ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
SUARA PENGINGAT


Semakin lama semakin letih. Kedua kakiku tidak lagi mampu berlari dengan sempurna, bahkan aku terjatuh berkali-kali. Sakit sekali rasanya hatiku saat mengingat semua tragedi yang menimpa keluargaku. Ada manusia berhati iblis seperti itu.


Aku menggenggam kedua tanganku sangat kuat. Rasanya tidak adil jika aku tidak bisa mematahkan tangan Tante Rima saat ini, kalau perlu aku juga akan mematahkan kedua kaki dan lehernya.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... "


"Kau boleh tertawa sekarang Tante Rima, tapi tidak sebentar lagi," ucapku sambil menggigit bibir bawah ku hingga terluka dan mengeluarkan darah. Aku sangat geram dan marah saat ini.


Dengan hati yang penuh amarah, kebencian dan kesakitan, aku berlari sangat cepat hingga aku mampu menerkam tubuh Tante Rima dan ia tergeletak di lantai dengan posisi terlentang. Sementara aku duduk di atas perut Tante Rima sambil mencengkram lehernya dengan sangat kuat.


Awalnya, aku melihat Tante Rima seperti seseorang yang tengah kesakitan dan ketakutan. Seperti seseorang yang akan menghadapi maut dan itu membuat aku tertawa puas.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... " Lalu aku terdiam. Tidak, ini tidak seperti diriku. Ucap sisi di dalam hatiku yang paling jauh.


"Kenapa berhenti? Teruskan! Teruuskaaaan!!" teriak Tante Rima dengan bola matanya yang sangat besar (melotot) melihat ke arahku.


"Aaaaaakkkk .... " teriakku sambil menahan cengkraman tanganku pada leher Tante Rima yang sudah terlanjur kuat. "Tidaaaaaakkk ... aku bukan pembunuh, aku bukan iblis seperti dirimu."


"Lakukaaaaaan!!"


"Tidaaaak!!"


"Ha ha ha ha ha ha ha ... lakukan! Inilah dirimu yang sebenarnya. Lakukan!!" teriak Tante Rima sambil menyemburkan darah pekat berwarna hitam dari dalam mulutnya seperti mata air yang baru saja ditemukan.


"Aaaaaaaakkkkkk .... " teriakku sangat marah dan kesal hingga lupa diri dan menguatkan kembali cengkraman tanganku pada lehernya.


"Ha ha ha ha ha ha ha ... teruskan! Nikmati! Seperti aku yang menikmati saat menghancurkan Ibumu dan mematahkan tulang-tulang muda saudaramu. Ha ha ha ha ha ha ha .... "


Ini bukan jalan ku, ucapku tanpa suara. Ini bukan yang aku inginkan. "Tidak ... Tidaaaaaakkk ... Allah ... Allaaaaah ... Allaaaaah huuuu akbar." Aku berteriak sangat kencang sambil melepaskan cengkraman tanganku, lalu tiba-tiba Tante Rima menghilang dari hadapanku.


Saat melihat sosok Tante Rima menghilang, aku menangis sejadi-jadinya, aku menangis sepuas-puasnya, aku terduduk sambil terus beristighfar. "Ampuni aku ya Allah ... sungguh berat ujian yang Engkau berikan kepada hamba-Mu yang lemah ini," ucapku sambil terus menangis hebat dan terduduk di lantai kotor berdebu.


(٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ


(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ


(٢x) اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ


(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ


(١x) اَللهُ اَكْبَرُ ،اَللهُ اَكْبَرُ


(١x) لَا إِلَهَ إإِلَّاالله


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. (2x)


Hayya 'alashshalaah (2x)


Hayya 'alalfalaah. (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)"


Tiba-tiba aku mendengar suara Azan yang mengisyaratkan waktunya shalat dan aku ingin sekali melaksanakannya. Untuk itu, aku harus segera menyelesaikan urusan ini. Ya Allah, betapa besarnya Engkau hingga suara Azan ini mampu menembus alam bawah sadar ku dan mampu menembus dimensi dimana iblis menjadi penguasanya.


Tak lama, saat suara azan tersebut berakhir, aku teringat pada sebuah doa. "Barangsiapa yang ketika mendengar adzan dia mengucapkan doa ini, maka dosa-dosanya akan diampuni. (HR. Ahmad 1565, Muslim 386 dan yang lainnya)."


وَأَنَا أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ  بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلامِ دِينًا


"Aku juga bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, aku ridha Allah sebagai Rabku, Muhamamd  sebagai Rasul, dan Islam sebagai agamaku."


Selesai membaca doa tersebut, aku kembali berdiri dan berniat untuk menyelesaikan tugasku. Rasanya, ingatan tentang Feli, Rian, Azura dan Ayah sudah kembali, tapi aku sangat lemah.


"Dimana kamu, iblis?" tanyaku dengan suara yang tipis dan samar-samar terdengar. Rumah iblis itu berada di tempat yang paling kotor dan gelap, Sarah. Jangan lupa itu!! ucap diriku yang lain.


Aku menatap ke arah depan, rasanya terowongan itu akan berakhir di sana. Selain itu, aroma busuk sangat kuat tercium dari ujung sana. "Ayo Sarah! Sebelum terlambat!!" ucapku sambil menggenggam kedua tangan dan berjalan di kedua kakiku yang bergetar.


*****


Sisi Rian.


"Tunggu dulu! Feli aku lelah. Lagipula, ini seperti perjalanan tanpa akhir," ucap Rian sambil mengatur nafas dan memegang dadanya yang terasa hampir meledak.


Rian memenangkan kedua lutut sambil menundukkan tubuhnya. Disaat yang bersamaan, Rian menatap ke arah Feli yang tampak sama sekali tidak lelah dan saat yang bersamaan, Rian melihat Feli tersenyum menyunggingkan bibirnya. "Sarah, kamu benar," ucap Rian dengan suara yang sangat kecil sehingga hanya telinganya sendiri yang mampu mendengarkannya.


Flashback


Saat Sarah dan Rian bersama (belum berpencar), Sarah berbisik ke pada Rian. Sarah mengatakan sesuatu, "Rian, Feli tidak akan tersenyum di saat seperti ini!"


Back


Tiba-tiba Rian sadar akan tipu daya iblis yang ada bersamanya saat ini dan di dalam hatinya mengatakan, Aku berlindung kepada Allah, dari godaan syetan yang terkutuk.


"Feli, saat ini kamu adalah istriku. Ikuti aku ya!"


"Apa?"


Rian memegang kuat kedua lengan Feli dan mengajaknya mengucapkan kalimat, "A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim


(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Namun Feli hanya diam dan Rian semakin kuat memegang kedua lengan Feli.


"Lepas!"


اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.


Artinya: Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.


"Lepaaaaas!" ucap iblis tersebut dengan wajahnya yang berubah-ubah.


Semula, iblis itu menyerupai Feli hingga berubah menjadi Sinta, Papa dan Mamanya Rian. Saat melihat hal tersebut, Rian menangis sambil terus membacakan ayat kursi untuk membinasakan iblis tersebut.


اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


"Allaaaaaah, tidak ada Tuhan (yang berhak atau boleh disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Yang tidak mengantuk dan tidak juga tertidur. Kepunyaan-Nya adalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya."


Saat berusaha menghancurkan makhluk tersebut, tiba-tiba tubuh Rian di dorong dengan kuat hingga ia terlempar ke tembok seberang terowongan dan makhluk misterius tersebut hilang.


"Hah ... hah ... hah ... dia membaca sisi kelam hatiku dengan baik," ucap Rian sambil mengatur nafas dan menegakkan tubuhnya. Sementara di sisi lain, Feli bersama Azura masih berlari tanpa henti mengikuti langkah Feli yang berangsur-angsur lemah.


*****


Sisi Sarah.


Sarah berjalan hingga terowongan terbawah. Di sini, airnya cukup dalam dan kotor (kira-kira mampu menenggelamkan kedua kaki hingga paha Sarah).


Fokus, itu yang aku lakukan. Aku melihat sekeliling, tapi aku tidak menemukan apapun. Walaupun demikian, hatiku bergejolak dan seakan mengisyaratkan bahwa iblis itu ada di sini, sedang memperhatikan aku.


Tiba-tiba aku teringat arah atas yang sama sekali belum aku perhatikan sejak tadi. Benar saja, dia ada di sana. Mungkin dia mengincar kepalaku dan saat mata kami saling beradu, iblis tersebut turun dengan mendahulukan kedua tangannya yang dipenuhi kuku-kuku yang tajam dan panjang.


Aku mundur untuk mengelak hujaman nya, tapi dengan cepat iblis itu menarik kedua kakiku hingga tubuhku terjatuh dan terendam air kotor yang berada di sekelilingku. Pilihan yang sulit, tapi aku harus tetap menelan air kotor ini untuk menyeimbangkan tubuhku agar tidak stres dan terkejut.


Aku berusaha berdiri, namun iblis itu sudah berada di atas tubuh ku (seperti posisi suami istri yang sedang bersenggama). Sangat dekat dan rasanya, tubuh iblis tersebut sangat berat. Pasti dosanya banyak, ucap hatiku agar lebih santai.


Tak lama, matanya melotot dan mulutnya menganga tepat di wajahku. Tapi ketika itu, aku juga mendengar suara Feli dan Rian dari kejauhan. Sepertinya mereka sudah bertemu, namun disaat yang bersamaan, iblis tersebut seperti hendak pergi menjumpai dan merasuki sahabatku.


Mana boleh! Ucapku tanpa suara. Lalu aku memeluk tubuh iblis tersebut seperti aku memeluk Kak Rio. Erat sekali hingga iblis tersebut tampak sangat marah padaku dengan matanya yang sangat besar, namun aku tersenyum.


Saat memeluk tubuh iblis tersebut, aku membaca ayat-ayat pendek di dalam hatiku, berikut dengan surat al-lahab. Dia tidak akan pernah bisa lagi mengambil kebahagiaan di dalam hidup kaumku. Iblis ini harus binasa, ucapku yang semakin melemah karena tidak bisa bernafas.


Ya Allah, jadikan aku batu atau baja pengikat jin, iblis, roh sesat dan sebagainya, agar mereka bisa lenyap bersamaku. Ucapku di dalam hati sambil terus bertahan memeluk iblis yang sudah berteriak, meraung dan menjerit kesakitan.


Dengan tangan yang gemetaran, aku terus bertahan dan berusaha mengikatnya. Aku juga menggunakan kedua kakiku yang menyilang untuk mengunci dan menahan kuat gerakannya.


Masih kuat, iblis tersebut berusaha lepas dengan mengangkat tubuhnya dan aku pun ikut terangkat. Ia membanting tubuhnya dan tubuhku juga ikut terbanting (tubuhku berada di bawah).


Aku merasa sangat pusing dan lemas, sementara iblis itu masih bertahan. Saat dia berhasil lepas dari tubuhku, aku melihat beberapa bagian tubuhnya terbakar dan aku menjadi semakin bersemangat walaupun semakin lelah.


Aku berusaha kembali berdiri dan hendak menghantam nya. Namun saat aku melakukannya, kaki kiri ku tidak dapat digerakkan. "Allah .... " ucapku sambil memegang kakiku yang sangat sakit.


Belum sempat aku kembali menegakkan kepalaku, iblis tersebut sudah berada tepat di hadapanku dan ia mengangkat tubuhku sangat tinggi. Tiba-tiba aku merasa takut, padahal rasa itu sudah ku buang jauh-jauh.


Matanya sangat dekat dengan mataku. Awalnya aku melihat seluruh mata itu hanya putih, tapi sekarang seluruh bagian matanya menjadi hitam mengkilat. Aku berusaha memalingkan tatapan ku darinya, tapi aku tidak bisa.


Lama-kelamaan warna mata itu seolah memudar menjadi asap yang terbang ke arah mataku. Saat itu, aku seperti melihat mataku (yang bagian putihnya) menjadi hitam sama seperti mata iblis tersebut. Saat itu, mulutku terbungkam, hatiku membeku dan tubuhku terasa dingin.


Aku merasa warna hitam itu sudah sempurna menutupi seluruh bagian mataku yang berwarna putih. Tapi saat aku merasa benar-benar akan hilang, tiba-tiba aku melihat Tania berlari ke arah kanan dan aku melirik nya.


"Kenapa?" tanya Tania sembari menghapus air mata Sarah kecil.


"Tatut .... " jawab Saran kecil sambil menangis.


"Jangan takut!! Ada Kak Tania disini. Jangan lupa itu!! Ayo bernyanyi kembali, Sarah!" ucap Tania dan kami bernyanyi kembali sambil berpegangan tangan dan berputar-putar di tempat.


Air mataku menetes, bukan karena rasa sakit yang aku derita, tapi karena Kakakku Tania. Ternyata dia selalu ada bersamaku. "Pelangi-pelangi, alangkah indah mu, merah kuning hijau, di langit yang biru. Pelukis mu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi. Ciptaan Tuhan. Ha ha ha ha ha ha ha .... " terdengar tawa khas anak-anak dari bibir Tania.


Pada saat yang bersamaan, aku teringat ucapan Nenek Nawang Wulan. Di dalam kertersudutan, aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk melakukan perlawanan akhir pada iblis yang hampir mengambil alih tubuhku.


"Ayoooo, Sarah!!" teriak Tania dan saat yang bersamaan, aku menggenggam kedua tanganku sangat kuat dan aku memajukan wajahku hingga hidungku menempel pada hidung iblis tersebut.


Aku memegang kepala iblis jahanam itu dengan sangat erat, kemudian memutar nya ke arah kiri. Seketika, tubuh iblis tersebut bergetar dan hilang keseimbangan hingga jatuh ke lantai tanpa aliran air dan dalam waktu singkat tubuhnya berubah menjadi abu hitam.


"Allahu Akbar .... " ucapku sambil terduduk di lantai dengan pakaian dan tubuh yang basah serta bau.


"Ha ha ha ha ha ha ha ... itu baru adikku, Sarah. Ha ha ha ha ha ha." Lalu suara Tania menghilang seiring dengan tetesan air mataku.


"Tania ... Tania ... Kakak .... " ucapku dengan suara lirih sambil terus menangis sepuas hatiku.


"Saraaah ... Sarah ... Saraaaah," teriak Feli sambil menangis dan terus berlari ke arahku dengan cepat.


Aku melihat ke kiri, ke arah suara sahabatku yang terlihat terus berlari dengan sangat cepat ke arahku kemudian terjatuh. Lalu ia berdiri lagi dan kembali berlari dengan kuat, lalu tersungkur lagi sambil terus memanggil-manggil namaku.


"Saaraaaaah ...." teriaknya sambil menangis saat berhasil memeluk tubuhku dari samping kiri.


"Feli .... "


"Saraaah .... "


bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘