ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PERANG 3


Di bagian lainnya, Rian dan Feli berhasil mengumpulkan 3 orang mahasiswa yang masih hidup, walau dalam keadaan sangat lemas, berkat kemampuan Feli. Tapi karena semua kemampuan tersebut mengeluarkan energi sangat besar, tubuh dan pikiran Feli pun menjadi lemah.


"Kalian semua bisa jalan sendiri?" tanya Rian saat membangunkan 2 mahasiswa dan seorang mahasiswi.


"Aduh ... sakit banget badanku. Dimana ini?" tanya salah satu mahasiswa berbaju merah sembari menatap ruang kelas yang tampak gelap.


"Gila, apa kita ketiduran di kampus, Sob?" tanya seorang mahasiswa berbaju putih pada mahasiswa yang satunya lagi.


"Dengar! Nanti saja bertanya nya. Yang penting saat ini, kalian harus segera keluar dari sini sebelum terlambat."


"Iya .... " ucap mereka saling tatap.


"Ayo berdiri!"


Feli dan Rian memegang tangan mereka dan pada saat semuanya sudah berada di dekat pintu keluar, pintu ruangan tersebut tertutup dan terkunci dengan sendirinya.


"Astagfirullah hal azim .... " ucap Rian dan Feli bersamaan.


"Ada yang tidak beres kan, disini?" tanya Sila sambil menatap ke arah Feli. Sila adalah satu teman seangkatan kami, tapi beda kelas. Walau begitu, Feli cukup hafal pada Sila karena mereka pernah satu kelompok saat pengenalan kampus.


"Iya, makanya kita harus bergegas keluar dari sini," ucap Feli sambil menepuk-nepuk halus pundak Sila. Sementara dua mahasiswa lainnya sedang membantu Rian membuka pintu yang tiba-tiba terkunci dengan sendirinya.


"Sialll, nggak bisa," ucap mahasiswa berbaju merah sembari menendang-nendang pintu tersebut.


Tak lama, Feli meraba bagian pintu yang terkunci tersebut. Raut wajah Feli tampak bingung dan itu membuat Rian cemas. "Feli, ada apa?"


"Ini bukan jalan keluarnya."


"Lalu dimana?" tanya Rian heran karena sangat yakin dengan apa yang ia lihat, bahwa pintu tersebut adalah pintu dimana pertama kalinya mereka masuk ke dalam ruang kelas tersebut.


"Ini sihir, bantu aku Rian!"


"Baik, tapi kamu sudah sangat lemah Feli."


"Makanya kita harus segera keluar karena bagian diriku yang lain sudah sangat merasa lemah."


"Aku mengerti." Rian mundur ke tengah-tengah ruangan dan berusaha untuk khusyuk. "kalian semua, tolong bantu aku dengan ayat-ayat suci al-quran apa saja yang kalian ketahui. Jika ada yang beragama lain, silahkan bantu dengan cara kalian masing-masing!"


Mereka bertiga tampak bingung dan saling menatap, kemudian mereka semua melihat ke arah Rian. "Astagfirullah hal azim .... " ujar Rian sambil mengusap wajahnya.


Rian baru saja ingin mengangkat kedua tangannya. Namun sesuatu yang sangat cepat bergerak (merayap) dan mendekati tubuh Rian, lalu menutup wajah Rian dengan kedua tangannya yang tampak lebar dan panjang.


"Rian!" teriak Feli yang saat itu melihat makhluk misterius tersebut bergerak sangat cepat ke arah Rian, tapi Feli tidak mampu mengejar Rian atau pun memperingatkan suaminya.


Gerakan makhluk tersebut sangat cepat hingga Feli tak mampu berkutik. Sementara yang lainnya hanya bingung karena melihat tubuh Rian tertarik cukup jauh. Wajar saja, mereka memang tidak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi karena mata batin mereka tidak terbuka.


Rian menahan gerakan menarik yang cepat tersebut dengan menekuk kedua lututnya dan ia kembali memohon pertolongan dari Allah. Saat ini Rian tidak bersama yang lainnya karena kondisi Paman juga sangat sulit.


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... "Allahu Akbar. Tampakkan wujud mu, wahai iblis! Aku sama sekali tidak takut padamu, keturunan mu, maupun leluhur mu!!" teriak Rian dan tubuhnya seketika terlempar ke dinding tidak jauh dari ketiga mahasiswa yang lainnya.


"Aaak .... " teriak Sila yang ketakutan sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Kamu nggak apa-apa, Bro?" tanya dua mahasiswa lainnya sambil mengangkat tubuh Rian.


"Iya .... " sahut Rian sembari menghapus tetesan darah yang keluar dari lubang hidung bagian kirinya. "Jangan ada yang kosong! Jangan ada yang lemah! Teruslah mengisi mulut, pikiran dan hati kalian dengan nama Allah!" Namun pada saat yang bersamaan Sila terus menangis dengan bibirnya yang gemetaran.


Feli dan Rian saling menatap dari sisi yang cukup berjauhan. Selang beberapa detik, Feli mendengar suara lendir yang menetes di lantai. Suaranya cukup kuat dan berat sehingga mudah untuk di dengarkan.


Mata Feli terbuka lembar, jantungnya pun mulai berpacu. Namun jiwa Feli tidak lemah dan bodoh. Apalagi jika ia mengingat sahabatnya Sarah. Aku tidak boleh mati disini! Ujian Sarah pasti lebih besar daripada yang aku dan Rian hadapi saat ini. Aku ingin sekali membantunya ya Allah. Ucap Feli di dalam hati sambil menggenggam kedua tangannya sangat erat sambil berucap di dalam hati,


أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُ هُنَّ بَرُّ وَلاَ فَا جِرُ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذّرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُ قُ بِخَيْرٍ يَا رَححْمَنُ


"Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân……..…” [Doa mengusir setan jahat, HR. Ahmad]


Lalu Feli membalik badan dengan tatapan yang tajam, seolah menantang makhluk tersebut dengan pandangannya yang kejam. "Kali ini, aku yang akan merobek wujud mu dengan kehendak Allaaah," teriak Feli dengan matanya yang berair, wajahnya yang gemetaran dan tangannya yang mencengkram seperti harimau yang siap menerkam.


Feli mengayunkan tangan kanan dan kirinya berulang kali ke arah makhluk misterius tersebut. Tubuh Feli jauh lebih kecil dari pada tubuh makhluk tersebut, hingga Feli hanya dapat mengoyak bagian perutnya, tapi luka itu membuat makhluk hitam bertubuh besar tersebut meraung. "Aaagr .... " raungan makhluk tersebut terdengar penuh di dalam ruangan hingga membuat ketiga mahasiswa lainnya menatap seluruh bagian ruangan dari atas hingga bawah, dari kiri hingga kanan.


Tiba-tiba Sila menggigil hebat, ia tidak dapat mengontrol dirinya. Perlahan, sila mundur ke belakang hingga tubuhnya menempel ke dinding dan tiba-tiba dia terdiam dengan wajah yang tertunduk.


"Sila, kamu nggak papa?" tanya Feli dari jarak yang cukup jauh.


"Hei, kamu kenapa? jangan main-main deh!" ujar mahasiswa lainnya. "Ini sudah mencekam, jangan nambah-nambah lagi!"


Krak krak Krak


Terdengar suara seperti tulang leher yang patah, ketika Sila menolehkan kepalanya ke kiri, ke kanan dan lurus saat melihat kami. Wajahnya pucat, bahkan dari mulutnya keluar cairan bening yang banyak.


"Pergi dari situ, kalian semua!!" ucap Feli sambil memberikan isyarat dengan tangan kanannya.


"Terlambaaat, ha ha ha ha ha ha ha ha .... " ucap makhluk yang bersemayam di tubuh Sila dan Feli yakin sekali kalau itu adalah makhluk yang berbeda karena suaranya tidak besar dan menggema.


Tubuh Sila bergerak dengan cepat dan mencengkram leher kedua mahasiswa yang tampak kebingungan serta ketakutan. Tubuh mereka yang besar tinggi terangkat ke atas saat disandarkan di tembok. Itu memang bukan Sila, mana mungkin Sila mampu melakukannya. Ucap Feli di dalam hati.


Feli sudah bergerak dan ingin berlari ke arah keduanya. Tapi pada saat yang bersamaan, kaki Feli tergelincir oleh cairan licin yang pekat dan banyak hingga dagunya terantuk lantai keras dan terluka. "Allah .... " ucap Feli sambil berusaha menegakkan kepalanya.


"Feli ...!" teriak Rian yang sedang berlari ke arah Sila.


"Aku tidak apa-apa. Tolong mereka!"


"Sila, hamba Allah. Ingatlah kamu akan dirimu karena sesungguhnya engkau adalah golongan dari makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna," ucap Rian yang sudah berada di belakang Sila dalam jarak yang cukup jauh.


Rian mulai membacakan ayat-ayat pendek Al-Quran, sambil terus menatap ke arah ubun-ubun Sila yang tubuhnya memang lebih pendek dari pada Rian. Sekitar 5 menit berlalu, tangan Sila tiba-tiba melemah dan menjatuhkan kedua mahasiswa lainnya.


"Pergi! Keluar dari tubuh hamba Allah!"


"Ihi hi hi hi hi hi hi hi hi," tawanya yang terdengar kuat hingga mengusik pendengaran.


"Gila, apa itu?"


Tiba-tiba dengan sangat cepat, tubuh Sila berputar hingga antara Rian dan Sila saling berhadapan dan bertatapan. "Ihi hi hi hi hi hi hi hi hi, jangan mengganggu ku!"


"Keluar dari sana! Itu tubuh milik hamba Allah."


"Ini wadah ku."


"Roh fasik seperti kamu, jangankan manusia. Bahkan tanah pun tidak rela kamu tinggali." Rian berkata dengan tegas dan ucapannya tersebut membuat Sila marah dan menghentikan tawanya.


Sila menampakkan wujud yang sangat mengerikan. Wajahnya yang semula putih mulus, pelan-pelan memperlihatkan lukanya yang banyak. Dari luka-luka tersebut, keluarlah darah seperti pancuran mata air berwarna merah beserta belatung berwarna putih, sehingga kedua warna tersebut sangat mencolok.


"Astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim ... astagfirullah hal azim. Apa yang kamu lakukan ini, tidak akan menggetarkan hatiku, wahai iblis."


"Ya ampun ... sangat menjijikkan dan menyeramkan. Ayo kita menjauh!" ucap kedua mahasiswa yang menutup mulut dengan tangannya.


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ


"A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim (artinya, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."


بِسْــــــــمِ اللَّــــــــهِ الرَّحْمَــــــــنِ الرَّحِيــــــــمِ {1} الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {2} الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ {3} مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ {4} إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ {5} اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ {6} صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَالضَّآلِّينَ {7}


"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (1) Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam (2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Yang menguasai  hari pembalasan (4) Hanya Engkaulah yang kami sembah,  dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan (5) Tunjukilah  kami jalan yang lurus (6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat (7) (surat Al Faatihah : 1-7)"


اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


"Aaaaggggg ... aaaggggg ... aaaggggg ... aaaaggggg ... aaaggggg ... aaaggggg .... "


ucap roh fasik tersebut sambil meronta-tonta kesakitan. Ia tampak sudah tidak kuat lagi di dalam raga Sila. Asap putih mulai keluar dari kepalanya, seperti asap rokok yang baru saja dibakar dan Rian terus melanjutkan ayat-ayat suci Al-Quran tepat dihadapannya.


"Binasalah kamu!!" ucap Rian sambil menunjuk ke arah ubun-ubun Sila.


Tubuh Sila jatuh di lantai, seakan-akan meleleh. Suasana berisik dan mencekam berubah menjadi tenang, namun terlihat jelas ketakutan di mata kedua mahasiswa yang lainnya.


"Tolong, bantu Sila," ucap Rian sambil menatap dua mahasiswa yang berada cukup jauh dari Sila.


"Apa sudah aman?"


"Iya."


Untuk sesaat, kehadiran makhluk misterius sejenisnya tidak dapat di lihat lagi oleh Rian dan Feli. Oleh karenanya, mereka berpikir bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk keluar dari ruangan ini.


"Sayang, kamu nggak papa?" tanya Rian sambil menyentuh dagu Feli yang terluka.


"Rian, sekarang!" ucap Feli sambil mengangguk.


"Baiklah .... "


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ


Latin: "A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim (artinya, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."


"Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir."


Artinya: Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.


Setelah membaca Ayat tersebut, Rian melanjutkan dengan membaca dua ayat penutup surat Al-Baqarah dan diakhiri dengan dzikir. Sementara Feli terus melihat sekitar dan pada saat Rian selesai membacakan dzikir, Feli pun menemukan jalan keluar yang sebenarnya.


"Di sana!" ucap Feli sambil menunjuk ke arah belakang tubuh Rian.


"Bagaimana bisa?" tanya Rian dan yang lainnya.


"Itu jalan yang benar dan ini adalah jalan yang salah. Siapapun itu, ia berniat untuk membantu kita," ucap Feli sangat yakin.


"Tunggu di sini, biar aku yang melihatnya!" ujar Rian sambil berjalan ke arah yang Feli tunjukkan.


*****


"Ayo!!" ucap Rian saat pintunya sudah terbuka, tapi pada saat yang bersamaan, Feli tidak mampu lagi mengangkat kedua kakinya (tenaganya sudah terkuras habis).


"Iya," sahut Feli, tapi tubuhnya diam terpaku.


"Sayang," panggil Rian sambil berlari ke arah Feli karena merasa ada yang salah. Tapi disaat yang bersamaan, sebelum Rian mampu menangkap tubuh Feli, sesuatu yang sangat besar berwarna hitam menyerupai tangan, menarik kepala Feli sangat kuat hingga masuk ke dalam ruangan lain (melewati pintu yang salah).


"Feliii!!" teriak Rian terus mempercepat gerakan kakinya, namun Rian terlambat. "Sayaaang .... "


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.