ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
SIAPA?


Semua saling berpelukan sembari mengucap syukur, ketika para mayat hidup menjerit kesakitan lalu mereka semua menghilang seiring dengan terbakar habisnya makhluk setengah kuda bersama budak-budak nya. Tidak, bukan hanya mereka. Tapi juga Nenek Nawang Wulan dan makhluk berwajah tampan menyerupai manusia.


Makhluk satu ini masih menyisakan tanya di dalam hati Sarah karena Sarah merasa bahwa ia sama dengan Nenek Nawang Wulan yang berasal dari manusia. Belum lagi kenangan yang ia berikan, berupa keris misterius dengan auranya yang kuat. Laki-laki itu sepertinya bukan makhluk biasa di masa nya.


Feli dan teman-teman wanita lainnya menangis. Mereka menatap ke arah atas yang menembus langit subuh dengan bintang-bintang yang masih ramai dan mengatakan bahwa ini adalah kesempatan hidup kedua bagi mereka.


"Aku tidak akan lagi menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan untuk ku, Feli. Aku sudah melihat wujud mereka yang sangat menyeramkan dan aku sudah menyeret kalian semua ke dalam masalah ini."


"Ini bukan salah kamu, Mia. Dan kamu, siapa nama lengkapmu? Kita pernah bertemu dan satu kelompok dulu saat pengenalan kampus bukan?" tanya Feli pada gadis yang satunya lagi. Ia tampak tidak banyak bicara dan lemas sejak tadi. Mungkin karena dia habis kerasukan.


"Namaku Asila Wati. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sila yang tampak masih sangat bingung dan tidak mengerti tentang apapun. Namin Feli belum mampu menjawab pertanyaan tersebut.


Sementara Kang Slamet terduduk lemas seperti tidak memiliki tulang belakang. Kedua kakinya tergeletak di lantai dan ia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya.


"Ampun Gusti .... " ujarnya yang tampak sangat kelelahan dan ketakutan dengan celananya yang basal kuyup.


"Wis, Kang. Ayo berdiri! Satu lagi, sebaiknya awak mu mengganti celana itu," kata Mas Yuga.


"Iya e, pesing tau," ucap Pak Handoyo sembari menjelit kedua lubang hidungnya dengan tangan kanan. Sementara yang lain tertawa keras karena melihat keadaan Kang Slamet.


"Isin aku," ujar Kang Slamet yang langsung berdiri dan mereka bersama-sama melangkah ke arah luar kampus untuk mengantarkan teman-teman lainnya.


"Sebaiknya kita cepat karena kita harus mencari Sarah." Kak Rio berbicara masih dengan wajah yang tegang karena ia belum melihat kekasih hatinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Iya," sahut Feli dan Rian dengan cepat.


Sekitar 15 langkah rombongan Kak Rian meninggalkan tempat mereka terakhir kali berdiri, tiba-tiba dari arah tangga terdengar suara tapak kaki berat yang lambat. Kemudian terlihat bayangan dengan ukuran yang sangat besar di dinding tidak jauh dari tangga.


Hal tersebut membuat semua mata tertuju pada arah anak tangga tersebut dan hati mereka yang sudah tenang kembali bergetar hebat, bahkan Kang Slamet yang tadinya sudah merasa aman, kembali ketakutan hingga kedua lutut kakinya bergetar.


"Ini pasti rajanya karena dia memiliki tubuh yang terlihat sangat besar dengan langkah kaki yang terdengar berat," ujar Kang Slamet sambil menggenggam tangan Mas Yuga.


Kak Rio, Rian, Pak Haryanto dan Feli langsung maju 3 langkah ke depan. Kemudian mereka menengadahkan kedua tangannya memohon pertolongan dari Allah sekali lagi dari makhluk apapun yang mengincar nyawa mereka semua dan hal itu diikuti oleh teman-teman yang lainnya.


“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad.”


"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan semua nama-nama terbaik-Nya dari kejahatan samah dan hamah, dari kejahatan pandangan mata, dan dari kejahatan penghasut," teriak Kak Rio dan Rian. Sementara yang lainnya hanya tertunduk karena tidak hafal dengan ayat ini.


أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِِ


"A'uudzubillaah himinas syaitoon nirrojiim. Artinya, aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.


قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَۙ وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَۙ وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِۙ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ


"Qul a'ụżu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad."


Artinya, katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar .... " ucap Kak Rio, Rian dan Feli serta yang lainnya tanpa henti.


أَعُوْذُ بِكَلِمَا تِ اللَّهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لاَ يُجَاوِزُ هُنَّ بَرُّ وَلاَ فَا جِرُ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ وَذَرَأَ وَبَرَأَ وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنْ السَّمَاءِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيْهَا وَمِنْ شَرِّ مَا ذّرَأَ فِي اْلأَرْضِ وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلاَّ طَارِقًا يَطْرُ قُ بِخَيْرٍ يَا رَححْمَنُ


"Aku berlindung dengan firman-firman Allah yang sempurna, yang tidak bisa ditembus oleh para hamba yang shalih apalagi yang fasik, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan yang turun dari langit atau yang naik ke atas langit, serta dari segala kejahatan makhluk di bumi. Juga dari kejahatan yang keluar dari perut bumi, dari kondisi buruk kekacauan di siang dan malam, serta dari kejahatan tamu di tengah malam, kecuali yang bermaksud baik, wahai ar-Rahmân……..…” [Doa mengusir setan jahat, HR. Ahmad]


Air mata Feli mulai keluar sangat banyak dan hatinya menjadi tidak karuan. Ia berpikir, bagaimana mungkin makhluk itu tidak bereaksi atas bacaan dari ayat-ayat suci Al-Quran yang memang dikhususkan untuk membakar dan membinasakan makhluk hitam yang terkutuk.


Selain itu, Kak Rio dan Rian saling menatap dengan pandangan heran luar biasa. Tapi mereka berusaha menyembunyikan perasaan dan pikiran cemasnya agar yang lain tetap tenang.


Tak lama, terdengar suara azan shalat subuh yang menggema sangat kuat termasuk di dalam gedung kampus. Suara azan tersebut diikuti oleh Kak Rio yang maju lebih jauh ke depan, seolah ia siap menjadi benteng bagi yang lainnya.


Sungguh sifat pemimpin yang patut di contoh. Ujar Rian di dalam hatinya sembari menatap punggung Kak Rio.


Feli memegang lengan Rian dengan kedua tangannya yang gemetaran. Tapi mereka sama sekali tidak berpikir untuk pergi meninggalkan Kak Rio sendirian.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini!" perintah Kak Rio.


"Tidak. Tidak mungkin," sahut Feli sambil menangis.


"Feli, dia bukan makhluk sembarangan. Bahkan ia sama sekali tidak meraung ataupun kesakitan saat mendengar suara azan." Kak Rio menolehkan wajahnya ke arah Rian dan menatapnya dalam-dalam dengan harapan kalau Rian bersedia membawa yang lainnya pergi dari dalam gedung.


Namun keinginan Kak Rio tidak terkabul, Rian malah maju beberapa langkah bersama Feli. Hingga tubuhnya sejajar dengan Kak Rio dan hal tersebut membuat mata Kak Rio berair karena menyadari satu hal, yaitu sahabatnya tidak akan pernah meninggalkan dirinya sendirian melawan kedzoliman.


Bersambung ....


Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Selain itu, jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya, tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih dan semangat membaca 😘😘😘.