ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
PEMBUNUHAN


5 menit berlalu, Isabel semakin tidak bisa bertahan, aku berdiri dan berusaha menyelamatkan Isabel tapi aku tidak bisa, aku hanya bisa menjadi saksi kegilaan Dani dan berteriak tanpa ada yang mendengarkan aku.


Aku melihat kedua kaki Isabela mulai menggelepar-gelepar, matanya melotot, dan dari mulutnya keluar darah segar yang bermuncratan. Tidak lama, gerakan kaki Isabela terhenti.


Melihat Isabel tidak lagi bergerak, Dani berhenti mencekik dan melepaskan tangannya dari leher Isabela.


Sadar dengan perbuatannya, Dani menangis dan memeluk Isabela sambil mengatakan bahwa dia sangat mencintai Isabela dan hanya ingin hidup bersamanya, tapi mengapa Isabela tidak mau menerimanya.


Tapi kali ini Isabel tidak lagi bisa menjawab pertanyaan dari mulut Dani seperti biasanya. Untuk beberapa saat Dani tampak terdiam dan menyesali perbuatannya.


Takut aksinya ketahuan dan tidak ingin bertanggung jawab, Dani menjatuhkan tubuh Isabel ke lantai hingga dari kepalanya mengeluarkan darah. Kemudian Dani menarik kedua kaki Isabel ke ruangan dimana aku melihat makhluk misterius yang mengerikan waktu itu.


Darah berserakan dimana-mana, aku berdiri terus memandangi Isabel yang sudah tidak bernyawa. Seperti kehilangan kekuatanku, aku berdiri tanpa energi. "Ya Tuhan ...." ucapku lirih.


Aku menguatkan diriku dan masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku berdiri di sudut pintu melihat aksi Dani menjebol tembok di sudut ruangan. Entah apalagi yang ingin Dia lakukan? Tapi ini tampak tidak baik.


Dani bekerja dengan sangat cepat. Tiba-tiba dari arah pintu, masuk seorang petugas penjaga kamar mayat yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang Iya saksikan.


"Kamu, apa yang sudah kamu lakukan?" ucap lelaki paruh baya tersebut. Aku menatap kearah sumber suara dan aku sangat terkejut saat melihat sosoknya. Iya adalah lelaki yang sudah menyelamatkan aku waktu itu, aku sangat mengenali wajahnya walau tampak jauh lebih muda saat ini.


Dani berdiri sambil memegang batu di tangan kanannya. Ini bukan urusan anda mang Jain, sebaiknya Anda pergi dari sini dan menutup rapat-rapat mulut anda, itupun kalau dan mau selamat. Ingat anak dan istri di rumah ...! Dani mulai mengancam.


Tidak terima dengan perbuatan keji Dani, Mang Jain mendorongnya dan mengatakan akan melaporkan semuanya ke pihak yang berwajib.


Takut dengan ancaman Mang Jain, Dani langsung menghujaninya dengan pukulan di kepala. Berkali-kali Dani memukul kepala Mang Jain dengan batu bata yang Iya pegang.


Tak butuh waktu yang lama, Mang Jain pun menghembuskan nafas terakhirnya dan terjatuh di depan pintu ruangan tersebut.


Merasa cukup, Dani memasukkan Isabela dan Mang Kain ke dalam tembok yang telah iya bongkar. Dengan posisi berdiri, iya menyusun kedua mayat tersebut dengan rapi.


Dani menutup kembali tembok tersebut dengan rapi dan menempelkan beberapa kotoran kertas yang sudah usang serta debu di dinding tersebut.


Aku yang melihat semua kejadian tersebut hanya bisa menangis dan berdiri terdiam di sudut pintu ruangan dimana Isabel dan Mang Jain di habisi.


Aku melihat Dani keluar dari ruangan tersebut. Banyak bercak darah di bajunya, agar bisa keluar dengan aman, Dani membuka lajunya dan keluar dari rumah sakit melewati pintu belakang persis di sebelah kamar mayat.


Rasanya aku mengikuti langkah Dani sembari menangis dengan sangat kencang. Tapi tiba-tiba aku mendengar suara yang memanggil namaku


"Non, non Sarah ... non Sarah, non .... "


Suara pak Antok memanggil-manggil namaku sambil menggoyangkan tubuhku yang kejang di atas ranjang.


"Hah hah hah hah hah .... " Dengan nafas yang tersengal-sengal aku bangun dari tidurku dan aku merasakan seluruh tubuhku basah dengan keringat.


Aku melihat sekeliling ku, ini kamar perawatan ku. Ucapku di dalam hati. Sementara disini sudah berkumpul beberapa orang perawat yang memberikan pertolongan padaku, menurut mereka aku mengalami kejang yang luar biasa hebat.


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘😘