
Suaranya teriakan yang semula ramai kini sudah lenyap. Dengan cepat, aku bergerak mendekati Mamanya Azura yang sudah terbebas dari iblis tersebut. Aku membacakan ayat pengunci roh padanya agar tidak lagi diisi dengan roh atau pun sukma asing.
Selesai, aku langsung duduk selonjoran sambil menarik dan membuang nafasku perlahan untuk mengaturnya. Iblis itu pintar, aku yakin dia belum binasa dan mungkin saat ini ... astagfirullah hal azim mungkin saat ini dia akan mengincar Feli. Karena diantara Azura dan Feli, hanya Feli yang bebas. Ucapku tanpa suara dan langsung berdiri berniat ke rumah sakit.
Aku keluar dari kamar dengan berlari meniti anak tangga yang cukup panjang. "Sarah, bagaimana?" tanya Komandan Arya dan saat itu semua mata tertuju kepadaku.
"Komandan, Azura dan Mamanya sudah aman. Aku yakin, sebentar lagi Mama Azura akan sadar. Namun Azura masih harus menunggu waktu karena rohnya sudah terperangkap oleh iblis itu."
"Dan sekarang kamu mau kemana, Sarah?"
"Ke rumah sakit Komandan. Aku harus mengunci Feli, itu yang pertama. Kemudian yang kedua, aku harus membawa roh Azura dan Feli pulang. Jika tidak, kita akan kehilangan keduanya."
"Saya akan membantu Sarah, sedangkan kalian mengurus yang di rumah."
"Iya, Mas," sahut Papanya Azura yang lengannya sudah diperban.
*****
"Kita harus cepat, Ndan."
"Baik, saya paham."
Aku sangat cemas karena merasa perjalanan ini sangat lama dan jauh. Jika iblis itu duluan masuk ke jasad Feli, mungkin semuanya akan sangat berat. Makanya aku menjadi sangat gelisah.
"Sabar dan tenang! Kalau kamu seperti itu, bisa-bisa kita tidak akan sampai tepat waktu dan malah celaka."
"Iya." Lalu aku mengunci mulutku rapat-rapat sambil menenangkan tangan dan kakiku yang semula bergetar hebat.
20 menit berlalu, kami sampai di rumah sakit. Tanpa perduli dengan apapun, aku segera berlari menuju ruang perawatan Feli. Di dalam pikiran ku, mungkin saat ini Feli sedang terbang di atas ranjangnya atau sedang duduk jongkok di ujung ruangan sambil melakukan hal-hal yang tidak terduga.
"Hah .... " aku mulai mengeluh saat membayangkannya.
Ruang perawatan Feli tepat di hadapanku, setelah cukup mengatur nafas, aku segera masuk dan saat melihat Feli, aku merasa tenang karena ia tidak sendiri. Ada Rian dan Paman di sana.
"Syukurlaaaah ...." ucapku sambil menahan getaran di bibir bawahku.
"Sarah, apa yang terjadi?"
"Feli harus segera dikunci."
"Sudah ... tenanglah!" ucap Pak Ahmad yang membuat aku merasa lega, tapi tubuhku tiba-tiba lunglai. Rasanya tulang-tulang ku hilang.
"Kita harus cepat! Jika terlambat dia akan tiada," ucapku sambil menatap mata Pak Ahmad yang memiliki ilmu tinggi dan tiba-tiba, ia membacakan ayat untuk penghancur teluh atau guna-guna tepat di telinga kiri ku.
“A’udzu bi kalimatillahit tammaati wa as maaihil husnaa kullaha ‘ammatim min syarris saamati wal haammati wa min syarril ‘ainil laammati wa min syarri haasidi idza hasad.”
"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dan semua nama-nama terbaik-Nya dari kejahatan samah dan hamah, dari kejahatan pandangan mata, dan dari kejahatan penghasut," ucap Paman sambil terus menatap ke arah wajahku yang menurut pandangan matanya, urat-urat di wajahku berwarna biru kehitaman.
Saat ayat untuk menghancurkan teluh, pelet dan santet tersebut dibacakan kepadaku, tiba-tiba aku merasakan hawa panas di dalam perutku hingga ke ujung-ujung syaraf kaki dan tanganku, mulai memanas.
Aku sadar akan apa yang terjadi pada diriku, aku bisa merasakannya dan seolah aku bisa melihat tubuhku dari arah depan. Seperti seseorang yang baru saja meneguk racun serangga, seluruh kaki dan tangan, leher, serta perutku menegang. Telapak tanganku membuka lebar, kakiku menarik ke bawah dan leherku terangkat hingga ubun-ubun kepalaku saja yang menyentuh lantai.
"Eeeeegggggh .... " Terdengar suara erangan dari mulutku dan aku sangat sadar dengan apa yang aku dengar.
Paman terus membacakan surat-surat pendek dan saat itu Rian mendekatiku tanpa menyentuh. "Sarah, istighfar kamu!" ucap Rian dengan suaranya yang bergetar. Saat itu, aku bisa mendengar semuanya dengan jelas, hanya pandangan ku saja yang gelap.
Tiba-tiba saat paman membacakan surat An-Nas, aku terbayang pada sesuatu yang pernah terjadi di dalam rumah angker tersebut dan aku yakin semua itu adalah penyebab dari apa yang menimpaku saat ini.
Flashback
Siapa makhluk ini? aku yakin dia bukan Mira. Kenapa dia begitu sangat ingin melihat aku menyerah dengan apa yang aku jalani. Tania, aku harus bagaimana? tanyaku di dalam hati karena hanya nama itu yang aku ingat dan aku kenali.
"Lariiiiiiii! Pergilah ...! Bawa ketakutan mu! Ha ha ha ha ha ha ha ha ha."
"Tidaaaaakkkk .... " ucapku mencoba menantang iblis tersebut, tapi tiba-tiba dia menghilang.
Sementara dari atas kepalaku, aku merasa ada sesuatu yang berjatuhan dan mengenai rambutku. Rasanya licin, berlendir dan cukup berat. Binatang itu bergerak ke arah dahi kemudian turun melewati kedua mataku dan sepertinya ia akan masuk ke dalam mulutku yang masih mengangga (tidak bisa ditutup) sesaat setelah berteriak.
Back
Ternyata makhluk itu benar-benar masuk ke dalam mulutku saat itu. Tidak, aku tidak boleh kalah dari nya. Aku ini manusia, makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan mereka hanya iblis yang bertujuan untuk menyesatkan. Ya Allah ... aku mohon ... kembalikan kekuatan ku, kembalikan semangat ku, kembalikan kesadaran ku. Aku mohon, ucap ku di dalam hati.
Aku dapat melihat tubuhku mulai melemah dan dari sudut kedua mataku menetes air yang bening. Saat itu aku terbayang Ibu dan Tania. Seakan hatiku terus memanggil keduanya, tapi aku belum ingin bergabung bersama mereka. Dan kali ini aku menang, aku mampu meredam godaan iblis yang ingin manfaatkan tubuhku untuk berbuat curang.
"Istigfar!"
"Astagfirulloh hal azim .... " ucap ku dengan tubuh yang gemetaran dan menyandar di tembok.
"Istigfar!" ucapn Pak Ahnad sekali lagi sambil menarik air hidungnya.
"Astagfirulloh hal azim .... " ucapku sambil menangis terisak.
"Istigfar!" ucapnya lagi dengan bibir yang bergetar dan mata yang basah.
"Astagfirulloh hal azim .... "
"Astagfirullah hal azim ... Astagfirulloh hal azim ... Astagfirulloh hal azim," ucap Pak Ahmad menutup kalimat istighfar (memohon ampun kepada Allah) dari mulutku sembari menghapus air matanya dan ternyata saat itu Komandan juga melihat apa yang telah terjadi padaku.
"Sarah, ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhmu. Kamu harus mampu mengeluarkannya. Tapi ini tidak semudah itu, saya yakin iblis itu sudah lama di muka bumi ini. Makanya ia memiliki pengalaman dalam bertarung. Jika kamu tidak kuat tadi, sya tidak tau apa yang terjadi."
"Apa yang harus aku lakukan, Pak?" bertanya dengan suara yang lemah. "Aku tau ... makhluk itu masih bersemayam di dalam tubuhku."
"Kamu benar, Sarah. Jalan satu-satunya, kamu harus berikhtiar sekali lagi. Kamu harus mengalahkan makhluk itu sampai terbakar musnah dan kamu yakin apa yang ada di dalam tubuhmu juga ikut terbakar bersama tuannya."
"Tapi aku ingin menyelamatkan Feli."
"Kita juga akan memikirkan itu."
"Sarah ... maaf kan saya ya, Nak," ucap Komandan sambil duduk di sisiku dan memegang kepalaku seperti biasanya. "Maafkan saya," ucapnya sekali lagi sambil meneteskan air mata.
"Sudahlah, Ndan ... semua sudah terjadi. Aku ikhlas," sahut ku sambil melihat matanya dengan tatapan yang teduh.
"Kita semua akan membantu, Sarah. Saya akan menghubungi para santri saya di pesantren untuk mendampingi langkah Sarah dengan ayat-ayat suci Al-Quran. Dan untuk Feli, harus ada seseorang yang bisa mencari dimana roh nya dan membawa pulang. Tapi itu juga tidak mudah karena syaratnya sangat membingungkan bagi kita."
"Maksud, Bapak?"
"Harus seseorang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengannya, agar tau kemana harus melangkah. Hal ini bertujuan agar roh yang menjemput juga tidak kesasar dan malah ikut terjebak."
"Kali begitu, aku siap Paman. Apapun resikonya."
"Tapi ...."
"Apa?" sahut ku, Rian dan Komandan secara bersamaan.
"Harus muhrim," ucap Paman sambil membuang nafasnya dalam-dalam.
"Astagfirullah hal azim .... " ucapku semakin terduduk lemah dan merasa bahwa hanya aku satu-satunya yang memenuhi syarat tersebut.
Untuk beberapa menit kami hanya terdiam dan terpaku sambil memandang satu dengan yang lainnya. Rasanya otakku sangat kental dan tidak dapat mengeluarkan ide cemerlang ataupun pikiran yang normal, sehingga aku terus menyandar di tembok dengan hati yang penuh dengan perasaan takut akan kehilangan.
"Kalau begitu, aku akan menikahi Feli. InsyaAllah aku mampu untuk menafkahi nya lahir dan batin," ucap Rian dengan suaranya yang sangat tenang dan tatapan yang tampak yakin.
"Rian."
"Bantu aku, Paman. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku memang sangat mencintai dan mengasihi Feli, hanya saja aku belum bekerja. Tapi aku janji akan mencari dan memberikannya nafkah yang halal bagi istriku."
"Paman mengerti, kalau gitu kita persiapkan segalanya dalam waktu cepat dan Paman yang akan menjadi wali kamu."
"Dan saya yang akan menjadi Wali Feli."
"Iya, Komandan."
"Dan untuk urusan penghulu, saksi dan sebagainya, biar saya yang mengatur. Saya akan menyiapkannya dalam waktu 30 menit. Maaf, hanya ini yang bisa saya lakukan," ujar Komandan masih dengan wajah penuh sesal.
"Baik. Setalah itu, kita akan ke pesantren. Kamu siap, Sarah?"
"Iya, Paman."
Bersambung ....
Jangan lupa bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Semangat membaca 😘😘