ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
Fellia Zahrini


Semakin lama, tubuh Kak Linda semakin menjauhi Feli. Aku sama sekali tak tahu apa yang ia lakukan terhadap Kak Linda sehingga mengakibatkan pendarahan seperti mimisan dan tampaknya Kak Linda sangat kesakitan dan pusing.


Selain itu, aku juga melihat Kak Linda sangat menderita, hal ini terlihat dari ekspresi wajahnya. Wajah Kak Linda yang tadinya merah merona menjadi pucat pasi, bibir Kak Linda yang tadinya merah mudah menjadi membiru, bahkan matanya menghadap ke atas sehingga bagian hitam pada biji matanya tidak terlihat lagi dan ini berlangsung sekitar 10 menit, sementara aku masih tidak dapat menggerakkan tubuhku.


Anggota kelompok Kak Linda memegang tubuh Kak Linda dan menggoyang-goyangkan nya, seakan ingin mengembalikan kesadaran Kak Linda tapi sayang hal ini sulit dicapai. Seolah-olah jiwa Kak Linda terbang entah kemana, sementara tubuhnya yang kosong berada bersama kami.


"Sudah, cukup ...! Jangan sakiti Linda.


"Sampun ngengken [NDHAWUH] kula lare alit. Sampeyan-sampeyan [PANJENENGAN] estu kedah dipunsukani [DIPUNPARINGI] wucalan supados saged ngaosi tiyang sanes. " ucap Feli dengan bahasa dan logat beserta suara yang sangat halus yang tidak aku mengerti. Aku merasa, ia bukan Feli dan aku terus menatapnya dengan tubuhku yang terkurung kaku.


"(Jangan memerintah ku anak kecil! Kalian memang harus diberi pelajaran supaya bisa menghargai orang lain). "


Tiba-tiba salah satu dari anggota kelompok Kak Linda menerjemahkan bahasa dari mulut Feli yang sangat terdengar aneh di telingaku dan aku dapat mendengarkan ucapan mereka walau agak berbisik-bisik. Jadi itu arti dari kalimat aneh Feli. Itu adalah bahasa Jawa yang halus, wajar saja aku tidak dapat menerka-nerka artinya, ucapku di dalam hati.


"Ayo kita pergi dari sini dan sebaiknya kita harus menjauhi kedua anak iblis ini ...!" ucap salah satu anggota kelompok Kak Linda sambil terus berjalan dan memapah tubuh Kak Linda menjauh dari kami.


"Kalianlah kang iblis. Fisik wae kang ayu nanging atine bosok. Karepe milara nanging ora gelem dipilara. Donya dudu mung duwene kowe kabeh, nanging uga duwene kita. Menawa ora pengin dipilara mula aja milara, menawa ora pengin diganggu mula aja ngganggu!!" ucap Feli sekali lagi sembari mengepal kedua tangannya sangat keras hingga gemetaran, sepertinya Feli sedang menahan sesuatu.


"Kalianlah yang iblis. fisik saja yang cantik tapi hatinya busuk. Maunya menyakiti tapi tidak mau disakiti. Dunia bukan hanya milik kalian, tapi juga milik kami. Jika tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti, jika tidak ingin diganggu maka jangan mengganggu!!"


"Cukup!!! " ucap Feli yang semakin gemetaran dan wajahnya tampak basah dengan keringat. Sekitar 10 menit berlalu dan tubuh Feli sudah tidak lagi gemetaran. Kemudian disaat itu juga aku dapat menguasai diriku dan menggerakkan tubuhku dengan leluasa.


"Fel, kamu ngak papa?" tanyaku sambil memegang bahu kirinya karena melihat Feli sangat tersiksa bahkan lebih sakit daripada kak Linda.


"Diam! " ucap Feli tampak masih kesal dan marah tapi aku tau itu semua bukan karena diriku.


"Siapa kamu? Aku tau kamu bukan Feli! " ucapku dengan mata yang bingung.


"Aku kuwi wong sing digawe saka lara ati lan janji sing dilalekna (Aku adalah sosok yang terbuat dari sakit hati dan janji yang teringkari). "


"Siapa yang berjanji dan siapa yang mengingkari? Aku tidak pernah berjanji dan mengingkari apapun terhadap kamu. " ucapku lebih berani karena ingin membantu Feli.


"Manusia .... " sahutnya dengan suara yang serak dan basah, hal itu membuatku terdiam. "Bawa aku ke air Sarah ...! " ujar Feli dengan bahasa dan suaranya yang normal. "Ojo ...! " sahut Feli dengan suara lain yang serak dan berat. Saat itu aku tau harus berbuat apa dan aku memaksa tubuh Feli ke kamar mandi.


Setibanya di kamar mandi yang aku yakini adalah kamar mandi yang benar, aku segera mendekatkan tubuh Feli dengan baik air dan sebenarnya aku tidak tau harus apa. "Maaf, ini hanya air ... bukan api. " ujar Feli yang aku kenali. "Ojo ... ojo ... ojo.... (jangan ... jangan ... jangan ....). Lalu Feli mengucapkan sesuatu dengan suara berbisik-bisik tapi aku tau bahwa itu adalah mantra." Guyur kepalaku dengan air yang banyak Sarah!! " Perintah Feli.


"I-iya Feli ... iya .... " ucap ku terbata-bata.


*****


Melihat kondisi Feli yang sudah basah kuyup, aku berinisiatif untuk meminta izin kepada dosen untuk membawa Feli pulang dan beliaupun memahami serta menyetujuinya. Selain itu, aku juga meminta izin kepada Kak Rio untuk pulang lebih dulu tapi Kak Rio mengatakan bahwa dia akan mengantarkan aku dan Feli.


Kak Rio membantuku membawa Feli ke mobilnya dan saat merasa sudah siap, kami pun segera membawa Feli pulang. "Dimana alamatnya? " tanya Kak Rio dan aku tidak mampu menjawabnya karena aku memang tidak tahu di mana rumah Feli.


"Jalan Adipura, nomor 15." sahut Feli singkat.


"Baik." ucap Kak Rio dan kami langsung menuju ke alamat yang sudah Feli berikan.


Setibanya di rumah Feli, aku dan Kak Rio langsung membawa dan membaringkan Feli di dalam kamarnya. Tapi Kak Rio tampak tidak nyaman dengan rumah Feli. Wajar saja, ini seperti rumah kuno yang terbuat dari kayu bertiang banyak serta jendela yang usang.


"Sarah, kamu langsung pulangkan? "


"Nggak Kak, aku disini dulu. "


"Kamu yakin? " ucap Kak Rio khawatir dan aku menganggukan kepalaku dengan sangat yakin. "Ya sudah, kalau gitu nanti aku jemput ya? "


"Ngak usah Kak, nanti aku minta tolong Ayah saja untuk menjemput. Lagian aku ingin memperkenalkan Feli kepada Ayah.


"Baiklah ... hati-hati ya. " ucap Kak Rio sembari memegang kepalaku.


Aku mengantarkan Kak Rio hingga ke depan pintu, setelah Kak Rio benar-benar pergi, aku kembali masuk ke dalam kamar Feli. Aku berusaha duduk dengan tenang walaupun sebenarnya perasaanku sangat berkecambuk karena apa yang aku lihat, sama dengan penglihatan Kak Rio. Rumah ini terkesan angker dan sangat tua sehingga sangat menyeramkan.


"Kamu mau aku buatkan teh hangat Fel? "


"Tidak usah Sarah ... aku hanya butuh memejamkan kedua mataku sebentar saja. "


"Baiklah kalau begitu. " ucapku sambil duduk di kursi dekat ranjang Feli.


Sekitar 30 menit berlaku, aku merasakan angin sepoi-sepoi dari banyak jendela kamar Feli yang terbuka dan itu membuatku mengantuk. Aku menguap beberapa kali sambil terus menatap Feli yang tampak tenang dan tertidur pulas.


"Dalam hidup, ada kalanya kita merasakan kecewa terhadap sesuatu. Kekecewaan muncul dari ketidaksesuaian antara harapan atau keinginan dengan kenyataan. Rasa kecewa bisa disebabkan berbagai hal, bisa jadi karena kegagalan yang kita rasakan, dikhianati orang lain, atau bisa juga muncul karena ketidakpuasan kita terhadap diri sendiri." ucap nenek tersebut dengan bahasa Indonesia yang pelan, lembut, sehingga sangat bisa aku dengarkan dan aku mengerti.


"Apa? " sahut ku dengan suara samar-samar antara sadar dan tidak, tapi aku yakin jika saat ini aku tidak sedang berhalusinasi atau menghayal.


"Ketika kita merasa kecewa dan marah, tidak jarang muncul keinginan untuk mengekspresikan perasaan itu. Hal ini tidak salah Ndok ... karena mengungkapkan rasa kecewa dan marah bisa membantu untuk menyalurkan perasaan sehingga perlahan-lahan akan timbul kelegaan bagi diri sendiri. Tapi jangan sampai kamu dikuasai sisi jahat di dalam dirimu...! " ujarnya memberikan nasihat.


Tiba-tiba sesaat setelah ucapan Nenek tersebut, Feli meneteskan air mata dari ujung sudut matanya dan aku dapat melihat hal itu dengan jelas. Feli dapat mendengar nasihat dari Nenek tersebut walaupun sedang terlelap, ucapku di dalam hati.


"Rasanya menyedihkan ya ketika diri sudah berusaha maksimal, tapi semuanya ternyata belum cukup? Sabar ya Ndok ... ujian hidupmu sangat berat. " ucap Nenek tersebut sambil menangis.


"Aku rumangsa wedi ngrasakne seneng amarga saben aku seneng, ana sing ala mesthi kedadeyan (Aku selalu merasa takut untuk bahagia karena setiap aku merasakannya, sesuatu yang buruk pun selalu terjadi setelah kebahagiaan itu). " ucap Feli dengan suara yang aneh dan mata yang terpejam. Seperti sedang berbalas pantun dan mereka saling menyerang dengan kata-kata.


"Sabar!! Kamu bilang kamu akan menjaga cucuku. Kalau seperti ini, kamu malah bisa membunuhnya!? "


"Uripku kaya kuburan sing sampurna kanggo pangarep-arep sing tiwas (Hidupku ibarat kuburan sempurna untuk harapan yang mati). Bagaimana aku ndak sakit? "


"Makanya kamu jangan mencampuradukkan hidupmu dan hidup Feli. Kalian berbeda, kalian hidup di zaman yang berbeda dan orang-orang yang berbeda, jadi tolong. Jika kamu tidak ingin aku kurung seperti dulu tetaplah menjadi parewangan yang baik dan kamu harus kembali sadar akan tugasmu!" ucap sang Nenek kali ini tampak sangat marah dan Feli terdiam tampak takut.


"Kehidupan memang ibarat roda yang berputar. Kadang kita merasa senang, namun tidak jarang juga merasa sedih. Pertemanan juga bisa menjadi sumber kekecewaan selanjutnya. Jika kamu berniat menunjukkan kekecewaanmu, kamu bisa mengungkapkannya dengan kata bukan tindakan Feli. Nenek harap kamu mengerti!"


"Selain disebabkan orang lain, rasa kecewa juga bisa muncul karena diri sendiri. Merasa bersalah dengan diri sendiri karena kurang bisa melakukan yang terbaik menjadi beban tersendiri yang bisa memicu perasaan kecewa. Atur dirimu Feli! Jangan sampai dia menguasaimu. "


Tiba-tiba sang Nenek menghilang entah kemana, sesaat setelah memberikan nasihat kepada Feli. Tak lama, Feli pun terbangun dan menangis hebat seperti seorang anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya dengan keras.


"Feli ... kamu kenapa? " tanyaku yang juga langsung terduduk seakan rasa kantukku telah hilang dan aku memegang kedua lengan Feli untuk menenangkannya.


"Ngak papa Sarah ... aku cuma merasa sudah kalah, padahal aku sudah berusaha untuk menang tapi sesuatu di dalam diriku sekali lagi berhasil menguasai ku. "


"Ini bukan sepenuhnya salahmu Feli dan saat ini aku baru menyadari bahwa kamu benar-benar menyayangi aku sebagai sahabat. " Lalu aku memeluk Feli dengan erat, begitu juga dengan Feli.


"Siapa wanita tua itu? " tanya ku sembari melepaskan pelukanku dan menatap mata Feli.


"Nenek ku. Beliau dan Kakek ku sudah meninggal 3 tahun yang lalu dan sejak itu aku hanya tinggal sendirian di rumah peninggalan kakek dan nenek ini. Aku makan dengan uang peninggalan dari beliau begitu juga untuk biaya sekolah ku.


"Feli .... " ucapku lirih.


Aku sangat merasa beruntung karena aku memiliki Ayah dan kehidupan yang lebih layak dibandingkan dengan Feli. Selain itu, aku juga merasa sangat bangga memiliki sahabat seperti dirinya yang sangat ingin sekolah walaupun dalam keadaan terbatas dan tertekan.


"Dulu aku hidup rukun di dalam sebuah keluarga sederhana yang bahagia, hingga akhirnya ketika usiaku memasuki 12 tahun aku kehilangan Ibuku karena sebuah kecelakaan. "Setelah itu, sekitar 2 tahun setelah kematian Ibu, Ayah menikah lagi dengan teman kantornya dan ketika itu terjadi hidupku hancur berantakan."


"Awalnya aku diperlakukan dengan baik tapi lama-kelamaan Ibu tiriku membuat rumah yang selama ini Surgaku berganti menjadi neraka. Aku sering mendapatkan pukulan, cacian, makian, dan hinaan, hingga akhirnya aku mendapatkan saudara tiri dari ibu tiriku dan hal yang lebih parah terjadi karena Ayahku juga ikut memusuhiku."


"Aku sering dikurung di sebuah gudang yang terletak di belakang rumah dan disaat itulah aku mendapatkan diriku yang berbeda. Disaat aku meratap, menangis, bahkan mendendam. Di saat itulah aku mendapatkan kekuatan aneh dan ternyata itu adalah penjaga dari leluhur pihak Ibuku yang juga ikut merasa terdzolimi ketika aku di dzolimi. "


"Entah mengapa dan bagaimana caranya kakek dan nenek mengetahui tentang nasibku dan juga penjaga almarhum Ibu yang mengikutiku. Khawatir dengan diriku dan orang-orang di sekitar, Nenek dan Kakek pun akhirnya membawa aku untuk pergi bersama mereka dan aku sangat merasa bahagia walaupun tanpa Ayah. "


"Beginilah kehidupan ku saat ini Sarah, walaupun Kakek dan Nenek sudah tidak berada bersamaku lagi, tapi aku sering merasa bahwa mereka selalu disisiku, membantuku, menasehatiku, menenangkanku, dan menjadi kekuatanku untuk mengalahkan kekuatan lain yang ingin menguasai diriku. "


Aku menangis saat mendengarkan setiap cerita yang diutarakan kepadaku walaupun aku tahu ini bukan seluruh cerita hidupnya titik pasti sangat berat bagi Feli untuk menjalani hari-harinya sendiri tanpa orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya.


sebenarnya aku sangat ingin bertanya tentang bagaimana keadaan Ayah dan keluarga barunya saat ini tapi aku sangat tidak tega karena melihat kondisi Feli yang sangat terpuruk sendirian Aku berharap Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku karena sesungguhnya Dia adalah seorang anak yang baik


"Feli, mulai sekarang anggap aku sebagai saudaramu ya. Dengan senang hati aku akan menemanimu melewati masa-masa sulit di dalam hidupmu. Aku juga akan menjadi salah satu sumber ketenanganmu dan aku tidak akan membiarkan kamu diambil alih oleh apapun itu."


"Makasih ya Sarah .... "


"Sama-sama Feli. "


"Hati manusia persis seperti lautan, penuh misteri. Kita tidak pernah tahu kejadian menyakitkan apa yang telah dilewati oleh seseorang sebelum kita membuka hati, jiwa, dan pikirannya, Salam Tinta Emas. "


Bersambung....


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘