
Di dalam kamar, Feli berputar-putar karena merasa bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Feli tau apa yang diperintah oleh Sarah pasti sangat penting, tapi dia juga tidak ingin mengabaikan perasaan Rian.
Feli memutuskan untuk menelpon Rian dan mengatakan apa yang terjadi. Awalnya Rian kaget dan bingung, tapi Rian mengatakan jika dia akan menyusul Feli ke rumah dan akan membantu dalam urusan ini. Sementara untuk tas itu, Rian tidak masalah jika harus dibakar.
Sisi Sarah.
Aku berjalan perlahan menuju kamar rahasia tersebut. Aku sangat yakin, dari sinilah asal suara Kak Rio yang menggema dan terdengar kesakitan.
Saat aku mendorong pintu yang tidak dikunci tersebut, aku merasa ruangan ini kosong bahkan hampa. Aku memeriksa tiap detilnya, dimana setiap meja beralaskan kain hitam dengan banyak baki dan kendi yang terbuat dari tanah liat di atasnya.
Aku melihat kendi-kendi yang amis tersebut. Ternyata isinya darah yang sudah bercampur dengan aneka bunga. Gila ... benar-benar gila, ucapku tanpa suara sembari menjepit kedua lubang hidung dengan tangan kanan ku.
"Aaaak ... aaakkkkk .... " suara teriakan Kak Rio kembali terdengar.
Pandanganku teralihkan pada sudut ruangan yang dialaskan dengan kain hitam pekat. Perlahan, aku menyingkap kain tersebut. Benar saja, aku melihat Kak Rio dengan kedua tangannya yang sudah diikat ke atas, begitu juga dengan kedua kakinya.
Dari tubuhnya, mengalir darah segar seperti seseorang yang sedang mandi di bawah pancuran. Aku melihat asal darah tersebut, ternyata dari bagian lengan dan dada kanan Kak Rio.
Dari sini, aku dapat melihat Kak Rio sangat kesakitan dan menderita akibat luka yang ia terima. Aku pikir Kak Rio akan dibiarkan begitu saja, tapi ternyata aku salah. Di depan mataku, pamannya Sinta ternyata berniat untuk menghabisi Kak Rio.
Ia mengangkat tinggi-tinggi tongkat hitam miliknya dengan ujung yang tajam dan runcing, sepertinya ia ingin menghabisi Kak Rio seperti ia menghabisi Bu Puji di hadapanku sebelumnya.
Tidak tinggal diam, dengan cepat aku segera berlari menuju arah pamannya Sinta yang sudah bersiap-siap ingin menancapkan tongkat miliknya di tubuh Kak Rio. Dengan gunting yang aku temukan di kamar, di mana aku bertemu dengan jasadnya Sinta. Aku menusuk punggung laki-laki biadab tersebut dengan sangat kuat hingga tembus ke bagian pegangan gunting tersebut.
Tidak hanya cukup sekali, aku mencabut gunting tersebut hingga darah yang mengucur dari lubang punggungnya mengenai wajahku dan pakaianku. Aku kembali menancapkan gunting tersebut di pundak kanannya lalu saat ia berbalik arah dan melihat diriku, aku kembali menusukkan gunting tersebut tepat di perut dan juga lengan kanannya.
"Matilah kau!!" teriakku dengan suara dan mulut yang gemetaran. "Matilah ...!!" Ramayana aku terbayang wajah Bu Puji, Sinta, Feli dan juga Kak Rio yang sudah sangat kacaw.
4 tusukan dari gunting ukuran cukup panjang tersebut aku rasa sudah dapat menghentikan langkah manusia manapun, tapi ternyata aku salah. Disaat aku mengira bahwa laki-laki itu akan melemah, mundur, bahkan kalah, ternyata ia malah tertawa terbahak-bahak seperti tidak merasakan sakit sedikit pun.
Luka di tubuhnya tetap saja tampak seperti lubanh, darah pun mengucur dari dalamnya tapi seakan tubuh itu mati rasa, laki-laki tersebut terus tertawa sambil menatapku tajam seakan ingin meremas dan mencengkram ku.
Krak ... krak ... Krak ... Krak ....
Ia menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Seperti ingin dipatahkan hingga terdengar suara tulang-tulang seperti patah.
"Sialan! manusia sialan," ucapnya dengan mata yang melotot seakan aku adalah musuhnya sejak 7 abad yang lalu.
"Kamu yang sialan. Laki-laki biadab yang tidak punya perikemanusiaan, yang sanggup melakukan perbuatan-perbuatan keji dan dosa terbesar hanya untuk kesenangan diatas dunia. Aku rasa jika aku membunuhmu, Tuhan tidak akan marah padaku,'' ucapku dengan suara yang lantang tanpa gemetar kali ini
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, kamu pikir bocah seperti dirimu bisa membuat aku mati? ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Tau apa kamu tentang kematian?"
"Aku memang tidak tau apa-apa, tapi yang jelas ... atas izin Allah, aku akan membinasakan kamu!!" teriakku sambil terus maju dan bertarung seperti seorang pendekar yang memiliki ilmu tinggi. Padahal, empat kali pukulan dari Pamannya Sinta, hanya mampu aku balas sebanyak satu kali.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, dasar bocah bodoh," ucapnya sambil menatapku sangat tajam.
"Satu ayunan tongkat ku saja, sudah bisa mengeluarkan darah segar di dalam tubuhmu sehingga dapat memanggil dan membangkitkan junjunganku," sambungnya dengan penuh keyakinan.
Ya Tuhan, aku harus apa? aku mohon ... berikanlah aku sedikit saja kekuatan dan keberanian agar bisa memusnahkan Fir'aun di zaman ku ini, amin. Ucapku tanpa suara.
"Kamu, sama busuknya dengan junjunganmu kan? amis dan juga kotor," ucapku terus memanaskan hatinya.
Bukan tanpa sebab, tubuhku sudah tidak lagi bisa bergerak. Namun secara tidak sengaja, saat pertarungan tadi. Aku melihat empat buah lilin yang disusun persis dengan rasi bintang yang aku baca di dalam buku coklat di kamar atas sebelum aku terseret di ruang bawah tanah ini.
Selain itu, aku juga mengingat perkataan dari Bu Puji tentang cahaya dan aku harus memadamkannya. Mungkin saja ... cahaya yang dimaksud berasal dari lilin berwarna merah dikelilingi bunga kamboja dan kantil kuncup tersebut.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha, dasar bocah bodoooooooh," teriaknya sambil mengangkat tubuhku di bagian leher hingga aku merasa nafasku akan terhenti.
*Kak Tania ... Ibu ... si Mbok ... tunggu aku. Ucapku tanpa suara.
Sarah ... Sarah ... coba lihat! Ayah membawakan mu sarapan pagi. Hari ini Ayah yang masak, kamu istirahat saja, Nak. Jika kamu mau ... Ayah akan menyuapimu.
Sarah ... kamu harus sehat dan terus semangat!
Kenapa begitu Ayah?
Karena di dunia yang luas ini, hanya kamu yang Ayah miliki, Sarah.
Ayah* ...
Serasa Ayah bermain di dalam khayal ku, hingga aku mampu membuka mata kembali lalu melakukan sesuatu yang pasti tidak disukai semua orang. Aku mengumpulkan air liur ku lalu meludahi wajahnya.
Dia sangat marah dan terkejut, hal ini membuat selera membunuhnya secara langsung menurun. Aku tau, dia ingin membunuhku perlahan. Tapi semua ini bisa jadi celah untuk ku bertahan dan tetap hidup.
Masih di dalam cekikkannya yang mencengkram, aku menyunggingkan senyumku seolah mengejeknya. "Aaaahh .... " teriaknya terdengar sangat kesal, lalu ia melemparkan tubuhku ke dinding tepat di meja altar. Persis seperti dugaanku, aku mendapat apa yang aku inginkan.
Jarak ku dengan keempat lilin itu tidak terlalu jauh, tapi tubuhku sungguh tidak bisa bergerak. Dengan tangan yang gemetaran, aku menyeret tubuhku dan mematikan lilin pertama.
"Tidaaaakkk .... " Teriakan dari mulutnya membuat aku yakin dengan pemikiranku. Tanpa berlama-lama aku meneruskan kerjaku hingga semua lilinnya padam. "Sialaaan ... anak manusia sialan."
Aku melihat pamannya Sinta melemah dan ia terlihat sangat tua. Rambutnya yang awal tampak hitam, kini memutih. Kulitnya yang kencang, jadi keriput dan berkerut. Tubuhnya yang tampak kokoh serta besar, lunglai dan menciut.
Tak lama terdengar suara sinden beserta iringan musik khas kejawen. Suaranya itu sangat halus tapi sangat menusuk hingga rasanya menyedot seluruh sum-sum di dalam tulangku.
"Bangkitlah junjunganku ... bangkitlah! jangan biarkan makhluk kecil ini menghapusmu dan dan menghinamu!" ucapnya dengan tubuh yang tergeletak di lantai kasar.
Tak lama, aku melihat sosok dari bayangan yang bertubuh besar, bermata menyala, dengan tanduk di atas kepalanya yang semakin lama semakin memanjang dan membesar.
Dia hulk bertanduk, ujarku di dalam hati.
Feli, apakah kamu sudah membakarnya? mengapa aku tidak merasakan aura hitam dari kejauhan itu hancur? apa yang sedang kamu lakukan Feli?
Suara erangan dan raungan kemarahan tersebut semakin besar dan menggetarkan seluruh ruangan. Hingga semua barang-barang yang ada di meja berserakan, jatuh, dan hancur berantakan.
Sarah ... ayo lakukan bersama! tiba-tiba suara Feli terdengar jelas di telingaku. Walau tidak melihatnya secara langsung, aku tau apa yang telah terjadi pada Feli dan apa yang harus aku lakukan. Api harus dikembalikan pada api!
Aku menarik kain alas altar yang berwarna hitam. Aku membungkus keempat lilin di dalam kain hitam tersebut, lalu aku membakarnya dengan korek api kayu yang ada di atas meja tersebut.
"Entahlah kau ibliiiiiiiis .... " teriakku dan Feli secara bersamaan.
Belum sempurna bentuk iblis tersebut sehingga membuatnya cukup lemah dan tidak dapat bergerak bebas ke arahku. Raungannya membuat aku dan Kam Rio menangis secara bersamaan.
Dia telah terbakar, api sangat cepat menyambar, hingga segera menghabiskan kaki hingga tengah tubuhnya. Iya meronta-ronta sambil mencari jalan keluar agar api di tubuhnya padam. Sementara Pamannya Sinta berusaha membantu junjungannya tersebut hingga tubuhnya juga ikut terbakar.
"Kembalilah kalian ke NERAKAAAA .... " teriakku sambil terus menangis sembari melihat seluruh ruangan ini terbakar.
Aku menatap mata Kak Rio, begitu juga dengan Kak Rio. Saat kami saling bertatapan, Kak Rio mengatakan padaku, "Pergilah dari sini, Sarah! aku mohon. Aku mohon .... " ujar Kak Rio yang masih terikat dengan rantai besi.
Aku menangis hebat, lalu merangkak ke arahnya. Aku memeluk tubuhnya sangat erat dan mengatakan kepadanya, "Kita hadapi api itu bersama-sama, Kak. Kamu dan Aku."
"Sarah ... aku sangat mencintai kamu."
Bersambung....
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya " KETURUNAN KE 7," yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘