ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
MENCARI INFORMASI


Pagi ini aku sudah merasa lebih baik dan tenang. Aku segera keluar dati kamar setelah membersihkan dan merapikan diriku karena hari ini aku akan ke kampus seperti biasanya. Setibanya di luar aku melihat Feli sudah membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan. Feli bilang Ayah sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali dan Ayah menitipkan uang jajan untukku


Wajah Feli tampak sangat ceria dan penuh warna. Tapi aku masih saja dalam mode bingung sehingga membuat diriku tampak malas dan wajahku pucat. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menyetabilkan emosiku? Mungkin aku harus menceritakannya kepada seseorang yang aku percaya.


"Iya Fel, makasih. Apa kamu juga mendapat uang jajan dari Ayah? "


"Tentu saja. Mungkin sama banyak dengan uang jajan kamu Sarah. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha."


Ya Tuhan, tolong jaga tawa sahabatku. Jarang sekali aku melihat Feli seperti ini. Ucapku di dalam hati. "Semalam kalian kemana saja? "


"Ngak ada. Cuma di mesjid saja. Kami mendengarkan ceramah setelah shalat magrib dan pulang selesai shalat isya berjamaah."


"Heeemh ... begitu ya. "


"Seru sekali, sayang kamu ngak ikut Sarah. Penceramahnya sangat lucu dan beliau menyampaikan segala sesuatunya dengan sangat baik."


"Mungkin lain waktu aku akan ikut bersama kalian."


"Iya."


Tin tin tin tin....


"Sepertinya Kak Rio sudah datang. Tepat waktu, ayo ajak sarapan dulu Sarah!"


"Baik Feli," sahut ku lalu aku bergerak ke arah pintu luar untuk membukakan pintu bagi Kak Rio.


"Sayang, kenapa kamu pucat banget?" tanya Kak Rio sambil memegang pipi kiriku dengan melembarkan telapak tangan kanannya sehingga menutupi hampir seluruh bagian pipi kanan ku.


"Ada yang ingin aku ceritakan Kak, tapi tidak sekarang."


"Baiklah ... kapanpun kamu butuh, silahkan cerita Sarah."


"Makasih Kak, ayo masuk dan sarapan dulu."


"Tidak perlu, aku sudah sarapan di rumah. Pagi ini Mama masak banyak dan aku disuruh untuk menghabiskannya. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha, perutku sampai mau meledak rasanya," ujar Kak Rio sambil menggosok-gosok perutnya.


Aku tersenyum kecil hanya untuk mengimbangi cerita Kak Rio dan juga tawanya. Aku benar-benar tidak bisa membohongi diriku sendiri tentang kecemasan ku terhadap Feli. Bahkan aku tidak bisa pura-pura tertawa dan bahagia.


"Ya sudah, kalau gitu kita ke kampus saja sekarang ya Kak? "


"Iya .... "


"Fel, ayo berangkat sekarang! Kak Rio sudah sarapan di rumahnya."


"Ok ok kalau begitu," sahut Feli dan kami mulai melakukan perjalanan ke kampus.


*****


Setibanya di kampus, Feli turun terlebih dahulu dan kebetulan sekali Rian juga baru saja tiba dan kami saling berpapasan. "Sarah, aku bareng sama Rian ya? "


"Iya .... " jawabku dengan senyum palsu saat menatap Rian.


"Kita duluan ya senior," kata Rian sambil meninggalkan aku bersama Kak Rio.


"Kak, ada yang aneh dengan Rian," kataku tak lama setelah Rian dan Feli meninggalkan aku.


"Maksudnya? "


Aku mulai menceritakan tentang apa saja yang aku lihat sejak kemarin pagi hingga saat aku di dalam ruangan kelas dan diteror oleh seorang gadis misterius yang sama sekali tidak aku ketahui identitasnya.


Aku juga mengatakan kepada Kak Rio bahwa Gadis Misterius itu menancapkan pulpen tepat di dadaku dan seketika aku memuntahkan banyak cairan berbusa dan berbau asam yang sangat menyengat.


"Setelah kejadian itu Feli dan Rian datang ke dalam kelas, kemudian Rian membantuku. Dia mengatakan bahwa aku terkena serangan angin duduk dan itu sangat berbahaya untukku. Untung saja aku segera muntah dan mengeluarkan banyak angin sehingga nyawaku tidak melayang."


"Tidak hanya sampai di situ Kak. Setelah pulang ke rumah, Rian memberikan Feli sebuah kado istimewa dan setelah dibuka ternyata kado Itu adalah tas yang sama persis dengan milik Gadis Misterius yang aku lihat di dalam kelas saat itu."


"Hemmmh ... kamu yakin Sarah? "


"Iya kak, aku sangat yakin sekali. Makanya aku begitu khawatir dan cemas. Coba Kakak pikirkan! Apa hubungan Rian dan Gadis Misterius itu? kenapa tas Gadis itu ada ditangan Rian dan akhirnya dia memberikan tas tersebut sebagai kado untuk Feli? Kenapa


gadis itu menyerangku?"


"Ya ... jika dipikir-pikir tentang hal itu, tentu saja kita menjadi curiga kepada Rian. Apalagi tampaknya kamu sangat yakin dengan apa yang kamu lihat Sarah. Aku rasa kita perlu mencari tahu tentang siapa Rian sebenarnya."


"Iya, itulah yang aku inginkan Kak."


"Baiklah kalau begitu saat nanti aku memiliki waktu luang, aku akan mendatangi ruang administrasi untuk mengetahui riwayat Rian baik itu keluarganya maupun hal-hal yang berkaitan dengan dirinya."


"Terima kasih banyak ya Kak Rio. Aku nggak tahu harus melakukan apa. Makanya aku sangat tidak nyaman dan lemas karena sangat mengkhawatirkan keselamatan Feli. Selain itu aku juga tidak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada Feli. Apalagi jika ternyata Rian sama sekali tidak berniat buruk dan jahat kepadanya. Bisa-bisa persahabatan kami .... "


"Iya, aku mengerti Sarah dan yang paling berat di dalam hal ini adalah kamu pasti sangat cemas jika Feli nantinya akan berpikir kalau kamu ingin menghancurkan hubungan dia dan Rian. Selain itu hubungan kamu dan Feli juga bisa hancur berantakan. Apa aku salah?"


"Tidak. Pikiran Kakak sangat tepat dan hal itu membuat aku risau."


Kami tiba di depan ruang kelas dan sebelum Kak Rio meninggalkan aku, ia berpesan agar aku bisa bersikap sebiasa mungkin karena belum tentu apa yang aku pikirkan adalah benar.


"Aku mengerti maksud Kakak dan aku juga mengucapkan terimakasih karena kakak sudah bersedia membantu ku serta mendengarkan setiap keluh kesah ku."


"Tentu saja Sarah kamu itu kan sayangku. Kalau begitu, kamu masuk ke dalam kelas dan aku juga akan mulai bergerak ke ruang administrasi. Oke, bye .... "


"Bye ... hati-hati ya kak, makasih."


Saat Kak Rio sudah meninggalkan aku sendiri di depan pintu kelas, aku segera masuk ke dalam kelas dan berusaha bersikap sebiasa mungkin seperti yang diarahkan oleh Kak Rio. Tanpa basa basi, aku langsung menuju ke kursi belajar ku.


Hari ini suasana terasa sangat tenang dan nyaman. Walau begitu, aku tetap merasa tidak bisa bahagia dan tersenyum lebar seperti teman-teman pada umumnya. Aku berharap Kak Rio segera mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaanku tentang Rian.


Hemmmh ... aku menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan agar lebih santai. Penasaran, aku melihat ke arah kursi pojok belakang ruang kelas tepat di mana Gadis Misterius itu pertama kali duduk dan aku mengatakan di dalam hati. Siapa pun kamu tolong katakan kepadaku. Tunjukkan kepadaku agar aku bisa mengerti karena aku bukan orang jahat dan aku tidak ingin diperlakukan buruk oleh roh sepertimu! Ucapku tanpa suara, menantang jiwa roh yang tidak tenang tersebut.


Bel istirahat sudah berbunyi. Feli dan Rian mengajakku untuk ke kantin bersama, tapi aku menolak ajakan mereka dengan halus. Bukan tanpa sebab, jika aku di dalam kelas ini sendirian seperti kemarin, mungkin aku bisa bertemu dengan gadis misterius itu lagi.


"Baiklah ... kalau gitu, nanti aku akan bawakan mu beberapa buah kue atau roti dan air mineral," ucap Feli sambil memegang bahu kiriku lalu ia pergi bersama Rian meninggalkan ruangan kelas.


15 menit berlalu tapi aku masih saja belum dapat merasakan kehadiran Gadis Misterius tersebut. Dengan mata yang melirik ke sana kemari aku mencari cara agar dapat berkomunikasi dengan dirinya. Sesuatu muncul di dalam otakku, sepertinya aku bisa menggunakan hal seperti ini untuk memancing Gadis Misterius tersebut.


Seperti kesukaannya, aku juga melakukan hal yang sama yaitu memainkan ujung pulpen agar bergerak masuk dan keluar dengan cepat. 5 menit berlalu, tapi aku masih belum bisa merasakan apapun. Aku menghela nafas beberapa kali dan berniat untuk meninggalkan ruang kelas karena memang tampaknya dia tidak ingin muncul.


Setelah menyusun buku dan pulpen ke dalam tas, aku langsung berdiri. 4 langkah aku meninggalkan kursi belajar ku, tiba-tiba aku mendengarkan suara permainan jari di ujung pulpen yang persis sama seperti kemarin. Dia datang, ucapku tanpa suara.


Perlahan, sembari mengumpulkan keberanian. Aku memutar kepala dan tubuhku ke arah belakang. Sepertinya suara tersebut berasal dari pojok ruang kelas. Dengan nafas yang mulai berantakan aku membuka mataku lebar-lebar untuk melihat sosok misterius tersebut tapi dia tidak ada di sana. Dimana? Tanyaku di dalam hati.


Aku menghadap ke lantai sambil mengatur nafasku dan aku berniat untuk kembali keluar dari ruangan ini. Tapi, tiba-tiba gadis misterius tersebut muncul di hadapanku dan wajahnya sangat dekat dengan wajahku hingga aku dapat melihat dengan jelas bentuk hidung dan bibirnya.


"Sial!" ujarku tanpa sengaja karena sangat terkejut hingga tubuhku terjatuh di lantai. Sekali lagi, gadis itu menghilang entah kemana.


Aku kembali berdiri dan memperhatikan sekeliling hingga tubuhku berputar beberapa kali (360°) di dalam kelas. Dasar bodoh! Ternyata aku masih takut dan gemetaran. Bagaimana kamu bisa melakukannya Sarah? Tanyaku tanpa suara.


Sepertinya dia sudah pergi, aku kembali melangkah ke depan, tapi pada saat aku mengangkat kaki kanan ku, seseorang menyentuhmu dari belakang. Siapa? padahal di ruangan ini, hanya ada aku seorang diri.


Bersambung....


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis. Terinspirasi dari kehidupan pribadi saya.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘