ROH DAN KEMATIAN

ROH DAN KEMATIAN
GAMBARAN KEMATIAN


Setelah perdebatan diantara kami, Bu Marisa bersedia mengalah dan membuka kalung pemberian dari almarhum suaminya, Pak Brian.


Dari kacamata ku, saat kalung itu dilepaskan, roh Kanaya pun terjatuh dan menghilang. Saat itu, aku sempat melihat pergelangan kedua tangan dan kakinya seperti terbakar, dengan warnanya yang menghitam. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? tanyaku di dalam hati karena Kanaya tiba-tiba menghilang.


"Coba Ibu berdiri sekarang!" Lalu Bu Marisa mengikuti ucapanku. Perlahan, beliau berdiri sambil terus menatapku.


Seketika beliau merasa heran, terlihat dari matanya yang penuh kebingungan sembari memegang kedua pundaknya bergantian. "Ini .... "


"Ringan kan, Bu? Kanaya sudah turun dari pundak Ibu dan menghilang entah kemana. Tapi Ibu jangan khawatir! karena kita akan menemukannya. Aku janji. Yang perlu dikhawatirkan sekarang adalah petunjuk dari Kanaya."


"Maksud kamu? dan kenapa Kanaya menyakiti saya seperti ini?"


"Apa menurut Ibu, Kanaya sengaja melakukannya untuk menyakiti Ibu?'


"Saya tidak tau," katanya yang kali ini mulai merendahkan kesombongannya.


"Kalau berdasarkan gambar yang aku lihat, sepertinya Kanaya tengah menderita dan kesakitan," ujar Rian sambil menatap gambar tersebut.


"Lihat gambar itu sekali lagi, Bu!" ucapku dan Bu Marisa melakukannya. Di sana jelas terlihat bahwa di pergelangan tangan dan kaki Kanaya terdapat lingkaran hitam seperti terbakar dan mutung. Dari sorot matanya, ia tampak sangat kesakitan tapi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kita serahkan kepada Feli."


"Lakukan yang terbaik!" jawab Bu Marisa yang tampaknya sudah memahami maksud ku.


"Feli!"


"Aku butuh air minum yang dingin ...." Tak pernah menunggu waktu yang lama, Si Mbok segera memenuhi keinginan Feli tersebut.


Siap mengisi bensin, Feli mulai membakar semangatnya dengan kegilaannya. Kali ini bukan hanya 1 dan 2 gambar saja, tapi ada empat dan ia melakukannya dengan cepat. Menurutku, kemampuan Feli sudah sangat jauh meningkat.


20 menit kami menunggu Feli mengatakan "Siap." Tapi dia belum juga mengatakannya. Ini tampak berat, namun Feli tetap melukisnya dengan detil dan teliti.


"Siap!!" ucapnya sambil menghapus peluh di dahinya.


Apa yang terjadi?" tanya Bu Marisa yang tampak sudah tidak sabar lagi.


Feli menyodorkan kertas pertama di hadapan Bu Marisa dan aku langsung duduk di sampingnya untuk membantu beliau memahami gambar yang telah di buat oleh Feli.


"I-ini suamiku," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang berat sembari menyentuh gambar suaminya. Jika dilihat dari suasananya, ini adalah saat acara ulang tahun Bu Marisa. Ternyata ini adalah awal mula dari peristiwa memilukan yang sudah terjadi. Ucapku tanpa suara.


Gambar kedua, tampak suami Bu Marisa memberikan bingkisan kecil kepadanya lalu mencium keningnya, begitu juga dengan Kanaya. Selain itu, disana juga tampak Paman dan Bibi Bu Marisa.


Saat Bu Marisa melihat sosok keduanya di dalam gambar yang Feli buat, Bu Marisa tampaknya semakin mempercayai kami karena memang, kami semua termasuk Feli belum pernah melihat keduanya dan di dalam rumah ini, tidak ada foto Paman dan Bibi.


Gambar ketiga, terlihat Bu Marisa memeluk suaminya yang sudah tidak bernyawa dan saat itu beliau tampak tidak sadarkan diri. Pada saat yang bersamaan, terlihat ada seseorang yang melepaskan kalung milik Bu Marisa kemudian memasangnya kembali.


"Apa ini? siapa yang melakukannya?" tanya Bu Marisa sambil melihat ke arah Si Mbok.


"Ngak tau Non, bukan si Mbok," ucap si Mbok yang ikut memperhatikan gambar tersebut.


Gambar ke empat, terlihat sesuatu seperti alat sesajen di sebuah ruangan yang tampaknya asing bagi Bu Marisa. "Dimana ini, Mbok? rasanya di rumah kita tidak ada ruangan seperti ini."


"Sebentar Non, rasanya saya pernah melihat alas meja seperti ini. Tapi dimana ya?" ucap si Mbok sambil memegang kertas tersebut dan menyipitkan pandangannya. "Ohhh ... ini seperti alas meja di rumah Paman dan Bibi," ucap Mbok Yani yang tampak yakin.


"Lalu apa hubungannya semua ini dengan saya dan keluarga saya di rumah ini?" Bu Marisa mulai terlihat berpikir lebih keras.


"Boleh saya pegang kalungnya, Bu?" tanya Feli yang sepertinya siap menjawab pertanyaan dari Bu Marisa.


"Silahkan!"


"Bagaimana Feli?" tanyaku dan Feli menjawab dengan tegas sambil memberikan gambaran tentang situasi sebenarnya yang telah terjadi.


"Paman dan Bibinya Bu Marisa adalah dalang dari semuanya. Mereka adalah penyebab kematian suami Bu Marisa," ucap Feli tegas sambil menyodorkan kertas gambar yang memperlihatkan aksi keduanya yang memotong rem mobil milik Pak Brian.


"Tidak mungkin .... " sahut Bu Marisa sambil menutup mulut dengan tangan kanannya.


"Mereka juga yang menukar rantai kalung yang Ibu pakai sekarang. Ini, bukan rantai kalung emas yang diberikan suami Ibu dan rantai ini memiliki energi megis negatif bagi pemakainya.''


"Maksudnya?"


"Rantai kalung ini berisi guna-guna yang sangat kuat," ucap Feli yang kelihatan sangat yakin dengan penglihatannya. "Sepertinya ini juga yang menjadi alasan Kanaya menahan rantai kalung ini agar tidak membelit leher Ibu sepenuhnya. Aku sangat yakin, selama ini Kanaya menahan lingkarannya dengan tangan dan kakinya."


"Astagfirullah hal azim .... " ucap Rian dan Kak Rio yang juga ikut melihat kekejaman dunia akibat keserakahan manusia.


"Itu pasti sangat sakit, makanya pergelangan tangan dan kaki Kanaya terbakar. Dia melampaui batasnya demi melindungi anda, Bu," ucap Feli yang langsung menyandarkan dirinya di sofa ruang tamu. Sementara Bu Marisa semakin terdiam dengan air matanya yang semakin tumpah.


"Sudah berapa lama Kanaya menghilang, Bu?"


"Lebih dari satu bulan dan sampai saat ini, polisi belom berhasil menemukannya termasuk jasadnya, jika memang anakku sudah tiada," sahut Bu Marisa yang tampaknya masih sangat berharap bahwa Kanaya masih dalam keadaan bernyawa.


"Kanaya sudah berjuang sejauh ini," ucap ku lirih.


"Berjuang sebelum 40 hari sambil berharap mendapatkan pertolongan untuk Ibunya," sahut Feli yang terhanyut dalam kesedihanya.


"Gadis kecil yang hebat," sahut Kak Rio.


"Dimana anakku?"


"Sarah ... kamu harus mencarinya sendiri kali ini! Aku tidak kuat," ucap Feli menyerah.


"Baiklah kalau memang harus begitu, walaupun aku tidak tau caranya."


"Dasar nyebelin!" ucap Feli yang langsung duduk dan memulai pekerjaannya. Tapi saat Feli mulai menggambar, kami kedatangan tamu yang tidak diinginkan.


Tiba-tiba listrik padam, disambut dengan angin yang sangat kuat. Entah dari mana asalnya, tapi semua itu membuat suasana semakin mencekam.


"Sebaiknya kita pindah ke dalam! Disini terlalu banyak kaca," ujar Rian yang sepertinya sudah tau apa yang sudah datang dan ingin menghabisi kami.


"Di kamar saya saja!" ujar Bu Marisa.


Kami pun segera pindah dengan cepat. Sementara Rian, ia terlihat mengatakan sesuatu kepada Kak Rio sambil berbisik dan mereka pindah ke ruang tengah, sepertinya Rian dan Kak Rio siap pasang badan kali ini.


"Paham!" ujar Kak Rio.


Tak lama, Kak Rio menelpon seseorang dan Rian mulai mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a. Sementara Feli berusaha dengan cepat melukis gambaran kematian Kanaya.


Bersambung ....


Para readers, bantu aku ya. Di kanan atas bagian cover ada 5 simbol bintang yang berderet. Tolong klik tanda bintang tersebut dan berikan penilaian kalian terhadap karyaku ini. Atas perhatiannya diucapkan terimakasih.


"Bagi para readers yang suka horor dan tajuk islam bercampur dengan roman yang manis, silahkan mampir di judul novel saya KETURUNAN KE 7 yang mengisahkan tentang kekuatan cinta melawan kekuatan iblis."


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya 🤗


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya penulis. Makasih 😘😘