
Pukul 17.00 wib. Ayah memelukku dan memintaku untuk kembali ke kamar. "Istirahatlah Sarah! " Ucap ayah dengan nada yang sangat lemah.
"Tapi aku masih ingin menemani ayah." Sahut ku
"Ibumu sudah tenang nak, jadi ayah harap kamu juga bisa lebih tenang." Tangan ayah menyapu matanya yang masih mengeluarkan tetesan bulir-bulir air mata. "Jangan membandel, jangan menjawab perkataan ayah lagi."
Aku merunduk dan tidak mengatakan apapun untuk menjaga perasaan ayahku. Ayah berjalan membelakangi ku. "Ayah bukan tidak membutuhkanmu nak tapi ayah takut kehilangan lagi. jadi ayah minta kamu untuk segera istirahat Sarah." Ucap Ayah sembari meninggalkan aku
Ayah pergi dengan langkah kakinya yang terseok-seok, melihat ayah begitu air mataku mengalir kembali. Aku ingin mendampingi ayah tapi aku tau kekhawatiran ayah.
"Aku mengerti ayah." Ucapku terlambat.
Bak sinetron Korea akupun membalik tubuhku dan berjalan ke kamar perawatan, aku dan Ayah tampak seperti dua insan yang baru saja putus sekolah. Upz ... maksudku putus cinta.
"Suster, bolehkah malam ini aku tanpa jarum infus? tanganku sakit sekali. " Sambil memperlihatkan tanganku yg membiru dan sedikit bengkak.
"Baiklah Sarah, tapi dengan satu syarat. " Perawat melihatku dengan rasa kasihan. "Harus banyak minum dan makan."
"Setuju." Jawabku cepat. Aku yakin malam ini tidurku akan pulas karena aku tidak akan merasakan gigitan seperti apalah di tanganku ini, gerutu ku.
Pukul 21.00 wib. Ayah belum juga kembali ke kamar. Aku ingin mencarinya tapi itu tidak mungkin. jangan membuat ayah marah sarah! ucapku di dalam hati. Aku berbaring di ranjang sambil memandang langit-langit kamar, sekarang hanya tinggal Tania, gumamku
Semua pasti ada penjelasannya, aku hanya harus lebih berani dan lebih pintar. Hemmmh,
gudang tua itu, pasti ada petunjuk di sana atau aku langsung saja bertanya dengan Tante Rima. Iya itu benar tapi aku sangat tidak ingin melihatnya. Aku bicara di dalam hati, bertanya dan menjawab sendiri, aku tidak bisa tidur.
Pukul 22.45 wib. Sudah larut, dimana Ayah? tanyaku di dalam hati
Tok tok tok tok tok
tok tok tok tok tok tok tok
"Ayah ...." Aku duduk sambil memandang ke arah pintu, tapi sepertinya tidak ada siapa-siapa di sana, mungkin aku salah dengar. Heeemh.
Cekrek cekrek cekrek cekrek
cekrek cekrek cekrek cekrek
(Suara gagang pintu bergerak sendiri beberapa kali).
Sesuatu yang berdesir terasa di dalam hatiku. tidak mungkin Ayah melakukannya padaku, ucapku di dalam hati. Untuk membuang perasaan takutku, aku membalik badan hingga wajah dan tubuhku menghadap ke tembok.
Tak tak tak tak tak tak
tak tak tak tak tak tak tak tak
Suara langkah kaki siapa itu? aku yakin sekali kalau pintu kamar masih tertutup rapat. Ucapku
di dalam hati.
Langkah itu berhenti, tapi detak jantung ku semakin berpacu, naluri mengajakku untuk berbalik dan melihat siapa yang melangkahkan kaki ke dalam kamar ku yang masih dalam kondisi terkunci.
Aku menghitung di dalam hati 1 2 3 4 5 6 7 8 9 dan 10, lalu aku segera membalik tubuhku walau dalam ketakutan. Tapi ... tetap saja tidak ada siapa-siapa. Aku masih terus memperhatikan sekelilingku tapi tidak ada apapun, tidak ada siapa-siapa.
Nafasku masih belum mampu aku netralkan, Ayah ... dimana? kalau sampai tengah malam ini ayah tidak kembali, aku akan mencari perawat untuk menemaniku, gumamku.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. " Suara anak kecil yang tertawa terbahak-bahak terdengar begitu dekat denganku, perlahan aku melepaskan pelukan tangan dari kakiku dan aku menurunkan ke dua kakiku. Aku tau dimana asal suara itu.
Kedua tanganku memegang ujung besi ranjang dengan kuat dan aku menundukkan kepalaku ke arah kolong ranjang. Aku yakin dari sinilah asal suaranya.
Benar saja. Saat kepalaku melihat ke bawah kolong ranjang, di sana ada seorang bocah laki-laki sedang jongkok dan memainkan tulang-tulang berukuran kecil, seperti tulang bayi, atau tulang ayam, atau tulang kucing. aku tidak tau. dia menggenggam lalu melepaskannya kemudian menyusunnya kembali.
Penampakkan itu membuat aku ketakutan hingga kedua tanganku bergetar dan kehilangan kendali sehingga aku terjatuh di lantai.
"Aaaaaahhhhh ...." Teriakku sambil memegang kepalaku yang terasa sakit, aku melihat ke arah bocah laki-laki tersebut tapi dia sudah tidak ada di sana. Aku menangis bukan hanya karena kesakitan tapi juga karena aku ketakutan.
Aku menangis terisak-isak. "Ibu ... apa yang sebenarnya terjadi padaku Bu?" Dengan suara yang bergetar. Aku melengkungkan kedua kakiku ke dekat perutku dan aku melipat kedua tangan di dadaku. Aku terus berbaring di lantai yang dingin, sendirian.
Aku sangat merasa mengantuk, aku memejamkan mataku dan berkhayal ibuku berada di sini bersamaku. "Ibu .... "
Kreeeeeaaak kreeeeeaeeeeeeeaak (suara pintu kamar yang terbuka lebar). Belum habis mataku tertutup dengan rapi, aku mendengar suara dari pintu kamar yang mengundangku untuk melihatnya.
Dari lantai ini aku melihat seseorang yang tidak aku kenali tapi tidak asing bagiku.
Dia, suster Isabela, dia berdiri di depan pintu kamarku dengan pandangan yang lurus, kemudian dia melangkah meninggalkan kamarku.
Entah apa yang aku rasakan saat itu, hanya saja naluri ku mengajak ragaku berdiri dan mengikuti langkah perawat tersebut.
Aku keluar dari kamarku dan melihat ke arah suster Isabela, seperti terhipnotis aku bergerak mengikuti langkah kakinya, seperti bayangan, aku terus berada di belakangnya.
Sesekali aku memanggil namanya." Suster Isabela ... suster isabela ... suster. " Tapi suster Isabela sama sekali tidak memperdulikan aku.
Aku dan suster Isabela berjalan ke lorong yang agak gelap dan lembab, tempat apa ini? tanyaku di dalam hati, namun sesaat setelah aku bertanya, aku melihat langkah kaki suster Isabela terhenti.
Suster Isabela melihat ke arah kanan dan dia melanjutkan langkahnya kembali, aku terus mengikutinya. Rasanya ini sangat jauh dari ruang perawatan ku. Aku melewati jalan yang berbelok dan sempit, tapi aku masih mengingatnya dengan jelas.
Ini ruangan tempat suster Isabel berbelok, tanpa ragu aku memasuki ruangan tersebut. ini sungguh ruangan yang sangat kotor dan tidak nyaman.
Cat dindingnya terlihat pudar dan menghitam, atapnya banyak yang terkelupas, beberapa peralatan medis berserakan di mana-mana, lantainya kotor penuh debu dan jejak langkah yang tidak beraturan, belum lagi bau amis dan anyir yang menyiksa hidungku.
ruang apa ini? gumamku.
Di sudut kiri, aku melihat sebuah ruangan lain yang berpintu namun tidak terkunci dengan gembok, karena di ruangan ini tidak ada siapa-siapa, aku berfikir mungkin saja suster Isabela ada di sana.
Dengan pikiran dan perasaan yang kacau, aku berjalan mendekati ruangan tersebut. Perlajan aku mendorong dan membukanya, dan tampak cahaya dari berbagai arah menerangi tempat ini.
Aku memandangi lantainya yang berantakan, beberapa tikus berlarian keluar dari ruangan yang tampaknya sudah sangat lama tidak dikunjungi.
Dari sudut kanan, aku mendengar suara desis yang basah dan menyeramkan. Tanganku mulai gemetaran, suara itu semakin kuat terdengar dan aku menatap ke arahnya.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa .... " Dengan cepat aku melangkah mundur tapi kaki kiriku tersandung dan aku terjatuh. "Tolong tolong
tolooooong .... "
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘