
Sekitar 15 menit berlalu, tiba-tiba Feli terjatuh dan ia kehilangan kesadarannya. Ayah dan Komandan yang melihat kami dari arah jendela, langsung berlari ke arah ruang ICU untuk membantu, begitu juga dengan para perawat yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kami.
"Ayo bawa ke IGD!" ujar salah satu perawat yang tampak senior di ruangan tersebut.
"Iya .... " jawab Ayah dan beberapa orang lainnya. Aku pun mengiringi Feli hingga ia diperiksa di dalam ruangan khusus tersebut.
"Bagaimana, Dokter?"
"Kondisinya stabil, hanya saja tekanan darahnya lemah. Untuk itu, kita akan beri tindakan beberapa waktu agar fisiknya kembali pulih."
"Lakukan yang terbaik, Dokter."
"Pasti."
Setelah tau kondisi Feli dalam keadaan baik, aku merasa sangat tenang dan lega. Aku juga mengabari Ayah bahwa beliau tidak perlu cemas akan Feli karena dia dalam kondisi baik-baik saja, tapi tetap akan diberi tindakan untuk menunjang fisiknya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Rido?" tanya Komandan dengan wajah yang cemas.
"Sepertinya begitu, Pak. Hanya saja untuk lebih jelasnya, kita harus menunggu Feli sadarkan diri. Tidak adil juga jika kita menerka-nerka," ucapku berusaha bersikap dewasa dan bijaksana, padahal aku sangat khawatir.
Tidak meninggalkan Feli berlama-lama sendirian di ruang IGD, aku langsung meminta izin kepada Ayah untuk menemaninya. Entah mengapa aku merasa lebih baik jika bersama Feli saat ini dan Ayah menyetujuinya.
"Sarah, jika ada apa-apa cepat keluar dan kabari Ayah! Ayah akan menunggu di sini bersama komandan."
"Iya, aku mengerti maksud Ayah."
*****
Sekitar 3 jam tidak sadarkan diri, tiba-tiba Feli menggerakkan mata kanannya, pertanda bahwa dia akan segera sadarkan diri. Aku segera memegang kedua tangannya yang sejak tadi sangat terasa dingin dan lama-kelamaan menjadi stabil di dalam genggaman tanganku.
Saat mulai melihat reaksi Feli yang baik, yaitu gerakan tangan darinya yang tampak cukup lincah, aku pun segera berjalan ke arah perawatan jaga dan mengatakan bahwa Feli sudah siuman. Tak lama, Dokter memeriksa Feli dan mengatakan bahwa kondisinya sudah stabil dan hal itu membuat aku merasa tenang.
Aku menatap Feli dan ia pun menatapku. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan keluar sebentar dan meninggalkannya untuk memberikan kabar kepada Ayah bahwa dia sudah sadar dan dalam keadaan baik. Tapi Feli menahan gerakan ku dengan menggenggam tangan kanan ku sangat erat.
"Ada apa?"
Feli berusaha berbicara kepadaku, tapi seakan-akan suaranya hilang entah kemana dan saat ia membuka mulutnya seperti hendak berbicara, tidak ada satu pun kata ataupun kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa, Feli? coba tenangkan dulu dirimu supaya suaramu bisa keluar dan tembus di telingaku!" ucapku merasa aneh karena sebelum berangkat ke sini, kami masih dapat saling berkomunikasi dengan baik. Kenapa Feli sekarang seperti orang bisu? tanyaku di dalam hati.
"Dokter, Dokter tolong!! Kenapa saudara saya tidak bisa berbicara?" tanyaku sangat cemas.
"Maaf permisi, sebentar ya!" ucap Dokter yang langsung memeriksa Feli dan melihat tenggorokannya menggunakan senter kecil yang beliau pegang.
Aku tidak tahan menerima semuanya sendiri. Untuk itu, aku langsung keluar dan mengatakan kepada Ayah tentang apa yang terjadi kepada Feli dan Ayah tampak terpukul. "Sebaiknya kamu masuk ke dalam untuk menjaga, Feli!"
"Iya, Yah. Aku mengerti," ucapku lalu langsung bergerak ke dalam ruang IGD dan menemani Feli.
Aku sangat sesih saat melihat saudaraku menderita dan sepertinya sangat kesakitan. Dia terus berusaha membuka mulutnya lebar-lebar untuk berbicara kepadaku hingga air matanya menetes di sudut kedua ujung matanya.
Apa yang aku lihat saat ini membuat aku sedih bahkan hampir frustasi dan ikut menangis. Tapi pada saat aku mengeluarkan air mata, Feli langsung menutup mulutnya dan mengatur nafasnya dengan baik. Sepertinya dia tidak ingin melihat aku bersedih seperti ini.
Aku dapat melihat Feli menelan air liurnya yang sangat berat. Tiba-tiba ia memejamkan kedua matanya dan menarik tanganku hingga wajahku sangat dekat dengan wajahnya.
Saat aku sudah sangat dekat dengan Feli, tiba-tiba aku merasa seluruh tubuhku dingin bahkan seperti hampir membeku. Rasanya aku seperti sedang berendam dengan air yang dicampur dengan batu es di dalam bak mandi saat tengah malam dalam kondisi hujan petir yang lebat.
Apa yang sedang terjadi padaku saat ini? aku bertanya di dalam hati sambil terus menatap mata Feli yang terbuka lebar. Pada saat mataku dan mata Feli bertemu, tiba-tiba aku merasa tubuhku berada di tempat yang berbeda dan rasanya sangat hampa.
Seperti melewati lorong waktu, aku berada di dalam situasi baru yang sama sekali tidak aku kenali. Feli, apa yang sebenarnya terjadi? bagaimana mungkin semua ini bisa terjadi? tanyaku di dalam hati sambil mengagumi kelebihan Feli yang satu ini.
Dimana aku? ucapku melanjutkan tanya di dalam hati karena merasa berada di suatu ruangan yang tidak aku kenali dan semua nuansanya tampak asing bagiku.
Aku melihat seorang gadis yang ternyata adalah Azura tengah memilih kamar mandi yang tampak lebih bersih dan terang. Azura memasuki dan membereskan urusannya dikamar mandi.
Tidak lama, aku mendengar suara kran yang terbuka besar dari kamar mandi di sebelahnya yang awalnya tampak kosong. Kemudian terdengar juga seseorang yang tengah menyiram-nyiramkan sesuatu kemudian menyanyi dengan suara yang hampa. Suaranya terdegar lirih dan dingin. "Mungkin seseorang itu sedang sakit," pikir ku.
Aku merasakan sensasi berbeda pada tubuhku saat aku mendengar suara nyanyian itu. Seperti suara yang tidak biasa dan aku pun melihat Azura bergegas keluar
dari kamar mandi dan dia terlihat tidak nyaman.
Saat aku hendak keluar dan mengikuti langkah Azura, rasanya ada yang memegang pundakku dan menahannya. Tangan seseorang itu terasa dingin sekali hingga membuat perasaanku mulai tidak karuang dan jantung ku berdebar kencang.
Aku membalik wajahku dan melihat sekeliling ruangan, siapa yang sudah menahan pundakku tadi? karena rasa tangan itu menghilang saat aku melihat ke belakang.
Tak lama, tiba-tiba suara kran air di kamar mandi sebelah berhenti dan tidak
ada lagi suara apapun, termasuk suara nyanyian yang tadinya terdengar sangat misterius.
Dalam kebingungan dan kesendirian, aku terus memperhatikan sekelilingku dan tiba-tiba aku mendengar suara teriakan Azura yang sangat kuat dan ketakutan. Suara teriakan tersebut sangat mengiris hatiku, ditambah lagi dengan suara tangisan yang terisak-isak, ia terdengar sangat ketakutan.
Aku berlari ke arah sumber suara Azura untuk melihat apa yang terjadi padanya, tapi semakin aku berlari ke arahnya, aku semakin merasa sangat jauh. Bahkan kamar Azura yang awalnya tampak cukup dekat denganku, sekarang menjadi sangat jauh dan semakin aku berlari mengejar suara Azura, suaranya pun semakin jauh dan itu membuat aku bingung.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘