
"Kamu sangat penasaran dengan Putri Nawang Wulan Sari?"
"Putri?"
"Aku ingat, dulu pertama kali aku bertemu dengan dirinya. Iya, ketika ia sedang berlari sambil menangis hebat hanya dengan mengenakan kain sarung yang robek di tengah hutan. Aku mengikuti langkahnya dan tanpa ia minta aku menjadi bagian dari dirinya."
"Entah apa apa yang membuat hatiku terpanggil untuk bersama gadis muda bermata coklat itu? Yang jelas, aku memberikannya kecepatan dan juga kekuatan untuk melawan musuhnya saat itu."
"Musuh seperti apa maksud Datuk?" tanya ku semakin penasaran dan semakin ingin tahu.
"***Empat orang laki-laki dengan pedang panjang dan sekantong besar anak panah di punggungnya. Mereka berniat buruk kepadanya, tapi ia terus mempertahankan diri agar tetap suci."
"Kakinya yang putih dan mulus terluka akibat kayu dan ranting keras yang tergeletak di tanah kemudian menancap dengan keras hingga akhirnya dia tidak lagi mampu berlari. Saat itulah, iya saat ia sudah dilucuti, aku mengaung dan berbagi energi dengan dirinya***."
"Apa yang terjadi?"
"Aku dan Putri menarik sebilah pedang yang bertengger di pinggang kiri salah satu pengawal kerajaan yang hendak merebut kesuciannya. Lalu dalam satu kali tebasan, leher dua lelaki putus dan darah berserakan di tubuh serta wajah Putri. Sisanya, tentu saja ia menghabisinya dengan pertarungan. Pertarungan yang sama sekali tidak ia ketahui."
"***Saat menyadari keempat musuhnya tergeletak bersimbah darah, tubuh Putri gemetar hebat dan ia terduduk tidak berdaya ya sembari mencabut beberapa kayu dan ranting yang menusuk telapak kakinya."
"Putri menangis dan meratap hebat, dia berteriak dan berkata, Apapun kalian siapapun kalian aku mohon beri aku kekuatan agar tidak ada lagi korban angkara murka terutama bagi kaum ku dan keluarga ku***.
"Lalu?"
"Tiba-tiba terdengar suara misterius dari ujung-ujung pohon tinggi hutan tersebut dan saat itu aku juga ikut mendengarkannya. Suara yang berat dan sampai saat ini aku tidak tahu siapa pemilik suara tersebut. Suara itu membimbing Putri menjadi seorang ksatria dan melewati kesakitan yang luar biasa."
"Apa yang dia lakukan?"
"Ia berpuasa 40 hari 40 malam tanpa bergerak sedikitpun di ujung lautan yang terkadang ombaknya menerpa tubuh mungil Putri Nawang Wulan. Semakin lama tubuhnya semakin menyusut dan mengecil, ia tidak lagi tampak seperti seorang putri. Tulang belulang menonjol di setiap sudut tubuhnya, tapi ia masih bertahan agar mampu menjadi sosok yang dapat menjadi pelindung terutama bagi adiknya Rahayu."
Aku mulai meneteskan air mata karena tiba-tiba teringat sosok Tania kecil ku. Ternyata Tania juga ada di masa lalu dan kasih sayang seperti itu pernah aku rasakan. Ada atau tidak ada lagi Tania, bagiku ia tetap sama.
"Tidak peduli hujan, tidak peduli badai. Ia terus belajar dari sesuatu yang tidak ia lihat. Putri Nawang Wulan sangat pandai dan sensitif sehingga ia bisa merasakan arah, gerak, bunyi dan cahaya hingga ia mampu mempelajari ilmu kanuragan tingkat tinggi hanya dengan petunjuk gaib dan sebuah kitab usang terbuat dari daun."
"Putri Nawang Wulan berjalan dari bukit ke bukit, gunung gunung, sungai ke sungai, laut ke laut, hutan ke hutan, rimba ke rimba. Dan saat itulah ia bertemu dengan kami semua. Ia mengumpulkan kami ke dalam sebuah kelompok yang saling melengkapi," ucap seorang tabib wanita yang tiba-tiba keluar entah dari mana dan aku tahu wajahnya itu karena ialah yang tadi sempat menyembuhkan Ayah. "Panggil aku Ratih," ucapnya dengan suara yang sangat lembut dan tenang.
"Aku yakin aku bisa menahan semuanya dengan baik," ucap ku dengan suara terbata-bata dan nafas yang mulai tersengal.
"Namaku siji, aku anak pertama dari 7 saudara," ucap salah satu makhluk bertubuh besar berwarna hitam kehijauan dan ia tampak sangat kotor. Seperti seseorang yang ditumbuhi lumut.
"Aku siwil," ucap makhluk lainnya dengan wajah panjang telinga panjang dan beranting anting kemudian ia memiliki leher yang panjang. "Aku seorang pencuri dan tidak bisa bertarung. Makanya saat itu, Putri Nawang Wulan menyembunyikan aku di bawah bulu-bulunya Singgih."
"Pencuri? Singgih, Kakek Singgih. Aku ingat itu."
"Harimau hitam dengan matanya yang berwarna merah. Penuh kebencian dan tidak suka menjadi budak. Tapi di hadapan Putri, ia tunduk dan patuh. Dia tipe petarung yang sangat hebat," puji Datuk Belang yang terlihat sangat mengagumi sosok keras hati tersebut.
"Dimana Kakek sekarang?"
"Ada di luar, sedang berjaga-jaga. Dia tidak suka berbicara banyak."
"Begitu. Kalau memang dia tidak suka, aku izinkan dia pergi. Lagi pula aku tidak mengerti tentang semua ini?"
"Kamu adalah manusia satu-satunya kepercayaan Putri Nawang Wulan dan Putri adalah manusia satu-satunya yang aku percayai. Dia tidak pernah menganggap kami sebagai budak. Saat kami terluka dan sakit dalam pertarungan, ia juga ikut menangis. Hal itulah yang membuat aku masih disini saat ini," sambung Kakek Singgih.
"Siapa yang berjaga?" tanya Datuk Belang.
"Dia sudah pulih dan memintaku untuk bertukar tempat. Dia bilang, aku harus menyapa, walaupun aku tidak suka banyak bicara."
"Dia siapa?"
"Kalau kamu ke luar, kamu akan segera tau."
Bersambung.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘