ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PENYELESAIAN 2


Aku dan Feli kembali ke dalam kamar, pada saat yang bersamaan Bu Marisa menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan perlahan. "Sakit sekali .... " ucapnya sambil berusaha untuk duduk di atas ranjangnya.


"Jangan terlalu banyak bergerak, Bu!"


"Apa yang terjadi?" bertanya saat melihat kamarnya berantakan.


Aku duduk di atas ranjangnya dan menceritakan sebagian besar yang sudah terjadi, kecuali urusan Mbok Yani yang kehilangan telinganya.


"Ya Allah ... siapa yang melakukannya?"


"Sebentar lagi kita akan tau, Bu," sahut ku sambil menatap ke arah Feli dan Feli tampaknya sangat mengerti, kemudian dia memulai kembali perjuangannya.


"Dengar, Bu! Siapa pun yang melakukannya, jangan pernah Ibu berubah menjadi seseorang atau sesuatu yang jahat. Aku lihat, Ibu adalah wanita yang baik makanya Ibu masih bernafas hingga saat ini."


"Lalu dimana Kanaya?"


"Kita akan segera tau, beri kami sedikit waktu, Bu. Oh iya ... ini minum dulu madunya, Bu," ucapku sambil menyuapkan madu ke mulut Bu Marisa.


"Ibu mau minum?"


"Iya ... tenggorokannya sakit sekali," ucap Bu Marisa sambil memegang lehernya. "Jika melihat kalian berdua, Ibu jadi beringat Tiara."


"Siapa dia, Bu?''


"Sahabat saya ... tapi dia pergi meninggalkan saya entah kemana. Seperti di telan bumi, dia menghilang. Terakhir kali saya bertemu dengannya, saat acara ulang tahun. Setelah itu, saya tidak lagi bisa menemui bahkan mengontek nya. Entah apa kesalahan saya padanya?" ujar Bu Marisa sambil menunduk dan ia tampak sangat bersedih.


"Begitu ya, Bu? sabar ya Bu!"


"Selama ini dia adalah satu-satunya orang yang saya percayai. Bahkan untuk urusan pernikahan saya saja, dia yang melakukannya. Saya juga berani memberikan pin ATM saya padanya. Saya benar-benar percaya pada Tiara. Rasanya saya sangat ingin bertemu dengannya. Jika Tuhan menginginkan, saya ingin mati di dalam pelukannya."


"Tidak Bu, Ibu tidak boleh berbicara soal itu. Matilah karena takdir dari Allah Bu, bukan karena kita yang memintanya," ujarku berusaha berbicara dengan bijak.


"Iya ... kamu benar, Sarah. Terimakasih sudah mengingatkan dan membantu saya," ucapnya sambil menarik air hidungnya.


*****


Sekitar satu jam, Rian datang dan membawakan kami makanan. Sementara Feli masih melanjutkan gambarnya dan saat itu, kami pun tidak sanggup untuk makan.


"Kita makan bareng aja ya, Rian?" ucapku sambil menatap Rian dan ia menganggukkan kepalanya.


"Bu?"


"Iya ... kita makan sama-sama."


"Siap .... " ucap Feli dengan suara yang bersemangat.


"Jangan dilihat dulu!! Kita makan dengan cepat, setelah itu baru melihat segalanya," kata Rian dan kami semua menyetujuinya.


Seperti militer yang sedang berperang, kami makan dengan sangat cepat, tapi tidak lahap. Ini bukan karena enak, tapi kami harus menyelesaikan semuanya dengan cepat sebelum mereka (dukun dan siapapun itu) yang menyelesaikan kami lebih dulu.


"Aku sudah siap," ucapku tanpa menyisakan apapun kecuali bungkusnya.


"Ternyata gadis cantik sangat menakutkan ketika makan dalam kondisi genting," goda Rian sambil menyuap bagian terakhir dari makanannya.


"Tidak lucu!" sahut ku.


Setelah minum, aku langsung berdiri dan merenggangkan tubuhku. Merasa cukup siap, aku segera membuka halaman terdepan dari buku yang sudah Feli gambar.


Aku harus bagaimana? Ayah ... aku harus meminta bantuan kepada Ayahku. Mungkin kali ini Ayah akan marah dan mengurung ku di rumah, tapi aku tidak perlu khawatir karena aku bersama Feli.


Aku keluar dari dalam kamar dan langsung menelpon Ayah lalu mengatakan banyak hal. "Ayah, ini pembunuhan. Bisa tolong aku, please .... " ucapku manja.


"Kalian ini ... baru Ayah tinggal sebentar sudah bikin gara saja. Untung kita punya beberapa polisi yang bersedia menerima laporan abstrak dari kita. Saraaah .... " teriak Ayah tapi aku tertawa.


"Maafkan aku Ayah, aku sayang padamu dan aku mengandalkanmu."


"Haduuuh ... Rina, coba lihat anakmu ini! Semakin besar semakin sering membahayakan dirinya sendiri."


"Maafkan aku Ayah, aku tunggu kabar baiknya." Lalu aku memutus teleponnya.


"Maafkan aku Ayah, ucapku sekali lagi sambil menyandarkan tubuhku di dinding ruang tamu Bu Marisa.


Sebenarnya aku sangat menyesal karena sudah membuat Ayah cemas dan bertindak semauku tanpa izin dari Ayah. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi, jika umurku panjang.


"Sarah, ada apa?" tanya Rian dan aku langsung memberikan gambar-gambar dari Feli kepadanya.


"Aku sudah menelpon Ayah, semoga kali ini Ayah bisa membantu. Kita tidak bisa bekerja sendiri kali ini, Rian."


"Itu keputusan yang terbaik, Sarah. Hmm ... kasian sekali ya si kecil ini," ujar Rian saat melihat gambar yang memuat wajah dan tubuh Kanaya yang dianiaya sambil menghela nafas panjang.


"Hei ... kita harus pergi secepatnya! Aku merasa ada banyak hal yang akan datang. Ini bukan karena takut, tapi lebih baik kita menyelesaikan persoalan ini dengan cepat kan?"


"Tepat sekali. Ayo!!"


Kami memulai perjalanan malam ke arah yang sama sekali belum kami ketahui. "Ramai sekali."


"Mana ramai?" tanya Bu Marisa sembari memanjangkan lehernya ke arah depan untuk melihat jalanan kosong yang hanya terlihat asap putih dari aspal di tengah malam.


"Wajar saja, Sarah. Ini hampir tengah malam," ucap Feli sambil melihatku dari kaca depan.


"Feli, coba lihat lagi gambar itu! Kenapa ya aku merasa kalau ruangan itu bukan pada satu rumah yang sama?"


"Iya benar, sebentar!" ucap Feli menyadari hal tertentu. Sementara aku melihat sesuatu dari arah depan mobil kami yang tampaknya berniat buruk.


"Aaagh ... kacau. Kita akan diserang!"


"Tetap fokus! Itu urusanku," ucap Rian dan ia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.


Pada saat sosok misterius tersebut hampir menyentuh kaca mobil Rian, tiba-tiba dari arah samping ia dipukul dengan keras oleh tongkat yang tidak asing bagiku.


"Tongkat itu!"


"Allahu Akbar!!" ujarnya sembari mengayunkan tongkat dengan kuat. Lalu makhluk putih ini bertarung dengan sosok tanpa pakaian dan hanya mengenakan celana dalam terbuat dari kain yang diikat mengelilingi kemaluannya.


"Berhasil, Rian," ucapku sambil menoleh ke kanan untuk melihat pertarungan diantara mereka.


Tiba-tiba saat aku menolehkan wajahku kembali ke depan, aku melihat bola api yang sangat besar, disusul oleh makhluk yang sama bentuk dengan yang sebelumnya. Namun tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari pada yang sebelumnya. Saat itu aku merasa bahwa kami akan berakhir saat ini juga.


Sekali lagi aku salah, sosok berjubah putih menghalangi api besar tersebut dengan tubuhnya, lalu ia juga langsung memeluk tubuh besar iblis tersebut dengan kuat sembari mengeluarkan api dari tubuhnya dan berteriak, "Allaaaaaaahu Akbaaaaaar," teriaknya tanpa rasa gentar sedikitpun.


Mataku bergerak mengikuti cahaya dan api yang membakar tubuh makhluk putih dan iblis tersebut. Tanpa aku sengaja, air mataku menetes seketika. Ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawa kami semua.


Satu hal yang aku sadari, tidak sedikitpun ada ketakutan apalagi gentar di dalam dirinya walaupun tau ia akan binasa. "Ya Allah ... apa yang tengah Engkau perlihatkan kepadaku? tanyaku sekali lagi di dalam hati.


"Sarah, ada apa?"


"Tidak Feli, lakukan dengan cepat agar kita tau kemana kita harus melangkah."


"Iya .... " sahutnya. Sementara Rian masih terus mengucap asma Allah, begitu juga dengan Bu Marisa.


"Dari simpang lampu merah kita ke kiri, Rian. Mereka sedang berada di rumah orang pintar."


"Sebutkan alamatnya, Feli!"


"Jalan Prabu Siliwangi ...." ucap Feli jelas dan aku langsung menelpon Ayah agar segera mendapat bantuan.


Ayah bilang, mereka sudah bergerak menuju sarang. Ahhh ... Ayahku memang masih ok sekali untuk diajak berurusan seperti ini. Ayah benar-benar hebat, dia selalu mengiringi langkahku. Semakin cepat aku berlari, semakin cepat Ayah menyusul.


"Gang sana!" ujar Feli sambil menunjuk ke arah gang di kiri jalan.


Mobil kami tidak bisa masuk, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki ke dalam dan ternyata rumahnya cukup jauh ke dalam sehingga kami harus berjalan kaki melewati jalan hancur dan becek.


"Ibu masih kuat?"


"Jangan khawatirkan saya, Sarah!"


Kami meningkatkan kecepatan kami dengan berlari. Sementara beberapa serangan yang menghampiri kami mampu ditepis oleh makhluk putih yang menjaga kami dari semua sisi.


"Kita jangan berjarak terlalu jauh, semakin dekat semakin baik," ucapku dengan nafas yang sudah tersengal.


"Paham," jawab Rian yang memapah lengan kanan Bu Marisa.


"Kita sudah tiba!" ucap Feli saat kami semua sudah berada di depan rumah papan beratap jerami.


"Kita sudah sampai dipenghujung acara rupanya," ujar Rian.


"Belum. Bahkan kita belum memulainya, Rian."


"Kamu benar, Sarah. Berjanjilah teman-teman, kita akan bertahan hidup hingga semuanya berakhir."


"Siap," ucapku dengan tatapan yakin.


"Aku ingin menikah denganmu, Rian. Jadi tolong jangan mengatakan hal aneh seperti itu," ucap Feli, lalu Rian menatapnya dengan senyum.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘