ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PENYELESAIAN


Ayah datang setelah mengetahui tentang kondisi ku selamat beberpa jam terakhir. Aku sama sekali tidak bisa tenang. Aku terus menangis ketakutan. "Apa yang bisa Ayah lakukan untuk membuat kamu tenang Sarah?" tanya ayah tampak sungguh-sungguh.


"Aku butuh polisi Ayah .... "


"Untuk apa Sarah? Jangan membuat Ayah bingung.! "


"Aku butuh polisi Ayah ... aku butuh polisi Ayah ... aku butuh polisi Ayah .... " ucapku tanpa henti dengan tubuh yang gemetaran hingga mengguncang ranjang rumah sakit.


"Baiklah Sarah ... tenangkan dirimu! "


"Ayah ... aku butuh polisi Ayah .... "


"Iya Sarah, iya nak .... "


"Aku butuh polisi Ayah .... " ucapku terus berulang-ulang seakan aku tidak mampu menghentikan suara dari dalam mulutku. Ayah sangat panik dan langsung memeluk tubuhku dengan erat. Air mata Ayah yang menetes di wajahku, menghentikan suaraku.


Sekitar 30 menit, beberapa orang polisi datang ke kamarku dan menanyakan keperluan kami. Aku menceritakan semua yang aku lihat dan aku ketahui disaksikan oleh beberapa perawat yang menenangkan aku malam ini dan juga Ayah serta Pak Antok.


"Ini sulit. Tidak ada bukti. Jika ini salah maka kita akan dapat masalah besar. " ujar salah satu polisi sepertinya menolak dan tidak percaya pada ucapanku.


"Tapi kasus ini memang pernah ada dan jika Sarah benar maka kita akan mendapatkan pelakunya serta memecahkan kasusnya. " ucap salah seorang polisi lainnya.


"Bagaimana Ndan? "


"Sarah, bagaimana kamu bisa mengetahui tentang dimana jasad Ibu mu kemarin? " ucap komandan yang kemarin memapah tubuhku saat mengangkat tulang belulang Ibu.


"Aku tau dari Ibu .... " ucapku dengan bibir yang bergetar.


"Apa Sarah ini seorang indigo Pak? " tanya komandan tersebut kepada Ayah ku.


"Setau saya tidak pak. Tapi Sarah memang sering bermimpi aneh dan bersinggungan dengan makhluk astral. "


"Amar, kamu silahkan kembali ke markas dan membuat laporan tertulis! Kemudian langsung ke sini membawa peralatan dan pasukan! "


"Siap Ndan. "


"Sabar ya Sarah ... tenangkan dirimu. Ayah tidak ingin kamu sakit! " ujar Ayah dan aku menganggukkan kepalaku.


"Kami akan membantu. Tenanglah .... " ucap Sang komandan sambil menepuk-nepuk pundakku yang basah karena keringat.


Berselang 40 menit. Beberapa pria bertubuh besar berseragam dan beberapa diantaranya lagi hanya memakai baju hitam celana pendek masuk ke dalam ruangan ku.


Aku sangat terkejut melihat mereka semua. Ada rasa takut akan masalah yang bisa saja aku timbulkan jika ternyata petunjuk dari mimpiku hanyalah hasil halusinasi tapi aku tidak akan pernah tau dan tenang bila tidak maju mengikuti alur mimpiku.


"Sudah siap? " ucap Komandan yang sejak tadi berdiri di sampingku. Dengan anggukan pasti aku melepaskan pelukan dari Ayah ku.


"Sarah .... " ujar Ayah dengan wajah yang tampak pucat. Aku tau kekhawatiran Ayah tapi aku harus menyelesaikan ini Ayah. Ucapku di dalam hati.


"Terima kasih Ayah. "


Kami tiba di lorong yang mulai berantakan. Kali ini aku tidak takut karena aku tidak sendiri. Ditemani pihak rumah sakit yang berwenang, kami terus menyusuri jalan dimana aku melihat Isabella dan penjaga rumah sakit disembunyikan.


Aku menarik nafas panjang di setiap langkahku. Di dalam hati aku berkata, Kenapa hal seperti ini bisa terjadi padaku? Dulu aku hidup dengan tenang dan damai bersama paman dan bibik tapi sekarang ... jangankan untuk hidup dengan tenang, tidur pun aku tidak tenang.


Aku sudah berada tepat ditengah-tengah ruangan dan di sudut sana ada kamar yang berpintu kayu. Aku menatap ruangan itu tanpa kata tapi komandan yang sejak tadi berada di samping ku tampaknya mengerti arti tatapanku itu.


"Disana? " tanya Sang Komandan sembari menatapku untuk mendapatkan jawabnya dan menunjuk ke arah ruangan tersebut. Aku kembali membalas tatapan tersebut sambil menganggukkan kepalaku.


"Ayo ...! ucap Komandan memberikan komando.


"Tunggu ...! Biar aku yang duluan. Aku tidak ingin ada kesalahan. " ujarku sembari melangkah dibantu Ayah.


Aku bergerak terlebih dahulu, disusul komandan, pihak rumah sakit dan tim lainnya. Aku melepaskan tangan Ayah dari lenganku. Dengan posisi berdiri tegak, aku membayangkan kejadian malam itu dan memperagakannya.


Seperti terbimbing. Tubuhku bergerak berdasarkan kenagan yang aku dapatkan dari mimpi ku semalam. Air mataku semakin deras menetes saat aku memperlihatkan bagaimana tragedi itu terjadi. Bukan hanya aku yang menangis, tapi Ayah dan beberapa orang lainnya juga ikut menangis.


Ini sangat menyakitkan. Bagaimana rasa cinta dapat menyakiti bahkan sampai menghilangkan nyawa orang yang dicintainya. Aku tidak pernah mencintai seseorang jadi aku sama sekali tidak mengerti dengan semua ini. Aku juga terbayang tante Rima dan semua perlakuannya pada keluargaku.


Hingga diujung peragaanku, aku menyentuh dinding dimana kedua mayat itu disimpan. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan tarikan air hidung yang semakin cepat. Aku mengatakan, " Disini tempatnya. " ujarku dengan penuh keyakinan.


Aku kembali ke samping Ayah dan menyandarkan kepalaku di dada Ayah. Saat evakuasi berlangsung dan mereka menemukan fakta yang sebenarnya, semua orang mengeluarkan air matanya yang tumpah tanpa perintah.


Aku melihat Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis, mungkin Ayah teringat Ibu. Ayah memegang kepalaku dan pak Antok memegang tanganku. "Sabar ya Non Sarah .... " ujar pak Antok sambil menyeka air matanya.


"Ditemukan-ditemukan. Langsung meluncur ke TKP!! "


Ditengah hiruk pikuk yang terjadi, aku melihat sosok perawat Isabela dan Mang Jain tersenyum kepadaku. Kali ini perawat Isabella menunjukkan wajahnya yang benar cantik dan sempurna, tidak seperti biasanya. Iya menganggukkan kepalanya padaku begitu juga denganku. Kami bersapa'an tanpa bicara.


"Maaf Pak. Bagaimana dengan pelakunya? "


"Tenang saja Sarah. Dia sudah diurus oleh tim lainnya.


"Terimakasih pak. "


"Tidak tidak. Terimakasih Sarah ...."


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘