
Aku menolehkan kepalaku dan melihat wajah lelaki tua paruh baya di belakang ku. Beliau menyapaku dan aku segera menurunkan tanganku dari pundak wanita misterius tersebut.
"Nak, ngapain kamu disini lewat tengah malam seperti ini? Ini ruangan khusus, bukan tempat untuk bermain-main atau bersantai-santai. " ucapnya tegas dengan raut wajah yang agak marah.
Tidak ingin bermasalah, aku berusaha menjelaskan tentang apa yang aku alami karena aku juga takut Bapak tersebut salah paham terhadapku dan wanita yang tengah berada bersamaku.
Kemudian suasananya menjadi pecah ketika Bapak paruh baya tersebut bertanya tentang wanita yang aku ceritakan barusan. "Wanita yang mana Nak? Tidak ada siapapun di sini. Hanya ada saya dan kamu serta mayat - mayat hasil outopsi yang tidak ada identitasnya, serta mayat - mayat yang terbengkalai karena belum di jemput oleh keluarganya."
"Apa Pak? " tanya ku heran sambil melipat dahiku.
Mendengar ucapan Bapak tersebut, terasa ruangan ini sangat kecil, kepalaku sangat berat. Aku terdiam sejenak kemudian
Bapak tersebut menyentuh pundakku dan berkata, "Lihat di sekeliling mu nak!!"
Akupun melihat sekeliling ku dengan seksama. Rasa mual karena bau amis dan bau busuk bangkai mulai merasuki ku.
Aku melihat ke arah wanita tersebut duduk, kursi kayu yang tadinya berwarna coklat mengkilat ternyata adalah sebuah peti mati.
Aku merasa sangat mual dan ingin muntah saat ini. "Saya petugas di sini Nak, sekarang ayo kita keluar dari sini!" ucap petugas tersebut dan aku pun langsung menurutinya.
Saat aku sudah keluar dari buangan itu, aku membaca kalimat dari papan hitam dengan tulisan berwarna putih yang menempel di atas pintu ruangan, "KAMAR JENAZAH." ucapku dengan tubuh yang merinding dan aku menggosok-gosok kedua tanganku secara bergantian.
"Sebaiknya anak segera kembali ke ruangan tempat anak datang tadi, tidak baik di sini berlama - lama. Saya pun akan segera beristirahat." ucapnya dengan bibir yang kaku tanpa senyum dan pandangan yang tidak bercahaya.
Aku meninggalkan petugas kamar mayat tersebut dan berlari sekuat tenaga. Aku tidak tau lagi apa yang aku rasakan, semuanya bercampur aduk. Yang aku harap ini hanya sebuah mimpi.
Aku bergerak tergesa - gesa ke arah ruang IGD, rasa takut yang besar saat ini telah mengerumuni hati dan pikiranku. Bagaimana kalau para perawat marah akibat tindakan ku yang pergi tanpa izin dan melepaskan jarum infus dari tanganku? Kali ini, mampus aku. Ucapku di dalam hati.
Dengan langkah pelan, aku masuk ke ruangan IGD. "Maaf Sus, tadi saya mencari Ayah. " ucapku bingung dan tidak tau harus berkata apa.
"Ya ampun ... semua orang mencari kamu. Bahkan sampai sekarang Ayah dan teman kamu masih belum pulang ke sini. " ucapnya sambil melipat dahi.
"Maaf Sus .... " ucapku sekali lagi karena merasa tidak enak hati.
"Silahkan berbaring kembali...! Kita akan pasang lagi infusya. "
"Baik Sus, makasih .... "
Tak lama, Ayah datang dan menyapaku. "Kamu dari mana aja Sarah? Ayah sampai cemas banget mikirin kamu. "
"Maaf Ayah ... aku nggak ada maksud apa-apa dan aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Aku janji ... maafin aku ya yah." ucapku sangat menyesal sambil menatap Rio yang baru saja aku kenali.
"Rio, sebaiknya kamu pulang saja Nak ...! Ini sudah larut. Nanti kamu dicari keluargamu."
"Baik Om, kalau gitu Rio pamit dulu." ucap Tio sambil menatap Ayah dan melihatku dengan senyum. "Aku duluan ya .... "
"Makasih .... " sahut ku tanpa bertanya apapun tentang Rio.
"Ayah ... aku ingin pulang saja. Besok aku harus ke kampus. "
"Iya Sarah ... besok siang kita pulang, makanya malam ini kita tidak mengambil kamar perawatan. Ini saran dokter dan kita harus mengikutinya.
"Baiklah yah .... "
"Sebaiknya kamu segera tidur, Ayah mau mencari kopi terlebih dahulu. "
30 menit berlalu, sayup-sayup udara dari AC menyentuh badanku yang terasa berat dan lelah, mataku sepertinya mulai mengantuk.
Beberapa kali mataku terpejam dan terbuka, terpejam dan terbuka kembali.
Dari arah samping kanan ranjang ku (ranjang wanita yang aku ikuti tadi) terdengar suara ranjang yang bergerak maju mundur di tempat.
*Kr**eck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck* ....
Aku memalingkan wajahku dan melihat ke arah ranjang tersebut yang bagian atasnya di tutup dengan kain horden berwarna hijau.
Aku terus memperhatikannya dan dari sini aku melihat sepasang kaki terjulur ke bawah dan bergoyang - goyang seperti sedang bermain di tengah kolam air.
"He ... heeem ... heee .... heeeem ... he .... heeemmm ... ." Terdengar suara seorang wanita sedang bernyanyi dengan tenang dengan menutup kedua bibirnya. "
Siapa sebenarnya yang sedang bermain dan bernyanyi di sana? Inikan ruang IGD, tapi
kenapa tidak ada yang menegurnya? Tanyaku di dalam hati.
Aku berusaha untuk tidak perduli dengan yang di lakukan wanita itu, lagi pula setelah kejadian tadi, aku agak takut untuk melihat wajahnya kembali. Walaupun aku sangat penasaran dengannya dan hatiku bertanya-tanya, sebenarnya dia sudah mati atau masih hidup?
Aku membalik badanku ke arah yang berlawanan dan berusaha mengabaikannya. Kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck kreck ....
Tapi semakin aku mengabaikannya, Dia semakain memancing ku. Suara ranjangnya yang tadi hanya berbunyi pelan sekarang malah berbunyi sangat kencang sehingga menyakiti telingaku.
Aku berdiri dengan cepat dan berniat untuk menghampirinya. Aku melangkahkan kaki ku ke arahnya kemudian tangan kiri ku menyingkap kain horden tersebut tapi ...
aku tidak melihat siapa - siapa. Bagaimana mungkin? Tanyaku di dalam hati sedangkan tadi aku sangat jelas melihat kakinya berayun-ayun.
Ini semakin membuat aku bingung, memandang ke arah para perawat penjaga, mereka sedang sibuk dengan urusannya masing - masing. Sampai seorang perawat memperhatikanku, perawat tersebut berjalan ke arahku dan bertanya ke padaku, "Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Siapa yang menempati ranjang ini Sus? "
"Ranjang ini kosong sejak kemarin pagi." ucap perawat tersebut dengan tegas.
"Apa? Tapi tadi aku melihat seorang wanita muda di bawa ke ruangan ini dan di baringkan di ranjang ini. Kemudian aku mendengarkan dari salah satu perawat kalau wanita tersebut korban tabrak lari dan Dia sedang hamil." ujarku berkata dengan yakin.
"Begini ya dek. Saya bertugas di sini sejak kemarin pagi sampai beberapa jam ke depan. Jadi saya tau pasti tentang apa yang saya ucapkan kepadamu. Saya tau pasti tentang pasien saya, mulai dari jumlahnya hingga kondisinya karena kami selalu mengeceknya. Pukul 07 00 wib nanti kami baru ganti sif kembali."
"Oh ... begitu ya Sus. " ucapku sambil mengunci mulutku.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang mau di tanyakan, saya permisi dulu ya, karena mau bertugas menyusun obat yang akan di berikan ke pada pasien jam pagi ini sebelum dokter visit."
"Silahkan Sus, terimakasih." ujarku dengan nada yang lemas dan bingung.
Aku kembali duduk sambil menekukkan kedua kakiku dan memeluknya dengan tanganku sendiri. Aku merasa sangat bingung. Kenapa wanita itu menjahili ku jika Iya benar-benar sudah meninggal dunia? Atau ada hubungan apa diriku dengan wanita itu? Ucapku di dalam hati.
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘