ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEKUATAN IBU


Kami pulang ke rumah pukul 17.00 wib, Pak Antok langsung izin untuk pulang ke rumahnya dan aku langsung masuk ke kamarku dan membersihkan diri.


Sudah bersih dan rapi, aku duduk di atas ranjang ku. Rasanya masih sulit menerima semuanya tapi aku terus berfikir tentang apa arti mimpiku tadi, hatiku berbisik aku harus mengetahuinya.


Tiba-tiba aku kembali mendengar suara-suara yang memanggil namaku. "Saraahh Saraaah


saraaaahhh ... saaaraaaaaah ...."


Sudah cukup lama aku tidak mendengar suara-suara seperti itu, hanya saja suaranya sangat berbeda, kali ini terdengar renyuh dan pilu. "Kenapa ?" ucapku sangat pelan, batin ku pun seolah ikut menangis.


Aku berdiri dan memandang sekelilingku. "Si Mbok ... apa itu si Mbok? " ucapku sambil menangis, ada kerinduan yang sangat mendalam dari alunan suara tersebut, itulah yang dapat aku tangkap.


Aku keluar dari kamarku, ibu sepertinya menunggu ku di meja makan. Aku duduk berhadapan dengan ibu. "Kamu dari mana saja Sarah?" tanya ibu.


"Aku pergi melihat-lihat sesuatu saja Bu, tidak kemana-mana." Belum selesai aku menjawab, Ibu langsung mencela perkataan ku " jadilah anak yang baik Sarah!". Aku sambil melihat Ibu yang agak berbeda, cara bicara Ibu, pandangan Ibu, rasanya dingin sekali.


"Iya Bu, maaf." Tidak ingin melawan Ibu. "Aku hanya bosan di rumah, aku tidak punya teman dan aktivitas seperti saat di rumah Paman dan Bibik."


Ibu beranjak dari kursinya berdiri di belakangku sambil berbisik kepadaku "Terkadang ada rasa ingin tau yang besar sekali di dalam diri kita, tapi terkadang juga kita harus melupakan, melepaskan, dan merelakannya Sarah. "


Ibu berjalan dan duduk kembali di kursinya. "Biarlah sejarah tetap menjadi sejarah, biarkan rahasia tetap menjadi rahasia, anggap saja itu yang terbaik." ucap Ibu dengan nada yang tak biasa.


Kata-kata Ibu seolah ingin mengatakan padaku bahwa Ibu tau sesuatu tentang apa yang aku lakukan beberapa waktu ini, dan Ibu terlihat tidak menyukainya. Aku hanya merunduk, ada rasa takut di dalam hatiku saat mendengar perkataan Ibu.


Ibu pergi ke dapur, meninggalkan aku sendiri di meja makan ku. Aku berfikir ... mungkin aku memang salah lalu aku bergerak melangkah ke dapur untuk meminta maaf pada ibu sekali lagi. "Ibu, maafkan aku. " ucapku sambil tertunduk.


"Sudahlah .... " Sambil kembali mengasah pisau pemotong daging kesayangannya.


Aku berdiri tepat di samping ibu. "Ibu ... maafkan aku. " Tapi Ibu hanya diam sambil terus mengasah pisaunya.


Aku tau Ibu marah, makanya aku putuskan untuk meninggalkan ibu sendirian di dapur. Aku melangkah pergi menuju kamarku, tidak ada makan malam sekarang, seleraku sudah hilang.


Aku merebahkan tubuhku di ranjang. Aku pikir-pikir setelah pakai kalung pemberian Mbah Anwar ini, tidak ada lagi gangguan yang menyapaku harusnya aku bisa tidur dengan nyenyak tapi nyatanya aku tetap saja tidak tenang dan merasa gelisah.


Aku merebahkan diriku dan memandang langit-langit. Hari mulai larut dan akupun mulai mengantuk, aku memejamkan mataku dan ingin benar-benar terlelap malam ini.


Tapi. Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok. Terdengar suara pintu kamarku yang di ketok dengan sangat keras dan cepat. Hal itu membuat aku terbangun karena terkejut, pukul 11.00 wib.


Jantungku berdetak tidak karuan, apa ini? ...


aku mendekati pintu kamar ku, tapi suaranya tiba-tiba menghilang.


Aku menyandarkan tubuhku yang mulai ketakutan di tembok samping pintu kamarku.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


tok tok tok tok tok tok tok. Suara itu muncul lagi dan aku menundukkan kepalaku ingin mengintip dari lubang bawah pintu kamarku.


Itu seseorang yang ingin masuk ke kamarku. Aku yakin itu manusia bukan yang lainnya. aku tidak bisa melihat kakinya dengan jelas tapi bayangannya bisa aku lihat.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok.


Aku menahan pintunya dengan badanku "Ibu, Ibu ... dimana Ibu?" Lalu suaranya ketukannya kembali menghilang.


Sekitar setengah jam aku terdiam di balik pintu kamarku. Aku tidak mendengar suara ketukan keras itu lagi. "Sarah ... Sarah ...." Aku mendengarkan dengan baik. Itu suara ibu kemudian aku langsung membuka pintu kamarku dan memeluk Ibu, aku menangis dengan keras.


"Ada apa nak?" tanya Ibu dengan nada suara khawatir


"Aku ingin bersama Ibu .... " Lalu aku melihat Ibu ku tersenyum simpul.


"Iya sayang .... " ucap ibu. Ibu membawaku ke ruang TV, Ibu juga mengambilkan ku segelas air putih. "Minumlah Sarah!"


"Terimakasih Bu." Wajah Ibu mulai tenang dan tidak lagi seperti tadi. Sepertinya Ibu sudah tidak lagi marah padaku, ucapku di dalam hati.


Ibu mengatakan hal-hal yang aku tidak pahami, Ibu menceritakan tentang bunga-bunga yang indah, perahu kertas, dan juga layang-layang merah yang menghiasi angkasa, aku hanya mendengarkan celotehan Ibu.


Ibu tampak menikmati kebersamaannya denganku malam ini. Heran, tapi aku merasa semua baik-baik saja. Tapi di sisi lain tetap saja hatiku tidak tenang.


Taaaar


Tampaknya vas bunga di ruang tamu jatuh dan pecah, Ibu keluar dan membereskannya. Aku melihat Ibu, Ibu pun sering melirik dan memandang ke arahku, pandangan itu membuat aku tidak nyaman. Ada rasa tidak nyaman yang besar tapi aku tidak tau kenapa.


Ibu membereskan pecahan vas bunga itu dan membuangnya ke dapur. Dari arah dapur aku mendengar ibu berteriak." Tidak ... tidak ... jangan... jangaaaaaaan... tidak .... "


Dengan sigap, aku segera menghampiri ibu. "Bu, ada apa Bu?" ucapku menahan kegelisahan dan ketakutan Ibu.


"Itu di sana Sarah. " Jari tangan Ibu menunjuk ke arah pintu menuju gudang tua. Aku melihat ke arah yang Ibu tunjuk tapi aku tidak melihat apapun.


"Tidak ada apa-apa di sana Bu. " Aku melihat kalung Ibu masih terpasang rapi. Lalu bagaimana mungkin Ibu bisa di ganggu? Gumamku di dalam hati.


Aku memapah tubuh Ibu dan membawanya ke kamar untuk beristirahat. Ibu merangkul ku dengan erat. Setibanya di kamar aku ingin meninggalkan Ibu untuk menyelesaikan dan membereskan vas bunga yang pecah. Tapi Ibu menahan ku, "Tidak perlu ... tetap disini bersama Ibu nak!" Akupun mengiyakan permintaan Ibu.


Ibu merebahkan tubuhnya dan berbaring miring membelakangi aku, baju ibu sedikit tersingkap, hal itu mengundangku untuk melihat tanda lahir yang ada di pinggang Ibu.


Jariku sedikit menaikan baju Ibu tapi, " Sarah, ambilkan selimut untuk ibu!" ujar Ibu sepertinya tau apa yang ingin aku lakukan.


"Iya Bu ...." Aku mengurungkan niatku dan mengambilkan selimut serta menutupnya hingga batas leher Ibu.


Ibu membalik badannya melihat ke arahku sambil tersenyum. "Terimakasih Sarah ...


Berbaring dan tidurlah di sisi Ibu Nak." Dan akupun menuruti perkataan Ibu.


Pukul 00.15 wib. Tok tok tok tok tok tok tok tok tok toktok tok tok tok tok tok tok tok tok toktok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


saraah saraahh ...." Itu suara Ayah, tampaknya Ayah sangat marah.


"Itu ayahmu Sarah, tampaknya sangat marah." ucap Ibu.


"Iya Bu, biar aku bukakan pintunya." Tapi wajah Ibu terlihat tegang dan sepertinya Ibu sangat ketakutan.


"Jangan nak ... jangan .... "


"Kenapa Bu?" ucapku heran


"Ayahmu tampak marah, dan harusnya Dia pulang besok kan nak?"


"Iya, iya Bu .... "


"Pasti ada sesuatu sampai dia pulang lebih awal dalam kondisi marah. Mungkin proyeknya gagal Sarah." Lalu tiba-tiba Ibu menangis dan tubuhnya gemetaran.


"Kenapa Ibu menangis ?" tanyaku bingung.


"Ibu takut, Ayah mu pasti akan marah-marah dan ngamuk-ngamuk nak .... "


"Aku tidak mengerti Bu. "


"Kamu tetap di sini Sarah, kunci pintunya rapat-rapat. Apapun yang kamu dengar, apapun yang terjadi, jangan keluar dari kamar kecuali ibu memintanya, mengerti?"


"lya Bu .... "


Ibu pergi keluar dari kamar, aku segera mengunci pintu kamar ibu sesuai dengan permintaan ibu. Kemudin aku mendekatkan dan menempelkan telingaku di pintu kamar, sekedar ingin mendengarkan apa yang terjadi.


"Ayah sudah pulang ?" tanya Ibu.


"Kamu .... dimana Sarah ?" ucap ayah kaku.


"Ada di kamar kita. " jawab Ibu singkat.


Terdengar langkah kaki, sepertinya menuju ke kamar tempat aku berdiri. Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok. "Sarah ... Sarah...." Terdengar suara Ayah sangat kuat dan keras sekali dengan ketukan pintu yang kuat.


"Ada apa yah? jangan mengganggu Sarah." ucap Ibu dengan suara perlahan.


"Lepaskan aku, lepaskan! " Suara Ayah membentak Ibu.


"Sarah ... buka pintunya nak!" kata Ayah.


tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok.


"Sudah yah, sudah .... " Ibu seperti menghalau tangan Ayah.


"Diam ... diam kamu ... !"


Braaaak


Aku seperti mendengar suara barang atau sesuatu yang berat terjatuh, kemudian terdengar suara Ibu menangis cukup keras seperti nya Ayah sudah mendorong Ibu dengan kuat hingga Ibu terjatuh di lantai.


"Sarah ... Sarah ... Sarah... buka pintunya nak!" ucap Ayah tapi aku menahan pintunya dengan tubuhku. Aku bisa mendengarkan apa yang terjadi di luar dan sedikit mengerti tentang situasinya. Ayah terus memarahi Ibu, Ayah seperti orang lain , seperti orang yang syok atau depresi.


Tidak cukup sampai disitu, aku mendengarkan seperti suara tamparan. Ibu semakin keras menangis, " Sudah yah ... sudah ... jangan lagi .... " ucap Ibu dengan suara yang nyaring.


Pergi kamu dari sini, ini bukan urusanmu! ... Ayah tampak sangat kejam. Beberapa saat suara Ayah menghilang, tapi suara Ibu dan suara pukulan demi pukulan terus bisa aku dengarkan.


Apa yang terjadi pada ayah? Aku langsung terbayang sikap Ayah yang tampak berubah-ubah begitu juga dengan obat penenang yang aku temukan di tas, di kamar, dan di ruang kerja ayah.


Mungkin Ayah memang menderita depresi berat, tapi apa yang ingin Ayah lakukan padaku? Sepertinya ayah benar-benar ingin bertemu denganku dan melakukan sesuatu terhadapku. Tidak terasa air mataku menetes bukan hanya karena ketakutan tapi juga karena sikap ayah. Apakah Ayah ingin menyakitiku? Batinku.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok


"Sarah ... Sarah ... ini Ibu nak ... buka pintunya Sarah. "


Itu suara Ibu, aku membukakan pintu kamar dan ku sangat terkejut melihat ibu yang penuh luka dan darah di wajah dan lengannya.


"I - Ibu, ibuuuuu. " ucapku melihat sambil memeluk Ibu. Lalu dengan sigap, Ibu segera mengunci pintu kamarnya.


"Iya nak ... tenanglah. " kata Ibu sambil memeluk ku erat, aku dan Ibu saling menangis dan berpelukan.


Aku tidak mendengar suara ayah lagi di luar, aku tidak tau ayah kemana. "Sarah... ibu mendorong ayah hingga terjatuh di dapur, sekarang saatnya kita keluar dari sini ... ayo Sarah! "


Aku menangis ketakutan dan terus-menerus memandang ke wajah ibuku yang penuh luka. "Ayo Sarah ... sebelum terlambat! "


Kami keluar dari kamar dan berlari menuju pintu keluar, tapi ternyata Ayah sudah menunggu kami di depan pintu keluar. Ibu menarik kembali tanganku dan kami berlari ke arah dapur menuju gudang tua. "Sarah ... Sarah.... " Suara ayah memanggilku dengan riuh.


Kami mengintip jejak langkah Ayah, aku pun sudah gemetara ... Ayah membawa besi panjang dan mencari-cari kami. Ibu bilang aku tetap di sini (dibalik sumur), " Jangan keluar ya nak." kata Ibu.


Ibu bergerak ke arah Ayah, dari bayangan yang terekam di tembok, aku melihat Ibu berusaha mengambil besi panjang itu dari tangan Ayah.


Berkali-kali ayah memukul tapi Ibu terus bangkit dan melawan Ayah. Sesekali pukulan Ibu mengenai Ayah. Aku tidak tahan melihatnya dan aku memejamkan mataku, tidak sanggup melihat pertikaian di antar keduanya, orang tua yang aku sayangi.


Bersambung ....


Bagaimana kelanjutannya?


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘