ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEMBALI


"Alhamdulillah ... kalian sudah kembali," ucap Paman sambil menatap kami satu persatu. "Komandan, sebaiknya anda pulang untuk melihat kondisi Azura!"


"Baiklah, tapi saya ingin memastikan kondisi mereka bertiga dulu agar tenang. Saya punya teman medis yang paten dan tadi sudah saya hubungi. Tunggu sebentar, saya panggil dulu."


"Iya, terimakasih Komandan."


*****


Proses pemeriksaan terjadi, menurut Dokter kami semua dalam keadaan baik. Rasanya badanku letih sekali dan aku memilih untuk menyandarkan tubuhku di tembok. "Apa yang sakit?"


"Kaki, Dokter," jawabku sembari memegang kakiku.


"Ini harus terapi ya dan untuk sementara, gunakan kursi roda saja untuk mengistirahatkan kakinya."


"Baiklah ... terimakasih Dokter."


Feli dan Rian saling bertatapan. Feli tampak sangat bingung dengan semua keadaan, tapi Paman langsung menjelaskan tentang perkara dan hubungan (status barunya) dengan Rian.


"Jadi?" tanya Feli dengan wajah yang tampak bingung.


"Selamat ya, Feli. Jodohmu sudah datang," ucapku sambil tersenyum.


Feli tampak masih sangat bingung dan dia terus memandang suaminya itu dengan tatapan yang aneh. "Jangan menatapku seperti itu! Tenang saja! Kita akan melakukannya perlahan."


"Ini seperti mimpi," ucap Feli sambil menekuk kedua alis matanya.


"Mulai sekarang akan banyak yang berubah, jadi pahamilah itu!"


"Iya .... " sahut Feli tampak pasrah.


"Sarah?"


"Aku ingin bersih-bersih dan menemui Ayah."


"Dokter, apakah saya sudah bisa lepas dari jarum ini? Saya sudah merasa baik, hanya sedikit lemas dan saya yakin, jika saya sudah makan dan minum, semua akan baik-baik saja."


"Saya mengerti dan saya akan memberikan kalian resep untuk ditebus. Satu lagi, jika kamu merasa butuh terapi, silahkan hubungi saya, Sarah."


"Terimakasih, Dokter."


"Baik, kalau gitu saya pamit dulu ya."


"Sarah, terima kasih untuk semuanya ya," ucap Komandan Arya sambil memegang kepalaku. Tadi saya dapat telepon dan kata orang rumah saya, Azura juga sudah sadar.


"Sama-sama, Ndan."


"Ayo sini, saya akan menggendong kamu ke kursi sofa." Lalu komandan Arya menggendong ku ke kursi sofa yang tidak jauh dari ranjang Feli. Setelah aku duduk dengan nyaman, komandan langsung mendekati Feli dan mengatakan hal yang sama kepadanya.


"Saya berhutang nyawa pada kalian semua. Jika butuh bantuan saya, jangan segan-segan ya!!"


"Iya, Ndan."


"Pak Ahmad, saya pamit dulu dan untuk suatu biaya rumah sakit akan saya tanggung. Nanti kita jumpa lagi, saya lihat Azura terlebih dahulu," kata Komandan Arya sambil menatap ke arah kami yang sudah mulai duduk. "Assalamu'alaikum .... "


"Waalaikum salam," sahut kami bersamaan.


*****


Sore menjelang magrib, kami sudah makan dan minuman serta bersih dan rapi. Dalam ketenangan, aku melihat mata Feli masih liar memperhatikan ke arah luar jendela kamar. Aku tidak tahu apa yang dia lihat atau pun perhatikan, yang jelas ia seperti mencari sesuatu yang tampak berharga bagi dirinya.


"Feli, ada apa?" tanya ku yang terus memperhatikan kegelisahan dan gelagat Feli sejak tadi siang.


"Di mana Ayah?" tanya Feli yang merasa curiga karena Ayah tidak biasa bersikap seperti ini (cuek dan tidak datang untuk menjenguk).


"Ayah sedang di ruang perawatannya. Kalau kita sudah dalam kondisi yang jauh lebih baik dan stabil, kita akan menjenguk Ayah," jawab ku sambil mengatur nafas dan berbicara dengan tenang.


"Ayah baik-baik saja kan?"


"Iya, alhamdulillah ... Allah masih memberikan kita kesempatan untuk berkumpul bersama Ayah."


"Sarah, Feli, ini obat kalian yang baru aku tebus. Jangan lupa diminum!!"ucap Rian memecah pembicaraan kami sambil membuka tutup botol air mineral dan menyodorkan nya kepada Feli dan juga aku.


"Apa Kak Rio tahu soal ini?" tanya Feli sambil menatapku.


"Tidak, dia tidak tahu. Lagipula dia sangat sibuk saat ini dan kita juga dalam keadaan aman-aman saja. Jadi sebaiknya biarkan dia menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu, jangan mengganggu nya!"


"Aku mengerti," sahut Feli.


Tak lama Paman kembali masuk ke dalam kamar perawatan dan menyerahkan botol air mineral dalam ukuran besar kepada Rian. Paman mengatakan bahwa ia sebaiknya menguras wajah tangan hingga kaki Feli dan ketika Feli merasa sudah lebih baik, maka Feli melakukan hal yang sama terhadap diriku, agar aku juga cepat pulih.


"Iya Paman," kata Rian yang langsung melakukan perintah Pamannya.


"Ya ampun rasanya sulit dipahami dan ini benar-benar seperti mimpi," ucap Feli sekali lagi yang merasa tidak percaya bahwa dia sekarang adalah seorang istri bukan lagi pacar.


Hari sudah mulai malam. Sebenarnya Feli sudah diizinkan untuk pulang, tapi Rian menahannya dan ingin ia benar-benar pulih. Untuk itu, kami menambahkan waktu semalam untuk merawat Feli.


*****


Pagi menjelang, saat ini Feli sudah terbebas dari jarum infus dan ia meminta kepadaku untuk bertemu dengan Ayah. Melihat keinginan Feli yang kuat, aku segera mengiyakannya karena memang semua ini sudah tidak bisa ditahan lagi.


Kami berjalan perlahan menuju kamar perawatan Ayah. Seharusnya saat ini Ayah sudah bangun dan semalaman Ayah ditemani oleh Paman.


"Assalamu'alaikum .... " ucapku, Feli dan Rian.


"Waalaikum salam .... " sahut Paman dan Ayah bersamaan.


"Kalian sudah sehat semua?" tanya Ayah.


"Iya Yah, kami dalam kondisi baik."


Sebenarnya hingga saat ini Feli dan Rian sama sekali tidak mengetahui kondisi Ayah yang sebenarnya. Sehingga masih banyak senyum di wajah Feli saat menatap Ayah.


"Ayah, bagaimana keadaan Ayah?"


"Ayah baik, Feli. Selamat ya untuk pernikahan kamu dan Rian."


"Ayah jangan ikutan membuat aku bingung."


"Ha ha ha ha ha ... harusnya kamu bahagia."


"Cobalah untuk tidak mengolok-olok aku dan Rian Ayah."


"Baiklah. Heeem, kalian anak-anak yang hebat dan pemberani. Tapi kalau Ayah boleh meminta, kalau bisa jangan lagi kalian ikut campur urusan seperti ini! Ini terlalu berat."


"Iya, Yah."


"Seandainya kalian tidak selamat, Ayah pasti sangat merasa berdosa karena semua ini atas permintaan dan keinginan Ayah."


"Sudahlah Pak Ardy! Apa yang terjadi saat ini adalah takdir Ilahi. Apa yang anda inginkan semua karena rasa kemanusiaan. Tidak ada satu orang tua pun yang tega melihat anaknya menderita makanya anda bersedia menolong mereka semua," ucap Paman membesarkan hati Ayah.


"Tapi saya tidak tau jika kenyataannya seperti ini, Pak Ahmad."


"Kita memang makhluk yang lemah dan tidak tau apa-apa, jadi wajar saja. Seharusnya kita bersyukur karena anak-anak kita mampu menjadi orang-orang yang bermanfaat."


"Amin. Terimakasih untuk bantuan anda, Pak Ahmad."


"Sama-sama, Pak Ardy."


"Ayah, aku juga mau minta maaf karena aku terlalu sering menyusahkan Ayah. Padahal aku ini bukan siapa-siapa, aku bukan anak kandung Ayah," ucap Feli sambil tertunduk.


"Jangan lagi bicara seperti itu! Bukannya kita pernah membahas soal ini? Dengar! Jika Ayah sudah tiada nanti, Ayah ingin kamu dan Sarah saling menjaga."


"Iya Ayah, aku janji," sahut Feli. "Ayah, apa boleh aku mencium kedua kaki Ayah? Aku sudah menikah dan aku ingin melakukannya. Ayah kandung ku pasti tidak akan perduli dengan keinginan ku ini."


"Tapi Feli .... " Ayah berusaha mengatakannya, tapi Feli terlanjur menyentuh bagian kaki Ayah yang sudah tiada.


Saat tangan Feli tidak mampu merasakan kedua bagian kaki Ayah, mulai dari lutut hingga telapak kaki, Feli langsung terkejut dan menangis hebat. "Ayah .... " ucap Feli sambil menangis dan mencium punggung tangan kiri Ayah.


"Ternyata yang aku lihat itu bukan mimpi, aku ingat saat Ayah melawan iblis jahat itu saat dia hampir mencengkram leherku," ucap Feli yang mengingat dan melihat kejadian yang sebenarnya. "Iblis itu menjatuhkan kayu besar di kedua kaki Ayah dan Ayah memintaku untuk lari, Ayah sudah menyelamatkan aku."


"Sudah, Feli," kata Ayah sambil memegang kepalanya.


"Ayah kandung ku saja membuang ku, mengusir ku, menjauhkan ku dari dalam pelukannya. Namun Ayah malah menyelamatkan aku dan membawaku dalam perlindungan dan rumah yang hangat."


"Sudahlah, sudah! Ayah sudah ikhlaskan segalanya. Yang penting kalian semua selamat."


"Ayah .... " ucap Feli tidak ingin berhenti menangis dan semua itu membuat aku, Rian dan Paman ikut menangis.


Ternyata saat keluar dari ruangan gelap itu Ayah memang sudah terluka. Pantas saja Ayah sulit untuk berdiri dan berlari. Ditambah lagi Ayah yang menjadi tameng untukku saat kaca-kaca kecil itu menyerang dan menghujani ku. Ayah memang kuat dan hebat, dia Ayahku.


“Jika di kaki Ibu, kita akan menemukan Surga, maka di kaki Ayah, kita akan menemukan kekuatan dan pelajaran tentang perjuangan Hidup. Bagiku, Ayah dan Ibu layaknya pelita sebagai penerang hidup. Ibarat cahaya lilin yang selalu setia menerangi setiap sudut jalan gelap dalam hidup. Dan sebagai semangat yang menjadi motivasi untuk tetap kuat dan terus melangkah maju.”


bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘