ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TRAGEDI 3


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ... kalian pikir, aku sama dengan Rima yang dulu? Mungkin Betul kata orang jika seseorang sudah masuk di dalam kurungan penjara hanya 2 hal yang akan terjadi. Yang pertama jadi sadar dan baik, yang kedua jadi semakin jahat dan kejam. "


Tante Rima berjalan mengelilingi tubuhku yang masih terikat kuat di atas kursi sambil berbicara sendiri seperti orang gila. Ketika ia mendekati tubuh Feli, ia langsung menendang-nendang Feli sesuka hatinya.


"Entah kebetulan atau memang takdir, aku dikurung bersama seorang wanita yang memiliki kemampuan mistik yang luar biasa. Walaupun dia adalah dukun yang sangat kejam, tapi bagiku ilmu yang ia berikan sangat berguna. Aku belajar dari waktu ke waktu hanya untuk satu tujuan, yaitu melenyapkan kamu Sarah. "


Tante Rima menghentikan langkah kakinya di dekat kepala Feli, lalu ia duduk dan sepertinya berniat untuk menghabisi Feli. Tack, terdengar suara yang kuat seperti hantukkan kepala, disusul dengan teriakan dari Tante Rima. "Aaaaak ... aaaaak ... sialan kamu setan kecil! " ujar Tante Rima sambil memegang hidungnya yang mengeluarkan cukup banyak darah.


Aku sangat terkejut saat melihat Feli bangkit dari keadaannya yang terlihat sangat tidak berdaya. Dia mampu melewati batasnya hanya untuk menolongku. Entah kekuatan siapa yang ia pinjam, tapi ia berhasil dan itu membuat aku merasa sangat bahagia sekaligus malu.


Feli mengangkat palu dan mulai mendekati tubuh Tante Rima. "Hidup hanya sekali, tapi beda ceritanya dengan mati. Satu-satunya cara untuk mengurangi penjahat keji seperti kamu adalah dengan kematian. "


Feli menghempaskan palu ke arah kepala Tante Rima tapi ia berhasil menangkisnya. Tante Rima melayangkan tinjunya tapi Feli berhasil menghalaunya. Mereka bergulat seperti tidak punya pilihan selain menang untuk hidup, atau kalah lalu mati.


Aku terus berusaha untuk keluar dari jebakan kursi ini tapi memang ikatan Tante Rima sangat rapi. Sulit sekali bagiku untuk lepas, tapi aku tidak boleh menyerah. Aku memutuskan untuk menghancurkan kursi ini bagaimana pun caranya.


Aku tidak sanggup melihat Feli yang sudah penuh darah berjuang sendiri, makanya aku harus membantunya. Dengan cepat dan penuh semangat, aku menggerakkan tubuhku ke tembok lalu aku menghempas kursi kayu agar berbenturan dengan tembok dan hancur.


Percobaan pertama dan kedua gagal, aku melihat Feli sudah terpojok di dinding dengan banyak pukulan di wajahnya. Aku terus berusaha menghancurkan kursi tersebut sambil menangis hebat. Aku rasa Feli sudah tidak sanggup lagi dan aku rasa ia akan segera tiada.


Tapi pada saat yang bersamaan, Ayahku bergerak dari arah kamarnya dengan tubuh yang sempoyongan sambil memegang kepalanya tampak kesakitan. Ayah ... ucapku di dalam hati sambil menatapnya penuh harap. Tolong selamatkan Feli.


Ayah bergerak mendekati Tante Rima. Dengan cepat, Ayah menjambak rambut Tante Rima dan menariknya sangat kuat hingga tubuh Tante Rima tertarik ke belakang dan menjauhi Feli. Tante Rima menjerit cukup kuat, ia terlihat tidak percaya bahwa Ayah sudah sadar dan saat ini berusaha mencegah rencana gilanya.


Sementara Ayah sedang bergulat dengan Tante Rima yang tampak tidak tega menyakiti Ayah. Aku melihat ke arah Feli dalam posisiku yang terjatuh di lantai. Seperti tidak punya tulang, tubuh Feli lunglai sambil bersandar di dinding ruang keluarga, tidak jauh dari diriku dengan matanya yang terpejam.


"Kali ini kamu akan membusuk di penjara Rima. Sebentar lagi, polisi akan datang menangkap kamu sekali lagi dan kali ini aku janji, aku akan memenjarakan kamu seumur hidup," ucap Ayah sangat emosional sambil menekan mulut Tante Rima.


Feli berusaha membuka matanya dan bergerak ke arahku. Aku benar-benar merasa bodoh dan lemah. Bagaimana mungkin aku bisa seperti ini? Tanyaku di dalam hati. Feli mampu menggapai diriku dengan cara menyeret tubuhnya.


"Makasih Fel .... " ujarku saat mulut sudah terlepas dari lakban hitam yang sudah menyegel mulutku beberapa waktu ini.


Tanpa menjawab perkataan dari ku, Feli membuka ikatan tali dengan menggunakan pisau yang tergeletak tidak jauh dari kami. Namun belum tuntas usaha Feli, ia sudah terjatuh tidak berdaya.


"Fel ... Feli, bangun ....! " Tapi tidak ada sahutan dari Feli dan aku tidak mampu berbuat apa-apa.


Sementara di sudut sana, Tante Rima sudah tampak babak belur, begitu juga dengan Ayah. Teriakan demi teriakan yang kuat dari mulut Tante Rima dan kami semua, tidak mampu menembus suara gemuruh dan petir yang saling bersahutan. Sehingga hanya kami sendirilah yang menikmati semua penderitaan kami.


(Suara petir dan gemuruh yang saling bersahutan).


Ayah berjalan tertatih ke arahku, dengan sigap Ayah kembali memotong tali pengikat diriku dan berhasil. "Mas .... " panggil Tante Rima dengan lembut.


Ayah membalik tubuhnya sambil berdiri, sesaat setelah menyadari Tante Rima berada tepat di belakangnya. Tiba-tiba suara Ayah terhenyak seperti baru saja tertancap sesuatu yang menyakitkannya.


Ayah terduduk sambil memegang perutnya dan aku hanya terdiam tanpa bergerak karena sangat terkejut dengan apa yang baru saja aku lihat. Ayahku ditancap gunting cukup panjang oleh Tante Rima.


Tong ... tong ... tong ... tong ... tong ....


(Suara jam dinding besar yang menunjukkan pukul 00.00 WIB).


"Ayah .... " Aku segera menangkap tubuh Ayahku yang terjatuh lalu menekan lukanya dengan jaket milikku. "Ayah .... " teriakku tanpa putus.


Tante Rima tampak bingung dan menangis saat melihat Ayah tapi ia sangat marah saat melihatku. Awalnya Tante Rima tampak terdiam tapi ternyata tanpa ku duga, ia langsung menyerangku dengan gerakannya yang cepat sehingga aku tidak dapat menilai dan menerka gerakannya tersebut.


Craaaat ....


Darah mengalir dari atas hingga ke bawah. Mulai dari tetesan kecil hingga jadi kolam cukup besar di lantai.


Aku melihat tangan Ayah tepat di perut Tante Rima dan Tante Rima terdiam dengan matanya yang membesar. Ayah mendorong tangan dan pisau dapur yang ia pegang hingga tubuh Tante Rima terdorong beberapa langkah ke belakang.


Ayah sangat marah dan kalap kali ini, tanpa memikirkan rasa sakit dan luka yang ia derita, Ayah tetap mengejar Tante Rima dan menancapkan pisau tepat di perutnya sekali lagi hingga ia terdorong ke dinding dan tampak sekarat.


"Aku sedang hamil Mas ... aku sedang hamil anak kamu," ucap Tante Rima dengan suara setengah berbisik sambil menatap mata Ayah.


"Tidak mungkin ... tidak mungkin, " kata Ayah dengan berjuta rasa di hatinya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia, Sarah .... " Lalu suara Tante Rima menghilang.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘