
Kepergian si Mbok menyisakan luka yang teramat dalam bagiku, disini si Mbok adalah orang yang sering menemaniku. Ditambah lagi dengan kematian si Mbok yang meninggalkan misteri dan tanda tanya membuat aku semakin tidak tenang.
Sore ini mayat si Mbok dipulangkan ke rumahnya, Ayah begitu sibuk mempersiapkan segala urusannya termasuk urusan dengan polisi. Sementara ibu masih tergeletak lemas di dalam kamarnya.
Mbah Anwar juga sudah diantar pulang ke rumahnya oleh Pak anton dan aku masih tidak mampu bergerak untuk membantu Ayah atau melakukan sesuatu untuk membantunya.
Rasanya seluruh tubuhku hancur dan remuk, perutku terasa kembung, hidung dan mataku panas, telingaku begitu sejuk, sepertinya aku akan demam berat saat ini.
Tok tok tok tok tok tok tok
"Sarah, ayah masuk ya nak? Gimana keadaan kamu sarah?"
"Aku merasa lemas sekali yah, seluruh tubuhku terasa sakit." ucapku sambil meneteskan air mata.
"Jika kamu tidak ingin ikut, kamu bisa tinggal di rumah saja bersama Ibu nak." ujar Ayah sambil mengusap-usap rambutku.
Ayah, setelah kejadian hari ini aku lebih tidak nyaman lagi di rumah, ucapku di dalam hati. "Tidak yah, aku ingin ikut saja tapi bagaimana bagaimana dengan Ibu?"
"Ibu tetap tinggal di rumah, ibu masih lemah."
Aku berfikir kembali untuk pergi ke rumah si Mbok atau tetap tinggal di rumah bersama Ibu. " Tapi yah, apa baik meninggalkan Ibu di rumah sendirian?"
"Tidak nak, tenang saja. Ayah sudah meminta tetangga untuk menemani ibumu."
"Syukurlah kalau begitu yah."
"Mungkin ini juga merupakan awal yang baik buat Ibumu, selama ini Ibumu kurang bergaul dengan tetangga sekitar sini, mungkin setelah kejadian ini ibumu bisa lebih bersosialisasi dengan para tetangga semuanya."
"Iya yah." ucapku sambil mengangguk-anggukkan kepala. " Aku bersiap-siap dulu ya yah."
"Baik nak, Ayah tunggu di luar ya."
Akupun bersiap untuk mengantarkan si Mbok ke rumahnya. Hari ini terasa ramai sekali, polisi dimana-mana, tetangga berkumpul, mungkin nanti Paman dan Bibik juga akan datang, harapan ku.
"Sarah ayo cepat! "
"Iya yah ...." Aku masuk ke dalam mobil dan kami pergi mengantar jenazah si Mbok ke rumahnya untuk di mandikan dan di sembahyangkan.
Di sepanjang jalan aku mendengar suara anak-anak kecil seperti tengah bermain di sekitar ku. Aku memperhatikannya tapi tidak ada siapa-siapa, bahkan di mobil pun hanya ada aku dan ayah ku. Tapi suara mereka terdengar sangat jelas walaupun terkadang menghilang seperti di bawa angin.
Kami tiba di rumah duka, suasana sedih tampak jelas menyelimuti keluarga si Mbok yang tidak menyangka bahwa si Mbok akan pergi dengan cara dan keadaan seperti ini. tapi tidak ada satupun diantara mereka yang menyalahkan ayah dengan tragedi ini.
Bagi mereka, selama ini Ayah dan keluarganya merupakan majikan yang baik dan perduli pada si Mbok, makanya si Mbok ingin mengabdi pada keluarga ini walaupun umur si Mbok sudah tidak muda lagi.
Mereka berpendapat bahwa kematian si Mbok murni kecelakaan, begitu juga yang ayah katakan padaku.
Mayat si Mbok sudah di turunkan dan di letakkan di ruang tengah. Satu persatu anggota keluarga si mbok menyentuhnya dan menangisinya, membuat air mataku tak terbendung.
Aku duduk tidak jauh dari mayat si Mbok, tepatnya di samping si mbok dan aku melihat ayah begitu sibuk bergerak kesana-kemari, ikut mengurus kebutuhan untuk memandikan dan mengafankan si Mbok.
Aku bisa melihat bagaimana Ayah begitu menyayangi si Mbok. Sesekali Ayah menoleh ke arah si Mnok dan merunduk kembali menghilangkan luka hatinya sambil menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
Aku duduk dengan tenang di dekat si Mbok, orang-orang lalu lalang di dekatnya. Sebenarnya disini suasananya ramai tapi entah mengapa lama kelamaan aku merasa Susananya menjadi sepi, lama kelamaan orang-orang di sekitar sini berkurang, berkurang, berkurang, bahkan menghilang.
Seperti nya ,"HANYA ADA AKU DAN SI MBOK DI RUANGAN INI".
Saat ini, aku merasakan suasana yang sangat amat sepi. Seolah benar-benar tidak ada siapapun di sini, aku merasa aneh sekali sehingga membuat aku berdiri dan memperhatikan sekitar ku.
Kenapa bisa seperti ini? Ada apa ini? Tanyaku di dalam hati dan keadaan ini membuat jantungku mulai berdegup kencang.
Selain itu, aku merasakan ada seseorang sedang berdiri tepat di belakang ku. Entah mengapa pikiranku hanya mengarah pada mayat si Mbok.
Apa mungkin si Mbok ada di belakangku? Kata hatiku, ini pemikiran yang konyol Sarah, mana mungkin orang yang sudah mati dapat hidup kembali. Tidak tidak tidaaaak, ini tidak mungkin. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, dadaku semakin terasa sesak dan berat.
Sekali lagi, aku berusaha mengalihkan pikiran ku tapi suara tetesan air itu sangat nyata. Aku mengangkat kepalaku lagi dan membuka mataku lebar-lebar untuk melihat orang-orang yang tadinya nampak banyak di sekitarku, tapi bagaimana mungkin semuanya bisa menghilang, ini membuatku panik.
Aku berusaha melangkahkan kakiku tapi tidak bisa, bayangan itu semakin dekat, aku bisa merasakannya, semakin dekat seolah hampir menyentuhku. Tidak, kenapa si Mbok menakuti aku? Apa salahku mbok? Ucapku di dalam hati.
Sepasang tangan menyentuh pundak ku, aku gemetaran karena ketakutan. "Sarah ...." Itu suara Ayah. Saat aku mendengar suara Ayah, tiba-tiba suasana menjadi ramai dan normal kembali.
"Sarah, kenapa kamu nak?" tanya Ayah sembari menghapus bulir-bulir keringat dingin yang melewati dahi hingga pipiku dengan tangannya.
"Ayah ...." ucapku sambil menangis
"Kenapa kamu berdiri? Jangan ngelamun Sarah! Ngak baik. Kita dihadapkan dengan mayat saat ini, paham?" ucap Ayah sambil menatapku.
Berdiri, padahal dari tadi aku tengah duduk di dekat si Mbok. Bagaimana mungkin aku tidak sadar saat aku berdiri? Ucap hatiku sambil melihat tubuhku berdiri di dekat mayat si Mbok. "Aku tidak tau yah ...." sahutku sambil menunduk.
"Ya sudah, kalau begitu ayah tinggal dulu ya nak. Kalau lelah kamu bisa menumpang di kamar untuk beristirahat." ucapnya lalu Ayah berjalan meninggalkan aku.
Aku kembali duduk di dekat si Mbok bersama anak-anak si Mbok yang wanita. Walaupun ramai, mataku hanya selalu tertuju pada mayat si Mbok.
Tidak tau mengapa, tapi sepertinya hanya aku saja yang merasakan bahwa kematian si Mbok bukanlah kecelakaan dan semua itu membuat si mbok tidak tenang. Jika memikirkannya, jantungku tidak karuan.
Aku menyandarkan kepalaku di tembok, seluruh tubuh ku terasa lemah. Kejadian hari ini membuatku lelah.
Saat aku melayangkan mataku menuju arah langit-langit rumah, aku seakan melihat ada sesuatu yang menarik kain panjang yang menutupi mayat si Mbok.
Kain itu terus-menerus turun hingga memperlihatkan wajah si Mbok, aku tidak dapat bergerak, hanya bisa memperhatikan kejadian yang janggal tersebut.
Kain itu terus dan terus turun dengan perlahan hingga memperlihatkan wajah dan leher si mbok. Melihatnya tubuhku bergetar hebat. Mataku tidak lepas dari si Mbok, sepertinya secara tidak sadar aku sedang mengawasi si mbok
"Aaaak Aaaaa aaaak aaaak aaaak aaaak aaaak aaaak aaaak .... " Aku berteriak terus menerus tanpa henti.
Aku melihat si Mbok membuka kedua matanya, matanya terlihat besar dan melotot. Aku terus teriak histeris apalagi saat si Mbok menghadapkan wajahnya melihat ke arahku.
"Tidak mungkin, tidak, ayaaaahhh ...." ucapku berteriak dan saat itu aku merasa tubuhku berguncang dengan hebat.
"Sarahhhh, sarahhhh, sadar nak!" kata Ayah sambil menguncang-guncang tubuhku dengan kuat. Aku bisa merasakan jika Ayah memelukku sambil menangis.
"Sadar nak, sadar!" kata Ayah tapi aku terus berteriak hingga air mata dan tangisan Ayah membangunkan aku.
"Ayah ... Ayah .... "
"Kenapa kamu tidur di sini Sarah?"
"Ayah, tolong bawa aku pergi dari sini yah. Aku tidak ingin lagi melihat mayat si Mbok, aku benar-benar takut yah. "
Ayah memapah ku keluar dari ruangan itu. ayah meletakkan ku di kursi luar, Ayah memegang erat tanganku, Ayah bilang "Jangan sampai sakit nak! Apalagi trauma dengan kejadian ini, kita semua harus kuat karena kita tidak pernah tau bagaimana kematian itu akan datang, kapanpun, dan dimanapun." ujar Ayah sambil menyeka keringatku
Bersambung....
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘