
Aku berbaring sambil mengulang kembali perkataan mbok Yati tentang tanda lahir ini, kalau memang sama dengan Ibu berarti Ibu juga punya tanda lahir yang sama dengan ku, seru juga ya gumamku.
Nanti malam aku ingin mengintip pinggang Ibu, apa benar ada tahi lalat sama seperti ku (aku berdiri di depan cermin besar dan membalik badan ku untuk mengetahui bentuk dan posisi tahi lalat yang di katakan mbok Yati).
Baiklaaah, aku sudah tau bagaimana bentuknya dan dimana letaknya (sambil tersenyum), ini pasti menyenangkan gumamku. Sebaiknya aku segera tidur supaya bisa bangun tepat waktu, dan aku mulai memejamkan mataku.
Aku mendengar suara seru dan ribut-ribut di sekitarku. Aku membuka mataku, oh ... aku berada di taman bermain. Banyak anak-anak di sini, namun mataku langsung berkeliaran mencari Tania dan adiknya yang memang kerap kali muncul dalam tidak sadarku, tapi aku tidak menemukan mereka berdua.
Disini hanya ada pemandangan biasa dari orang-orang yang tidak aku kenali. Teriakan, canda, tawa, bahkan juga ada tangisan, sesekali anak-anak itu berlari mengelilingi aku. Tapi dibalik semua suara-suara itu terdengar suara tangisan yang begitu kuat hingga mencuri perhatian ku.
Di sudut sana ada dua anak perempuan sedang duduk berdampingan, yang satunya sedang menangis dengan suara yang kuat dan yang satunya lagi tengah membujuk. "Mereka serupa" Ucapku.
Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok
Tiba-tiba suara ketukan kuat memecah arah pandanganku. "Sarah ... saraah ... bangun nak! Hari sudah hampir magrib Sarah."
Aku terduduk mendengar suara tersebut, itu suara ayah. "Iya yah, sebentar ... aku membersihkan diri terlebih dahulu. " ucapku menyambar panggilan ayah dengan perasaan yang masih bingung.
"Baik baik baik, ayah dan ibu tunggu di luar ya Sarah. " ucap Ayah
"Iya yah. " sahut ku
Aku duduk dengan tenang, mencoba memandangi sekitarku. Aku di kamar, bukan di taman? Ya aku di kamar, tadi itu hanya mimpi saja. Hemmmmh, aku segera bangun dan membersihkan diri.
Saat melangkah keluar kamar, aku teringat bahwa aku punya misi sederhana, lagi pula aku sudah lama tidak menggoda ibu. hi hi hi hi hi ... aku merasa sangat bersemangat sekali.
Aku duduk di sebelah ibu, sambil tersenyum dan melirik ke arahnya. "Ibu .... "
"Ada apa nak?"
"Apa boleh aku meminta sesuatu atau melakukan sesuatu?"
"Nanti saja Sarah, ini waktunya makan bukan bermain. "
"Baik yah .... "
Sesi makan telah usai, aku tidak ingin meminta yang kedua kalinya dengan Ibu. Tapi aku sangat ingin menggodanya.
Ibu membawa peralatan makan yang kotor ke belakang, lalu aku berpikir kenapa tidak aku goda saja ibu dengan mengangangkat dan mengintip pinggang nya? Seperti nya itu ide bagus (aku berdiskusi dengan diriku sendiri).
Saat Ibu sedang mencuci piring, dari arah belakang aku langsung mengangkat baju Ibu dan kemudian memeriksa tanda lahir Ibu yang kata mbok Yati sama dengan ku tapi aku tidak menemukannya.
Selain itu harapanku tidak sesuai dengan kenyataannya, saat hal itu aku lakukan Ibu sangat marah padaku dan mendorong ku sangat kuat hingga aku terjatuh di lantai, ekspresi wajah Ibu sangat berbeda. Ibu pasti sangat marah denganku saat ini.
Punggungku kesakitan karena terbentur lantai, tapi Ibu bukannya menolongku tapi malah marah ke padaku dengan wajah yang sangat tegang, dia tidak seperti Ibu ku, di tambah lagi saat aku melihat genggaman tangan ibu yang seolah-olah ingin memukul ku.
Dengan cepat aku berlari ke kamar, aku melewati ayah yang tengah duduk santai sambil menonton TV. Aku mengunci pintu kamarku rapat-rapat dan berbaring sambil menangis, aku takut sekali, baru kali ini aku melihat ekspresi wajah ibu seperti itu.
Tidak lama, tok tok tok tok tok ... suara ketukan lembut terdengar dari pintu kamarku. "Sarah... sarah...." Itu suara Ibu yang memanggil ku tapi aku sedang tidak ingin bertemu Ibu jadi aku tidak membuka pintunya dan berpura-pura sudah tidur.
Malam mulai larut, aku tidak bisa memejamkan mataku. Pikiran ku berputar-putar dan berandai-andai, aku memikirkan ini dan itu, tiba-tiba aku mendengar suara yang keras dari luar, seperti suara pukulan besi yang kuat.
Aku tiba di ujung pintu dan mengintip ke dalam, aku melihat seseorang sedang memukul sesuatu dengan sangat keras, persis seperti di dalam mimpiku saat itu (aku terbayang dan mengingat nya). Kemudian seseorang itu menegakkan tubuhnya.
Hah, itu ayah, gumamku di dalam hati.
apa yang sedang Ayah lakukan di sana? Sendiri? Dan hampir tengah malam? Aku hanya ingin mengintipnya, tidak berniat untuk bertanya karena rasa takut ku lebih besar dari pada rasa ingin tahuku.
Perlahan, aku membalik badan ku dan mundur teratur. Aku berniat untuk kembali masuk ke kamar ku tapi aku merasa sesuatu yang sangat cepat bergerak ke arah kamar Ayah dan Ibu. kemudian ibu berteriak kecil karena terkejut.
Sebenarnya aku ingin sekali mengetahui apa yang terjadi, tapi aku mendengar langkah kaki Ayah dari arah gudang tua ke arah kamar sehingga aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar ku dengan langkah seribu.
Ntah apa yang ada di dalam pikiran ku tapi aku merasa ada yang salah dengan semua ini. Aku mengunci pintu kamarku dan menyandarkan tubuhku di pintu, tadi saat aku mengangkat baju ibu, aku tidak melihat tanda lahir di pinggang ibu seperti yang di katakan mbok Yati, pikiranku berbisik.
Hal ini membuat aku bertanya-tanya dan aku harus memastikannya lagi. Besok saat ibu tidur siang, aku akan mengecek kembali untuk mencari tau kebenaran tentang tanda lahir itu (aku meyakinkan diriku).
Aku kembali ke tempat tidur ku sembari mencoba untuk menenangkan diri dan bersantai tapi itu sulit. Ayah, Ibu dan semua yang terjadi di rumah ini menjadi pikiranku.
Aku memejamkan mataku dan berusaha melupakan segalanya. Kini ... aku mulai terasa mengantuk, aku ingin tidur yang cukup malam ini.
Tes tes tes tes tes tes tes tes.
Suara itu tidak asing bagiku, aku mulai membuka mataku untuk memastikannya. Benar saja, aku sudah tidak lagi berada di atas ranjang, aku sudah tidak lagi berada di dalam kamar ku.
Rasanya saat ini aku sedang berdiri di dekat sumur sebelah gudang tua. Aku mulai gelisah. Di dalam mimpi ku seolah-olah aku sadar penuh atas apa yang aku lihat, bahkan aku tau apa yang akan terjadi di depan mataku.
Aku menangis sebelum kembali melihat adegan itu lagi. Aku sedih, aku takut, aku khawatir, aku troma tapi aku harus terus menjalani mimpiku ini agar dapat segera berakhir.
Aku terisak-isak sebelum mulai melihat adegan itu kembali. Tapi air mataku percuma, aku tetap melihatnya, melihat si mbok yang jatuh ke dalam sumur akibat dorongan seseorang dari belakang.
Tidak hanya itu, setelah aku melihat bayangan si Mbok di dekat sumur, tiba-tiba tubuhku berada di jalanan ... tepat saat aku dan Ayah menabrak seseorang saat pulang dari rumah si Mbok.
Wanita misterius itu menatap mataku tajam, aku berlari berusaha menjauhinya, aku sendiri, tidak ada ayah saat ini, tidak ada kendaraan untuk aku bersembunyi, dan dengan wajah yang penuh darah wanita tersebut terus mengejar ku
Nafasku yang tersengal membuat aku tidak bisa bernafas dengan baik, seperti seseorang yang terkena serangan asma tapi aku terus berlari tanpa henti ... terus berlari tanpa ujung.
Air mataku menetes tak terbendung, rasa takut kini berada di dalam hati dan pikiran ku. Aku pikir, malam ini aku akan mati. Aku berusaha keras untuk terus berlari.
Tiba-tiba wanita itu muncul di hadapan ku secara mengejutkan. Aku berusaha melawannya, aku menarik rambutnya yang panjang lalu wanita itu membuka mulutnya sangat lebar, membuat aku sangat terkejut hingga aku duduk dan terbangun dari mimpiku.
Ini hanya mimpi Sarah, ini hanya mimpi ... pikiranku dan mulutku terus berucap ini adalah mimpi, ini hanya mimpi Sarah, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi.
Peluhku berjatuhan, aku ingin menghapus nya tapi pada saat aku mengangkat tangan kananku, aku melihat segumpal rambut yang sangat panjang ada di tangan ku, dan aku tau pasti itu bukan rambut ku.
Aku kembali terdiam, merenung dan berfikir singkat. "Kalau begitu ini rambut siapa?" Ucapku dengan suara yang pelan. Aku kembali mengingat mimpi yang baru saja aku alami. "Mungkinkah ini rambut wanita misterius tersebut? " tanya ku sambil melemparkan rambut tersebut di lantai kamarku.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘