
Suasana tenang berubah menjadi menegangkan ketika Azura menatap Komandan Arya dengan matanya yang tajam dan mulutnya yang menganga. Ditambah lagi dengan darah kental yang tampak naik turun seperti lendir pekat berwarna merah antara gigi atas dan gigi bawah milik Azura.
Teriakan demi teriakan histeris terdengar sangat kuat di sekitarku hingga aku menyadari bahwa sudah terjadi sesuatu di hadapanku dan aku seperti tidak berada di tengah-tengah mereka semua. Tidak, kamu tidak boleh begitu, Sarah. Ayolah!! Ucap bagian dari diriku yang lainnya.
Azura sudah memasang gerakan seperti awalan hendak melakukan lomba lari tingkat nasional, yang mana salah satu kakinya ditekuk hampir sejajar dengan wajahnya. Sementara kaki yang lainnya masih berada di belakang, seakan-akan siap untuk mendorong tubuhnya ke depan dan menangkap mangsanya.
Mata hitamnya kini sudah menghadap ke atas hampir 100%, sehingga meninggalkan bagian putihnya saja. Setidaknya itulah yang aku lihat dengan jelas, kemudian Azura mengarahkan wajahnya kepada komandan Arya yang terjatuh telentang saat hilang keseimbangan pada waktu ingin berlari dari Azura.
Tidak ingin terjadi hal yang buruk padanya, dengan langkah seribu aku langsung menghadang dan mengangkat tubuh Komandan Arya yang sudah gemetar hebat. Mungkin baginya, ini adalah pemandangan pertama yang sangat mengerikan dan ini merupakan pengalaman terburuk bagi dirinya.
Setelah komandan Arya berdiri, aku langsung membalik tubuhku menghadap Azura sambil menggenggam kedua tanganku sangat erat. "Wahai kau jiwa yang masih berkeliaran di tempat yang bukan seharusnya, pergilah!!" ucapku sambil menatap Azura.
"Ha Ha ha ha ha ha ha ... setan kecil pengganggu, pengacau, aku sangat membencimu dan keturunanmu," ucap Azura dengan suara yang besar, berat dan serak hingga terdengar mengaung di ruangan.
"Jangan pernah menyebut tentang keturunan ku! Karena merekalah yang akan membinasakan kaummu setelah ku."
"Bocah sombong darahnya pasti manis," ucapnya sambil menunjukkan gigi-giginya yang semula berwarna putih kini menjadi hitam pekat dan runcing. Aneh sekali, entah kapan ia pergi untuk menggergaji giginya. Ucap diriku yang lain sehingga aku merasa geli hati dan menyunggingkan sedikit senyumku.
"Haaaah, apanya yang lucu? aku bukan mainan dari boneka cacat. Aku adalah Mandia Kala, aku seorang raja di rajaaaaaaa," teriaknya dan seketika angin kencang menerpa wajahku.
"Tidak sedikitpun ada ketakutan di dalam hatiku kepadamu. Majulah maka aku akan membinasakan mu dengan ayat-ayat suci Al Quran, atas izin Allah." Aku menantang iblis tersebut dengan penuh keyakinan, padahal aku tidak tahu apa dan bagaimana kedepannya.
"Komandan mundurlah dan bantu aku dengan ayat apapun yang kalian semua tahu," ucapku setengah berbisik tanpa memandang ke arah belakang.
"Baik, Sarah .... "
Aku maju satu langkah sambil mengumpulkan tenaga dan energi di dalam hatiku guna menangkap Azura. Aku berpikir untuk menyergap tubuhnya yang lebih besar daripada tubuhku, guna mengeluarkan roh jahat dari dalam tubuhnya sebelum menyakiti dirinya sendiri dan orang-orang disekitarnya
Tapi ternyata pikiranku dapat dibaca dengan baik oleh roh jahat tersebut sehingga saat aku mulai melangkah mendekati Azura, roh tersebut membawa tubuh Azura naik ke atas dengan cara menempelkan diri di dinding dan ia terus bergerak lincah hingga ke langit-langit kamar, seperti cicak yang menempel pada dinding dengan tangan seperti patah, begitu juga dengan kakinya. Sementara wajah dan tubuhnya masih menghadap ke arah diriku.
Manusia tidak akan mampu melakukan hal seperti itu, ucapku tanpa suara.
Satu hal yang aku sadari, yaitu situasi ini sama sekali tidak baik dan aku meminta kepada semuanya untuk meninggalkan diriku hanya berdua saja dengan Azura.
"Tutup pintunya rapat-rapat. Apapun yang terjadi, jangan pernah kalian membuka pintu itu sebelum aku yang memintanya!!" Perintah ku kepada semua orang tua yang berada di belakang tubuhku, tepat di antara pintu masuk kamar Azura.
"Ba-baik."
"A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim
(Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)," ucapku sembari membuang nafas agar lebih tenang.
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ أَعْطَيْتَنَا، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِيْ شَرٍّ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Allaahumma innaa nastahfidhuka wa nastaudi'uka diinanii wa anfusanaa wa ahlanaa wa aulaadanaa wa amwaalanaa wa kulla syai'in a'thaitanaa. Allahummaaj 'alnaa fii kanfika wa amaanika wa jiwaarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbaarin 'aniid wa dzi 'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzi syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya: Ya Allah, kami memohon penjagaan kepada-Mu dan kami menitipkan kepada-Mu agama kami, diri kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta kami, dan segala sesuatu yang Engkau berikan kepada kami. Ya Allah, jadikan lah kami dalam penjagaan-Mu, tanggungan-Mu, kedekatan-Mu, dan perlindungan-Mu dari gangguan setan yang menggoda, dari orang yang kejam, dari mata orang yang berniat jahat, dari orang yang bermaksud zalim, dan dari keburukan apa pun yang membawa keburukan. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.
"Ha ha ha ha ha ha ... masih banyak ketakutan di dalam hatimu. MUNAFIIIIIIK .... " teriak makhluk tersebut sembari mengumpulkan udara yang banyak dan menghempaskan nya ke tubuh mungil ku hingga terdorong ke belakang, bahkan punggung serta kelapa ku membentur pintu yang terbuat dari kayu jati dengan sangat keras.
"Allahu Akbar," ujar ku saat wajah dan perutku terhentak ke depan dan dari hidungku keluar darah segar.
"Sleruuup .... " Terdengar suara kecapan dari makhluk tersebut sambil menjulurkan lidahnya yang sangat panjang (kira-kira mampu menyentuh dadanya) dan memutarnya hingga menyentuh seluruh wajah, telinga dan dadanya. Sepertinya ia sangat ingin menikmati darahku yang berceceran di lantai.
Aku belum bisa bangkit karena ini benar-benar terasa sakit, tapi roh jahat itu sudah sangat dekat denganku. Aku harus menangkapnya! Ucapku sambil menggenggam Kedua tanganku.
Tanpa ia duga, saat lidahnya sangat dekat denganku, tangan kanan ku menarik lidahnya sangat kuat dan memotongnya dengan tangan kiri yang sudah aku bacakan Surat Al Lahab.
"Aaaaaaggghhh .... " teriaknya sambil berputar-putar, seperti kucing yang di potong ekornya. Sementara di tangan kanan ku, lidahnya masih bergerak dan menggelepar, tapi aku tidak berniat untuk melepaskannya.
"Aku akan menjadikan lidah mu ini lidah bakar di neraka. Puas sudah engkau menyekutukan Tuhan ku serta mengolok-olok Nya. Sekarang apa yang bisa kamu katakan tanpa ini, wahai ibliiiiis?" teriakku karena merasa sangat geram sambil memperlihatkan bagian mulutnya yang sangat panjang.
Dia tampak berputar-putar dan lemah, saat itu aku merasa inilah kesempatan bagiku untuk mengalahkannya. Dengan tubuh yang terasa berat dan punggung yang berkayu, aku terus bergerak ke arahnya dan aku menyekap tubuh Azura di lantai kemudian menindih nya.
“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad.”
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan semua nama-nama terbaik-Nya dari kejahatan samah dan hamah, dari kejahatan pandangan mata, dan dari kejahatan penghasut," teriakku sambil memegang kepala Azura yang terus bergerak ke kiri dan ke kanan.
Lalu aku membaca ayat-ayat Surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas, tiga ayat dari Surah Al-Baqarah yang dimulai dari ayat 163-164, Ayat Kursi, Amanar Rasul sampai akhir surah, sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Ali Imran, ayat pertama Surah An-Nisa.
“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad," ucap ku terus tanpa henti sambil membuka mulut Azura.
"Aaaaagggg ... aaaaaakkk ... aaaaaakk .... " teriakan dari suara Azura yang tampak sangat kesakitan. Namun aku sangat yakin kalau ini semua adalah tipu daya dari iblis tersebut.
"Aaaaaaaaakkk ... aaaaaakkk ...." Azura terus berteriak tanpa henti dan tampak sekali jika dia sangat menderita. Terkadang aku mendengar suara Azura sangat kuat, tapi terkadang yang muncul adalah suara berat dari iblis laki-laki.
"Sayang ... Azura ... kamu ngak papa kan, Nak? tolong jawab Mama."
"Mama ... tolong Ma! Sakit sekali .... " ucap Azura saat mendengarkan pertanyaan dari Mamanya. Saat itu aku sangat ingin mengatakan bahwa jangan menyambut ucapannya atau perduli padanya, hanya saja aku hanya punya satu mulut yang sudah aku gunakan untuk mengeluarkan iblis laki-laki dari dalam tubuh Azura.
"Kamu kenapa, Nak?" bertanya sambil menangis.
"Mama, tolong Ma. Panaaaaaassss .... "
"Iya, Nak. Mama datang, Azura."
Ceklek
Suara pintu kamar yang terbuka. Tak lama, berdirilah Mama Azura sambil masuk ke dalam kamar dan mendekati tubuh Azura yang berada di bawah tubuhku, sambil menangis.
Aku berusaha memberikan arahan kepada Mamanya Azura dengan menunjuk ke arah luar menggunakan tanganku agar ia pergi meninggalkan aku dan Azura. Tapi sayangnya, beliau tidak mendengarkan aku dan pada saat yang bersamaan, iblis tersebut berpindah tubuh (masuk dan merasuki Mamanya Azura).
"Istigfar! Istigfaaaaaar!!" teriak ku sambil menghentikan bacaan ku.
Tampaknya semua sudah terlambat, nalurinya sebagai Ibu dimanfaatkan dengan mudah. Saat ini, tubuh Azura melemah dan ia tidak lagi berteriak, bahkan wajahnya kembali pulih (wajah asli Azura). Tapi, iblis itu memiliki wadah baru yang lebih sehat dan kuat dibandingkan Azura.
Dengan sangat cepat Mamanya Azura menyerang dan menerkam ku hingga tubuhku terlempar dari atas tubuh Azura dan saat ini berada di bawah tubuh Mamanya Azura. "Ha ha ha ha ha ha ha ... ternyata permainan belum usai," ucapnya sambil tertawa dan memasang mata bengis nya.
Dengan kekuatannya yang berlipat ganda, ia menampar kedua pipiku sangat kuat secara bergantian hingga pada bibirku keluar darah tipis namun sangat menyakitkan. Aku berusaha aku menangkap tangannya dan kembali membacakan ayat-ayat suci Al-Quran sembari menatap matanya.
"Ternyata kamu belum menyerah, tapi aku akan membuatmu melemah kemudian menyerah!"
"Aku tidak akan pernah menyerah. Itulah janjiku kepada saudaraku, kepada Kakak yang rela hancur untuk ku."
"Sampai kapan kamu mampu bertahan? sementara aku dengan mudah keluar masuk pada jiwa yang lemah. Ha ha ha ha ha ha .... "
"Sampai jiwaku, meninggalkan jasad ku."
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."
"Allaaaaaah, tidak ada Tuhan (yang berhak atau boleh disembah), melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Yang tidak mengantuk dan tidak juga tertidur. Kepunyaan-Nya adalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya."
"Aaagg ... aaaagggrhhh ... aaaaaagggggrrh," jeritnya sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman tanganku dan saat itu aku bisa melihat dari kedua tangannya keluar asap seperti habis terbakar.
Aku terus mengulangi bacaan ku dengan suara yang semakin lama semakin kuat dan iblis itu semakin mengerang, tapi ternyata suara Mamanya Azura memanggil Papanya untuk segera menolong dan semua orang bergerak dari bawah ke atas (lantai 1).
Saat Mama Azura melihat suaminya, tiba-tiba kekuatannya meningkat dan ia menatap tajam ke arah suaminya, lalu bergerak dengan cepat seperti angin, kemudian mengigit lengan Papanya Azura hingga mengeluarkan banyak darah.
Hisapan dari mulut Mama Azura terdengar sangat kuat, lalu pada saat yang bersamaan aku berusaha berdiri dan mencekik leher Mamanya Azura untuk menghentikan lajur darah yang ia minum.
"Pergi dari siniiii!! Apapun yang terjadi, jangan dibuka!!" teriakku sambil melotot dan mereka semua tampaknya menyadari kekeliruan yang sudah mereka buat.
"Haaaaaah ... ha ha ha ha ha," teriakan dan tawa dari mulutnya yang berhasil melempar tubuhku ke dinding kamar. "Kamu akan mati di tanganku. Sekali lagi, cucu Adam dan Hawa akan mati di tanganku."
"Allahu Akbar," ucapku saat melihat tubuh makhluk itu yang bermuara pada Mamanya Azura yang tampak semakin segar dan bersemangat.
Bersambung ....
Selain itu, jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘