
Udara tidak terlalu panas, walaupun hampir memasuki waktu siang. Tapi saat aku menatap keluar, aku bisa menyimpulkan bahwa matahari mulai pada titik tertinggi.
Lalu tiba-tiba aku teringat Mbah Pecek yang ada di luar sana. Mungkinkah dia yang menyelimuti rumah ini bagai awan untuk meringankan beban Nenek Ratih? Sungguh kelompok yang kompak.
Ya Allah .... ternyata mereka punya hati, ucapku tanya suara sembari menelan air liurku yang berat. Mereka saling melindungi dan saling perduli, lalu bagaimana mungkin ada manusia yang dikatakan sempurna namun sanggup membunuh manusia lain untuk mencapai tujuan hidupnya?
"Kamu minum yang manis dulu," ucap Nenek Ratih dengan wajahnya yang tertunduk.
"Iya, Nek," sahut ku dan saat itu aku meminta Feli untuk membuatkan aku teh manis dalam gelas ukuran besar.
Sebenarnya menurutku Nenek Ratih tidak pantas dipanggil nenek karena raut wajahnya yang masih terlihat begitu muda dan ia sangat tampak cantik jelita.
Walaupun pakaiannya terlihat kusam dan kumuh, tapi wajahnya itu bercahaya. Kemudian saat aku melihat dirinya, aku seperti menatap bulan di dalam gelap malam. Aku berdoa kepada Allah semoga aku masih bisa menatapnya hingga akhir hidupku karena entah mengapa aku merasa tenang saat melakukannya.
Tak lama Feli datang dengan membawakan segelas besar teh manis hangat pesanan ku dan aku langsung meminumnya. Aku menatap Nenek Ratih dengan perasaan tidak menentu, yang jelas hatiku mulai tidak bisa tenang.
"Berbaring saja agar lebih mudah untuk ku."
"Baik," sahut Paman sembari menuju ke ruang tengah yang lebih lapang.
"Aku titipkan hartaku yang paling berharga," ucap Nenek Ratih tanpa menatap mataku, tapi aku tau bahwa kalimat itu untukku.
"Apa kamu yakin?" tanya Mbah Siji yang tiba-tiba muncul dari arah belakang tubuhku.
Bingung, itulah satu kata yang tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan ku. Tak lama, aku melihat Nenek Ratih mulai berdiri dan meletakkan kedua telapak tangannya (tanpa menyentuh) tepat di kepala Paman.
15 menit berlalu dalam hening, mata ku terus terpaku pada sosok tak kasat mata tersebut. Ia tampak mulai menarik sesuatu (seperti asap berwarna hitam dari ubun-ubun Paman. Kemudian, mulutnya mulai bergerak perlahan namun pasti.
Setelah beberapa menit, aku melihat sesuatu yang kelam keluar dari dada Paman dan pada saat yang bersamaan, telapak tangan Nenek juga ikut menghitam. Bahkan urat-urat tangan hingga wajah Nenek juga tampak sangat pekat. Ini seperti racun ular, ucap ku tanpa suara.
"Mamak ...." Terdengar suara lirih dari seorang anak bukan bangsa manusia dan saat mendengar kata itu, Nenek Ratih menatap ke arah sumber suara.
Tak lama, aku melihat Mbah Siji menggendong anak perempuan tersebut menjauhi Nenek Ratih dengan penuh kasih sayang. Wajah, bentuk tubuh dan rambutnya persis sama dengan Nenek Ratih.
"Mamak ...." teriaknya sekali lagi sambil menangis, dia menangis persis seperti anak manusia yang takut kehilangan ibunya.
Melihat bocah perempuan itu menangis, aku juga ikut menangis. Aku menangis sama hebatnya dengan bocah itu, aku sama sekali tidak perduli penilaian yang lainnya terhadap diriku yang seolah-olah tiba-tiba menangis tanpa alasan.
Bersambung.
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘