ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
KEBENARAN


"Diiaaaaaaaammmm .... " teriak Mira sangat kuat dan berenergi hingga memecahkan kaca-kaca jendela di ruangan tersebut dan terbang hendak menghantam ke arahku. Tapi saat kaca-kaca kecil itu sudah sangat dekat dengan tubuhku dan aku tidak tau harus berbuat apa? Ayahku datang dan menjadi perisai bagiku.


"Allahu Akbar," ucap Ayah dengan suara yang pelan dan tenang. Sama sekali tidak terlihat kesakitan di dalamnya.


"Ayah," ucapku saat melihat beliau sudah tidak berdaya.


Aku langsung memeluk bawah lengan Ayah ketika ia hendak terjatuh, Ayah tidak boleh terluka, Ayah tidak boleh sakit dan menderita lagi. Ini sudah cukup, ucapku di dalam hati.


"Seperti ini kan Ayahmu, Mira?" tanyaku dengan suara yang tenang tanpa air mata. "Dan sekarang kamu membuat ia menderita dengan pilihan hidupmu. Setiap darah orang yang mengalir akibat ulah mu, maka Ayahmu akan merasakan cambukan dari api neraka yang sangat panas dan pedih.


Untuk sesaat Mira terdiam, tapi tangannya masih di leher Rido. Tak lama, aku melihat Rido hampir mencapai batasnya. " Jangan sakiti dia, aku mohon .... " Mira menatap Papanya Rido dengan penuh kebencian, tapi satu hal yang membuat ia berhenti menyakiti Rido. "Aku mohon, berikan aku waktu untuk bicara! Rido adalah putramu Mira, dia adalah darah daging mu."


"Diam!"


"Jika kamu tidak percaya, kamu bisa melihat tanda lahir yang ada di dada kiri putramu itu. Aku yakin dan percaya, apapun keadaanmu saat ini, kamu akan bisa mengenali darah dagingnya sendiri dan aku tidak berbohong.


Mira tampak aneh setelah mendengar perkataan dari Papa Rido saat ini. Kemudian naluri nya sebagai wanita seakan terpanggil untuk mencari tau kebenaran akan Rido dan saat itu, Mira menarik baju pasien yang Rido kenakan.


Saat Rido sudah telanjang dada, Mira pun seakan mengenang sesuatu dan ia melepaskan Rido begitu saja. Mira tampak terdiam dan tidak percaya dengan semuanya.


Dari arah tidak jauh dari pintu, aku melihat Mira perlahan menjadi tenang dan berubah wujud. Mira menjadi sosok yang sebenarnya (seperti wujud dirinya ketika menjadi manusia). Bahkan wajahnya tidak lagi menyeramkan dan aku dapat mengenalinya.


Rido yang sadar akan ucapan Papanya tersebut, langsung memandang ke arah Mira tanpa mengedipkan kedua matanya sedikit pun. Dari sini tampak sekali air bening dari ujung tepi mata Rido. Entah apa yang ia pikirkan, tapi semua pasti sangat menyakitkan untuk Rido.


"Saya berusaha mencari kamu, Mira. Tapi sayangnya, saya terlambat. Saat kamu kecelakaan, saya menemukan kamu dan saya lah orang yang sudah memakamkan kamu," ujar Papa Rido sambil menangis terisak.


"Tapi bukannya saat itu bayi Mira meninggal dunia?" tanya ku karena aku juga berada di sana, menjadi saksi kehancuran seorang anak manusia. Sementara Mira hanya terdiam, berdiri seperti patung sambil menatap Rido.


"Sesaat setelah kejadian tabrakan tersebut, dua orang bidan menghampiri Mira yang sudah tergeletak tidak bernyawa dan saat itulah saya tau tentang Rido. Dengan air mata saya mengangkat tubuh kamu Mira dan juga Rido, Tuhan tidak memberikan saya waktu untuk menebus dosa-dosa saya," ujar Papa Rido sambil menangis tersungkur dan dahinya menyentuh lantai lantai kotor berdebu. Saat ini, tampak sekali ia sangat menyesal.


"Wajah kamu selalu bermain di mata dan ingatan saya. Saya sudah berusaha mencari kamu, mencari identitas dan alamat kamu, tapi semuanya butuh waktu. Dan setelah saya mendapatkan kamu, kamu sudah tidak bernyawa."


"Setelah itu, saya berjanji untuk Rido, saya berjanji akan menjadi Ayah yang terbaik baginya. Saya juga menikah dengan Mamanya Rido yang sakit dan tidak mampu memberikan saya keturunan hanya karena satu alasan. Dia mampu dan bersedia mengurus Rido dengan baik."


Aku tau kali ini Papa Rido tidak berbohong karena aku sendiri sudah melihat data kesehatan Mamanya Rido. Beliau memang sakit keras dan tidak bisa memberikan keturunan. Ucapku tanpa suara.


Ternyata begitu, pantas saja Papa Rido tau alamat rumah ini dan aku ingat saat itu, aku terlanjur sadar dan bangun karena suara Ayah sehingga aku tidak bisa menyaksikan keseluruhan tragedi kecelakaan Mira. Seandainya saat itu aku bisa bertahan sedikit saja, pasti semua yang terjadi malam ini tidak akan terjadi. Feli, ternyata fakta seperti ini yang ingin kamu tunjukkan kepadaku.


"Maaf kan saya Mira, jika kamu ingin, bunuh saja saya! Tapi jangan sakiti anak kita!" ucap Papa Rido sambil menangis terguguh-guguh.


"Mira, ikhlaskan segalanya, aku akan membantu kamu. Kembalilah ke dalam pelukan Ilahi. Semua ini adalah takdir hidupmu, takdir yang sangat menyakitkan. Tapi, jangan pernah kamu mau diperbudak keinginan untuk balas dendam dan hawa nafsu dari syetan, Mira!" Teriak ku seolah aku seumuran dengan dirinya.


Mira memalingkan wajahnya ke arah ku, saat itu aku masih melihat kebencian yang besar dari dirinya. "Jika kamu membunuh dia sekarang, mungkin hatimu akan puas. Tapi ... anakmu akan menjadi seorang yatim piatu. Cam kan itu, Mira!"


Tak lama, terdengar suara isak tangis dari bibir Mira. Memang sangat menyakitkan jadi dirinya, tapi dia harus sadar sebelum Allah mengutuk dirinya.


Papa Rido berusaha menggapai anaknya dan memeluknya. Saat ini, jarak mereka sangat dekat dengan Mira tapi Ia tidak mendekat kepada Rido dan Papanya. Mungkinkah Mira akan memaafkan dan mengikhlaskan segalanya.


"Mira, menurutku bukan hanya kamu yang menjadi korbannya, tapi juga Rido karena jika ia tidak sehat, maka ia akan menjadi pemuda cacat seumur hidupnya. Dia butuh Papanya untuk sehat, Mira."


Mendengar ucapan ku, tubuh Mira mundur perlahan dari posisi Rido dan Papanya. Mungkin ia sudah ikhlas dengan segalanya dan semua itu membuat aku senang dan tenang.


"Alhamdulillah hirobbil alamin .... " ucapku sambil memeluk Ayahku. "Semuanya sudah berakhir Ayah .... " ujar ku sambil mencium pipi kiri Ayah yang dekat dengan bibirku.


Sekitar lima menit dalam keadaan yang sangat tenang, tiba-tiba aku mendengarkan suara lendir yang pekat, seperti suara becek dari atas (langit-langit ruangan). Ada makhluk buruk rupa yang sangat menjijikkan di atas sana dan sepertinya ia akan melakukan hal yang buruk.


Gerakannya sangat cepat, kira-kira satu tarikan nafas hingga aku tidak mampu untuk mengejar dan membatasi niatnya. Aku meletakkan kepala Ayah di lantai, lalu aku berdiri dengan cepat untuk menarik tubuh Rido dan Papanya serta mengumpulkan mereka ke dekat Ayahku.


Sepertinya iblis inilah sumber petaka yang sesungguhnya. Aku yakin dia yang sudah memanfaatkan kebencian yang ada pada Mira. Disisi lain, aku melihat Mira berusaha melawannya dan tak ingin dimanfaatkan sekali lagi.


Kepala Mira terlihat menggeleng-geleng dengan cepat dan kedua tangannya menggenggam sangat kuat. Saat itu aku menyadari bahwa kekuatan seorang Ibu memang sangat lah kuat.


"Aaaaaaaakkkk ... lepaskan aku!" teriak Mira sangat keras dan kuat. Tapi Mira kalah dalam pengalaman, hingga ia terjebak oleh iblis tersebut dan rohnya kembali dimanfaatkan.


Semuanya terjadi sangat cepat sehingga aku tidak dapat berbuat. Lagipula aku tidak tau harus apa? ini pengalaman pertama bagiku dan semuanya sangat menyakitkan.


Tiba-tiba Mira terdiam dalam posisi wajah menunduk. Aku berada tepat di sampingnya, dari sini aku bisa melihat bagian depan wajahnya masih Mira, tapi bagian pundaknya adalah wajah lain yang sangat menyeramkan dan mengerikan.


"Ya Tuhaaaaan .... " ucap Papanya Rido dengan suara yang bergetar.


Bersambung ....


Para reader, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘