahut Kak Rio.
"Ayah harap kalian semua selalu bisa saling menjaga ya! jadi Feli dan Rian, kalian sudah pacaran begitu?" tanya Ayah sambil memperhatikan keduanya.
"Ayah, apa tidak ada pertanyaan yang lain?" tanya Feli dengan muka yang mulai memerah.
"Ha ha ha ha ha ha ha. Tapi Ayah sangat heran, apa hubungannya tas itu dengan semua kejadian ini?" tanya Ayah yang memang tidak tau tentang kebenaran tas Sinta.
"Begini ,Yah. Setelah dilihat, ternyata di dalam tas tersebut ada jimat untuk menukar jiwa yang awalnya dikira oleh ibu Puji bertujuan untuk menukar antara jiwa Sinta dan Feli sehingga Sinta dapat hidup kembali," jelas Feli.
"Iya ... makanya Bu Puji juga menggali kuburan Sinta dan mengambil mayatnya. Jadi dia pikir, setelah semua ini selesai, roh Sinta tinggal dipindahkan ke dalam jasad tersebut."
"Sangat mengerikan," tukas Ayah.
"Tapi ternyata Bu Puji dibohongi, Yah. Kami ini semua hanya dijadikan tumbal oleh Pamannya Sinta," sahut ku.
"Kejam sekali. Ditambah lagi melihat mayat yang lainnya, mereka sangat muda."
"Selain itu, mereka juga anak-anak indigo Ayah."
"Aneh sekali."
"Kalau sependengaranku, mereka mengatakan jika akan banyak aliran-aliran pemujaan sejenis sehingga anak-anak spesial ini dikhawatirkan akan menjadi penghalang untuk perkembangan aliran mereka," kata Kak Rio dengan sangat yakin.
"Tenang saja, hal ini kan sudah ditangani dan diambil alih oleh pihak kepolisian. Lagi pula, fakta seperti yang mereka lihat saat ini sudah sangat jelas. Semoga mereka bisa menyikapinya segera, sebelum aliran seperti ini merajalela."
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya π€
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih ππ