ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
TEROR 2


Sekitar lima menit berlalu saat aku merasakan ketenangan tapi menit berikutnya aku kembali ketakutan. Aku merasa sepertinya ada sesuatu atau seseorang yang sedang berada di atas kepalaku. Selain itu, aku merasa sesuatu menyentuh kepalaku dengan agak keras.


"Apa itu ...?" tanya ku setengah berbisik sambil menelan air liur ku yang terasa berat.


Perlahan, dengan membuka kedua mataku lebar-lebar, aku melihat ke arah atas kepalaku.


"Sepasang kaki, ini kaki wanita." ucapku samar-samar terdengar dan seketika hilang terbawa angin malam.


Tiba-tiba aku teringat sosok wanita yang beberapa menit lalu aku lihat. "Tidak ... tidak mungkin." Kali ini suaraku cukup keras hingga perkataan ku itu seakan terbalas dengan tawa riang dari wanita yang duduk di atas pohon besar dan rindang.


Sontak saja aku mendengar suara tawa misterius yang menggila dan terus-menerus dari atas pohon tempat aku bersandar.


"Hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi hi."


Terdengar suara tawa yang melengking dan terus menerus hingga menggetarkan lubuk hatiku yang paling dalam dan membuatku hampir menangis.


Aku kembali berlari dan meninggalkannya.


Namun suara tawa itu terus mengikuti ku, semakin jauh aku berlari suara tawa itu semakin halus dan berjarak aku dengarkan,


Tapi semakin aku merasa dekat dengan wanita misterius tersebut.


Aku melihat ke belakang dan Dia sepertinya sudah tidak mengikuti ku lagi. Aku membalikkan pandanganku ke depan ternyata wanita misterius tersebut ada tepat di hadapanku.


Wajahnya dan wajahku bertemu, jarak yang sangat dekat. Di hadapanku, Dia membuka kedua matanya dengan sangat besar.


Dia juga membuka lebar mulutnya yang berbau anyir.


Seketika tangannya memegang wajahku dengan sangat kuat hingga aku tidak dapat bergerak kembali. Dia menggarukkan jari jemarinya yang di kelilingi kuku - kuku tajam yang panjang dan berwarna hitam di wajahku, hingga aku melihat darah mulai keluar dari wajahku. Ini sakit yang luar biasa, ucapku di dalam hati hingga aku berteriak dengan kuat.


"Aaak ... aaaak ... aaakkk ... aaak ... aaak ... Ayah ... tolong ... Ayah ... Ayah ...."


Merasa tidak punya pilihan, aku berpikir jika aku harus melawan wanita ini dengan cara yang aku sendiri tidak tau, atau aku akan mati sia-sia di tangannya.


Dengan sekuat tenaga, aku berusaha menghentikan tangannya yang terus menerus menusukkan kukunya di wajahku.


Aku memegang kedua tangannya dan membalas mencengkram itu sambil mendorong tubuhnya ke belakang dengan sisa-sisa kekuatanku.


"Aku tidak takut pada iblis ... aku tidak takut ... aku tidak takuuuuuuut .... " teriak ku dengan sekuat tenaga dengan tubuh yang gemetaran hingga rasanya seluruh isi perutku keluar dan seketika aku merasa jika tubuhku sangat segar dan semua beban ku hilang.


Cukup lama pertarungan kami hingga wanita misterius itu menghilang tepat di depan mataku, seperti kumpulan asap yang pecah dan terbawa angin.


Bingung, aku melihat ke sana kemari untuk memastikannya dan Dia memang sudah menghilang. Aku memegang wajahku yang sangat terasa sakit. "Aduh, ini benar-benar sakit, darah mulai turun serentak dengan keringat yang membasahi wajahku."


Aku kembali berlari dengan kecepatan rendah. Dari sisi kanan aku melihat beberapa anak kecil berlari - lari, saling mengejar dan saling tertawa. Sepanjang mereka tidak mengganggu ku, aku akan menguatkan diriku 


dan berusaha seperti tidak melihat mereka.


Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa tubuh di bagian belakang menjadi berat.


Aku hampir terjengkang ke belakang tapi aku bertahan dan terus melanjutkan langkahku untuk mencari jalan keluar.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... "


Terdengar suara tawa anak kecil yang sumringah tepat di telinga kanan ku.


Rupanya anak itu berada di belakangku dan tanpa ku sadari aku menggendongnya.


Aku mengibas-ngibaskan punggung ku dengan kedua tangan semampuku. Aku berusaha untuk melepaskan anak kecil tersebut dari punggungku. Tapi lengannya kuat menahan leherku sehingga sangat sulit untuk ku lepas darinya. Aku terus menggoncang - goncangan tubuhku, tapi karena sangat lelah aku tersungkur di tanah.


"Aduh ...." keluh ku sambil menyentuh tanah dengan tangan dan berusaha untuk bangkit.


Tubuhku gemetaran, kakiku tidak dapat lagi aku tegakkan. Aku berusaha mengangkat kepalaku dan tubuh bagian atas hingga ke perut, dengan merangkak dan terus bergerak. Aku tidak ingin patah arang, aku tidak ingin kalah, dan aku tidak mau putus asa.


Tiba-tiba, sesuatu yang kuat menarik kedua kaki ku dengan cepat. Aku yang telah lelah dan lemah hanya bisa pasrah dan berharap 


ada seseorang yang akan menolong ku kali ini.


"Aaak ... aaaak ... aaakkk ... aaak ... aaak ... aaak ... aaaak ... aaakkk ... aaak ... aaak ...." teriak ku sembari bertahan dengan menancapkan semua jariku ke tanah tapi aku tidak berhasil. Aku terus terseret bahkan aku merasa wajah, lengan, dan betisku perih akibat bergesekan dengan tajamnya duri rerumputan.


Braaack


Aku merasa tubuhku terlempar ke sebuah tempat yang sangat gelap. Aku tidak dapat melihat, lalu aku menggunakan tanganku untuk menyentuh sekeliling ku. "I - ini tanah .... " ucapku terbata-bata.


Kurang percaya, aku menggenggam, mengambil, dan menciuminya. Iya benar, ini tanah ... ini tanah ... dimana aku?" Terus bertanya walau tau tidak akan ada yang membantuku untuk menjawabnya.


Aku membuka mataku lebar-lebar, dengan posisi tubuh terlentang dan aku tidak mampu bergerak. Dari sini, aku melihat di atas sana banyak bintang-bintang bertaburan. Sementara kiri dan kanan ku terbatas oleh sesuatu, rasanya sangat sempit sekali.


"Aaaah ...." ucap ku mengeluh dan seketika,


aku teringat lubang yang di gali oleh Kakek tua yang pertama aku jumpai tadi. "Apa ini liang lahat? Tidak ... aku belum mau mati." ucapku lirih, tanpa terasa air mataku menetes dari kedua ujung mataku.


Tak lama, aku merasa dan melihat beberapa tanah jatuh di atas wajah dan tubuhku. Setelah itu, tiba - tiba aku tidak bisa merasakan tubuhku dan aku tidak dapat melihat apapun lagi.


"Ayah .... "


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘