ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
4 Bulan Kemudian


Semua lebih baik saat ini. Aku bersama Feli menjadi orang yang lebih tenang dan terbuka, dibantu Kak Rio dan Rian. Mereka adalah laki-laki yang kuat karena sanggup berdampingan dengan kami, walau pada keadaan jiwa yang terkadang berubah-ubah.


3 bulan yang lalu, aku dan yang lainnya pergi menemui Pak Yusuf untuk bertukar pikiran sekaligus mengurus masalah Tania. Aku meminta kepada Tania agar dia lebih tenang bersama ibu dan dia bersedia, asalkan aku bisa menjaga diriku dengan baik.


Kakak ku yang kecil itu terus menatapku dengan senyumnya yang khas. Aku suka sekali saat melihat gigi-giginya yang mungil, putih dan rapi itu bersinar.


Sebelum pergi, ia mengatakan padaku bahwa, "Kamu harus kuat dan percaya pada hatimu sendiri. Karena hatimu tidak ada akan pernah berbohong dan menghianati kamu Sarah, seperti aku," ujar tania sembari memegang dada kiri dengan tangan kanannya.


Dalam situasi itu, aku hanya mendengarkan setiap ocehan dari bibirnya yang lincah. Ya Tuhan, aku tidak tau bagaiamana nasibku bila Kak Tania masih hidup. Dia pasti menjadi seorang Kakak yang sangat berisik. Ucapku tanpa suara.


"Ayah ... Ayah ... jangan menyalahkan dirimu lagi!" ucapnya sambil berdiri di hadapan Ayah. Sayangnya, Ayah tidak dapat melihat ekspresi wajah Tania.


"Ayah ... Ayah ... jangan menyalahkan dirimu lagi! Ucap Kak Tania yang saat ini sedang berada di hadapan Ayah," kataku kepada Ayah dengan mata yang berkaca-kaca.


Saat aku mengatakannya, Ayahku langsung terdiam dan menundukkan kepalanya sambil menghisap air hidungnya dan berkata, "Ayah sangat menyayangimu Tania dan ayah percaya bahwa Tuhan akan memberikan kamu tempat yang terbaik di sisinya. Karena kamu adalah anak dan kakak yang hebat, karena kamu adalah anak yang terdzolimi, tapi kamu tidak pernah endendam, kamu selalu menjaga adikmu dengan seluruh kemampuanmu."


"Aku senang bisa menjadi anak ayah dan seperti yang Ayah inginkan, aku selalu menjaga adikku dengan baik di saat Ayah tidak di rumah, aku selalu menjaga janjiku itu sampai aku mati Ayah," ucap Kak Tania dan aku menyampaikannya kembali kepada Ayah. Hal itu membuat Ayah mulai menangis tersedu-sedu.


"Ardy, jika kamu menginginkannya. Saya akan membantumu, agar kamu bisa melihat putrimu untuk yang terakhir kalinya," ujar Pak Yusuf sembari memegang pundak kiri Ayah dan menepuk-nepuk nya perlahan


"Apa bisa seperti itu?" tanya Ayah sambil menatap Pak Yusuf dengan penuh harapan.


"Tentu saja, tapi tidak bisa lama karena semua ini sangat amat menguras energi dan daya tubuh."


"Iya saya mengerti," sahut Ayah sambil mengangkat kepalanya lebih tinggi dan berharap dapat melihat wajah lugu anaknya yang sangat ia rindukan dan ia cari selama ini. "Tania," ucap Ayah sebelum mata batinnya dibuka.


Ini malam yang sangat penting bagi Ayah karena setelah puluhan tahun, akhirnya Ayah dapat melihat wajah putri kecil yang ia cari selama hamoir 20 tahun, putri kecil yang lincah dan selalu bisa ia andalkan untuk mengurus aku.


"Siap?" tanya Pak Yusuf kepada Ayah, yang sudah tampak siap mengeluarkan seluruh kemampuannya demi membuka mata batin Ayah.


Ayah menutup matanya dan diminta untuk mengosongkan pikiran, menenangkan hati dan menguatkan jiwa! Saat tangan Pak Yusuf lepas dari mata Ayah, beliau berpesan, "Jangan menatap ke arah yang lain karena di sana banyak sekali makhluk yang wujudnya tidak akan sanggup untuk kamu lihat! Paham?"


"Paham Pak," kata Ayah sambil menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan


Mata Ayah tertuju hanya pada satu arah yaitu lurus ke depan. Saat itu aku mulai menahan air mata yang sudah ada di ujung bulu-bulu mataku karena aku melihat Tania tersenyum manis dengan posisi duduk jongkok sambil menjalin jari tangan kanan dan kirinya lalu ia letakkan di bawah dagu.


Aku yakin Ayah sudah melihat sosok Tania, tapi Ayah tampaknya tidak mampu berkata apa-apa, hanya matanya saja yang terus berkaca-kaca saat melihat mata putih anaknya yang bersinar seperti bola lampu taman.


"Tania ...." panggil Ayah dengan suaranya yang serak dan hampir tidak terdengar, sepertinya air mata Ayah jatuh ke dalam jauh lebih banyak demi menutupi seluruh perasaannya.


"Ayah, rambut Ayah sudah mulai memutih, tapi ayah tetap terlihat tampan seperti biasanya," ucap Tania dengan wajah dan cara bicaranya yang khas.


"Ayah jangan menangis lagi! Semua ini adalah takdir. Yang penting kita semua bisa terus dan saling menjaga satu dengan yang lainnya. Lagipula, Tania sangat merasa bahagia karena memiliki orang tua seperti Ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya," ujar Tania sembari menghapus air mata Ayah dengan sedikit bagian ujung jarinya.


"Tania .... "


"Eeeemh ... bagaimana ya? sebenarnya Tania ingin sekali memeluk Ayah, tapi ...." ucap Tania menggantung perkataannya.


"Tapi apa, Nak?" tanya Ayah penasaran dan sepertinya Ayah juga ingin melakukan hal yang sama dengan Tania kecil.


"Aku ingin sekali memeluk Ayah, tapi aku takut Ayah sakit karena Ayah tidak sekuat Sarah," ucapnya sambil terus menatap Ayah dengan menelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Tidak apa, lagipula kalau Ayah sakit kan Ayah masih punya Sarah yang akan menjaga dan mengurus Ayah."


"Baiklah Yah ...." sahut Tania dan ia mulai memeluk Ayah dengan erat. Saat momen itu terjadi, air mata yang sudah Ayah tahan cukup lama, langsung keluar sangat banyak seperti bendungan yang berhasil menjebolkan Tanggul.


Ayah terus menangis terisak-isak sambil menyebut nama Tania dan mengatakan maaf dan Tania selalu menjawab perkataan dari mulut Ayah dengan kata-kata, "Aku sayang Ayah ... Aku sayang Ayah ... Aku sayang Ayah ... Aku sayang Ayah ... Aku sayang Ayah ... Aku sayang Ayah ... Aku sayang Ayah ...." ucap Tania hingga semakin lama, suara itu semakin terdengar menjauh dan menghilang bersama roh Tania.


"Ya Allah ... Ya Allah ... Ya Allah ...." teriak Ayah sambil meneruskan air matanya. Begitu pun denganku yang dapat melihat pertemuan manis di antara Ayah dan anak yang sudah lama diinginkan.


Rasanya sakit sekali, tapi Tania benar jika semua ini adalah takdir dari Allah dan kami harus menerimanya dengan lapang dada. Tidak sanggup membiarkan Ayah menangis seorang diri, aku langsung berdiri dan mendekati Ayah, kemudian memeluknya dengan erat seolah mengganti posisi Tania yang baru saja berpelukan hebat bersama Ayah.


Ya Allah, apa hukuman yang pantas untuk manusia yang sudah melenyapkan kebahagiaan manusia lainnya? dan apakah kami juga akan dihukum berat karena telah membunuh Tante Rima demi mempertahankan diri dari perbuatannya yang kejam dan zalim? aku serahkan semuanya hanya kepadamu ya Allah. Ucapku sambil terus memeluk tubuh Ayah yang masih bergetar hebat.


"Ayah, mulai sekarang, aku lah yang akan menjaga ayah. Aku berjanji akan kuliah dengan bersungguh-sungguh dan menjadi anak yang tangguh serta memiliki pekerjaan yang bagus agar Ayah tidak lagi bekerja di usia senja," ucapku lirih.


"Aku berjanji, aku akan mengurus dan menjaga Ayah seperti ibu dan Kak Tania. Untuk itu, aku butuh Ayah selalu kuat dan sehat agar bisa terus mendampingi perjalanan hidupku yang masih panjang."


"Iya, Nak. Ayah juga akan selalu menjadi Ayah dan sahabat yang terbaik untukku. Kamu satu-satunya harta Ayah, Sarah."


"Ayah, aku selalu ingin membuatmu bangga. Walaupun terkadang yang terjadi nanti adalah sebaliknya. Tapi aku akan terus berusaha."


Bersambung ....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘