
1 minggu kemudian.
Setelah jam istirahat, aku mendapatkan chat dari Bu Marisa. Ia meminta kami untuk ke rumahnya malam ini. Entah apa yang ingin beliau katakan, tapi sepertinya ia juga ingin tau tentang Kanaya.
Aku membalas chat beliau dan mengatakan lebih baik jangan terlalu malam dan kami akan kesana selesai shalat magrib. Siap membalas chat dari Bu Marisa, aku langsung menghubungi Feli dan Rian. Saat itu juga mereka mengatakan kesiapannya untuk membantu Bu Marisa.
"Sarah, dimana?"
"Lagi sama Kak Rio, makan siomay. Kalau mau kesini aja! Di bawah pohon beringin tak berpenghuni."
"Ok, aku ke sana ya sekarang. Boleh ajak Rian?"
"Boleh dong, asal jangan ajak readers aja! ntar uangnya ngak cukup. Mereka lumayan rame kan?"
"Iya iya ... ntar kita kesananya sembunyi- sembunyi. Soalnya mereka ada dimana-mana."
"Good."
"Sayang, sibuk banget?"
"Lagi chat Feli. Dia dan Rian mau kesini, Kak."
"O gitu, kirain chatan sama cowok lain."
"Ngaklah ... sembarangan aja," ucap ku sembari memukul tangan Kak Rio dengan sayang. "Oh iya Kak, nanti malam habis magrib, kita mau ke rumahnya Bu Marisa. Kakak mau ikut?"
"Mau banget kalau diajak. Masalahnya selama ini kan ngak pernah diajak."
"Bukan gitu Kak, kita cuma ngak mau ganggu waktu Kakak. Bukannya lagi sibuk buat skripsi ya?"
"Sibuk sih ... tapi kalau buat kamu apa sih yang nggak."
"Gombel mulu ah."
Tak lama Feli dan Rian pun datang. Mereka langsung memesan siomay dan batagor ekstra pedas plus jus jeruk. Aku dan Kak Rio pun tak mau ketinggalan, jadi kami juga memesan segelas jus mangga. Kali ini hanya satu saja, karena kami lagi ingin segelas berdua.
"Duh yang roman .... " hidayah Feli.
"Jangan gitu Feli! Ntar ada yang ngak jadi minum tuh."
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha .... " Kami pun menghabiskan waktu bersama. Mungkin memang hanya seperti inilah cara kami berkumpul bersama dan menikmati waktu.
Mungkin sebagian besar bagi orang lain, hal seperti ini tidak terlalu penting dan berkesan. Tapi menurutku aku, ini semua lebih dari cukup. Di mana aku bisa berkumpul dengan orang yang aku cintai dan orang-orang yang aku sayangi, walau dalam keadaan yang sederhana.
Sambil menikmati jus mangga bersama Kak Rio, aku terus menatap teman-teman ku. Tidak ku sangka, akhirnya aku dan Feli mendapatkan cinta dari seseorang yang bisa dengan ikhlas menerima kekurangan dan kelebihan kami, bahkan mereka bersedia untuk membantu kami walaupun terkadang kehadiran mereka malah menjadi bumerang bagi kami.
Siap dengan makan kecil, kami pun kembali ke dalam kelas. Sedangkan Kak Rio, dia langsung menemui dosen pembimbing untuk berkonsultasi mengenai skripsinya. Jika dia selesai lebih dulu, maka dia akan menunggu kami begitu juga sebaliknya.
Pukul 16.00 WIB, kami berkumpul di taman depan kampus. Dari sini kami berpikir untuk pulang dan membersihkan diri, kemudian kembali berkumpul di rumahku pukul 17.30 WIB. Tapi Kak Rio mengatakan bahwa dia ingin ikut ke rumah Rian saja dan membersihkan diri di sana karena di dalam tas, dia sudah membawa pakaian salinan.
Pukul 17.45 WIB. Setelah semuanya berkumpul, kami langsung menuju ke rumah Bu Marisa. Seperti biasanya, setibanya disana kami langsung disambut dengan tatapan dingin ala Bu Marisa.
"Jujur, saya sudah siap tapi belum iklas," ucapnya sambil menatapku, sepertinya aku baru saja mencuri berlian dari dalam rumahnya.
"Bagaimana ya?" tanya Feli. "Soalnya ini pasti tidak mudah Bu, walaupun saya juga belum tau apa perkaranya."
"Beberapa malam ini saya bermimpi buruk dan saat saya bangun, saya melihat tetesan darah keluar dari hidung saya. Selama ini, saya tidak pernah seperti itu."
"Berarti audah waktunya," ucapku dengan suara yang lirih.
"Maksud kamu apa, Sarah?" tanya Feli mulai tegang.
"Iklas tidak iklas, sepertinya kita harus melangkah malam ini juga. Tidak bisa ditunda-tunda lagi. Saya mau minta tolong sebelumnya Bu,"
"Apa?"
"Tolong bersihkan wajah ibu dan ikat rambut ibu ke atas dengan rapi!"
"Baiklah .... "
Aku menelan liurku dengan sangat berat. Kenapa ya kasus yang ada di hadapanku selalu saja bersinggungan dengan anak kecil seperti Tania? dia (Kanaya begitu kuat, sama seperti Tania). Ucapku di dalam hati sambil terus memandangi gadis kecil yang menggantung pada tubuh Bu Marisa.
"Apa?" tanya Bu Marisa dengan suara yang dingin saat menatapku yang tidak henti-hentinya menatap ke arah dirinya.
"Kalau aku tidak salah, Kanaya berada disini, selalu bersama Ibu."
"Apa maksud kamu? jangan membuat saya bingung dan hilang akal!"
Aku menangis saat mendengar ucapan Bu Marisa barusan. Sebenarnya bukan kata-kata Bu Marisa yang membuat aku bereaksi seperti ini, tapi kondisi Kanaya yang membuat aku sangat tidak tega.
"Kanaya sudah tiada, Bu," ucapku bersama air mata yang menetes.
"Jangan main-main dengan ucapan kamu itu! Baru kemarin saya bermain dengannya di halaman rumah," ujar Bu Marisa sambil berdiri dan menunjuk ke arah halaman rumahnya yang besar. "Baru kemarin saya tidur dengan Kanaya sambil menggenggam tangannya. Lalu bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan bahwa Kanaya sudah tiada? gila kamu," ucapnya dengan bibir yang bergetar hebat.
Aku tau, belian tidak bermaksud kasar padaku. Bu Marisa hanya terkejut saat mendengarkan ucapanku, seolah-olah aku membunuh harapannya untuk dapat bertemu dengan Kanaya dan kembali bersamanya.
"Maaf Bu, tapi asal Ibu tahu, walaupun Kanaya sudah tiada, ia selalu bersama Ibu dan melindungi Ibu."
"Melindungi dari apa?"
Aku terdiam saat Bu Marisa mengajukan pertanyaan itu karena aku sangat bingung untuk menjelaskannya. Di satu sisi aku tidak ingin Bu Marisa semakin menderita, tapi di sisi lain, jika aku tidak mengatakannya maka maksud dan tujuan Kanaya tidak akan tercapai dan pengorbanannya akan sia-sia.
"Jika Ibu ingin tahu, maka sebaiknya Ibu melepaskan kalung yang Ibu gunakan saat ini," ucapku lirih.
"Tidak, tidak mungkin saya melepaskan kalung ini. Kalung ini adalah satu-satunya peninggalan suami saya yang paling berharga, jadi sampai mati pun saya tidak akan pernah melepaskannya," ucap Bu Marisa yang tampak sangat emosional.
Aku benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan kondisi yang sebenarnya. oleh karena itu aku meminta kepada Feli untuk menggambar diri Bu Marisa saat ini dan Feli melakukannya dengan cepat. Feli memang selalu bisa diandalkan dalam kondisi genting.
Lima menit berlalu, Feli sudah mencapai titik akhir dalam torehan pensilnya kali ini. Karya yang luar biasa, begitu tampak hidup dan jelas terlihat tentang apa yang terjadi. Feli, kamu di buang untuk ini, bodoh sekali mereka. Ucapku di dalam hati karena rasanya ingin mengutuk mereka semua.
"Siap!" ucap Feli yang kemudian langsung terdiam saat melihat gambar yang ia lukis. "I-ini .... "
Aku mengambil gambar tersebut dan memperlihatkannya kepada Bu Marisa. Dengan sigap, beliau langsung fokus menatap gambaran kebenaran tentang dirinya dan Kanaya.
"Apa ini?" bertanya karena bingung, bukan karena tidak mengetahui tentang apa yang ia lihat.
"Selama ini tubuh Ibu membungkuk dan terasa berat karena sedang dan selalu menggendong Kanaya dari belakang," ucapku tegas dan Bu Marisa serta Mbok Yani langsung menatapku. Sementara Feli terdiam, sepertinya dia mulai tertekan.
"Berarti Kanaya .... " ucapnya yang tampak hampir menangis.
"Iya Bu, Kanaya sudah tiada. Tapi dia tetap ingin Ibu hidup dan bahagia," ucapku berusaha menyampaikan maksud hati Kanaya.
"Saya tidak mengerti," ucapnya lirih.
"Silahkan Ibu lihat lagi gambarnya dengan lebih teliti!" Kali ini Bu Marisa tidak ingin lagi menyangkal tentang semua yang terjadi, walaupun mungkin beliau masih kurang percaya dengan apa yang beliau lihat. Tapi aku yakin sekali, jauh di dalam hatinya, Bu Marisa tau bahwa kami tidak berbohong.
"Awal aku bertemu dengan Ibu di kelas saat itu, aku melihat sepasang mata di balik rambut Ibu. Tapi aku tidak bisa mengatakan apa pun dan tidak bisa melakukan apa-apa," ucapku dan Bu Marisa menatapku seolah ia mengingat kejadian pertama kali kami bertemu. Saat itu, Bu Marisa menegur ku cukup keras.
"Kemudian pertemuan yang kedua, inilah yang membuat aku yakin akan penglihatan dan hatiku. Saat Ibu menulis di papa whiteboard, aku melihat kepala gadis kecil tergantung di tubuh Ibu dengan kakinya yang melingkari leher Ibu." Semua terdiam saat aku menceritakan apa yang aku lihat.
"Namun ada satu hal yang menarik perhatian ku, saat itu aku melihat tetesan darah dari tubuhnya. Aku merasa ada sesuatu yang biasa tahan sekuat tenaga demi melindungi Ibu, itu makanya aku berjalan mendekati Ibu saat Ibu pingsan. Iya ... aku melakukannya hanya untuk memastikan insting ku," jelas ku.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bu Marisa dengan bibir yang bergetar.
"Jika Ibu mau tau tentang apa yang terjadi, seharusnya Ibu mengikuti apa yang Sarah katakan!" ucap Feli dengan nada yang keras. Kelihatannya Feli sudah mulai merasakan penderitaan yang sama denganku.
"Ba-baiklah," ucap Bu Marisa terbata-bata karena Feli berbicara jauh lebih keras dari pada dirinya.
Bersambung ....
Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.
"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘