ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KENYATAAN


2 hari kemudian.


"Permisi, sarapan .... " ujar seorang petugas yang mengurusi menu makanan di rumah sakit untuk para pasiennya.


"Silahkan Bu, taruh disini saja."


"Segera dihabiskan ya Mbak, atau disalin saja jika masih belum mau sarapan! "


"Baik Bu. "


"Ayah, sarapan dulu ya." Lalu aku menyuapi Ayah sarapan dengan perlahan.


"Hem."


"Kenapa Yah? "


"Untung ada kamu Sarah. "


"Bukannya semua ini terjadi gara-gara aku Ayah? "


"Tidak. Bahkan jika tidak ada kamu, mungkin saja sampai saat ini Ayah masih hidup di dalam dunia kebohongan."


"Hem ... iya Ayah. Ayo lanjutkan lagi sarapannya ...! "


"Iya Nak. Bagaimana keadaan Feli? "


"Hari ini harusnya Feli sudah diperbolehkan untuk pindah ruangan Ayah."


"Syukurlah ... oh iya Sarah, Ayah punya ide."


"Apa itu Yah? "


"Bagaimana jika setelah keluar dari rumah sakit ini, Feli tinggal saja bersama kita. Toh dia hanya sendirian kan dan menurut Ayah tidak ada salahnya jika kamu dan Feli hidup di satu rumah. Selain itu, Ayah juga lebih merasa aman saat meninggalkan kamu sendiri dirumah."


"Ayah serius? "


"Iya, lagipula ... sampai sekarang ini, Pak Antok masih belum memutuskan, apakah ia dan keluarganya akan pindah ke rumah kita atau tidak. Kalau dipikir-pikir, tidak masalah juga jika semua berkumpul di rumah kita itu Sarah. Rumah itu sangat besar dan kalau ramai rasanya akan lebih hidup dan seru."


"Ayah, aku rasa Feli akan senang dengan kabar ini. Semoga dia juga tidak keberatan buat tinggal bersama kita ya Yah. "


"Iya Sarah. "


"Wah, aku jadi bersemangat sekali ini Ayah."


"Setelah Ayah makan obat, sebaiknya kamu menemui Feli dan mengatakan niat baik Ayah tersebut."


"Baik Yah. Setuju. Makasih Ayah."


*****


Siap mengurus Ayah, aku langsung menuju ruang ICU untuk melihat kondisi Feli yang hari ini seharusnya bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Aku berjalan dengan langkah cepat dan merasa bahagia kali ini karena apa yang sedang aku pikirkan ternyata juga Ayah pikirkan dan aku berharap Feli juga bersedia tinggal di rumah bersama ku.


"Hai Feli, " sapaku dengan senyum ceria.


"Tumben senyumnya lebar. Dapat ciuman hangat dari Rio ya? "


"Sembarangan aja deh, ketemu juga nggak. Mungkin karya sedang survei lokasi dan sampai saat ini belum pulang makanya dia tidak tahu tentang keadaan yang sebenarnya."


"Bisa jadi. Oh iya ... kenapa ngak ditelpon saja? "


"Hpku tinggal dirumah dan aku belum pulang ke rumah tau. Takut .... "


"Jadi sudah dua hari tiga malam ngak mandi gitu? "


"Sembarangan. Aku mandi di kamar mandi ruangan Ayah Kok dan aku beli baju tau."


"Ha ha ha ha ha ha ha ... kirain," kata Feli dengan tawanya yang sedikit tertahan.


"Jam berapa pindahannya? "


"Bentar lagi bawel."


"Enak aja. Siapa yang bawel? Dasar sok tau."


"Ha ha ha ha ha ha ha."


"Ketawa aja terus! Oh iya Fel, aku mau menyampaikan pesan Ayah."


"Ayah? Ayah baik-baik aja kan? "


"Dasar ... Ayah baik dan sehat wal afiat Feli."


"Kirain ... pesan apa?"


"Kata Ayah, apa kamu bersedia tinggal bersama kami? Ayah sudah menganggap kamu seperti anak kandungnya sendiri. Makanya Ayah memintaku untuk menyampaikan pesan ini kepada kamu dan aku sangat berharap kamu bersedia untuk tinggal bersama kami. Aku ingin kamu bersamaku agar aku tidak merasa sendirian lagi Feli."


"Apa kamu yakin Sarah? Kita kan baru kenal."


"Ternyata kamu menganggap hubungan kita itu hanya sebatas baru kenal Fel? Kamu sudah nyelamatin aku Feli. Lagi pula, kamu satu-satunya sahabatku."


"Eeeeemh, gimana ya. Kasih aku waktu buat berpikir ya."


"Baiklah kalau begitu."


Setelah satu jam mengobrol, kami kedatangan salah satu Suster yang mengatakan bahwa ruangan Feli sudah tersedia dan Feli siap untuk dipindahkan sekarang juga. Rasanya kebahagiaan kami semakin bertambah. Begitu juga dengan rasa syukur kami karena hal ini membuktikan bahwa kesehatan Feli semakin membaik.


*****


Setibanya di ruang perawatan Feli yang ternyata tidak jauh dengan ruangan Ayah, aku langsung membersihkan tubuh sahabatku yang dapat aku jangkau tentunya. "Rasanya nyaman sekali, apalagi sudah terbebas dari alat-alat penjepit pakaian itu."


"Apa? Alat penjepit pakaian? Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Ada ada aja kamu Feli, tapi itu benar juga ya. Yang di jari itu memang persis sekali dengan alat penjepit pakaian."


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok


"Permisi .... "


"Ya, silahkan masuk! " ucapku dan Feli hampir bersamaan.


Aku dan Feli menatap tamu yang tidak terduga. Ada lima orang dan salah satunya adalah seorang polisi, lengkap dengan pakaian dinasnya. "Ada apa ini?" tanyaku dengan pandangan tajam ke arah semuanya yang tampak memiliki niat khusus pada kami.


"Kami keluarga Linda dan perkenalkan, ini adalah Oomnya Linda," ujar Mama Kak Linda sambil menyodorkan laki-laki paruh baya, yang ternyata adalah seorang polisi.


"Rekam!" ujar suara berbisik entah dari mana asalnya.


Aku memiringkan telingaku untuk meyakinkan pendengaranku. Dan sekali lagi, suara itu muncul kembali. "Sebentar, saya keluar sebentar dan tolong jangan mulai pembicaraan ini tanpa saya."


Aku segera berlari menuju ruang perawatan Ayah dan mengatakan kepadanya bahwa aku meminjam Hp milik Ayah untuk melakukan sesuatu. Pada saat itu Ayah sama sekali tidak keberatan dan Ayah memberitahuku di mana letak Hp Ayah.


Tidak ingin berlama-lama, aku segera mengambilnya kemudian kembali berlari menuju kamar perawatan Feli sembari mengaktifkan rekaman di aplikasi telepon milik Ayah tersebut.


"Kamu ngak papa Fel? " Lalu Feli menggelengkan kepalanya. "Apa ada ini Pak? Bu? Kelihatannya sangat penting sekali.


"Ini mengenai Linda, Anak kami sudah siuman sejak kemarin begitu juga dengan temannya," sahut Papanya Kak Linda yang tampak lega.


"Syukurlah kalau begitu Pak."


"Langsung saja ya. Kami ke sini karena satu alasan. Yaitu tentang keponakan kami yang di klaim sebagai tersangka dalam kasus yang menyebabkan saudara Feli kecelakaan. Apa itu benar?"


"Saya tidak tau bahwa orang yang sudah menabrak saya adalah Kak Linda Pak. Yang saya tau, saya ditabrak dengan sengaja oleh seseorang dan saya baru tau orang tersebut adalah senior saya di kampus, yaitu Kak Linda. Saya tau berdasarkan laporan dari pihak kepolisian," jawab Feli tegas.


"Owh begitu, jadi kamu tidak melihat langsung siapa pelakukanya? Kalau begitu, bisa saja bukan Linda kan? " ucapnya seakan ingin memutar fakta tapi aku terus merekamnya.


"Maksud Anda? " sahut ku. "Lagipula bagaimana mungkin Feli bisa tau langsung siapa yang menabraknya? Karena saat itu kondisinya malam hari dan Feli ditabrak dari samping."


"Jadi begini ya, kalau kalian tidak tahu persis siapa orang yang benar-benar sudah menabrak Feli, berarti bisa saja kalian melakukan pencemaran nama baik atas tuduhan kepada keponakan saya."


"Kami tidak menuduh siapapun di dalam kasus ini pak karena kami mendapatkan informasi dan kesimpulan dari pihak kepolisian bukan perorangan dan menurut saya, para polisi yang sudah menangani kasus Feli adalah orang-orang yang hebat dan mampu diandalkan. Jadi anda tidak perlu merasa khawatir karena tidak mungkin para polisi tersebut salah tangkap. "


"Iya, tapi ini bisa saja menjadi kasus pencemaran nama baik dak kasusnya akan berbalik. Anda malah nantinya yang akan menjadi tersangka, " ucap Polisi paruh baya tersebut yang notabenenya adalah Om dari Kak Linda.


"Apa maksud Bapak? Saudara saya ini baru saja dipindahkan dan ia ingin istirahat. Jadi silahkan utarakan maksud dan tujuan anda semua datang kemari !?"


"Begini, kami ini keluarga besar polisi. Banyak sekali saudara kami yang bertugas di kepolisian dan di pengadilan. Jadi kami tahu persis bagaimana prosesnya di dalam hukum untuk urusan seperti ini dan kami tidak ingin repot di dalam menjalaninya. Kami rasa kalian juga berpikir sama dengan kami, jadi bagaimana jika kita mempermudah urusan ini saja?"


"Jangan bertele-tele Pak. Apa maksud dan tujuan anda semua datang kemari !?" tanyaku sekali lagi karena sudah merasa geram dan disepelekan.


"Sabar Sarah, tenang! " kata Feli dengan bijak.


Aku membalik tubuhku dan menatap Feli dalam-dalam. "Ini persis sama dengan pendengaranku kan Fel? bahkan ini lebih kritis lagi, " ujarku dan Feli menganggukan kepalanya.


"Kami ingin menawarkan perdamaian dengan memberikan sejumlah bantuan baik dari segi biaya perawatan selama di rumah sakit bahkan hingga biaya kehidupan kamu selama 10 tahun kedepan. Tawaran yang bagus bukan?" ucap Mamanya Kak Linda dengan senyum yang indah tapi sayangnya kami tidak terhipnotis.


"Begini Pak, Bu, dan para keluarga Kak Linda sekalian. Sebenarnya saya sama sekali tidak ingin memperpanjang kasus ini."


"Bagus, bagus sekali. Berarti kamu sangat cerdas dalam membaca peluang dan kamu tau mana hal yang lebih baik," celetuk Tante Kak Linda dengan sumringah.


"Feli! " ucapku dengan nada yang cukup tinggi. Lalu Feli memegang tanganku dan duduk sambil menatap tamu kami.


"Tapi sekarang saya berubah pikiran. Inilah yang menyebabkan hukum di Negara kita ini runcing ke bawah. Orang yang lemah dan di bawah akan terus terdzolimi dan mereka anak-anak orang kaya akan terus-menerus membuat masalah karena mereka punya pendukung yang sama dzolimnya dengan mereka."


"Apa maksud kamu? "


"Silahkan keluar dari ruangan saya sekarang! Urusan ini akan saya serahkan seluruhnya kepada pihak kepolisian agar yang salah dapat dihukum seberat-beratnya."


"Sebaiknya kamu pikir ulang, Nak! "


"Jangan macam-macam ya Pak, Bu. Karena semua percakapan kita saat ini, sudah saya rekam dan saya kirim ke beberapa orang yang kami percaya," ujarku sembari mengangkat HP milik Ayah yang sejak tadi aku masukkan di dalam saku celanaku.


"Ayo ... sebaiknya kita pergi dari sini."


"Hemh ... ada ada saja ya Fel."


"Inilah hidup Sarah. Kita harus hati-hati."


"Ternyata telingaku ini ada juga gunanya ya."


"Jangan lupa baca juga novel terbaru saya yang berjudul KETURUNAN KE 7 PLUS CINTA DAN DOSA. MAKASIH .... "


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘