ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
AIR MATA


Kami tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang perawatan Kak Amora. Setibanya di sana, aku melihat keadaan Kak Amora yang memprihatinkan. "Amora mengalami patah tulang leher, tangan dan kaki kanan. " ujar sang Mama yang selalu menemani Kak Amora semasa di rumah sakit.


"Sabar ya Tante .... " sahut Kak Rio dan rekan-rekannya demi menyebarkan Mama kamera dan dua orang saudaranya yang berada di ruangan tersebut.


"Kapan kejadian sesungguhnya Tan? tanya salah seorang teman Kak Rio yang bernama Shila.


"Katanya kejadian itu terjadi pada pukul 20.00 Wib sebelum salat isya. Kejadiannya di depan mesjid Agung. "


"Lalu dimana Linda? " tanya Kak Rio yang tampak khawatir pada teman sejawatnya tersebut.


"Linda ada di ruang ICU. Kondisinya lebih buruk karena ia koma dengan mata yang terbuka dan menghadap ke atas serta mengalami sesak nafas yang hebat. "


Tak lama, terdengar suara ketukan dari luar ruangan. "Masuk ...! " ucap Mama Kak Amora.


"Selamat sore Bu, maaf mengganggu. Sejak tadi siang kami kemari, hanya saja Ibu tidak ada di tempat. "


"Ada apa pak? "


"Ini terkait kecelakaan yang melibatkan Putri Ibu Amora. Setelah mendalami peristiwa, didukung oleh saksi-saksi dan beberapa bukti dari CCTV. Maka dapat disimpulkan bahwa kendaraan yang ditumpangi Putri Ibu sebelum mengalami kecelakaan hebat ini, telah melakukan tindak kejahatan. "


"Maksudnya Pak? Saya kurang mengerti. " ujar Mama Kak Amora yang tampak syok dengan keterangan yang diberikan oleh salah satu dari empat orang polisi yang menangani kasus kecelakaan Kak Amora dan Kak Linda.


"Iya, sebelum mobil yang ditumpangi anak Ibu bertabrakan dengan kendaraan lain yang berada di depannya, terlebih dahulu mobil tersebut menabrak salah seorang wanita yang keadaannya saat ini tengah kritis dan juga koma. "


"Astaga ... apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Mama dan saudaranya yang lain. Sementara Kak Amora dalam keadaan mata yang tertutup.


"Ini tampak disengaja. Oleh karena itu, hal ini masuk ke dalam tindak pidana. Ibu tau sendiri kan bagaimana konsekwensinya? Saya dan rekan-rekan ke sini bukan bermaksud untuk menekan keluarga Ibu, hanya saja kewajiban bagi kami untuk mengatakan fakta-fakta di lapangan tanpa menutupi kebenaran. "


"I-iya Pak .... " ucap Mama Kak Amora terbata-bata sambil menangis tersedu seakan tidak percaya akan ucapan dari para polisi saat ini.


"Kalau begitu kami permisi dulu Bu. Kami harus melihat korban tanpa identitas tersebut karena sampai saat ini kondisinya masih kritis dan tidak dapat diajak berkomunikasi."


"Jadi sampai detik ini keluarganya tidak tahu tentang kondisi korban Pak?" tanya Mama Kak Amora tampak peduli dengan kondisi korban.


"Iya begitulah Bu. Tapi kami Tengah berusaha dengan keras untuk dapat mengetahui identitas korban melalui ponselnya yang telah hancur akibat terlindas ban mobil yang anak Ibu tumpangi. "


"Dimana korban sekarang Pak? " tanya salah seorang saudara Kak Amora yang tampak lebih dewasa.


"Ada di ruang ICU. "


"Baik Pak, Terima kasih untuk infonya dan Kami juga akan segera menjenguknya setelah ini. "


Setelah para polisi meninggalkan ruang perawatan Kak Amora, suasana menjadi berubah. Rasa simpati dan khawatir di dalam hatiku berubah menjadi rasa tidak nyaman bahkan tidak suka. Aku merasa apa yang dialami oleh Kak Amora saat ini adalah hal yang pantas ia terima.


"Sebaiknya setelah ini kita segera menjenguk Linda karena hari juga hampir magrib dan sebaiknya kita tidak terlambat untuk pulang." kata Kak Rio sambil menghadap kearah rekan-rekannya yang lain dan mereka menyetujui ucapan Kak Rio tersebut.


Kami segera Permisi kepada keluarga kakamora dan langsung menuju ruang ICU untuk menjenguk Kak Linda. Sesampainya di sana na-eun hanya 2 orang saja yang boleh masuk dan kami memutuskan untuk masuk secara bergantian.


Kak Rio meminta rekan-rekannya yang lain untuk masuk terlebih dahulu untuk melihat kondisi Kak Linda dan saat mereka keluar dari ruangan Mereka tampak meneteskan air mata bahkan ada yang menangis hebat. berarti kondisi Kak Lina benar-benar tidak baik ucapku di dalam hati sambil menunduk.


Sekarang giliran aku dan kak Rio yang masuk ke dalam ruangan ICU. Setibanya di ranjang nomor dua, aku melihat Kak Linda dalam kondisi yang tidak wajar. Mungkin orang lain tidak dapat melihat hal janggal tersebut, tapi berbeda denganku.


Aku melihat ada seseorang yang duduk tepat di atas dahi Kak Linda dan beliau menghadap ke depan sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya (Hanya tampak punggung). Ternyata roh inilah yang menyiksa Kak Linda, Sehingga ia tampak dalam keadaan koma menurut medis. Ucapku di dalam hati.


Entah mengapa aku sangat yakin bahwa sebenarnya Kak Linda dalam keadaan baik, hanya saja tidak mampu berbicara dan mengatakan bahwa ia tengah menderita karena ditindih oleh makhluk halus tepat di bagian kepalanya.


Tadinya aku sangat khawatir dengan kondisi ini dan aku ingin membantu Kak Linda dengan cara yang tidak aku ketahui, tapi beberapa saat setelah aku berdiri di belakang tumbuh kak Rio karena takut, tiba-tiba roh tersebut memutar kepalanya sehingga aku dapat melihat wajahnya.


Aku sangat mengenali wajah itu karena aku baru saja berjumpa dengannya satu bulan yang lalu dan aku tahu siapa dia. Rasa takut ku hilang seketika dan aku menatap roh itu dengan pandangan tajam. Beliau tampak meneteskan air mata darah yang tidak berhenti seakan menunjukkan rasa sakitnya yang teramat dalam.


"Dimana Feli? tanyaku dengan suara gemetaran dan keluarga Kak Linda melihat ke arahku.


"Siapa Feli? Kami tidak mengenalinya. " ucap Mama Kak Linda yang tampak bingung dengan pertanyaan yang aku ajukan.


Tiba-tiba aku teringat ucapan dari polisi yang baru saja mengatakan bahwa korban dalam kondisi koma dan kritis di ruang ICU. Untuk itu tanpa menjawab pertanyaan dari Mamanya Kak Linda, aku langsung berjalan dengan cepat memperhatikan setiap pasien yang berada di ruang ICU tersebut.


Benar saja, firasat dan juga pikiranku tidak meleset kali ini. Ternyata korban dari kejahatan Kak Linda dan Kak Amora adalah Feli. Aku sangat terkejut dan terpukul saat ini, hingga aku menangis dan memeluk Feli yang terkapar tidak berdaya di atas sebuah ranjang rumah sakit tanpa keluarga, tanpa siapapun yang ada mendampinginya.


Aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak menyangka hal buruk ini akan terjadi kepada Feli. Pantas saja dia tidak menghubungiku sejak tadi malam dan tidak datang ke kampus pagi ini. Pada saat yang bersamaan, Kak Rio dan dua orang perawat datang mendekatiku lalu bertanya, "Apakah aku mengenali pasien?"


"Iya, dia adalah saudara ku." Kak Rio tampak bingung dan terkejut dengan apa yang ia lihat bahwa ternyata Feli adalah korban dari kejahatan Kak Linda dan Kak Amora. Kak Rio tampak tidak percaya tapi inilah kenyataannya.


"Feli ... bangun! Kamu bisa mendengar aku kan? Ayo bangun Fel... aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak punya teman selain dirimu, aku tidak punya sahabat selain dirimu, dan aku tidak punya saudara selain dirimu. Ayo bangun Feli! Aku mohon...! " ucapku dengan air mata yang menetes sambil terus memeluk tubuh Feli yang dingin dan kaku.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘