ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
3 BULAN KEMUDIAN


Seperti yang disarankan Mbah Brahma kepadaku, bahwa aku harus mampu memilah aktivitas seperti apa yang harus aku jalani agar terjadi keseimbangan antara jiwa dan ragaku. Agar mendapat ketenangan antara hati dan pikiran ku. Agar mampu berpikir jernih dan terang dalam kehidupanku.


Dari situ, aku mulai merubah pola hidupku. Mulai dari cara makan yang biasanya sesuka hati, mulai dari menu hingga waktunya. Saat ini aku belajar untuk lebih disiplin agar apa yang aku makan bisa menjadi manfaat bagi tubuhku, bukan hanya sekedar kenyang lalu buang.


Selain itu, aku juga mulai melakukan olahraga. Bukan olahraga otot berat, hanya joging mengelilingi rumah atau jalan santai pada pagi minggu di taman tidak jauh dari rumah.


Mens sana in corpore sano, artinya di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Dari ungkapan itulah aku berusaha merubah cara pikir dan hidupku dengan perlahan karena di dalam petualang hidupku, aku membutuhkan fisik yang luar biasa bugar, pikiran yang tenang dan jernih, serta jiwa yang sehat agar mereka tidak bisa memanfaatkan aku dan mengambil diriku.


"Sarah, sarapan?!"


"Hari apa ini, Fel?"


"Senin."


"Hmmmm .... "


"Puasa ya?"


"Iya .... "


"Maaf ya, aku makan duluan."


"Iya, nggak apa-apa. Rian mana?"


"Lagi bereskan buku. Hari ini jadi mau menemui Paman?"


"Jadi sih kalau kamu dan Rian sedang nggak sibuk."


"Aman ... tadi malam aku juga sudah bilang kok sama Rian.


"Bagus. Oh iya, Ayah mana?"


"Di kamar, tadi Ayah minta sarapan di kamar aja."


"Kok gitu? tumben banget. Aku mau lihat Ayah dulu sebentar ya, Feli."


"Iya .... "


*****


Tok tok tok tok tok tok


"Assalamuallaikum Ayah .... " sapa ku sambil mengetuk pintu kamar Ayah dengan perlahan.


"Waalaikumsalam ... masuk!"


"Ayah, kenapa sarapan di dalam kamar? apa Ayah sedang tidak enak badan?" tanya ku tanpa menyentuh dahi Ayah.


"Iya ... Ayah mimpi kurang enak sudah tiga malam ini, Sarah."


"Mimpi apa Ayah? ceritakan saja padaku."


"Ayah mimpi kamu berdiri jauh sekali di ujung lorong, Nak. Ayah sudah berusaha mengejar, tapi tidak pernah mampu sampai untuk menjangkau kamu, Sarah," ucap Ayah sambil melipat dahi dan membuang nafas panjang.


"Istigfar, Ayah. Itu hanya bunga tidur, sebaiknya Ayah jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Lebih baik, Ayah berdoa untukku, untuk kita semua. Agar kita dilindungi oleh Allah."


"Amin ... ucap Ayah yang sudah tampak mulai tenang.


"Amin, Yah. Setelah pulang dari kampus, aku langsung ke tempat Paman ya, Yah. Ada yang harus aku selesaikan."


"Iya, Nak. Hati-hati dan jika terjadi sesuatu, cepat kabari Ayah."


"Aku mengerti, Yah. Aku pamit ya Ayah," ujar ku sambil mencium tangan Ayah, lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Sarah .... " panggilan Ayah menahan langkah ku.


"Jilbab kamu bagus ... apa itu dari dia?" tanya Ayah dan itu membuat aku malu hingga tertunduk.


"Iya, Ayah," sahut ku sambil menahan senyum dan meninggalkan kamar Ayah.


*****


"Sudah sarapannya?"


"Sudah," jawab Feli dan Rian bersamaan.


"Ya sudah, ayo kita ke kampus! Nanti telat lagi."


"Baiklah .... "


"Pak Antok ... kami pergi ya. Tolong pintunya di kunci."


"Iya, Non. Saya mau cuci mobil dulu."


"Iya, Pak. Oh iya, aku titip Ayah ya Pak. Soalnya beliau tampak gelisah dan gusar. Pak Antok kan sudah sangat lama bekerja di sini dan sangat mengenali Ayah. Jadi aku harap Pak Antok bisa membantuku untuk menjaga dan menenangkan hati ayah. Bagiku Pak Anto juga sudah bagian dari keluarga ini.


"Baik, baik Non. Saya mengerti."


"Sarah, ada apa?" tanya Feli yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Ayah bermimpi buruk sudah 3 hari ini. Semoga itu cuma mimpi saja."


"Amin .... "


"Oh iya, apa kalian tau gosip yang beredar di kampus?" tanya Rian memecah kegusaran kami.


"Ya elah Sayang, tau gosip kamu. Kita aja yang cewek-cewek ngak tau," kata Feli sambil menepuk pundak kiri Rian.


"Ha ha ha ha ha ha ha .... "


"Ini ada 3 hal. Yang pertama tentang Bu Marisa yang akan pulang dari luar negeri. Yang kedua tentang kampus kita yang katanya dulu bekas kuburan massal dan yang ketiga tentang kita. Mereka tanya, kita ini saudara atau bukan?"


"Terus kamu jawab apa, Rian?"


"Aku diam dan ketawa aja. Terus akhirnya aku jawab kami saudara seperguruan dan mereka langsung tertawa."


"Ada-ada aja."


"Kepo mereka itu."


"Karena kita tiba-tiba lengket," sahut ku.


"Ha ha ha ha ha ha ha."


*****


Kami tiba di kampus dan langsung menuju ruang kelas. "Kok suasananya jadi dingin ya? padahal cuaca di luar panas banget," tanya Rian yang merasa terjadi perubahan suhu di dalam kelas secara drastis.


"Rian benar," sahut Feli dan tiba-tiba suasana menjadi lembab.


"Sarah, kamu bisa melihat atau merasakannya?"


Ya Allah ... sebenarnya apa yang sudah terjadi? baru sebentar saja kami libur dan saat ini kondisi kampus sangat berubah drastis. Ucapku di dalam hati sembari menatap setiap jengkal ruangan yang berubah-ubah jika dilihat dari arah pandangan mataku.


Terkadang ruangan ini normal seperti biasanya, tapi terkadang ruangan ini berubah wajahnya. Sehingga aku tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi? apa mungkin ini ulah makhluk tak kasat mata? tapi bagaimana bisa? aku terus bertanya di dalam hati sambil menelan air liur ku yang sudah terasa berat.


Ya Allah ... bagiku ini tidak seperti kampus. Lebih tepatnya ini seperti hutan liar yang penuh dengan misteri. Suasananya terasa sangat lembab dan gelap, baunya tidak sedap dan pengap. Sepertinya matahari di siang hari pun tidak mampu menembus dahan dan pepohonan besar yang menyelimuti ruang di atas kepala kami.


Ini tidak mudah dan aku tidak tau tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku berani melangkah untuk mencari tau tentang kebenarannya. Aku berpikir keras kali ini, tapi hatiku menyarankan agar aku tetap tenang dan bersikap sewajarnya.


Mungkin aku harus mengikuti arus karena apa yang aku lihat saat ini, bukanlah hal yang seharusnya. Aku yakin, para petinggi kampus tau tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"Hari ini tidak aja jam perkuliahan, pulang!! Kampus diliburkan hingga lusa," teriak beberapa orang anggota SEMA yang mengelilingi dan memasuki setiap ruang kelas.


"Libur? maksudnya libur?" tanya Feli dengan wajahnya yang tampak bingung sambil menatap ke arah ku dan Rian secara bergantian.


"Libur ... bulan madu lagi," sahut Rian sambil mencuil-cuil pinggang kanan Feli.


"Sayang, iiiiih ... usil. Nakal."


"Sebaiknya kita segera pulang saja, Feli, Rian."


"Iya, Sarah."


"Gimana kalau kita ke pondok pesantren saja langsung?"


"Boleh juga, ayo!" sahut ku.


Kami memutar tubuh dan berniat untuk meninggalkan kampus. Namun pada saat kami sudah tiba di dekat pintu, tiba-tiba Mia (salah satu teman kami) berdiri di depan pintu dan menghadang kami.


"Tulung mangan!?" ucapnya dengan wajah yang tertunduk namun matanya tidak biasa dan saat ia menatapku, rasanya jiwaku beku.


"Apa? maksudnya apa?" tanyaku yang heran dan tidak mengerti arti dari perkataan Mia.


"Sarah, si Mia minta makan," jawab Feli yang sepertinya paham dengan ucapan Mia.


"Oh ... maaf Mia, aku nggak bawa makanan hari ini. InsyaAllah aku berpuasa. Kalau kamu mau, aku punya uang sedikit."


"Bukannya Mia orang jakarta ya? kok dia pake bahasa Jawa?" tanya Feli sedikit berbisik.


Tak lama, Dosen senior lewat dengan langkah tergesa-gesa dari arah tangga ke pintu gerbang luar. Tanpa bisa dipahami, dengan sangat cepat, Mia bergerak serta menyerang Dosen tersebut kemudian menggigit tangan kanannya hingga luka berat, robek, dan mengeluarkan banyak darah.


"Aaaaaaakkh .... "


"Nyaaaaam .... " ujar Mia dan pada saat yang bersamaan Rian serta beberapa orang berlari, kemudian langsung memisahkan antara tangan Dosen Adnan dan mulut Mia.


Mia tampak sangat kuat, bahkan lima lawan satu masih tak cukup untuk melepaskan gigitannya dari tangan dosen yang sudah memiliki banyak rambut putih tersebut. Geram dan merasa dalam keadaan berbahaya, sang Dosen menendang perut Mia hingga tubuh Mia dan beberapa orang lainnya jatuh serta terdorong ke belakang.


Pak Adnan menahan tangan kanannya yang terluka dengan tangan kiri. Namun darah kental terus menetes tanpa henti di atas lantai putih mengkilap.


Awalnya aku pikir Rian akan berhasil mengunci Mia, tapi ternyata aku salah. Dengan sigap, pada posisi merangkak seperti seorang bayi tapi dalam gerakan yang sangat cepat, Mia mendekati kumpulan tetesan darah segar tersebut dan menj*latinya dengan sangat bersemangat.


"Ha ha ha ha ha ha ha .... " tawanya sambil menatap semua orang yang ada di sekelilingnya dan terus menempelkan lidahnya pada lantai.


"Sarah?" ujar Feli. "Bagaimana ini? kita tidak bisa bergerak?" tanya Feli yang bingung karena tubuhku dan Feli terjebak diantara kerumunan mahasiswa lainnya yang seperti sedang menonton acara horor dengan mengenakan kacamata 4 dimensi.


"Rian!!" teriak ku dari sebrang karena tubuhnya terdorong cukup jauh. Tampaknya Rian yang jatuh tidak lagi dapat bergerak, entah apa yang terjadi padanya dan beberapa orang lainnya. Yang jelas tubuh Rian seakan mengayu.


"Geser, geser, awas!!" ujar Feli meminta jalan agar kami bisa lewat, tapi sayangnya kerumunan ini membuat kami kesulitan.


"Awas cuy! Kamu mau mati digigit ha?" kata Kenzi yang berusaha memberikan jalan kepadaku dan Feli.


"Pak Adnan, anda baik-baik saja?" tanya Dosen lain dari arah samping kanan. Mia merasa terusik dan dia menatap tajam ke arah dosen muda yang tampan dengan gaya rambut stylish nya.


"Geseeerr!!" teriak Kenzi sambil mendorong kuat susunan mahasiswa yang ada di hadapan kami hingga tubuhku, Feli dan Kenzi berhasil lepas dari pagar hidup tersebut.


"Aaaaa Ha ha ha ha ha .... " ucap Mia sambil membuka mulutnya lebar-lebar dan mulutnya tampak merah serta berlendir sangat kental.


"Mia .... " sapa ku sambil berjalan perlahan ke arahnya yang masih dalam posisi telungkup (seperti cicak). "Sakit ya?" tanya ku sambil terus mendekatinya. "Tenanglah ... Mia."


Mia mengalihkan pandangannya kepada diriku, tapi itu lebih baik karena jika dia menyerang orang lain, maka aku tidak bisa membantu siapapun karena gerakan ku tidak bisa secepat Mia yang saat ini sedang dirasuki iblis.


"Sarah, hati-hati!" ucap Feli dari belakang dan aku menganggukkan kepalaku sambil berucap dengan suara yang kecil.


اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.


Artinya: Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.


اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


"Allaaaaaah, tidak ada Tuhan (yang berhak atau boleh disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Yang tidak mengantuk dan tidak juga tertidur. Kepunyaan-Nya adalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya."


"Aaaaggg ... metu saka kene!"


"Pergi dari sini," sambung Nenek Nawang Wulan.


"Aku akan pergi setelah kamu pergi."


"Metu saka kene!"


"Tenanglah ....!!"


"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim," ucap Rian diikuti banyak orang yang berada di sekeliling kami.


"Metuuuuuuuuu!!" teriak Mia hingga muntah hebat.


"Bismilaahir rahmoonir rohiim. Laa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin," ucapku saat sangat dekat dengan telinga Mia sembari memegang induk kakinya.


Artinya : Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu berlaku sombong kepadaku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. 


"Bismilaahir rahmoonir rohiim. Laa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin." Aku membacakan doa ini untuk mengobati Mia yang kesurupan dengan penuh keyakinan.


"Aaaaaakkk .... " teriak Mia dengan suara yang sangat kuat hingga menggema di dalam ruangan kampus seperti terowongan ini.


"Bismilaahir rahmoonir rohiim. Laa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin, Bismilaahir rahmoonir rohiim. Laa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin, Bismilaahir rahmoonir rohiim. Laa ta'luu 'alayya wa'tuunii muslimiin," sambung Rian sambil membacakan ayat-ayat pendek lainnya. Semakin Mia berteriak kesakitan, tubuh Rian semakin dapat digerakkan dan Rian menggerakkan tangan kanannya seperti mencabut sesuatu dari wajah Mia dan Mia langsung hilang kesadaran.


Ini adalah doa pengusir jin yang perlu dibisikkan di telinga kanan orang yang sakit seraya menekan jempol kaki kanan dan kirinya, insya Alloh jin yang menggangu dan merasuk tubuh orang tersebut akan keluar dengan sendirinya.


Doa ini sudah banyak dibuktikan dan terbukti makbul. Oleh karena itu, hafalkan lah agar bila suatu saat dibutuhkan, bisa langsung menggunakannya. Selain untuk mengusir jin, doa Nabi sulaiman di atas juga dapat digunakan untuk menjinakan binatang. Semisal bertemu ular liar atau binatang buas lainnya sehingga kita berada dalam bahaya, bacalah doa di atas seraya berpasrah diri kepada Alloh. Insya Alloh, hewan liar tersebut bisa pergi dan tidak mengganggu lagi.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.